Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kedatangan Tiba-Tiba


__ADS_3

Agaknya hari itu, Zaid ingin berlama-lama berada di Coffee Bay itu semua karena pekerjaan di Surabaya telah selesai. Zaid tinggal menerima laporan dari kepala cabang kafe miliknya yang berada di Surabaya.


“Usai ini akan bolak-balik ke Surabaya dong?” tanya Sara kepada Zaid.


Pria itu tampak menganggukkan kepalanya, “Iya … cabang baru harus lebih banyak mendapatkan perhatian,” balas Zaid.


“Kamu gigih dan telaten sekali, Zai,” balas Sara kali ini.


Akan tetapi Zaid hanya tersenyum dan menatap Sara, “Namun, aku yang gigih dan telaten ini nyatanya masih belum bisa membuatmu menerima perasaanku,” jawab Zaid dengan tiba-tiba.


Tentu saja setiap kali Zaid membahas perihal perasaan, Sara seakan tidak enak hati. Sebab, selama ini Sara justru berkali-kali menolak pria itu. Untuk itu, Sara lebih memilih menunduk dan tidak merespons ucapan Zaid.


“Hei, Sara … aku hanya bercanda,” ucap Zaid lagi yang melihat Sara yang hanya terdiam dan menundukkan wajahnya itu.


“Sorry Zai, dari awal kan aku sudah bilang jika aku tidak bisa,” balas Sara.


Bukannya Sara menggantung Zaid, tetapi berkali-kali Zaid mengatakan, berkali-kali juga Sara mengatakan bahwa dia tidak bisa menerima perasaan Zaid. Sara melakukan itu karena Sara tidak ingin memberikan harapan palsu untuk Zaid.


Lagi-lagi Zaid kembali tertawa dan seakan tidak terjadi pembicaraan seperti itu dengan Sara. Pria itu tampak mengalihkan pembicaraan kepada hal yang lain. Bahkan mengajak Sara bercanda. Entah, bagaimana sebenarnya sosok Zaid itu, hanya saja pria itu selalu bisa mengubah kembali suasana yang canggung menjadi begitu mencair.


Sara yang tengah duduk dengan Zaid di sudut Coffee Bay itu, tidak menyadari jika dari luar ada sepasang netra yang memperhatikan keduanya dari dalam mobil berwarna hitam yang sudah beberapa menit terparkir di depan Coffee Bay.


Pria yang duduk di balik stir kemudi itu tampak mengamati interaksi Sara dengan Zaid dengan menghela nafas sepenuh dada. Ingin turun rasanya enggan karena takut mengganggu Sara dengan pria itu. Akan tetapi, jika tidak turun rasanya juga sayang karena pria itu datang dari jauh hanya untuk menemui Sara.


Untuk itu, pria itu memilih menunggu sejenak di balik stir kemudinya sembari memperhatikan Sara. Perasaan bimbang kemudian menyulut begitu saja. Haruskah turun dan menemui Sara sekarang ini atau harus berputar balik dan kembali ke Jakarta? Di tengah kebimbangannya ada satu hal yang harus dilakukan pria itu. Satu hal yang jauh lebih penting dibandingkan dengan semuanya termasuk dengan perasaannya sendiri.


Hampir sepuluh menit berlalu, barulah pria tersebut memutuskan untuk turun dari mobil dan kemudian berjalan memasuki Coffee Bay.


“Silakan, ada yang dipesan?” sapa Nina begitu pria tersebut memasuki Coffee Bay.


“Maaf, saya datang untuk bertemu Sara,” jawab pria itu dengan wajah datarnya dan auranya yang begitu dingin.

__ADS_1


“Oh, Kak Sara duduk di sana … silakan saja,” balas Nina sambil menunjuk ke arah Sara.


Sebenarnya bukannya pria itu tidak tahu, hanya saja formalitasnya memasuki sebuah kedai kopi. Kemudian pria itu menghela nafas sepenuh dada, dan berjalan menuju sebuah tempat yang ditempati Sara saat ini bersama dengan seorang pria itu.


“Sara,” sapa pria itu dengan kini telah berdiri di hadapan Sara yang tengah duduk.


Sontak saja, Sara tertegun. Benarkah suara itu kali ini yang memanggilnya? Perlahan Sara mengalihkan pandangannya dan menengok ke arah sumber suara, rupanya pria berperawakan tinggi dan memiliki suara bariton yang begitu khas itu sudah berdiri di hadapannya.


“Pak Belva ….” tanya Sara dengan bingung.


Sara pun bertanya-tanya dalam hati, untuk maksud apa Belva Agastya sekarang ada di Coffee Bay miliknya dan Sara memperhatikan di sekeliling pria itu, tentu yang Sara cari sekarang adalah Evan, tetapi tidak ada Evan di sana.


“Di mana Evan?” tanya Sara dengan raut wajah yang terlihat bingung.


Tentu saja Sara mencari Evan karena dirinya sangat merindukan putranya itu. Bahkan beberapa saat yang lalu, Sara membicarakan putranya itu bersama dengan Zaid. Sekarang Sara melihat Papa sang putra, tetapi Evan tidak besertanya. Langsung saja Sara berpikiran yang tidak-tidak tentang Evan.


Belva menatap Sara kemudian sorot matanya beralih kepada Zaid yang masih duduk di hadapan Sara.


“Bisa kita bicara sebentar Sara?” ajak Belva saat itu.


Wanita itu perlahan berdiri dan berpamitan dengan Zaid untuk berbicara dengan Belva untuk sebentar.


“Ada apa Pak Belva? Di mana Evan?” tanya Sara lagi.


Belva masih diam, dia harus memberitahukan sesuatu yang penting kepada Sara kali ini. Pria itu menghela nafasnya sejenak dan baru mulai bersuara.


“Sara, sebenarnya … saat ini Evan sedang sakit. Dia terkena Flu Singapura. Semalam demamnya tinggi dan dia meminta supaya Mama Sara datang ke Jakarta untuknya,” cerita Belva dengan jujur kali ini.


Mendengar kabar bahwa Evan tengah sakit, wajah Sara terlihat begitu sedih. Tidak mengira bahwa putranya itu tengah sakit dan menginginkan dirinya untuk datang ke Jakarta dan menemuinya. Selama empat tahun sudah, Sara benar-benar tidak pernah menginjakkan kakinya di Ibukota. Sekarang harusnya dia menyudahi pengasingan dirinya?


Melihat Sara yang diam dan tengah berpikir, Belva kembali bersuara.

__ADS_1


“Terdapat ruam di area mulut dan tangannya. Ruam kemerah-merahan. Saat aku membawakan ke Dokter Spesialis Anak, Dokter mengatakan kalau Evan terkena Flu Singapura. Semalam dia demam tinggi, dan dia menangis-nangis meminta untuk bertemu dengan Mama Sara. Akan tetapi, mengingat kesehatannya, hanya aku yang sekarang datang kemari dan memintamu untuk bisa menemui Evan,” jelas Belva kali ini.


“Sudah turun demamnya?” tanya Sara.


“Tadi pagi saat aku kemari, demamnya sempat turun … aku menjanjikan kepadanya untuk membawa Mamanya,” balas Belva.


Sara pun memejamkan matanya, hatinya begitu sedih. Baru kali ini juga Sara mendengar langsung bahwa putranya itu kurang sehat.


“Baiklah aku akan ke Jakarta … aku akan berangkat sendiri saja,” balas Sara.


Tentu itu karena dirinya tidak enak dan sungkan dengan Belva. Satu mobil dalam perjalanan yang bisa menempuh waktu 2 - 3 jam bisa membuatnya mati kutu, terlebih tidak ada Evan.


Saat Sara mengatakan demikian, ternyata terdapat panggilan video di handphone Belva, dan tentu itu adalah dari Evan. Dengan cepat Belva menggeser ikon hijau bergambar telepon di layar handphone.


“Ya, Evan … kenapa Nak?” tanya Belva.


“Papa jangan lama-lama, bawa Mama kemari. Evan kangen Mama,” ucap Evan.


“Evan bicara sendiri sama Mama yah,” balas Belva.


Lantas Belva memberikan handphonenya kepada Sara, di layar terlihat wajah Evan dengan beberapa ruam di sekitar bibir dan dagunya. Putranya itu terlihat lebih kurus dari biasanya.


Mata Sara tampak berkaca-kaca saat menatap wajah Evan di layar handphone itu, “Evan … kamu sakit ya Sayang?” tanya Sara.


“Iya Mama … Mama, maukah Mama datang kemari bersama Papa? Papa janji akan membawa Mama. Evan kangen Mama,” ucap Evan dengan berkaca-kaca di sana.


Sungguh hati Sara begitu sakit rasanya melihat putranya yang sakit dan sekarang hampir menangis. Melihat wajah Evan, Sara pun menganggukkan kepalanya.


“Iya Evan, Mama kesana yah … kalau Mama datang nanti Evan sembuh yah?” balas Sara.


“Iya, berangkat sekarang sama Papa ya Ma … Papa akan bawa Mama ke sini. Evan tungguin ya Ma. Bye Mama ….”

__ADS_1


Sara tampak meneteskan matanya dan menyerahkan handphonenya kepada Belva, “Baiklah, aku akan ikut dengan Pak Belva. Aku akan berpamitan dengan karyawan dan Zaid dulu,” ucap Sara sembari berdiri.


Sara kemudian mempercayakan Coffee Bay kepada Nina terlebih dahulu. Meminta Nina menghandle Coffee Bay sampai dia kembali dari Jakarta, dan tidak lupa Sara berpamitan dengan Zaid karena dirinya akan ke Jakarta karena Evan sedang sakit. Sara mengambil sling bag miliknya dan kembali menemui Belva. Kali ini, Sara akan kembali ke Jakarta untuk putranya, Evan. Sungguh Sara sangat khawatir karena Evan tengah sakit. Rasanya Sara ingin bisa segera tiba di Jakarta saat ini demi Evan.


__ADS_2