
Akhir pekan pun tiba. Akhir pekan menjadi waktu bagi Belva untuk istirahat di rumah. Ya, sebagai seorang CEO pekerjaannya hanya dari Senin hingga Jumat. Di hari Sabtu dan Minggu, Agastya Property memilih libur. Kendati demikian, saat ada beberapa projek yang mengharuskan dia untuk mengecek lapangan, Belva akan keluar untuk mengecek lapangan.
“Ajaklah Sara keluar hari ini … kasihan sejak melahirkan Evan, Sara sama sekali tidak pernah keluar rumah. Palingan dia keluar hanya untuk mengimunisasi Evan,” ucap Anin.
Ya, Anin yang meminta kepada Belva untuk mengajak Sara jalan-jalan ke luar rumah. Bagi Anin, terlalu lama berada di dalam rumah bisa membuat seseorang suntuk. Selain itu, Sara pun perlu melihat dunia luar, sekadar menyenangkan dirinya tidak masalah. Anin sendiri merasa bisa mengurus Evan seharian, terlebih sudah ada ASIP milik Sara di dalam lemari es khusus untuk tabungan ASIP sehingga saat Evan menangis dan meminta minum, Anin tinggal mencairkan ASIP tersebut dan menaruhnya ke dalam botol bayi (dodot).
“Baiklah … aku akan mengajak Sara jalan-jalan. Kamu bisa mengurus Evan?” tanya Belva kemudian kepada Anin.
Wanita itu pun mengangguk, “Ya bisa … aku bisa mengurus Evan. Serahkan Evan padaku,” jawab Anin dengan yakin.
Setelah itu, Belva bersiap. Pria itu tampak mengenakan sebuah kemeja berwarna navy, dipadukan dengan sebuah celana denim. Belva berjalan menuju kamar Sara, mengetuk terlebih dahulu kamar itu.
“Sara, aku Belva,” ucapnya sembari memasuki kamar Sara.
“Ya Pak,” sahut Sara yang baru saja selesai mengosongkan sumber ASI miliknya dan menaruh beberapa kantong ASIP yang sudah terisi ke dalam lemari es.
“Kamu sedang apa?” tanya Belva.
“Usai pumping,” sahut Sara dengan singkat.
“Ayo, kita jalan-jalan. Biarkan Anin yang akan mengurus Evan,” ucap pria itu.
Sara sebenarnya ragu, selama melahirkan Evan belum pernah Sara meninggalkan Evan untuk waktu yang lama. Beberapa kali, Sara menunjukkan enggan untuk keluar bersama Belva.
“Ayo, bersiaplah. Lima menit lagi turunlah ke bawah, aku tunggu,” ucap Belva.
Sara pun mengangguk. Wanita itu mulai mengganti pakaiannya dan sedikit memoleskan wajahnya dengan sedikit bedak dan mengenakan lipstik. Tidak lupa Sara menyemprotkan parfum beraroma Jeruk Pomello di badannya. Wanita itu lantas menggendong Evan, berniat memberikannya kepada Anin.
“Kak, aku nitip Evan,” ucap Sara begitu memasuki kamar Anin.
Dengan senang hati, Anin pun menerima Evan dalam gendongannya, “Sini … Evan ikut Mama yah. Bunda kamu biar jalan-jalan sama Papa,” sahutnya.
Sara melabuhkan ciuman sayang di kening dan pipi Evan, rasanya enggan untuk meninggalkan bayinya. Akan tetapi, di bawah Belva sudah menunggunya. Untuk itu, Sara pun menyerahkan Evan kepada Anin.
“ASIP-nya mengambil dari rak di lemari es yang paling atas terlebih dahulu ya Kak,” ucap Sara yang memberitahu pengambilan ASIP di lemari es.
__ADS_1
“Oke, siap … sudah sana. Belva sudah menunggumu,” ucap Anin.
“Jangan rewel ya Evan … nanti Bunda akan kembali,” pamit Sara kepada putranya itu.
Setelah langkah gamang, Sara menuruni anak tangga. Di bawah sudah ada Belva yang menunggunya. Melihat Sara, Belva yang semula duduk pun kini telah berdiri.
“Yuk, kita pergi sekarang … sebelum panas,” ucap Belva.
Sara mengangguk, wanita itu berjalan mengekori Belva. Namun, ada hal yang aneh yang membuat Belva bertanya kepada Sara.
“Kenapa membawa tas itu Sara?” tanya Belva.
Ya, Sara pergi dengan membawa sling bag yang terkalung di bahunya, dan sebuah tas jinjing yang di dalamnya berisi pumping dan kantong ASIP. Pikirnya saat sumber ASI-nya kembali penuh, Sara bisa meminta izin untuk pumping terlebih dahulu.
“Ini berisi pumping dan kantong ASIP, Pak … nanti jika penuh, aku minta izin untuk pumping terlebih dahulu. Sebab kalau penuh dan tidak diminum Evan dan tidak dipumping akan terasa sakit,” jelas Sara kepada Belva.
Pria itu pun mengangguk, tidak mengira membawa wanita yang menyusui keluar rumah ternyata harus membawa peralatan perangnya seperti pumping, kain penutup dada, dan juga kantong ASIP. Belva pun baru tahu, karena baru kali ini dia akan mengajak Sara keluar lebih lama.
“Oh oke … baiklah,” sahut Belva.
“Kita jalan-jalan ke Mall, kamu tidak keberatan kan?” tanya Belva.
Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, “Tidak … kemana saja tidak masalah,” sahut Sara.
Lagipula, Sara tidak ada tempat tersendiri yang harus dituju. Sehingga, Sara memilih mengikuti Belva saja. Kemana pria itu membawanya, dia akan ikut serta.
“Mau nonton bioskop?” tanya Belva lagi.
“Boleh,” sahut Sara dengan cepat.
“Ingin nonton film apa?” tanya Belva.
“Terserah Pak Belva saja, aku ngikut saja,” jawab Sara.
Merasa bahwa Sara tidak mengatakan jenis film apa yang hendak dia tonton, akhirnya Belva memilih film Superhero yang akan dia tonton bersama dengan Sara. Tidak lupa Belva membeli minuman dan popcorn yang akan menemani keduanya menonton film kurang lebih selama dua jam.
__ADS_1
“Ayo, kita masuk … sepuluh menit lagi, filmnya akan diputar,” ajak Belva. Pria itu secara refleks menggandeng tangan Sara dan membawanya memasuki studio 2, di mana film akan segera diputar.
Keduanya memasuki studio itu dan mencari tempat duduk yang sudah dipilih oleh Belva. Lantaran film Superhero, sudah pasti peminatnya banyak, bahkan anak-anak kecil pun turut menyaksikan film tersebut. Studio bioskop yang semula lampunya menyala, perlahan mulai dimatikan saat film hendak diputar.
Belva berbisik lirih kepada Sara, “Kamu tidak takut gelap kan?” tanya pria itu.
Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, “Tidak … lagipula masih ada cahaya lampu, jadi aku tidak takut,” sahutnya.
Rasanya Belva merasa begitu tenang saat Sara tidak merasa takut karena ruangan studio yang gelap. Keduanya terlihat tenang melihat film yang diputar, hanya saja beberapa kali Sara melirik pria yang duduk di sebelahnya itu. Tidak mengira sebenarnya bahwa dirinya memiliki kesempatan melihat bioskop bersama dengan Belva.
“Tidak takut kan?” tanya Belva lagi.
“Tidak,” sahut Sara.
“Adegannya?” tanya Belva karena saat itu layar di depan menunjukkan scenes peperangan antar Superhero.
“Tidak, aku tidak takut,” jawab Sara lagi.
Belva lantas mengulurkan tangannya, tangan pria itu bergerak dan meraih tangan Sara dalam genggamannya. Seakan jari-jarinya mengisi kekosongan di sela jari-jemari Sara, menggenggam tangan itu dan memberi sedikit remasan di sana.
“Kenapa Pak?” tanya Sara, karena Sara sendiri merasa berdebar sekarang ini. Hanya sebatas berpegangan tangan saja, Sara sudah berdebar-debar.
“Tidak apa-apa. Kalau kamu takut, kamu bisa meremas tanganku,” ucapnya.
Sara menghela nafasnya yang terasa berat. Sikap Belva yang seperti inilah yang membuatnya gamang. Tidak tahu harus mengartikan apa semua sikap Belva yang terlampau baik ini.
Hingga tidak terasa film pun usai diputar, saat lampu dinyalakan, Sara secara refleks melepaskan tangan Belva begitu saja.
“Kenapa dilepas?” tanya Belva.
“Oh … itu. Itu karena filmnya sudah selesai,” jawab Sara. Ya, Sara mencari alasan bahwa dia melepaskan tangan Belva karena filmnya sudah selesai. Dia merasa tidak perlu berpegangan tangan lagi dengan pria itu.
Belva justru tersenyum, “Kamu terus menggenggam tanganku pun tidak masalah,” jawabnya.
Sara berkata dalam hatinya sendiri, lebih baik tetap ada garis batas antara dirinya dan Belva. Biarkan semuanya begini adanya. Dirinya yang harus menarik garis batas itu. Walau perasaannya untuk Belva sudah bersemi dalam hatinya, tetapi Sara tidak akan melanggar batas yang sudah dia buat dan dia tentukan.
__ADS_1