
Kembali lagi ke perusahaan, tentu membuat Belva harus beradaptasi dengan begitu banyaknya yang pekerjaan yang menumpuk. Libur hampir dua pekan membuat begitu banyak pekerjaan dan file dokumen yang tertumpuk di meja kerja Belva. Hingga tumpukan file dokumen adalah pemandangan pertama yang Belva lihat begitu memasuki ruangannya di kantor.
“Selamat bekerja kembali Bos,” ucap Ridwan yang merupakan sekretaris pribadi Belva di kantor.
Tampak Belva menganggukkan kepalanya, “Ini kenapa file dokumen menumpuk di sini ya Wan?” tanya Belva.
“Iya Bos … selama dua pekan memang begitu banyak laporan yang harus dicek langsung oleh Bos. Sebagian sudah saya cek, tetapi tetap untuk finalisasi membutuhkan pengecekkan secara langsung dari CEO,” balas Ridwan.
Tampak Belva menganggukkan kepalanya dan kemudian akan mencoba untuk mengecek laporan di dalam file dokumen itu satu per satu.
“Baiklah … aku akan mengeceknya. Tidak ada pertemuan penting hari ini kan?” tanya Belva kepada sekretarisnya itu.
“Tidak Bos … untuk hari ini tidak ada rapat dan pertemuan penting. Hanya saja pekan depan ada pertemuan dengan perusahaan milik Pak Anthony,” balas Ridwan.
Mendengar nama Anthony, Belva seakan enggan untuk bertemu kembali dengan pria itu. Akan tetapi, mengingat kerja sama yang harus berjalan antara perusahaannya dengan perusahaan milik Anthony, maka Belva akan bersikap professional. Lagipula, sekarang Sara sudah sepenuhnya menjadi miliknya. Belva tidak akan membiarkan pria lain mana pun termasuk Anthony mengusik Sara dari sisinya.
“Oke, baiklah. Silakan kembali bekerja,” ucap Belva kepada sekretarisnya itu.
Setelahnya Belva segera mengecek file dokumen itu satu per satu. Berusaha fokus supaya bisa menyelesaikan semuanya. Belva terlihat begitu serius, beberapa kali pria itu tampak menggelengkan kepalanya yang begitu pegal rasanya. Sungguh Belva tidak mengira bahwa cuti selama dua pekan membuat pekerjaannya menggunung begitu banyaknya.
Sudah setengah hari lebih Belva mengecek laporan-laporan itu, tetapi tetap saja begitu banyak file dokumen di mejanya saat ini. Belva mengerjap saat mendengarkan pintu ruangannya diketuk dari luar.
“Ya, siapa?” sahut Belva tanpa mengangkat wajahnya, karena pria itu masih begitu fokus untuk mengerjakan semua pekerjaannya. Lebih cepat diselesaikan akan semakin baik.
“Saya Bos … Bos Belva tidak makan siang? Ini sudah waktunya makan siang,” ucap Ridwan yang mengingatkan Belva untuk bisa makan siang terlebih dahulu.
“Duluan saja, Wan … saya mau selesaikan semua pekerjaan ini dulu,” sahut Belva.
Melewatkan makan siang memang biasa bagi Belva. Terlebih jika pekerjaannya baru begitu banyak, Belva memang sering melupakan makan siang. Pria itu memilih menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Sementara untuk makan bisa sekaligus makan malam di rumah.
Sibuk bekerja sampai membuat Belva lupa untuk mengirimkan pesan kepada Sara, istrinya. Pria itu menghela nafas dan memijit keningnya yang terasa begitu kencang. Kemudian Belva mengeluarkan handphone dari saku celananya dan berniat untuk mengirimkan pesan kepada Sara. Akan tetapi, rupanya sejak beberapa jam lalu Sara sudah terlebih dahulu mengirimkan pesan kepadanya.
__ADS_1
[To: Mas Belva]
[Masih bekerja Mas?]
[Jangan lupa makan siang yah. Sesibuk-sibuknya bekerja, perut jangan sampai kosong.]
[Ini aku sedang membuatkan Spaghetti Bolognese untuk Evan.]
[Lihat nih, Evan makannya lahap sekali.]
[Semangat bekerjanya ya Papa …]
[I Love U!]
Deretan pesan itu masuk ke dalam handphone Belva dan baru kali ini Belva membacanya. Belva tersenyum membaca setiap pesan dari Sara. Pria itu juga tersenyum melihat gambar yang dikirimkan Sara yang memperlihatkan betapa lahapnya Evan yang tengah menikmati Spaghetti Bolognese buatan Sara. Lantas, jari-jemari Belva bergerak dan hendak membalas pesan dari istrinya itu.
[To: Sara]
[Dari pagi aku mengecek begitu banyak laporan.]
[Sejak pagi baru bisa memegang HP sekarang.]
[Kamu di rumah sedang apa?]
[Kamu jangan lupa makan juga yah.]
[Tunggu aku pulang sore nanti.]
[I Love U too!]
Tanpa menunggu waktu lama, Belva pun mengirimkan pesan balasan. Pria itu terlihat begitu bahagia karena sekarang dirinya memiliki istri yang begitu memperhatikannya. Seorang istri yang baik dan peduli dengan dirinya. Setelah dua tahun hidup sendiri, perhatian dan kasih sayang dari Sara memang membuat hati Belva terasa hangat rasanya. Selain itu, Belva juga bisa bekerja dengan lebih tenang karena Evan sudah ada yang mengasuh di rumah.
__ADS_1
Usai mengirimkan pesan untuk Sara, Belva kembali bekerja. Ingin rasanya menyelesaikan pekerjaan yang tertunda selama dua pekan lamanya. Bahkan Belva berpikir untuk membawa beberapa pekerjaan ke rumah. Mengerjakan malam hari nanti. Akan tetapi, Belva kemudian berpikir mungkinkah Sara akan mengizinkannya lembur bekerja. Mengingat mereka berdua masih pengantin baru. Seharusnya Belva memberikan waktu untuk Sara. Membangun dan menciptakan banyak momen indah berdua.
Tak ingin mengecewakan Sara, Belva kembali fokus mengerjakan pekerjaannya. Sudah berjam-jam berlalu, dan Belva masih berusaha menyelesaikan file dokumen demi file dokumen. Keasyikan bekerja, tidak menyangka hari sudah petang.
Belva lagi-lagi menghela nafas dan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Astaga … sudah jam 18.00. Setiap kali bekerja, aku sampai lupa waktu. Sara dan Evan pasti sudah menungguku di rumah,” gumam Belva kali ini.
Tanpa menunggu waktu lama, Belva merapikan meja kerjanya. Pria itu kemudian sedikit berlari ke luar dari ruangannya untuk pulang ke rumah. Belva berharap semoga saja Sara tidak ngambek kepadanya karena harinya sudah bisa dipastikan bahwa dirinya pulang telat.
Belva dengan cepat mengemudikan mobilnya. Pikirannya sekarang hanya tertuju ke rumahnya. Kepada Sara dan Evan. Hingga setengah jam berlalu, barulah Belva sampai di kediamannya. Dengan sedikit berlari, Belva memasuki rumah dan mencari sosok istri dan putranya.
“Sayang … Evan …, Papa pulang,” ucapnya begitu memasuki pintu rumah.
Betapa leganya Belva, ternyata Sara dan Evan sedang berada di ruang keluarga dan menikmati Youtube Channel untuk anak-anak berdua. Terlihat Evan yang duduk dan bersandar di badan Sara. Terlihat Evan yang begitu menempel dengan Mamanya.
Bak tergopoh-gopoh, Belva pun menghampiri keduanya.
“Sorry, Papa baru pulang. Kerjaan di kantor banyak sekali,” ucap Belva kali ini.
“Kerjaan Papa banyak yah?” tanya Evan.
“Iya, Van … banyak sekali. Semua harus Papa cek dan supaya tidak ada kesalahan di kerjaan Papa,” balas Belva.
Kemudian Belva melirik ke arah Sara, “Mama Sayang … maaf yah, Papa pulang terlambat,” ucapnya meminta maaf kepada Sara kali ini.
Semula Belva memang takut bahwa Sara akan ngambek atau marah kepadanya. Akan tetapi, yang terjadi justru di luar ekspektasi. Sara nyatanya tersenyum menatap Belva kali ini.
“Tidak apa-apa, Papa … habis ditinggal cuti dua pekan jadi pasti pekerjaannya banyak,” sahut Sara.
Betapa leganya hati Belva sekarang karena Sara benar-benar sosok yang perhatian. Bahkan di saat dirinya pulang terlambat karena terlalu fokus bekerja, Sara tidak marah. Belva berharap bahwa Sara benar-benar tidak marah kali ini. Sebab jika Sara sampai marah atau ngambek, Belva merasa sangat tidak enak hati dengan wanita yang baru dinikahinya itu.
__ADS_1