
Saat hati terasa kalut, pikiran terasa begitu penuh. Itu juga yang membuat Sara seakan kurang berkonsentrasi saat ini. Ingin menyesali semua yang telah terjadi pun sia-sia. Nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin juga dia membatalkan semua yang telah menjadi keputusannya. Begitu perih, luka dalam hatinya begitu menganga. Duduk di kereta rel listrik itu, Sara teringat dengan memori terpahitnya semalam.
***
Semalam saat bersama Belva …
Usai menikmati kegiatan panas, nyatanya justru keduanya sama-sama menangis. Air mata Sara dan Belva sama-sama sesak. Rasa nikmat yang mereka nikmati, nyatanya justru berbanding terbalik dengan perasaan hatinya. Ya, ada kesesakan dan kekalutan yang sama-sama melingkupi hatinya.
“Jangan menangis Sara,” ucap Belva.
Pria itu seakan dengan tegar, meminta Sara untuk tidak menangis, sementara Belva sendiri justru meneteskan air matanya. Sungguh sebuah sikap dan perkataan yang sangat tidak konsisten. Akan tetapi, melihat air mata yang berderai, dan tangisan Sara yang tergugu pilu membuat Belva meminta Sara untuk tidak menangis.
Tidak berhenti, nyatanya Sara justru kian terisak. Semua rasa seakan tumpah di dalam dadanya.
“Pak Belva, boleh aku meminta sesuatu?” tanya Sara pada akhirnya.
Belva pun menghela nafasnya yang terasa berat. Hati terasa sesak saat ini, rasanya permintaan yang Sara minta sekarang ini adalah permintaan yang berat baginya. Kendati demikian, Belva pun menganggukkan kepalanya.
“Apa?” tanyanya perlahan.
“Mari … kita … selesaikan hubungan kita ini. Tolong … talak aku saja, Pak Belva,” ucap Sara dengan bibirnya yang terasa bergetar.
Sekalipun itu bukan kemauannya, tetapi Sara tidak ingin lagi berhubungan dengan pria itu. Di lain waktu, jikalau bisa dan memungkinkan dia cukup berhubungan dengan Evan saja, bukan lagi Belva.
Tampak Belva mengusap wajahnya dengan kasar, tidak mengira bahwa Sara akan meminta kepadanya untuk menalaknya. Pria itu menatap Sara dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
“Apa yang kamu minta Sara? Lalu, apa arti semua ini untukmu?” tanya Belva pada akhirnya.
“Bukankah tawaran yang Pak Belva berikan hanya sebatas nikah kontrak supaya aku melahirkan anak bagi Pak Belva. Sekarang, semua itu sudah berakhir, Pak … tolong, talak aku dan bebaskan aku dari hubungan ini,” ucap Sara dengan tergugu pilu.
“Kalau aku tidak mau?” tanya Belva.
“Lakukanlah Pak … lagipula, pernikahan kita hanya di bawah tangan,” jawab Sara.
“Pernikahan di bawah tangan jika diizinkan oleh istri pertama, maka pernikahan itu sah, Sara,” jelas Belva.
Memang demikianlah adanya. Apabila istri pertama mengizinkan adanya poligami dengan alasan apa pun, maka pernikahan tersebut adalah sah. Sementara dalam kasus Sara, Anin sendiri juga menyetujuinya. Dari awal, Anin tidak masalah jika suaminya itu menikahi Sara. Bahkan kemarin Anin menawarkan bahwa mereka bertiga masih bisa tinggal bersama.
“Aku tidak mau, Pak Belva,” jawab Sara.
Hati wanita itu benar-benar teriris perih. Melepaskan pria yang sudah mengisi hatinya tidak semudah itu, tetapi Sara pun merasa tidak ingin menjadi orang ketiga di antara Belva dan Anin.
Lagi-lagi Sara menggelengkan kepalanya, “Tidak … lebih baik, kita akhiri saja sampai di sini, Pak Belva.”
Sara sudah sampai pada keputusannya. Tak ingin terjatuh kian dalam, sudah cukup dirinya terjatuh. Lagipula, menggenggam perasaan seorang diri sangat menyiksa. Untuk itu, Sara justru meminta suaminya itu untuk menjatuhkan talak atasnya.
“Suami berhak menjatuhkan talaknya, Pak Belva. Aku akan menerimanya dengan ikhlas,” sahut Sara lagi.
Belva pun menghela nafasnya, pria itu rasanya semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Sara.
“Baiklah jika itu maumu,” jawab Belva.
__ADS_1
Pria itu mengangkat satu tangannya perlahan dan menaruhnya di atas puncak kepala Sara.
“Aku melepaskanmu dari semua hubungan ini, Sara ….”
Ucapan itu terlontar juga dari mulut Belva. Rasanya Belva tidak sampai hati apabila mengucapkan talak langsung kepada Sara. Untuk itu Belva memilih mengucapkan talak tidak langsung dengan melepaskan Sara dari hubungan itu.
Tangis Sara kian pecah rasanya. Malam ini akan menjadi memori terpahit dalam hidupnya. Berawal dari dia mengucapkan untuk pergi, perasaannya yang tertahan hingga mengalami Dysphoria, dan sekarang justru Sara meminta Belva untuk menalaknya. Tidak ada malam seperih dan sepahit malam ini bagi Sara.
Sama halnya dengan Sara, Belva nyatanya turut meneteskan air matanya. Baginya, Sara begitu tidak bisa ditebak. Di saat Anin menahannya, dan Belva sendiri ingin mempertahankan Sara, justru Sara yang meminta Belva untuk melepaskannya.
Belva menatap wajah Sara yang terus berderai air mata, “Kamu puas dengan semua ini kan? Kamu bahagia dengan berakhirnya hubungan kita kan?” tanya Belva.
Kedua mata Sara terpejam, dan dia tergugu pilu. “Terima kasih Pak Belva, saat seorang suami menggunakan haknya, aku akan dengan sukarela menerimanya,” sahut Sara.
Sekalipun hatinya hancur berkeping-keping, sekalipun sebenarnya bukan ini yang dia inginkan, tetapi bagi Sara memang lebih baik Sara pergi dari keluarga Belva.
Talak juga adalah hak seorang suami karena istri adalah milik suami secara penuh. Saat kata talak terucap, maka seorang suami telah melepaskan haknya atas istri. Ucapan talak tidak boleh diucapkan dengan main-main. Ucapan talak bersifat mutlak, maka saat Belva mengucapkannya maka berakhir pulalah pernikahan mereka berdua.
***
Kini …
Dengan menguatkan hati dan dirinya sendiri, Sara turun dari KRL. Wanita itu mendorong koper miliknya. Meninggalkan semua memori pahit di belakangnya. Kendati sangat pahit, hingga benar-benar terasa getir, tetapi Sara akan berusaha menjalaninya.
Sekarang Sara telah tiba di Bogor. Semua pahit dan manis dalam hidup sudah dia rasakan. Semua kesesakan dan keputusan terberat pun sudah dia lalui dan alami. Maka sekarang, Sara harus memulai hidupnya kembali. Dirinya memang terpisah dari Belva, kendati demikian Sara memiliki tanda perasaannya yang dalam untuk pria itu.
__ADS_1
Ya, Evan … bagi Sara, Evan adalah sebuah tanda yang dia miliki bahwa dia pernah menyimpan perasaan yang dalam untuk seorang pria bernama Belva Agastya.