Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Oleh-Oleh dari Suami


__ADS_3

Selang beberapa hari kemudian, di meja makan pagi hari itu tampak Belva yang sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Kemeja berwarna navy biru, dipadukan dengan celana bahan. Papa muda dan sekaligus CEO Agastya Property itu tampil layaknya eksekutif muda. Kendati sudah mengenakan pakaian kerja lengkap, rupanya Belva yang sudah rapi masih mau saja untuk turun ke dapur.


“Ini … susu rasa stroberi seperti biasanya kesukaan Mama,” ucap Belva sembari menyodorkan segelas susu hangat dengan rasa stroberi dan menyerahkannya kepada Sara.


“Makasih Papa,” balas Sara dengan menerima susu itu dari tangan suaminya.


“Mama … cucu … au cucu Ma (Mama … Susu, mau susu, Ma.),” rupanya Elkan pun menunjuk-nunjuk kepada gelas yang dipegang oleh Sara itu. Mendengar kata susu, Elkan pun segera cepat-cepat untuk meminta susu itu dari Mamanya.


“Susu ini hanya boleh untuk Mama, Dik Elkan … Mama minum susu biar babynya di dalam perut Mama sehat,” jelasnya kepada Elkan.


Usia Elkan memang sudah lebih dari 2 tahun, hanya saja kemampuan berbicaranya masih cadel. Layaknya para bayi yang berbicara dengan kata-kata yang justru membuat orang yang mendengarnya tertawa.


“Auu … Ma,” pinta Elkan lagi yang menginginkan susu.


“Adik El … tidak boleh. Itu susu untuk Mama. Adik El mau susu? Sini, biar Kakak saja yang buatin.” ucap Evan.


Agaknya Evan pun sepenuhnya paham bahwa susu yang baru saja diberikan Papanya untuk Mamanya adalah susu khusus Ibu hamil. Daripada Elkan merengek dan terus meminta susu itu, Evan yang kali ini segera berdiri dan membuatkan susu untuk Elkan di dodot susu.


Dari meja makan, Sara tampak mengamati Evan yang sedang berusaha membuatkan susu untuk adiknya itu. Sara tidak mencegah Evan, karena bagi Sara seorang anak juga perlu diberikan kepercayaan untuk melakukan sesuatu hal supaya kepercayaan dirinya juga terasah. Oleh karena itulah, Sara memberi kesempatan kepada Evan untuk membuatkan susu di dodot untuk adiknya. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit, Evan yang sudah seragam SD nya tampak tersenyum puas dan memberikan dodot ASI yang sudah berisi susu itu untuk Elkan.


"Ini Adik El, kamu minum susu ini saja. Yang di gelas itu khusus untuk Mama," ucapnya.


Sara tersenyum, wanita itu mengulurkan tangannya dan mengusap puncak kepala Evan, "Makasih Kakak Evan sudah mau membuatkan susu untuk Adik," balas Sara. Dia benar-benar berterima kasih kepada Evan, bukan lantaran Evan membuatkan susu untuk Adiknya. Akan tetapi, Sara berterima kasih karena Evan menjadi sosok yang perhatian dan sayang kepada adiknya. Di dalam hatinya, Sara yakin bahwa Elkan akan sangat berbahagia memiliki kakak seperti Evan.


"Aciihhh Kak," balas Elkan yang segera meminum dodot berisi susu dengan rasa vanilla itu.

__ADS_1


"Sama-sama Adik El," balas Evan dan anak itu kembali duduk dan menghabiskan sarapannya.


"Kakak Evan kok bisa bikinin susu di dalam dodot untuk Adik sih?" tanya Sara kepada Evan.


"Bisa dong Ma, kan Evan sering melihat Mama dan Papa yang membuatkan susu. Jadi Evan bisa. Mama menyuruh Evan melakukan apa, asal diberitahu dulu pasti Evan bisa kok, Ma," balas Evan dengan yakin.


"Wah, hebat … Kak Evan makin dewasa, makin keren. Makasih banyak Kak Evan sudah peduli dan sayang kepada Adik dengan membuatkan susu," balas Sara.


Ada prinsip yang harus diucapkan orang tua kepada anak perihal berterima kasih yaitu ucapkan terima kasih untuk apa yang sudah anak lakukan dan kerjakan. Puji prosesnya. Sebab, anak juga membutuhkan apresiasi dari orang tua yang bisaa meningkatkan kepercayaan dirinya.


Prinsip dan pola pengasuhan seperti ini yang Sara dan Belva terapkan di rumah. Keduanya ingin Evan, Elkan, dan tentunya si baby nanti akan tumbuh dengan karakter yang baik dan percaya pada dirinya sendiri bahwa setiap orang bisa melakukan banyak hal yang baik dan bermanfaat.


"Makasih Kak Evan, sayangi Adik yah … hanya saja jika Adik Elkan salah, kamu boleh menegurnya," balas Belva.


"Iya Papa, cuma Adik itu sukanya ngeyel, Pa. Kalau sudah menangis," gerutu Evan kali ini kepada Papanya.


"Adik El masih kecil Kak Evan … nanti pelan-pelan dia juga akan menjadi taat dan enggak cengeng. Okey?" balas Sara kepada putranya.


"Iya Ma, ya sudah … Evan berangkat ke sekolah ya Ma, itu Pak Heri (sopir keluarga Agastya) sudah bersiap. Nanti takutnya Evan terlambat," pamitnya kepada keluarganya.


Evan langsung berdiri dan mencium tangan orang tuanya sebelum berangkat ke sekolah. Sementara Sara menghentikan sarapannya terlebih dahulu, dan membantu Evan memakai tas ranselnya, membawa bekalnya, kemudian Sara mengantar Evan sampai ke depan pintu.


"Sekolah yang rajin yah Kak Evan. Mama sayang Kakak!"


Itu adalah kalimat yang selalu Sara ucapkan 5 kali dalam sepekan hampir di setiap paginya. Putranya sudah kian bertumbuh, Sara ingin putranya itu rajin ke sekolah dan bisa mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Sara sendiri memang hanya lulusan SMA, tetapi dia ingin semua anaknya bersekolah minimal Sarjana. Ingin mengejar sampai pascasarjana pun, Sara tidak akan keberatan. Untuk pendidikan anak-anaknya, Sara tidak keberatan untuk mengeluarkan sejumlah uang.

__ADS_1


Setelah Evan berangkat, tidak berselang lama giliran Belva yang berangkat ke tempat bekerja, "Aku juga berangkat ke kantor dulu ya Sayang. Hati-hati di rumah. Jangan kecapekan. Usahakan bermainnya sama Elkan yang tidak menguras tenaga. Suamimu pergi mengais rezeki dulu yah," balas Belva.


Sara terkekeh geli mendengar pamit dari suaminya itu, "Hati-hati di jalan Mr. CEO. Ditunggu nanti sore pulang ke rumah yah," balas Sara.


***


Sepanjang siang hari dilalui Sara dengan mengasuh Elkan. Untung saja Elkan bisa diberitahu bahwa Mamanya sedang hamil, sehingga Sara memang mengasuh anaknya dengan lebih banyak duduk, melantai, atau membaca buku saja.


Saat menjelang sore, Sara juga memandikan anak-anaknya sendiri. Walau kaya raya, urusan mengurus anak tetap dilakukan Sara sendiri. Mengemban tugas pengasuhan utama di dalam keluarga, justru Sara merasa senang bisa mengasuh putra-putranya sendiri.


"Sudah sore … Kak Evan main sama Adik Elkan dulu yah? Mama mau makan roti dulu ya, lapar," ucapnya kali ini.


Kehamilan kali ini pun, Sara merasakan bahwa dirinya memang lebih merasa lapar. Sehingga camilan dan buah di rumah stoknya lebih banyak.


"Iya Ma, Mama mau makan roti apa? Evan mau dong, Ma," balas Evan.


Sara pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Boleh, sudah pasti Mama akan berbagi dengan putra-putranya Mama ini," balas Sara.


Baru berjalan menuju dapur, rupanya pintu rumah sudah terbuka. Tampak suaminya datang dengan menenteng beberapa paper bag di tangannya.


"Papa pulang," seru setiap sore hari ketika pulang bekerja.


"Yeay!"


Duo E pun sama-sama berteriak. Di saat sang Papa pulang, berarti waktunya untuk bermain dengan Papanya.

__ADS_1


Belva kemudian berjalan mendekat ke Sara dan memberikan sebuah paper bag kepada istrinya, "Buat Mama … Papa lihat Mama mau suka camilan kue kan? Macarons dan Pluffy buat Mama," ucap Belva.


"Wah, makasih banget Papa… baru saja Mama mau ke dapur untuk ambil kue karena perut udah kerasa lapar. Sekarang malahan dapat oleh-oleh dari Papa. Padahal aku enggak minta oleh-oleh loh, yang kuminta Papa pulang saja," jawab Sara dengan tersenyum menatap wajah suaminya itu.


__ADS_2