Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Family Holiday


__ADS_3

Keluarga Agastya hari ini bersiap untuk melakukan Family Trip ke Pulau Dewata. Ya, sebuah resort mewah di kawasan Seminyak, Bali menjadi tujuan bagi Belva, Anin, dan Evan. Ketiganya akan berada di Pulau Dewata selama sepekan. Menikmati keindahan alam Bali, dan sekaligus melakukan Second Honeymoon bagi Anin dan juga Belva.


“Masih ada lagi yang perlu dipersiapkan?” tanya Belva kepada istrinya itu.


“Sudah sih, sudah semua … tetapi, ada beberapa barangnya Evan yang belum dibawa,” balas Anin.


Setelahnya, Belva segera mengecek koper khusus yang berisi semua barang-barang Eva. Memastikan jumlah pakaian, peralatan mandi, dan juga diapers milik putranya itu. Bahkan Belva juga menambahkan beberapa peralatan yang dibutuhkan ke dalam koper milik Evan. Tidak lupa juga, Belva mengambil ransel dan mengisinya dengan pakaian ganti, tissue basah, tissue kering, sabun, minyak telon, kantong plastik, dan juga diapers milik Evan. Ransel ini akan dia gendong dan juga bawa saat naik ke pesawat nanti. Sehingga, setiap barang yang dibutuhkan Belva tinggal mengambilnya saja dari ransel tersebut.


“Sekarang berangkatnya?” tanya Anin kepada suaminya itu.


“Iya boleh,” sahut Belva.


Kemudian Belva segera memasukkan beberapa koper yang mereka bawa ke dalam bagasi mobil, kemudian Belva kembali ke dalam untuk menggendong Evan. Mereka bertiga kembali memasuki mobil yang kali ini dikemudikan oleh supir Belva. Mereka akan menuju bandara untuk terbang ke Bali.


Siang itu, lalu lintas Ibukota cukup ramai lancar, sehingga hampir 45 menit, Belva dan keluarganya telah tiba di Bandara Internasional Soekarno - Hatta. Keduanya langsung melakukan cek in dan menunggu waktu boarding.


“Aku seneng banget deh, ini perjalanan pertama kita dengan membawa Evan. Pasti aku akan selalu mengingat-ingat momen ini,” ucap Anin.


“Iya … aku juga seneng. Cuma kalau nanti agak repot, wajar yah … pengalaman pertama kita pergi ke luar kota dan membawa Evan,” balas Belva.


Beberapa orang memang berkata bahwa bepergian dengan mengajak bayi atau anak kecil itu akan terasa lebih merepotkan. Sebenarnya Belva dan Anin cukup was-was, tetapi untuk mewujudkan permintaan Anin, maka Belva pun menurutinya. Dengan konsekuensi mereka harus siap jika Evan mungkin saja bisa tantrum (rewel) saat menaiki pesawat.


Mendengar apa yang diucapkan suaminya, Anin pun menganggukkan kepalanya. Kendati demikian, Anin tetap berharap bahwa Evan tidak akan rewel. Bahkan Anin juga membawakan board book yang diberikan Sara untuk Evan. Sejak mendapatkan board book itu di hari ulang tahunnya, Evan begitu menyukai buku itu dan meminta kepada kedua orang tuanya untuk membacakannya berkali-kali. 

__ADS_1


"Iya, tapi sih semoga saja Evan enggak rewel nanti. Deg-degan sebenarnya aku, tetapi dinikmati saja," balas Anin. 


Hingga akhirnya terdengar attention voice dari bandara bahwa pesawat udara dari Jakarta menuju ke Denpasar, Bali segera diberangkat dan penumpang diminta untuk menaiki pesawat. Dengan gesit, Belva segera menggendong Evan di depan, dipunggungnya terdapat tas ransel, sementara Anin berjalan disamping pria itu. Mereka mengantri dengan menunjukkan tiketnya untuk menaiki pesawat. 


Begitu telah menaiki pesawat, Belva masih menggendong Evan. Jika biasanya, anak akan melekat di Ibunya saat berada di pesawat, kali ini nyatanya justru Evan memilih untuk berada di dalam gendongan Belva. 


Kurang lebih 15 menit setelahnya, para penumpang diminta untuk mengenakan sabuk pengaman, dan pesawat akan mulai lepas landas atau take off. Pesawat yang semula berjalan tenang, perlahan berjalan begitu cepat, hingga badan pesawat mulai terangkat ke udara dan menyesuaikan untuk mengudara di antara awan-awan. 


Merasakan kecepatan pesawat dan juga tekanan udara di dalam pesawat yang berbeda, Evan pun sempat menangis. Bocah berusia hampir 2 tahun tantrum dan menangis begitu kencang. 


"Evan, ini kita naik pesawat, Nak... menangis sih boleh, tetapi jangan berteriak yah. Mau Papa bacakan buku Aku Sayang Ibu dari Bunda?" tanya Belva yang sedang berupaya menenangkan Evan. 


Rupanya kali ini Evan masih menangis, hingga seorang pramugari mendekati Belva. 


"Tidak apa-apa, mungkin hanya kaget karena ini pengalaman pertamanya naik pesawat," jawab Belva. 


"Bisa diberikan minum karena terjadi perubahan tekanan udara di dalam pesawat sehingga membuat telinga terasa nyeri dan anak-anak menjadi tidak nyaman," jelas sang pramugari. 


Anin pun kemudian membukakan ASIP milik Evan dan menaruhnya di dalam botol susu, Belva yang berusaha memberi anaknya itu minum dan membacakan board book untuk Evan. Tidak menunggu waktu lama, Evan pun menjadi lebih tenang. Bahkan Evan mulai berbicara dengan bahasanya yang belum terlalu lancar. 


"Bunda, mana?" tanya Evan. 


Mendengar pertanyaan Evan, Belva melirik sekilas ke arah Anin. Tentunya memastikan bahwa Anin akan baik-baik saja. Usai Anin menganggukkan kepalanya, barulah Belva menjelaskan kepada Evan. 

__ADS_1


"Evan, Bunda apa kok Sayang ... cuma Bunda tidak bersama dengan kita. Evan mau bertemu Bunda?" tanya Belva. 


Evan kecil pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... mau," balasnya. 


Menanggapi ucapan Evan, Anin pun menggenggam tangan kecil milik Evan, "Nanti kapan-kapan kita cari Bundanya Evan ya ... nanti Mama, Papa, dan Evan akan mencari Bunda Sara ke Bogor yah," balas Anin. 


Sekalipun tidak terlalu sering menanyakan Bundanya, tetapi ada hari di mana Evan menanyakan Bundanya. Sebab, dari awal Anin dan Belva juga sudah mengenalkan bahwa Evan memiliki Mama, Papa, dan Bunda. Untuk itu, Evan memang bisa menyebut ketiganya. 


"Mau ketemu Bunda," ucap Evan lagi. 


Hingga tidak terasa pesawat udara yang mereka tumpangi akan melakukan pendaratan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar - Bali. Belva meminta Anin untuk membuatkan ASIP bagi Evan lagi, berjaga-jaga saat landing dan tekanan udara di dalam pesawat kembali berkurang, sehingga tidak menyebabkan nyeri di telinga Evan. 


Pesawat itu perlahan mengurangi ketinggiannya di udara. Berputar memutar, pulau Dewata telah terlihat di bawah sana dengan Tanjung Benoa dan Jalan Bali Mandara yang tampak terlihat dari udara. 


Begitu pesawat kian turun, Belva memberikan ASIP untuk Evan dan membacakan buku Aku Sayang Ibu milik Evan itu. Bahkan sesekali Belva pun menjawab pertanyaan Evan tentang Bundanya. 


Hingga akhirnya pesawat turun, roda-roda pesawat mulai menyentuh permukaan jalan dan berjalan dalam kecepatan tinggi. Pilot segera menarik rem untuk mengurangi kecepatan pesawat. 


"Kita tiba di Bali, Evan ... kita liburan seminggu di sini yah," ucap Belva. Ya, Belva mengatakan bahwa mereka sekarang berada di Pulau Bali untuk melakukan liburan bersama. 


"Holiday," sahut Evan. Bocah kecil itu berteriak dengan kegirangan mengetahui bahwa mereka akan melakukan holiday. 


"Iya, kita holiday yah. Family trip di Bali," balas Anin. 

__ADS_1


Liburan kali pertama bagi Belva dan Anin dengan membawa serta Evan. Semoga saja liburan kali ini mereka tidak hanya bisa menyenangkan Evan, tetapi bisa memanfaatkan waktu untuk mencoba ikhtiar mereka untuk memiliki buah hati. Setidaknya kali ini Anin memiliki keinginan untuk sungguh-sungguh mencoba. Sekalipun peluangnya tidak besar, tetapi Anin ingin berusaha. Mungkin saja kali ini usahanya akan membuahkan hasil.


__ADS_2