
Memenuhi permintaan Evan, Sara sudah tinggal dua hari lamanya di kediaman Belva. Setiap pagi Sara selalu membangunkan putranya, memandikannya, dan membuatkan sarapan untuk Evan. Terlintas bagaimana Sara yang selalu memandikan putranya itu ketika masih bayi. Saat Evan usai lahir hingga berusia 2 bulan.
“Evan senang ada Mama seperti ini … Evan punya Mama,” ucap Evan yang saat itu tengah dikenakan pakaian oleh Sara.
Sara yang menatap putranya pun tersenyum, “Evan senang?” tanyanya.
“Iya … senang sekali, Ma,” sahut Evan dengan cepat.
“Sekarang kita sarapan yuk … Evan mau dibuatkan apa sama Mama?” tanya Sara kini.
“Mau Pancake, Ma … Mama bisa bikin pancake?” tanya Evan.
Sara pun menganggukkan kepalanya, “Bisa … Mama akan buatkan Pancake buat Evan,” jawab Sara.
Lantas Sara memilih turun ke dapur. Mencari bahan-bahan untuk membuat Pancake sesuai dengan permintaan Evan itu.
“Cari apa Mbak Sara?” tanya Bibi Wati yang baru saja pulang dari belanja sayur dan buah-buahan.
“Cari tepung terigu Bi … Evan minta dibuatkan Pancake,” balas Sara.
Akhirnya Bibi Wati yang membantu Sara menyiapkan tepung terigu, gula pasir, baking powder, vanili, dan telor ayam. Sara segera membuat adonan Pancake dari bahan-bahan itu, kemudian mulai memanaskan teflon.
“Mau saya bantu, Mbak?” tanya Bibi Wati.
“Tidak usah Bi … biar aku saja. Ini juga sudah mau selesai kok,” balas Sara.
Kemudian tangan Sara dengan telaten membuat Pancake di teflon yang sudah panas. Aroma Pancake yang harum menguar begitu saja di area dapur. Hingga Evan pun berlarian dan menuju ke dapur.
“Sudah jadi Ma?” tanyanya.
“Sebentar Van … Mama masih membuatnya. Kamu duduk saja di meja makan. Nanti Mama antarkan ke sana,” balas Sara.
Akan tetapi, Evan justru menggelengkan kepalanya. Dia lebih memilih melihat Mamanya yang sedang berjibaku di depan kompor gas dengan membuat dadaran kue Pancake. Hingga Belva pun turun dan melihat Ibu dan Anak yang terlihat bahagia di dapur.
“Kalian sedang apa?” tanya Belva.
“Bikin Pancake, Pa … lihat, Mama jago sekali bikin Pancakenya,” teriak Evan dengan bahagia.
__ADS_1
Sampai akhirnya seluruh adonan Pancake sudah habis. Sara lantas menatap Pancake itu di piring saji. Menaruh whipped cream di atasnya dengan irisan stroberi. Untuk Evan, Sara membuatkan cokelat susu hangat. Sementara untuk Belva, dia membuatkan kopi hitam dengan sendok dua teh. Sara rupanya masih ingat takaran kopi kesukaan Belva.
“Makasih Mama,” ucap Evan.
“Terima kasih,” ucap Belva yang turut berterima kasih kepada Sara.
Evan memotong Pancake miliknya dan mulai menyuapkannya ke dalam mulutnya. “Euhm, ini enak sekali Ma … lebih enak Pancake buatan Mama, dibanding Pancake yang beli,” jelas Evan yang terlihat lahap menyantap Pancake buatannya.
“Apa iya Van? Kalau Mama jualan Pancake gini, laku enggak ya Van?” tanya Sara kepada putranya itu.
Evan seketika tampak menaruh sendok dan garpunya di sisi piring, kemudian anak itu menatap wajah Mamanya.
“Ma, Mama bisa tidak kalau tinggal selamanya bersama Evan? Bisa tidak Mama terus mengasuh Evan seperti ini dan tidak terpisah dengan Papa?” tanya Evan kepada Mamanya.
Belva yang mendengarkan ucapan Evan pun turut menghentikan gerakan tangannya yang tengah menikmati sarapan buatan Sara itu. Apa yang dikatakan Evan sepenuhnya murni dari Evan. Belva tidak pernah menyuruh anaknya untuk mengatakan demikian.
Sara menatap wajah anaknya itu. Tidak tega dengan apa yang diminta Evan kali ini. Lagipula, Belva juga sudah mengatakan perasaannya dan keinginannya kepada Sara. Akan tetapi, Sara merasa masih memerlukan waktu untuk berpikir.
“Sebentar lagi, Evan akan sekolah Ma … masak cuma Evan yang tidak memiliki keluarga yang lengkap. Evan kan juga pengen sekolah nanti diantar dan ditemanin Mama,” ucap Evan lagi.
“Evan, biarkan Mamamu … sekalipun Mama tidak bersamamu setiap hari, tetapi Mama selalu sayang sama kamu,” ucap Belva yang mencoba memberi penjelasan kepada Evan.
Menengahi anak dan Papanya, Sara lantas menggenggam tangan Evan, “Evan, Putranya Mama, Evan mau Mama sama Papa bareng-bareng lagi?” tanyanya.
“Iya Ma … itu keinginan terbesar Evan. Evan janji tidak nakal,” balasnya.
“Beri Mama sedikit waktu untuk berpikir ya Evan … nanti sore Mama pulang dulu ke Bogor. Nanti kalau sudah, Mama akan menelpon Evan yah?” ucap Sara kali ini.
Mendengar bahwa Mamanya akan kembali pulang ke Jakarta. Terlihat raut wajah yang berbeda dari Evan.
“Jangan lama-lama di Bogornya Ma … Evan kan kangen Mama,” balasnya.
Sementara Sara sendiri tahu dengan norma yang berlaku. Tidak mungkin dirinya berlama-lama tinggal di kediaman Belva Agastya dengan statusnya yang tidak jelas seperti ini. Justru bisa menjadi zinah, karena dirinya belum resmi bersatu dengan Belva.
“Mama boleh pulang, tetapi nanti hari Sabtu … Evan ke Bogor sama Papa yah. Kita main bersama di villanya Papa ya Ma,” ucap Evan lagi.
“Yang penting Evan selalu sehat. Mama janji akan lebih sering menemui Evan,” balas Sara.
__ADS_1
Usai sarapan dan Belva pamit ke kantor terlebih dahulu. Sara menghabiskan waktu bermain dengan Evan. Kurang lebih jam 15.00, Belva kembali pulang ke rumah dan dia akan mengantarkan Sara kembali ke Bogor. Dengan berat hati, Sara pun berpamitan dengan Evan.
“Sayang, Mama pulang dulu yah,” pamit Sara kepada putranya itu.
“Mama, Evan ikut yah … Pa, Evan boleh tidak ikut Mama. Nanti kalau Papa libur, Papa jemput Evan,” pinta Evan kali ini.
“Tapi Van …,” sahut Belva. Perkataan masih tertahan di udara, tetapi agaknya Evan kembali menyahut perkataan Papanya.
“Evan masih kangen Mama, Pa. Evan ingin Mama dan Papa tidak berpisah,” sahutnya lagi.
“Biar Evan, ikut aku ke Bogor, Pak … nanti akhir pekan Pak Belva bisa menjemputnya,” balas Sara.
Setidaknya itu adalah keinginan Evan dan Sara pun tidak keberatan jika putranya itu sekarang ini bersamanya.
Belva lantas mengajak Sara untuk berbicara terlebih dahulu di dalam kamar yang ditempati Sara.
“Sara, bukannya aku tidak boleh … hanya saja bagaimana jika Evan mengganggumu selama kamu bekerja?” tanya Belva.
“Tidak mengganggu, Pak … hanya tiga hari,” sahut Sara menegaskan bahwa menuju akhir pekan hanya membutuhkan waktu tiga hari.
“Selama tiga hari itu, bisakah aku meminta jawabanmu Sara?” tanya Belva kini.
Sara tidak mengira, rupanya tujuan Belva mengajaknya berbicara adalah untuk meminta jawaban kepastian atas perasaan dan permintaannya beberapa hari yang lalu. Belva lantas membuka sebuah laci, menyerapkan sebuah amplop putih kepada Sara.
“Ini Sara … bukalah saat kamu berada di Bogor nanti. Sapa tahu setelah melihatmu, kamu bisa menerimaku,” ucap Belva.
Tangan Sara pun terulur untuk menerima amplop putih itu. Sara menerka-nerka sebenarnya apa isi dari amplop itu. Akan tetapi, penasarannya harus tertahan karena Sara hanya bisa membuka amplop itu ketika di Bogor nanti.
Usai menyerahkan amplop, Belva mendekat, dan tanpa permisi pria itu memeluk tubuh Sara dengan begitu erat.
“Aku cinta kamu, Sara … semoga tiga hari ini cukup bagimu untuk memikirkan semuanya,” ucap Belva dengan menghela nafasnya sepenuh dada.
Sementara Sara sendiri tidak merespons pelukan Belva. Kedua tangan luruh begitu saja di sisi kanan dan kiri badannya. Tidak mengerti dengan tindakan impulsif dari Belva. Kenapa sekarang Belva memiliki kebiasaan baru yang membuat Sara panas dingin di waktu bersamaan. Hingga akhirnya, Belva mengurai pelukannya, “Sekarang … ayo, aku akan mengantarmu. Evan tidak apa-apa bersamamu. Akhir pekan, aku akan datang menjemput Evan dan meminta jawabanmu,” ucap Belva.
Pria itu menatap wajah Sara, menundukkan wajahnya, dan mendaratkan bibirnya yang hangat di pipi Sara.
Chup!
__ADS_1
“I Love U,” ucap Belva dan kemudian meninggalkan Sara keluar dari kamar untuk menyiapkan pakaian Evan yang akan dibawa selama tiga hari menginap di Bogor.