
Belva menjalankan mobilnya dengan kecepatan lebih cepat dan berharap dia bisa sampai di rumahnya dengan lebih cepat pula. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Semesta pun seakan tidak memberikan jalan kepadanya. Berkali-kali justru mobil Belva terhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Pria itu merasa begitu frustasi karena di saat yang begitu genting justru dia harus terhenti karena lampu lalu lintas.
“Bersabarlah Sara … aku akan segera tiba di rumah,” teriak Belva di dalam mobil itu.
Pria itu terasa begitu frustasi hingga memukul stir kemudi. Namun apa daya, menerobos lampu lalu lintas juga mengancam keselamatannya. Untuk itu, yang bisa Belva lakukan adalah menunggu.
Sampai akhirnya, Belva pun tiba di kediamannya. Pria itu berlari begitu turun dari mobil dan memasuki rumahnya dengan gusar.
“Sayang,” ucapnya begitu memasuki rumah. Pria itu mengedarkan pandangan matanya mencari di mana Sara berada.
Sampai akhirnya, retina matanya melihat Sara yang duduk di sudut sofa. Wajah wanita itu begitu pucat dan terlihat begitu lemah. Belva pun kemudian segera menundukkan wajahnya dan menggendong Sara ala bridal style.
“Evan, kamu di rumah dulu yah ada Bibi Wati … Papa membawa Mama ke Rumah Sakit dulu yah?” ucap Belva kepada putranya itu.
“Iya Pa … Mama, Mama segera sembuh dan pulang ke rumah ya Ma,” balas Evan. Bahkan Evan saat ini menangis melihat Papanya yang menggendong Sara.
Mungkin karena saat kecil dulu, Evan melihat bagaimana mendiang Mama Anin yang kesakitan, sehingga Evan begitu panik hingga menangis saat melihat Mama Sara sakit. Terlebih, sebelumnya Sara terlihat baik-baik saja dan tidak terlihat sakit sama sekali. Sehingga, Evan pun menangis dan berharap bahwa Mamanya akan baik-baik saja.
Dalam gendongan Belva, Sara begitu lemas. Beberapa kali Sara memejamkan matanya, bahkan kepalanya bersandar di dada bidang Belva, pandangannya kembali mengabur, tetapi Sara masih berusaha untuk kuat dan menahan semua rasa sakitnya.
“Kita ke Rumah Sakit sekarang yah Sayang … Ya Tuhan, aku benar-benar khawatir,” ucap Belva dengan berjalan dan masih menggendong Sara.
Perlahan Belva mendudukkan Sara di samping kursi kemudi dan memasangkan sabuk pengaman di tubuh Sara. Kemudian, Belva berlari mengitari mobilnya dan kembali masuk ke dalam mobil. Dengan rasa cemas, Belva mengemudikan mobilnya sendiri menuju ke Rumah Sakit. Saking paniknya, Belva sampai lupa bahwa dia memiliki driver yang bisa menghantarnya ke Rumah Sakit.
__ADS_1
Lantaran kali ini membawa Sara, Belva pun mengurangi kecepatannya, dan berharap lalu lintas akan bersahabat dengannya kali ini sehingga Belva bisa segera tiba di Rumah Sakit.
“Sabar ya Sayang … sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit,” ucap Belva lagi.
Sembari mengemudikan mobilnya, tangan Belva terkadang mengusapi puncak kepala Sara, terkadang memberikan usapan di perut istrinya itu, dan terkadang menggenggam erat tangan Sara. Belva merasa lega, karena akhirnya dia tiba di Rumah Sakit.
Dari parkiran menuju ke IGD, Belva juga yang membopong Marsha. Seolah kepanikan membuat Belva lupa bahwa dia bisa berteriak dan meminta brankar dorong kepada perawat. Mengingat kondisi Sara yang memang lemas, dan mereka masuk melalui IGD, maka Sara mendapatkan perawat terlebih dahulu.
Dengan sebuah kursi roda, Sara digeledak menuju tempat praktik Dokter Indri di Poli Kandungan untuk mengecek kondisi kehamilan Sara.
“Bagaimana Pak Belva?” tanya Dokter Indri yang menunjukkan raut wajah yang cukup khawatir kali ini.
“Tadi Istri saya terjatuh di rumah, Dok … tubuhnya sangat lemah sekarang,” ucap Belva.
Dengan dibantu perawat, mulailah Dokter Indri memeriksa kondisi Sara, dan melihat di inti tubuh Sara apakah mengeluarkan darah atau terjadi flek yang berisiko pada kondisi janin. Saat dilihat, rupanya benar ada sebercak darah di sana.
“Terjadi flek ya Pak,” ucap Dokter Indri kali ini.
Ya Tuhan, sebatas mendengar bahwa telah terjadi flek, kegusaran Belva kian bertambah. Pria itu sampai mengusap wajahnya dengan kasar.
Sementara itu Dokter Indri mulai bergerak cepat dengan melakukan pemeriksaan dengan USG.
“Di sini kondisi janin masih baik … terlihat di monitor janin masih bergerak di sini. Flek yang terjadi pun bisa dipicu dua hal yang pertama kelelahan dan beban pikiran. Namun, untuk mengantisipasi flek yang bisa terus muncul, saya akan memberikan penguat janin kepada Ibu Sara,” jelas Dokter Indri.
__ADS_1
Usai menjalani pemeriksaan di Poli Kandungan, kemudian Dokter Indri menyarankan supaya Sara mendapatkan perawatan minimal dua hari di Rumah Sakit. Selang infus akan dipasang karena kondisi Sara yang begitu lemas.
Mau tidak mau, Sara pun dipindahkan ke kamar perawatan kali ini. Wanita itu terbaring lemah di atas brankar, sampai ada Dokter lainnya yang memeriksanya.
“Dari hasil pemeriksaan dan cek darah, diketahui kadar kalium Ibu Sara terbilang rendah. Hasilnya hanya 3,6 mmol/L sehingga membuat kondisi tubuhnya begitu lemas. Ibu hamil membutuhkan kalium yang seimbang karena kalium adalah zat yang memegang peranan penting, terutama dalam menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Selain itu, tekanan darah Ibu Sara sangat rendah hanya 80/110,” jelas Dokter tersebut.
“Lalu, bagaimana Dok?” tanya Belva.
“Harus perawatan terlebih dahulu, Pak … selain itu mengingat terjadi flek, tadi Dokter Indri menyampaikan kepada Ibu Sara harus bedrest selama 7 hari,” jelas Dokter tersebut.
Sara yang lemah pun turut mendengarkan penjelasan Dokter tersebut, “Boleh rawat jalan di rumah saja tidak Dok?” tanya Sara kali ini kepada Dokter tersebut.
“Di Rumah Sakit saja, Bu … peralatan medis dan fasilitas kesehatan lebih memadai di Rumah Sakit,” jelas Dokter tersebut.
“Saya memiliki anak di rumah yang membutuhkan saya, Dok,” balas Sara.
Ya, di saat kondisinya begitu lemah pun, Sara mengingat Evan. Tidak rela meninggalkan Evan. Jika di rumah, setidaknya Sara masih bisa melihat putranya itu.
“Kita habiskan satu botol infus dulu ya Bu Sara … setelah itu kita observasi kondisi Ibu lagi,” jawab Dokter itu.
Sara menganggukkan kepalanya. Tidak masalah menunggu sampai habis cairan satu botol infus ke dalam tubuhnya, asalkan Sara bisa menjalani rawat jalan saja. Tidak tenang rasanya meninggalkan Evan sendirian di rumah.
Usai menjelaskan kondisi Sara, Dokter itu berpamitan untuk keluar. Hanya meninggalkan Belva yang berada di kamar perawatan kelas VIP itu menemani Sara. Pria itu kini mengambil duduk di samping Sara dan menggenggam tangan istrinya itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang ... aku yang begitu sibuk bekerja sampai abai dengan kondisimu. Aku abai sampai tidak tahu kalau kamu kekurangan kalium dan tekanan darahmu begitu rendah," ucap Belva dengan penuh rasa penyesalan.