Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Last Day in Bali


__ADS_3

Hampir sepekan berlalu, dan keluarga Agastya masih menikmati liburan di Bali. Bukan sekadar menghabiskan waktu di resort, tetapi mereka juga mengunjungi tempat-tempat wisata di Pulau Dewata dan juga berwisata kuliner di sana. Tidak terasa, esok mereka akan kembali ke Ibukota dan memulai lagi rutinitasnya di Jakarta.


“Besok kita pulang ke Jakarta ya Pa?” tanya Evan kali ini kepada Papanya.


“Iya Van … kita pulang dulu ke Jakarta, kan Mama perlu persiapan juga untuk menyambut adik bayi,” jawab Belva.


“Menyambut adik bayi yang seperti gimana Pa?” tanya Evan lagi. Seakan memang Evan ingin serba tahu mengenai adik bayi yang dibilang Papa dan Mama akan segera lahir itu.


“Menyiapkan kamar untuk adik bayi, belanja baju-baju dan peralatannya adik, selain itu nanti Mama harus jalan-jalan pagi supaya melahirkannya nanti lancar,” balas Belva.


Sesederhana mungkin Belva berusaha menjelaskan persiapan menyambut adik bayi itu kepada Evan. Semoga saja Evan bisa menerima penjelasan yang sederhana itu dari Papanya.


“Oh, begitu ya Pa … dulu waktu Mama hamil Evan juga begitu ya Pa?” tanya Evan.


Terkenang Belva bahwa dulu mendiang Anin yang banyak menyiapkan persiapan untuk mengajak Evan. Mulai dari menyiapkan kamar, membelikan berbagai baju bayi, perlengkapan bayi, dan untuk keperluan Sara usai melahirkan. Belva mengingat bahwa Sara sendiri tidak banyak menyambut perlengkapan yang begitu dinantikan Ibu hamil itu. Bahkan menjelang persalinan pun, Sara justru beberapa kali tampak sedih.


Teringat semua itu, Belva menghela nafas dan memberikan usapan di puncak kepala putranya itu. Ada rasa bersalah di hati Belva karena dulu dirinya juga tidak begitu terlibat untuk mempersiapkan kelahiran Evan.


“Iya Evan,” sahut Sara.


Mama itu berdiri dan membuka kedua tangan untuk memeluk putranya itu. “Dulu, kelahiran Evan disambut dengan sukacita juga,” balas Sara.


Evan pun memeluk Mamanya itu, “Makasih Mama … Evan sayang Mama,” balasnya dengan masih memeluk Sara.


“Ma, main yuk Ma … ini sore terakhir di sini, kata Papa besok harus kembali ke Jakarta. Temani Evan jalan-jalan di pantai yuk Ma,” pinta Evan kali ini.


Sara pun mengangguk dan mengajak Evan untuk jalan-jalan di pantai lagi. Sementara Belva mengekori keduanya di belakang.

__ADS_1


“Evan senang loh Ma bisa jalan-jalan gini, Papa tidak bekerja … bisa main terus sama Evan,” balasnya.


Sara pun tertawa, seorang anak memang merasa senang jika selalu ditemani orang tuanya untuk bermain-main. Hal wajar bagi Evan jika senang karena Papanya meluangkan waktu untuk menemani dan mengajaknya bermain.


“Evan, nanti kalau Mama sudah punya adik bayi … Mama tidak bisa keluar-keluar rumah dulu, mengasuh adik bayi dulu. Jadi, nanti kalau Evan kesepian Evan jalan-jalan berdua aja sama Papa yah,” ucap Sara yang memberitahu Evan terlebih dahulu.


“Lalu, Mama di mana?” tanya Evan.


“Di rumah aja, Nak … adik bayi kan sebaiknya tidak bertemu banyak orang dulu karena ketahanan tubuhnya belum kuat. Jadi, kalau Evan mau jalan-jalan ke playground sama Papa dulu yah,” jelas Sara kepada putranya itu.


Evan pun menganggukkan kepalanya, “Iya Ma … kalau Evan bosan bisa juga, main ke rumah Jerome dan menginap di sana ya Ma?” pintanya.


“Iya, nanti boleh … cuma waktu akhir pekan saja ya. Selebihnya Evan di rumah sama Mama, Papa, dan Adik bayi nanti,” jawab Sara.


Usai mengatakan semua itu, ketiga kembali berjalan-jalan di bibir pantai. Tidak terasa ada Amara, Rizal, dan Jerome yang turut bermain di sana. Sontak saja perhatian Evan teralihkan dan kini dia bermain dengan Jerome di bibir pantai, keduanya kembali membuat kastil dari pasir dan juga bermain-main bersama.


Belva pun merespons dengan menganggukkan kepalanya, “Iya … benar Sayang. Evan seneng main pasir, sampai dia bela-belain bawa alat mainnya dari Jakarta mulai dari buat kastil pasir, sampai bawa alat-alat rekonstruksi seperti truk, eskavator, bulldozer, dan traktor. Semua alat berat berwarna kuning itu, dia bawa dari Jakarta,” balas Belva.


“Enggak apa-apa Mas, imajinasinya juga biar berkembang. Aku seneng saja kalau Evan juga seneng,” balas Sara.


Saat mereka sedang duduk dan mengamati Evan yang sedang bermain, Amara dan Rizal pun bergabung dengan mereka berdua. “Gimana Kak, capek?” tanya Amara kepada Sara.


“Enggak … justru seneng aku tinggal di Bali. Mungkin kalau Mas Belva udah pensiun nanti mau ajakin Mas Belva tinggal di Bali,” jawab Sara sembari tertawa.


Belva turut tertawa mendengar ucapan istrinya itu, “Kita pindah ke Bali juga tidak apa-apa, Sayang … bisnis sekarang bisa dikerjakan dari mana saja kok. Yang penting para pekerja kita bekerja dengan benar saja. Kalau rapat yang mengharuskan ke Jakarta, nanti aku baru ke Jakarta,” sahut Belva dengan begitu enteng.


“Next time aja, Mas … kelihatannya aku perlu memikirkan untuk membuka Coffee Bay di Bali deh,” balas Sara.

__ADS_1


“Itu ide bagus … mau buka Coffee Bay di Bali?” tanya Belva.


“Habis melahirkan saja, Mas … harus arrange banyak hal mulai dari tempat, rekrutmen pegawai, dan distribusi bahan-bahannya. Tinggal empat bulan lagi melahirkan, jadi aku sih enggak yakin kalau bisa,” jawab Sara.


“Ya sudah … nanti yang di Bali, biar aku yang urus. Pokoknya kamu fokus ke kehamilan kamu dulu saja. Kamu mau dibukakan cabang di kota mana, bilang saja sama aku,” jawab Belva.


Mendengar ucapan Belva, Amara dan Rizal pun turut tertawa. Di matanya, Belva adalah seorang yang begitu percaya diri dan juga siap melakukan apa saja untuk Sara. Karakter Belva yang benar-benar berubah justru mengundang tawa dari Amara dan juga Rizal.


“Tuh, bilang aja Kak … minta dibukain cabang di semua kota besar di Indonesia, toh investornya kan Kak Belva,” sahut Amara.


“Benar … kapan lagi coba dapat investor sekelas sultan,” sahut Rizal kali ini.


Sara hanya tertawa, dan melirik ke suaminya itu. Tidak dikira bahwa Amara dan Rizal yang turut terlibat dalam obrolan itu. Belva yang begitu santai justru mengundang tawa bagi mereka.


“Benar banget … nanti kita rapat ya Mas … mumpung aku sekarang punya investor. Wah, senangnya,” goda Sara kali ini.


“Boleh Sayang … buat kamu apa pun akan aku berikan. Mau dibukakan sepuluh cabang pun. Aku bukakan sekarang buat kamu,” jawab Belva.


“Enggak Mas … enggak perlu. Yang penting kamu nabung dan investasikan pendidikan buat Evan dan juga adiknya nanti. Biar mereka bisa sekolah yang tinggi. Tidak apa-apa Mamanya cuma lulusan SMA, tapi anaknya bisa jadi Sarjana bahkan Magister. Kuliah sampai ke luar negeri tidak masalah,” balas Sara.


Semua orang tua mengharapkan bahwa anak-anaknya nanti bisa sekolah, mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Sama seperti Sara, walau dia hanya lulusan SMA, tetapi dia berharap bahwa Evan dan adiknya nanti akan bisa sekolah sampai ke jenjang tertinggi. Membekali anak-anak dengan ilmu yang tidak akan pernah habis. Membekali anak dengan harta bisa saja harta itu raib, tetapi ilmu bisa dikembangkan.


“Amin … iya Sayang, aman untuk sekolah Evan dan adiknya nanti. Buat tambah anak lagi juga aku tidak masalah. Kayaknya nanti tambah satu boleh tuh Sayang, sapa tahu dapat baby girl.” sahut Belva.


Sara hanya menggelengkan kepalanya, “Nanti baby girlnya dapat dari Tante Amara dan Om Rizal saja yah … Jerome sudah waktunya punya adik tuh. Jadi, biar seru mainnya makin rame nanti,” jawab Sara.


Amara dan Rizal pun tertawa, tidak menyangka guyonan mereka berempat akan membuat hati mereka menjadi bahagia. Canda dan tawa mengiring liburan mereka di kawasan Seminyak, Pulau Dewata.

__ADS_1


__ADS_2