Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Terus Melanjutkan Hidup


__ADS_3

Tidak terasa masa satu bulan telah berlalu, Sara sudah mulai berdamai dengan hati dan juga keadaannya. Kendati masa lalunya bersama Belva telah usai, tetapi Sara tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang Ibu. Ya, Sara tetap mengirimkan ASIP dua minggu sekali untuk bayinya.


Sama seperti malam ini, Sara yang mempumping sumber ASI-nya sembari menggeser setiap foto Evan di galeri handphonenya.


“Kamu akan berusia 3 bulan, Evannya Bunda … sekarang kamu sudah bisa ngapain Sayang? Pasti anaknya Bunda tumbuh sehat dan kuat bersama Papa dan Mama yah? Nih, Bunda baru pumping dan dapat banyak. Bunda simpan dulu, nanti Bunda kirimkan lagi ke kamu ya, Evan.”


Sara berbicara sendiri, seakan-akan bayinya itu dekat dengannya. Dengan cara itulah Sara bisa mengobati rasa sakit di hatinya. Berusaha memfokuskan diri pada Evan dan berusaha melupakan Belva.


Hidup harus selalu berjalan, siap atau pun tidak siap, Sara harus menjalani konsekuensi dari setiap keputusannya satu bulan yang lalu. Kendati terasa sulit, tetapi dia harus menjalani semuanya. Tidak mungkin dirinya bisa memutar waktu dan kembali di masa lalu.


Hingga akhirnya, kegiatan menampung ASI pun telah usai. Keesokan harinya, Sara akan kembali mengirimkan berpuluh-puluh kantong ASIP itu untuk Evan. Setidaknya, perannya sebagai Ibu tetap berjalan, walaupun hanya sekadar Ibu susu.


***


Keesokan harinya …


Menjelang siang, Sara telah keluar dari kostnya dengan membawa box ice cooler yang akan dia kirimkan ke Jakarta untuk Evan. Hanya berjalan belasan meter dari kostnya, Sara menuju ke tempat pengiriman express.


“Siang Pak, saya mau mengirim lagi,” sapa Sara kepada petugas di tempat pengiriman itu.


“Oh, ya Mbak … seperti kemarin ya? Pengiriman express?” tanyanya.


Sara pun menganggukkan kepalanya, “Iya … kalau bisa yang beberapa jam sudah sampai lebih bagus Pak,” balas Sara.

__ADS_1


Sara berpikir karena dia tengah mengirimkan kantong ASIP, sehingga lebih cepat tiba di kediaman Belva akan lebih baik. Dengan demikian, Evan tetap bisa meminum ASIP-nya.


Setelah mendapatkan resi pengiriman dan membayar biaya antar ke Jakarta. Sara berniat untuk makan siang di sebuah tempat makan Nasi Padang yang berada di ruko-ruko dekat tempat pengiriman itu.


Lantaran hari sudah siang, dan sudah beberapa kali mengosongkan sumber ASI-nya. Sara memesan Nasi Padang dengan lauk daging Rendang dan perkedel, tidak lupa dengan sambal hijau yang kian menggugah rasa laparnya. Wanita itu duduk, dan membasuh tangannya terlebih dahulu, sebelum memulai menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya sendiri.


Baru saja, Sara ingin makan, tetapi datanglah Zaid yang secara tiba-tiba berada di area itu. Pria itu rupanya juga tengah memesan Nasi Padang, sebenarnya ingin membungkusnya, tetapi karena melihat Sara di sana, Zaid kemudian memilih makan di tempat.


“Hei Sara, kita ketemu lagi di sini,” sapa pria itu yang mengambil tempat duduk di depan Sara.


“Iya, mau makan?” tanya Sara.


“Iyalah mau makan, masak mau minum kopi sih,” sahut Zaid.


Sara pun tersenyum, “Kamu sering di Bogor ya sekarang? Kafe yang di Jakarta terus gimana?” tanyanya.


“Aku mau mencoba cabang baru di Bogor. Makanya aku bolak-balik dari Jakarta ke Bogor sih. Melebarkan sayap,” sahut pria itu.


“Oh … jadi mau buka cabang baru di Bogor yah?” respons Sara.


“Iya, untuk melebarkan bisnis mungkin Bogor cukup menjanjikan,” balasnya.


“Untuk membuka bisnis baru membutuh modal kisaran berapa sih?” tanya Sara.

__ADS_1


Di hadapannya, Zaid sudah terlebih dahulu memulai bisnis coffee shop, sehingga Sara bisa memperkirakan berapa modal yang harus dia keluarkan untuk membuka sebuah coffee shop.


“Di bawah 20 juta bisa kok, tetapi itu diluar biaya sewa rukonya. Biasanya pemilik ruko akan menyewakan ruko untuk satu tahun. Jadi ya anggap saja, kamu menyediakan modal untuk tempatnya dan operasionalnya,” jawab Zaid lagi.


Ah, dengan uang yang Sara miliki sekarang ini. Agaknya 20 juta tidak terlampau mahal untuknya. Sementara untuk sewa ruko mungkin bisa dipenuhi dengan ruko yang sedang dia beli. Sehingga tinggal mengembangkan bisnis yang ingin geluti.


Sara akan memprioritaskan untuk membuka usahanya terlebih dahulu. Jika sudah, dia akan menata hidupnya dan berencana membeli rumah yang tidak jauh dari rukonya nanti. Tidak lupa Sara akan mendepositokan beberapa uangnya untuk Evan kelak. Sekalipun Belva begitu kaya raya, tetapi Sara ingin menginvestasikan sedikit uang juga untuk Evan. Semoga saja apa yang dia rencanakan sekarang bisa terpenuhi. Untuk itu, Sara akan berusaha, berikhtiar, dan juga berdoa.


Melihat Sara yang diam dan tampak berpikir, Zaid pun kembali membuka suaranya.


“Jadi mau mencoba membuka kafe?” tanya Zaid.


“Kalau coffee shop saja, atau katakanlah tempat menjual aneka minuman, termasuk kopi,” sahut Sara.


“Good idea. Bagiku itu ide yang bagus juga. Biasanya memang berawal dari kedai minuman, perlahan bisa kian besar dan menjadi kafe. Jadi rencana kamu mau buka di Bogor atau di Jakarta?” tanya Zaid.


“Di Bogor,” sahut Sara dengan cepat.


Bagi Sara sendiri, kemungkinan besar dia tidak akan menginjakkan kakinya di Jakarta lagi. Selain untuk menghindari Belva, tentu Sara juga tidak ingin bertemu dengan Anthony. Sara teringat dengan ucapan Belva dulu bahwa sukar untuk lepas dari jerat si Anthony. Untuk itu, lebih baik dia tetap bersembunyi di Bogor.


“Oh … bagus juga sih. Untuk bisnis kedai minuman di Bogor pun juga menjanjikan kok. Yang penting kamu usaha aja dulu. Jatuh bangun dalam bisnis itu biasanya, yang penting kamu mau bangkit dan terus mencobanya,” balas Zaid.


Pria itu seakan memotivasi Sara. Ya, pada kenyataannya dalam sebuah bisnis, jatuh dan bangun seakan menyertai sepanjang bisnis yang kita lakukan berjalan. Akan tetapi, mereka yang mau berjuang, tentu tidak akan membiarkan dirinya terlalu lama jatuh, dan tidak mau bangkit kembali.

__ADS_1


Agaknya Sara harus mengingat-ingat petuah yang diberikan oleh Zaid ini. Mengingat dirinya ingin mencoba berbisnis, sekalipun hanya sekadar kedai minuman atau Coffee shop, tetapi apa yang disampaikan Zaid ada benarnya.


Sembari berbincang dan menikmati Nasi Padang dengan Zaid, Sara agaknya harus mengambil langkah cepat untuk meneruskan hidupnya. Tidak ingin terlalu jauh, tetapi memulai menapaki jalan hidupnya yang masih panjang di depannya.


__ADS_2