Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Peraduan Malam Bergelora


__ADS_3

“Mana Sayang? Aku laper banget,” ucap Belva.


Sara segera membuka kotak bekal yang dia bawa, kemudian menatanya dengan rapi di atas meja. Ada nasi putih, Sup Ayam, Udang Goreng Crispy, dan juga Puding Susu untuk suaminya. Kemudian Sara mengambilkan makan siang untuk suaminya.


Dengan senang hati, Belva pun menerima makan siang yang dibawakan istrinya itu. “Makasih Sayang … seneng banget deh dimasakin makan siang yang super lezat, kemudian diantarin ke sini,” ucap Belva sembari menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.


“Iya, cuma Istrinya datang justru badan suamiku dipegang-pegang sama cewek lain. Nyebelin,” ungkap Sara kali ini.


Hal itu wajar karena para wanita biasanya mengucapkan isi hatinya beberapa saat setelahnya. Tidak bisa langsung serta-merta mengutarakan isi hatinya.


Mendengar Sara yang mengatakan demikian, kemudian Belva melirik sejenak ke arah Sara dan juga menghentikan untuk mengunyah makanannya.


“Tuh, baru bilang sekarang … kalau merasa tidak suka dan tidak enak itu jangan ditahan-tahan. Lebih baik langsung diutarakan. Kalau aku salah, langsung tegur aja aku Sayang,” ucap Belva.


“Ya kan sebel Mas … emang si Ridwan kemana Mas?” tanya Sara kemudian.


“Ada … cuma dia baru ke divisi marketing tadi,” balas Belva.


Sara diam dan menganggukkan kepalanya perlahan, kemudian melirik sekilas kepada suaminya itu, “Oh … lain kali jangan seperti itu ya Mas. Apa perlu aku bawakan kopi di tumbler? Kan di rumah ada tuh tumbler yang bikin minuman selalu panas,” tawar Sara kemudian.


“Kamu cemburu ya Sayang? Kamu mau suamimu ini hanya minum kopi bikinanmu?” tanya Belva sembari tertawa.


“Bukan gitu … hanya saja bagaimana kalau kejadian seperti ini terjadi lagi?” tanya Sara kemudian.


“Ya sudah … aku bawa kopi dari rumah saja Sayang. Kopi cinta yah,” sahut Belva sembari melanjutkan untuk memakan makanannya.


***


Malam harinya …


Sara masih menidurkan Evan. Mungkin karena siang hari ditinggal sebentar oleh Sara ke Agastya Property, malam harinya Evan meminta kepada Mamanya itu untuk membacakan dongeng sebelum tidur. Sara pun menuruti apa yang menjadi putranya itu. Membacakan dongeng anak-anak Nusantara yang menceritakan tentang sosok Sangkuriang dan Dayang Sumbi.


Hampir seluruh buku dia baca, sampai pada akhirnya Evan pun terlelap. Kemudian Sara segera beranjak dari tempat tidur Evan. Mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur, kemudian mencium kening putranya itu.


“Selamat tidur, Evan … Mama sayang kamu,” ucap Sara dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Kemudian Sara segera keluar dari kamarnya Evan dan menuju ke kamarnya sendiri. Wanita itu melihat Belva yang sibuk dengan tablet di tangannya, “Baru sibuk Mas?” tanya Sara kepada suaminya itu.


Belva yang merasa mendengarkan suara istrinya pun segera menaruhkan tablet itu dan membuka tangannya, mengisyaratkan untuk Sara segera masuk ke dalam pelukannya.


“Evan sudah tidur?” tanya Belva kemudian.


“Iya … sudah. Maaf ya Mas agak lama … Evan minta dibacakan dongeng dulu,” ucap Sara kepada suaminya itu. “Mas, aku kangen,” aku Sara kemudian.


Belva hanya tersenyum, pria itu mengeratkan pelukannya di tubuh Sara. Mendekap hangat tubuh wanitanya itu dan menghirupi aroma parfum Jeruk Pomello yang begitu lembut dan segar.


Sara kemudian menarik wajahnya, dan membawa jari telunjuknya menyisiri sisi wajah Belva dan juga leher Belva. Kemudian dengan beraninya, Sara mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan-kecupan yang hangat dan basah di leher Belva. Tidak biasanya Sara melakukan ini, tetapi kali ini seakan tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Bahkan Sara tidak segan-segan untuk mengecupi leher Belva.


“Sayang,” ucap Belva dengan suara yang seakan menahan hasrat yang tiba-tiba saja bergelora.


Namun seakan Sara tak menghiraukan panggilan dari suaminya itu. Sara justru kian menyusuri garis leher Belva, menyapunya bibirnya yang hangat di garis leher Belva. Seakan produksi berbagai hormon dalam dirinya yang memicu wanita hamil itu mengirimkan sinyal-sinyal di leher suaminya itu.


Bak tersulut api gelora, Belva pun memegang tangan Sara dan menyentuhkannya ke milik pusakanya yang begitu menegang. Sebab, hanya godaan yang Sara berikan di garis lehernya saja sudah membuat Belva merasa panas dingin seperti sekarang ini.


“Mas, boleh?” tanya Sara kemudian.


Pertama Sara memberanikan dirinya untuk menyentuhkan tangannya menyentuh pusaka sang suami, meremasnya perlahan, menggenggamnya dalam gerakan tangan naik dan turun. Sara benar-benar tidak mengira saat melihat reaksi sang suami yang terlihat begitu menikmati permainan tangan Sara.


Bahkan lebih dari itu, Sara kemudian membawa pusaka milik suaminya untuk bersarang di dalam rongga mulutnya yang hangat. Menyapa dengan kedalaman dan kehangatan rongga mulutnya.


“Ah, Sayang,” ucap Belva dengan mengusapi kepala Sara.


Semua yang Sara lakukan benar-benar membuatnya kepalang hasrat, sampai di ubun-ubun rasanya. Sampai pada akhirnya, Belva membawa kembali wajah Sara untuk menyelesaikan permainannya.


“Sudah main-mainnya,” ucap Belva kemudian.


Belva kemudian membawa bibir mereka untuk bertemu, kembali menyapa, kembali memagut, mengecup, melu-mat, dan menciumnya dengan kian dalam. Kedua tangan Belva, berusaha mengangkat kaos yang dikenakan istrinya, hingga membuat kaos itu terlepas dan Belva segera melemparkannya begitu saja. Pria itu membuka matanya, tatkala melihat pembungkus renda di area dada istrinya, berwarna pink muda yang lembut. Tanpa permisi, tangan Belva meremas gundukan kembar itu, menekannya perlahan, satu tangannya menelisip di balik punggung Sara hingga membuat pembungkus itu terlepas.


Pria itu lantas melepaskan sendiri kaos yang masih dia gunakan. Lantas dia, melucuti sisa-sisa kain yang menempel pada tubuh keduanya. Belva sedikit mengangkat tubuh Sara, mendaratkan pantat wanita di pangkuannya, di atas pahanya. Menyatukan inti tubuh keduanya, membuat Sara memejamkan matanya dan meremas helai rambut suaminya.


“Ah, Mas,” de-sahnya kala itu saat merasakan milik suaminya yang telah menusuk masuk seolah mengenai dinding rahimnya. Jari-jemari Sara yang lentik meremas bahu suaminya, dan dia mencerukkan wajahnya di leher suaminya.

__ADS_1


Belva membawa tangannya untuk kembali menyusuri kulit Sara yang lembut, merabanya, memberikan sentuhan-sentuhan yang seolah menyulut partikel yang membuat tubuh keduanya kian tersulut, kian panas, dan kian basah lantaran keringat yang keluar begitu saja. Menghadirkan kesan liat dan basah.


Bibir pria itu bergerak dan mengecupi puncak bauh persik itu, memberikan sapuan dengan lidahnya, dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana. Tidak membutuhkan waktu lama, puncak buah persik itu pun membengkak dan basah.


Pinggang Sara bergerak mengikuti instingnya. Dalam pergerakan maju dan mundur, dirinya kian kacau kali ini. Beberapa kali Sara bahkan melenguh dan kian mencengkeram bahu suaminya itu. Gesekan demi gesekan yang terjadi membuat keduanya sama-sama terbakar.


Tubuh Sara meliuk dengan begitu sensual, dalam dorongan hasrat yang secara samar terasa saat pusaka suaminya mendesak di bawah saja. Gesekan yang mampu mengalirkan setiap gelenyar pada tubuhnya sendiri.


Wanita itu kian meremang, saat jari-jari tangan Belva kian menyusuri kulit punggungnya, meraba pahanya, bahkan mempermainkan buah persiknya. Keduanya bergerak dalam percikan yang seolah kian sulut-menyulut.


Belva benar-benar terbakar, hingga pria itu tak henti-hentinya mengeksplor tubuh istrinya. Jari-jarinya sibuk memilin satu buah persik yang ada, dan bibirnya melahap dengan begitu rakus buah persik yang satunya. Hingga des-ahan berkali-kali mengalun dari bibir Sara. Kegiatan panas yang benar-benar membakar keduanya saat ini.


“Ah, Mas … aku tidak tahan lagi,” pengakuan itu akhirnya keluar juga dari bibir Sara.


Ya, wanita itu merasa sudah sampai di batas pertahannya. Tak mampu lagi tersulut dengan semua aktivitas yang dilakukan suaminya atasnya. Kali ini, Sara memilih untuk tidak menjadi putri yang pemalu. Lagipula keduanya adalah sepasang suami-istri. Suaminya sendiri yang benar-benar menyulut tubuhnya dengan gelora, dan membuat Sara berada di batas pertahannya.


Mendengar pengakuan sang istri, Belva dengan cepat bergerak, membawa Sara dalam gendongannya, dalam pelukannya dan membaringkan wanita itu. Belva langsung menindihnya.


“Sayang,” Belva pun menggeram. Sebenarnya bukan hanya Sara yang tersulut, dirinya sendiri pun turut tersulut.


Wanita itu kian memejamkan kedua matanya saat merasakan desakan demi desakan, hujaman demi hujaman. Gerakan seduktif yang dilakukan suaminya, keluar dan masuk, menekan dan menusuk benar-benar memabukkan. Kendati demikian, Belva berusaha untuk tidak melukai janin yang saat ini bersemayam di dalam rahim istrinya itu.


Belva lantas membuka kedua kaki istrinya itu. Menempatkan dirinya tepat ditengah-tengahnya, mengarahkan milik pusakanya pada cawan surgawi milik sang istri. Tanpa aba-aba dia menghujam masuk.


Kuat.


Dalam.


Cepat.


Menusuk hingga pusakanya tenggelam dalam cawan surgawi milik istrinya. Kesan erat, hangat, dan cengkeraman di dalam sana membuat Belva beberapa kali memejamkan matanya, perasaan yang membuat pria itu hilang akal. Hingga akhirnya Belva sadar bahwa dia tidak mampu lagi bertahan lebih lama lagi.


Maka Belva pun menggeram, merengkuh tubuh Sara dengan tangannya. Hingga akhirnya gerakan seduktif yang kacau dan penuh hujaman itu menghantarkan Belva ke jurang kenikmatan tak bertepi. Saat cairan penuh cinta miliknya menyembur di dalam sana, pria itu benar-benar meledak, pecah seperti percikan kembang api dengan bunga-bunga apinya yang bertaburan di angkasa.


Keduanya sama-sama hancur lebur, tersulut gelora cinta yang membara, dan membungkus keduanya dalam kenikmatan cinta yang mereka reguk bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2