Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Perpaduan Genetik


__ADS_3

Jika Sarah berada di posisi Belva saat ini, mungkin saja Sara akan mengambil jalan pintas dan memilih untuk menyewa rahim. Jujur, saat ini Sara hanya bisa diam dan mendengarkan apa yang diceritakan oleh Belva.


“Jika anak itu hasil benihmu dan ovumku apakah tidak masalah?” tanya Sara kini.


Belva pun sejenak menatap Sara, “Tidak masalah, lagipula apa yang perlu dipermasalahkan?” tanya Belva kini kepada Sara.


“Kenapa tidak memilih Ibu pengganti saja? Melakukan fertilisasi di luar dan kemudian dimasukkan ke dalam rahim seorang Ibu Pengganti. Dengan demikian, anak itu akan memiliki perpaduan genetif antara kamu dan Kak Anin,” jawab Sara kini.


Sekali pun dirinya awam dengan hal kehamilan dan janin, tetapi beberapa hari usai dirinya menikah dengan Belva, Sara pun banyak berselancar di mesin pencarian (internet) dan mencari tahu mengenai fertilisasi (pembuahan) dan mencari tentang Ibu Pengganti. Oleh karena itu, Sara memberanikan diri untuk bertanya tentang hal tersebut.


Belva menggelengkan kepalanya, “Pernah kami melakukan fertilisasi di luar, tetapi semuanya tidak berhasil. Jadi, jujur saja untuk mendapatkan buah hati, bukan hanya satu langkah yang kutempuh. Banyak langkah dan banyak Rupiah juga yang kukeluarkan,” jawab Belva pada akhirnya.

__ADS_1


Memang tidak dipungkiri untuk biaya pengobatan Anin, pemeriksaan medis terhadap Belva sendiri, melakukan fertilisasi di luar, semua itu sudah ditempuh oleh Belva sebelumnya. Kali ini pun, pria itu berkata jujur bahwa untuk mendapatkan buah hati sudah banyak langkah yang dia ambil. Tidak jarang, dia menggelontorkan Rupiah dalam jumlah besar, tetapi semuanya nihil.


“Bisa dikatakan menyewa rahimmu dengan menikahimu adalah opsi terakhir yang aku miliki,” jawab Belva kini.


Sebuah jawaban yang membuat Sara tidak bisa berkata-kata lagi. Benarkah dirinya adalah opsi terakhir yang Belva miliki. Sontak, ada perasaan asing yang menjalar di dalam hatinya. Jika dirimu adalah opsi terakhir yang Belca miliki, haruskah Sara segera bersiap dan menerima Belva untuk menabur benih di dalam ladangnya?


“Bagaimana jika perpaduan genetik antara Pak Belva dan diriku tidak menghasilkan bibit unggul?” tanya Sara kali ini.


“Tidak masalah. Bagaimana pun hasil perpaduan genetifnya nanti, hal yang lebih penting adalah dia adalah anakku, darah dagingku, seorang anak yang di dalam nadi bahkan arterinya mengalir darahku di sana,” jawab Belva dengan yakin.


Bagi Belva memang saat ini dirinya hanya menginginkan seorang buah hati. Lagipula dia bisa menempa buah hatinya nanti untuk bisa menjadi seorang anak yang baik dan juga kompeten seperti dirinya. Dia menciptakan habitat yang baik untuk tumbuh kembang anaknya nanti. Merasa sudah cukup banyak berbicara dengan Sara, akhirnya Belva menuju ke tempat tidur. Pria itu membaringkan dirinya di sana.

__ADS_1


“Ayo, sebaiknya kita tidur. Mau ke Jeju?” tanya Belva kini kepada Sara.


Sebuah pertanyaan yang sangat menarik bagi Sara, dia pun ingin mengunjungi Jaeju. Terlebih dirinya sudah di Seoul, rasanya mengunjungi Pulau Jeju akan sangat menyenangkan.


“Tidurlah, besok aku akan mengajakmu ke Jeju. Nikmati perjalananmu di sini,” ucap Belva lagi.


Sara pun mengangguk, dan kemudian dia pun turut membaringkan dirinya di sisi Belva. Membiarkan sebuah guling yang seolah menjadi pembatas antara dirinya dengan Belva.


Akan tetapi, saat Sara sudah berbaring di sana, Belva segera menyingkirkan guling itu dan segera mendekati Sara. Tangannya dia lingkarkan di pinggang Sara.


“Kita tidur begini saja, cobalah untuk nyaman denganku. Lagipula, aku tidak akan berbuat lebih tanpa seizinmu. Sekarang, tidurlah. Nyamankan tidurmu,” ucap Belva dengan memejamkan matanya.

__ADS_1


Ya Tuhan, dengan tangan Belva yang melingkar di pinggangnya seolah mendekapnya dalam tidur membuat Sara justru susah terpejam. Ada badan yang hangat yang memeluknya, badan Belva yang beraroma Sandalwood yang menenangkan, semua itu justru membuatnya terjaga dan susah untuk memejamkan matanya.


__ADS_2