
Kali ini, Sara benar-benar meneguhkan hatinya, membulatkan tekadnya untuk pergi dari kehidupan Belva. Mungkin dunia akan mengingatnya sebagai seorang Ibu yang tidak baik karena Sara meninggalkan Evan, dan menyerahkan bayi kandungnya itu sepenuhnya dalam pengasuhan Belva dan Anin.
Sekalipun ada tawaran dari Anin dan meminta Sara untuk tinggal, pada kenyataannya Sara justru mengambil keputusan bahwa dirinya memilih meninggalkan Evan dan pergi jauh dari keluarga Belva Agastya. Bukannya dia tidak menyayangi Evan, Sara sangat menyayangi putranya itu, tetapi dari jauh dan sekalipun tidak satu atap kasih sayangnya tak akan pernah berkesudahan untuk putranya itu.
Maafkan Bunda, Evan …
Maafkan Bunda …
Biarlah dunia menilai bahwa Bunda adalah seorang Ibu yang buruk …
Seorang Ibu yang tega meninggalkan putranya, tetapi Kasih Sayang Bunda untukmu selalu ada …
Kasih sayang Bunda sepanjang waktu dan seumur hidup Bunda untukmu.
Dan kini, Sara hanya duduk di dalam stasiun. Wanita itu melihat para penumpang yang berlalu-lalang, mendengar suara pemberitahuan kedatangan dan keberangkatan kereta api. Akan tetapi, nyatanya sudah sekian jam berlalu dan Sara masih duduk di stasiun tanpa membeli sebuah tiket.
Sejujurnya, tidak ada tempat yang akan Sara tuju sekarang ini. Sara tidak tahu harus menuju ke mana. Dirinya benar-benar sebatang kara di kota metropolitan ini. Sembari menunggu dan menata hati dan pikirannya, Sara memilih berselancar dengan mesin pencarian (Google) dan mencari informasi kost yang bisa dia pakai untuk beberapa bulan ke depan.
Rupanya tidak menunggu lama, banyak tersedia informasi tempat kost di Ibukota. Sara menilik setiap kost lengkap dengan fasilitas dan harganya dengan gadgetnya. Memperkirakan harga yang tepat dan juga pas di kantongnya. Memang saat ini dia memiliki uang. Ya, uang transaksi menyewa rahim di awal yang dibayarkan Belva kepadanya. Dengan uang itu pula, Sara akan mulai mencari kost dan beberapa hari kemudian dirinya akan berencana untuk bekerja. Sebab, tidak selamanya Sara menggantungkan hidup dari uang yang dia miliki. Sara tetap harus bekerja untuk menyambung hidupnya.
Merasa yakin dengan kost yang sudah dia cari. Sara menelpon nomor telepon yang tertera dan akan mendatangi tempat kost tersebut. Setelahnya, Sara akhirnya membeli sebuah tiket, Bogor menjadi tempat yang akan dituju Sara saat ini.
Dengan menaiki Kereta Rel Listrik (KRL) Sara akan menuju kota Bogor. Di kota itulah, Sara akan menata hidupnya, berharap semua duka dan semua kepahitan dalam hidupnya perlahan-lahan dapat dia lepas. Sara akan hidup dengan mengingat kenangan Evan bersamanya.
Sekalipun pergi tidak terlalu jauh, agaknya Bogor menjadi tempat yang cukup baik bagi Sara. Mungkin dia bisa menyewa kost untuk sementara waktu, setelahnya Sara bisa membeli perumahan rakyat dengan harga yang terjangkau nantinya.
__ADS_1
***
Sementara di kediaman Belva, Anin agaknya kewalahan menenangkan baby Evan yang tiba-tiba saja rewel. Wanita itu menggendong Evan sembari berjalan kesana-kemari, memberikan ASIP, tetapi Evan masih saja menangis.
Anin benar-benar kepayahan untuk menenangkan Evan, bayi itu menangis kencang. Terkadang air matanya mengalir, terkadang tidak. Mungkin ikatan hati si baby dengan ibu kandungnya begitu kuat, sehingga saat Sara meninggalkan tempat itu, Evan pun menjadi tantrum.
Belva yang tengah membersihkan dirinya pun bergegas menghampiri Anin, pria itu segera meminta Evan dan menggendongnya.
"Kamu kenapa Evan? Apa mungkin kamu tahu kalau Bundamu sudah tidak ada di sini?" tanya Belva kepada putranya itu.
"Sejak tadi menangis, Sayang. Aku sudah berusaha menenangkannya, tetapi Evan justru menangis semakin kencang," balas Anin.
Belva pun mengangguk, dia tahu karena Anin memang telah berusaha untuk menenangkan Evan. Hingga akhirnya, Belva menggendong Evan dan membawa bayi itu menuju ke kamar Sara.
"Kamu kangen sama Bunda yah?" tanya Belva lagi.
Sekalipun Evan belum bisa berbicara, tangisan menjadi salah satu bahasa bagi bayi. Untuk itu, Belva pun bertanya kepada putranya itu sekalipun Evan juga tidak akan menjawabnya.
Belva lantas membuka lemari penyimpanan di kamar Sara, menilik siapa tahu apa pakaian Sara yang tersisa di sini. Katanya pakaian Ibu bisa menenangkan bayi yang tengah menangis. Sekalipun itu hanya sugesti semata, nyatanya Belva mengambil piyama Sara yang tertinggal di dalam lemari itu dan mengusapkannya perlahan ke tubuh Evan.
Begitu ajaib, tidak menunggu waktu lama, tangisan Evan pun reda. Bayi pun terdiam dan seakan mengoceh (babbling - cara bayi berbicara, mengoceh) dan melihat langit-langit kamar itu.
"Papa tahu, kamu pasti kangen sama Bunda kan? Bunda kamu akan baik-baik di sana. Semoga di lain hari, Bunda akan datang dan kembali mengasuh kamu ya, Evan," gumam Belva dengan lirih.
Pria itu bahkan menidurkan Evan di atas ranjang Sara, dan membiarkan Evan bermain dan menarik-narik piyama Sara.
__ADS_1
Jujur saja, melihat Evan sekarang ini hati Belva pun terluka. Terlebih paras Evan dominan dengan paras Sara. Seakan melihat Evan saat ini membuat Belva tengah menatap Sara.
Sama seperti permintaanmu, Sara …
Aku akan memastikan Evan tumbuh sehat dan bahagia.
Terima kasih banyak Sara …
Terima kasih karena berkatmu, aku mendapatkan Evan dalam hidupku.
Dia benar-benar menyempurnakan hidupku …
Hanya saja,
Aku pun menyayangkan keputusanmu yang memilih meninggalku dan Evan …
Di saat kupikir, kita bisa membesarkan Evan bersama-sama …
Nyatanya justru kamu memilih pergi …
Pertimbangan apa yang membuatmu memilih pergi dariku dan Evan?
Haruskah kamu pergi di saat kita bisa terus bersama dan membesarkan putra kita?
Belva berkata dalam hatinya sendiri sembari mengamati baby Evan. Hatinya begitu kalut, sayangnya lagi-lagi perasaannya tidak terucap kali ini. Belva hanya bisa bermonolog dengan hatinya sendiri. Jika Belva benar-benar meminta dan bersimpuh di hadapan Sara supaya wanita itu mau tinggal, mungkinkah keputusan Sara bisa diubah?
__ADS_1