
Keesokan harinya, Sara sudah bersiap dengan pakaian yang rapi. Wanita itu harus bersiap-siap. Sebab, seperti janji Belva padanya semalam, mereka akan mengunjungi Dokter Kandungan hari ini.
"Kak, aku pamit mau ke Dokter dulu ya Kak," pamit Sara terlebih dahulu kepada Anin yang saat itu tengah duduk di ruang keluarga.
Anin yang merasa dipamiti Sara pun tampak terkejut, "Kamu sakit Sara? Kenapa ke Dokter? Mau aku antar?" tanyanya kini kepada Sara.
Akan tetapi, dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, "Aku sudah telat datang bulan selama dua minggu Kak, jadi mau cek saja ke Dokter," cerita Sara kali ini.
Sungguh, sebenarnya Sara hanya tidak ingin memberitahu Anin secara langsung bahwa hasil tesnya positif. Sekalipun Belva sudah mengetahuinya, tetapi untuk mengatakan langsung kepada Anin kenapa Sara merasa sungkan, lagipula Anin selama ini juga bersikap baik padanya.
Wajah Anin yang selama tegang saat mendengar Sara hendak ke Dokter pun perlahan kembali rileks.
"Oh, itu … jadi sudah ada kabar baik buatku?" tanya Anin kemudian.
"Belum tahu Kak, semoga hasil pemeriksaan dari Dokter benar-benar menjawab semuanya," sahut Sara kali ini.
Anin kemudian mengangguk, "Jangan sungkan untuk memberitahuku, anggap aku ini Kakakmu. Lagipula, anakmu nanti kan juga adalah anakku. Jadi, kamu akan ke Dokter dengan siapa?" tanya Anin kali ini.
"Dengan Pak Belva," sahut Sara.
Saat menjawab bahwa dirinya hendak pergi dengan Belva, sesungguhnya Sara merasa tidak enak hati. Akan tetapi, yang terlihat sekarang ini justru Anin terlihat sangat santai.
"Ah, dengan Belva … oke, tidak masalah. Justru supaya dia juga belajar untuk menjadi Ayah sejak anaknya masih di dalam kandungan," sahut Anin saat ini.
"Maaf Kak," ucap Sara yang meminta maaf kepada Anin. Sebab bagaimana pun, Sara merasa tidak enak dengan Anin.
Dengan hamilnya dia, berarti sudah menjadi bukti bahwa Sara sudah bersetubuh dengan Belva. Entah rasanya, hati Sara menjadi tidak tenang dan harus meminta maaf kepada Anin.
"Tidak perlu minta maaf, lagipula kan memang kamu harus hamil dan melahirkan. Sungguh, aku tidak apa-apa," ucap Anin kali ini.
Hingga akhirnya Sara pun mengangguk, "Makasih Kak," jawabnya.
Selanjutnya, setelah 20 menit berlalu Belva pun baru saja datang dari kantor, dan pria itu tampak melihat Sara yang tengah berbicara dengan Anin.
__ADS_1
“Ayo Sara, kita ke Dokter sekarang juga,” ucap Belva.
Merasa bahwa Belva sudah mengajaknya, maka Sara pun berdiri dan wanita itu segera berpamitan dengan Anin, “Kak, aku ke Dokter dulu ya Kak,” pamitnya kepada Anin.
“Iya, hati-hati ya … nanti kita cerita-cerita lagi ya,” sahut Anin dengan melambaikan tangannya kepada Sara.
***
Selang setengah jam …
Belva dan Sara kini tengah menunggu di ruangan tunggu, pemeriksaan pertama rasanya benar-benar membuat Sara deg-degan. Sementara dirinya dengan Belva juga tidak saling berbicara. Sehingga Sara lebih mengamati beberapa wanita hamil yang juga sedang mangantri untuk diperiksa. Hatinya merasa hangat saat melihat pasangan yang muda terlihat begitu saling menyayangi dan mengasihi. Bahkan sang pria beberapa kali mengusapi perut istrinya yang sudah terlihat menyembul ke depan.
Pasangan yang bahagia …
Andai saja, aku merasakan hal yang demikian, sayangnya semua itu hanya mimpi.
Tugasku hanyalah melahirkan bayi ini.
Sontak saja, kedua mata Sara tampak berkaca-kaca, tetapi Sara berusaha menetralkan kembali perasaannya. Hingga sebuah panggilan dari perawat pun membuat Sara mengerjap.
“Ibu Sara Valeria,” panggil sang perawat yang menyebut nama Sara.
Sara kemudian mengangguk dan memasuki ruangan pemeriksanaan. Tampak seorang Dokter Spesialis Kandungan/Obgyn yang terlihat masih muda dan juga cantik. Dokter itu tersenyum ramah kepada Sara dan Belva.
“Halo, perkenalkan saya Dokter Indri …,” ucap sang Dokter yang memperkenalkan diri kepada Sara dan Belva.
“Halo Dok, saya Belva dan dia istri saya, Sara,” ucap Belva.
Tidak disangka ternyata pria itu mengenalkan Sara sebagai istrinya. Tampak Sara yang sedikit menoleh melirik wajah Belva saat pria itu mengenalkannya sebagai istrinya.
Setelah itu, Dokter Indri kembali berbicara, “Ini pemeriksaan yang pertama ya Bu?” tanyanya kepada Sara.
“Iya, Dok.” Sara menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Sebelumnya sudah tes kehamilan?” tanya Dokter Indri lagi.
Sara pun mengangguk, “Iya, sudah Dok … tiga hari yang lalu,” jawab Sara lagi.
“Baik, sekarang kita akan langsung melakukan pemeriksaa ya,” ucap Dokter Indri yang langsung menyuruh Sara untuk berbaring di atas brankar. Dokter itu kemudian memakai sarung tangan terlebih dahulu.
“Kita lakukan USG Transvaginal ya Bu?” jelas Dokter Indri sembari mengambil tranducer yang panjangnya kurang lebih 3 centimeter itu.
Akan tetapi, Sara menggelengkan kepalanya, “Dimasukkan ya Dok?” tanyanya dengan wajah yang cukup panik.
“Iya, tidak apa-apa justru saat kehamilan masih muda, dengan transvaginal ini bisa melihat keseluruhan organ reproduksi wanita mulai dari rahim, saluran indung telur, indung telur, hingga leher rahim. Sekarang, ikuti instruksi saya ya Bu, buka kedua pahanya, dan … tarik nafas,” instruksi Dokter Indri sembari memasukkan transducer ke inti tubuh Sara.
Mulailah terlihat bagian yang tampak di layar monitor, dan Dokter Indri pun mulai menjelaskannya kepada Sara.
“Yap, selamat datang di kehamilan 4 minggu ya Bu Sara,” jelas Dokter Indri.
Wah, saat mengetahui usia janinnya sudah berusia 4 minggu, Sara sontak meneteskan air mata. Dia sungguh tidak mengira bahwa dirinya benar-benar hamil. Sama halnya dengan Belva yang merasakan buliran air mata menetes begitu saja saat Dokter Indri mengatakan usia kehamilan Sara sudah berusia 4 minggu.
“Secara biologis, janin Ibu Sara ini masih disebut embrio ya, karena ukurannya yang masih kecil kurang lebih 2 milimeter dan ukuranya jika diperkirakan sebesar biji kacang hijau, sangat kecil. Nah, biji kecil yang melayang-layang ini namanya Embrio ya Bu, dan lingkaran yang terlihat ini namanya rahim. Jadi, embrio itu akan tumbuh di dalam rahim. Sejauh ini janin sehat ya, hanya saja karena masih awal banget, harus di hati-hati.” ucap Dokter Indri memeriksa kondisi janin Sara.
Setelah itu, Dokter Indri kembali menginstruksikan Sara untuk menarik dan menahan nafas sejenak, karena transducer akan dikeluarkan dari inti tubuh Sara.
“Apa keluhan Bu?” tanya Dokter Indri.
Sara pun menggelengkan kepalanya, “Tidak, saya sehat kok Dok … hanya saja ada yang mengalami Couvade Syndrom,” ucap Sara dengan lirih.
Dokter Indri lantas tertawa, “Tidak apa-apa, Couvade Syndrom atau kehamilan simpatik terjadi karena ikatan yang kuat antara Ayah dan Debaynya. Paling tidak bisa berlangsung selama tiga bulan, jadi dinikmati saja ya Pak,” jawab Dokter Indri.
Rupanya tidak berhenti di situ, karena Dokter Indri juga menyampaikan pesan yang lain, “Oh,iya jika Bapak dan Ibu ingin melakukan hubungan suami istri diperkenankan ya, asalkan tidak ada masalah dengan janin. Tidak menekan bagian perut, dan jangan terlalu sering karena hormon prostaglandin pada cairan pria bisa membuat janin kontraksi, jadi lebih berhati-hati saja,” jelas Dokter Indri.
“Namun, terus karena takut juga tidak melakukan sama sekali ya, karena janin juga terkadang harus ditengokin oleh Papanya, walaupun tidak sesering saat belum hamil dulu,” pesan Dokter Indri.
Bisa terlihat wajah datar Belva, sementara Sara hanya mengangguk. Jika, Dokter sudah berpesan demikian, maka Sara harus rela jika suatu saat Belva berkeinginan untuk menengok anaknya.
__ADS_1