Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Demam Dadakan


__ADS_3

Wajah yang tersenyum, tetapi wanita itu tampak mengernyitkan keningnya saat melihat betapa lahapnya menyantap masakannya kali ini. Sara merasa ada sikap yang aneh dari Belva. Terlebih saat Belva baru saja mengatakan bahwa dirinya sampai bela-belain pulang ke rumah untuk makan Sayur Asem buatan Sara. Bagi Sara sendiri, dirinya juga terkejut saat Belva siang-siang pulang dari kantor dan kini pria itu dengan lahapnya memakan Sayur Asem buatannya.


Usai makan dan perutnya begitu kenyang, Belva memilih duduk di sofa yang berada di ruang tamu, menyandarkan punggung dan kepalanya di bantalan sofa.


“Kenyang Mas?” tanya Sara kepada suaminya itu.


Tampak Belva menganggukkan kepalanya dan mengusapi perutnya, “Kenyang banget. Rasanya aku kekenyangan deh,” sahut Belva. Sembari tangan pria itu yang mengusapi perut yang benar-benar terasa penuh. Kekenyangan dengan Sayur Asem buatan Sara yang memang membangkitkan selera makannya.


Kemudian pria itu masih bersantai sejenak di sofa, Sara pun turut duduk di samping suaminya itu. “Enggak balik ke kantor? Pekerjaan di kantor banyak kan?” tanyanya.


“Iya … banyak. Apalagi projek dengan Jaya Corp sudah mulai, jadi kadang kala harus ke lapangan untuk cek lahan dan progressnya. Cuma, kalau sudah di rumah dan lihat kamu, aku jadinya gak pengen kemana-mana,” jawab Belva.


Rasanya hari itu, sesudah makan sampai kenyang. Berada di rumah dan melihat wajah Sara, Belva rasanya tidak ingin kembali lagi ke kantor. Akan tetapi, mengingat banyaknya pekerjaan di Agastya Property. Belva kemudian menganggukkan kepalanya, “Ya sudah … aku ke kantor lagi yah. Sore nanti aku pulang. Nanti malam minta tolong Sayur Asemnya dihangatkan ya Sayang. Aku masih pengen makan Sayur Asem buatan kamu,” sahut Belva.


Sara pun tertawa dan menepuk bahu suaminya itu, “Iya-iya … nanti aku hangatkan lagi. Tumben sih Papa ini. Kayak orang lagi ngidam aja,” balas Sara.


Tentu saja ucapan Sara tersebut hanya sebatas candaan semata. Sebab, tidak biasanya suaminya itu meminta dimasakkan sesuatu olehnya. Selain itu, kali ini Belva pun berpesan supaya sisa Sayur Asem bisa dihangatkan kembali untuk makan malam nanti. Sungguh, perilaku aneh yang tidak pernah Belva lakukan sebelumnya. Merasakan keanehan itulah, Sara bercanda dan mengatai suaminya itu layaknya orang yang tengah ngidam.


Belva turut tertawa, karena tidak dipungkiri bahwa dirinya sudah seperti orang yang tengah mengidam. Kemudian Belva berdiri dan berpamitan dengan Sara. Pria itu berusaha melawan rasa malas dan memilih kembali bekerja karena mengingat pentingnya projek yang tengah dikerjakan Agastya Property dan Jaya Corp itu.


***

__ADS_1


Malam harinya ….


Belva kembali menyantap Sayur Asem buatan Sara. Seakan Belva ingin menghabiskan semua Sayur Asem sampai tandas. Usai makan malam, Belva memilih bersantai di kamarnya. Sementara Sara menidurkan Evan terlebih dahulu di dalam kamar milik Evan.


“Ma, Evan sayang Mama,” ucap Evan kala itu. “Kapan Evan punya adik Ma?” tanya Evan dengan tiba-tiba. Ungkapan sayang yang baru saja diungkapkan Evan rupanya menyiratkan sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang meminta seorang adik kepada Mamanya.


“Doakan ya, Evan … di rahim Bunda akan segera ada calon adik bayi buat kamu,” jawab Sara.


Sara sebenarnya juga tidak menunda sama sekali, tetapi dalam setiap usaha yang manusia lakukan, ada turut campur tangan Allah di sana. Sekalipun dirinya dan Belva sama-sama berusaha, tetap mereka harus menunggu waktu yang tepat Allah, waktu di mana mereka berdua akan kembali dipercaya menjadi orang tua bagi calon buah hati mereka.


“Iya Ma,” sahut Evan.


Tidak lama setelah mengatakan itu, Evan pun tertidur. Sara mengusapi puncak kepala Evan dan juga mencium kening putranya itu. Setelah memastikan Evan tidur terlelap, barulah Sara masuk ke dalam kamarnya.


“Mas, sudah mau tidur?” tanya Sara.


“Hmm, iya,” jawab Belva. “Aku ngantuk banget,” sahutnya lagi.


Sara pun menganggukkan kepalanya, mungkin karena bolak-balik dari kantor ke rumah membuat Belva menjadi kecapekan dan tertidur lebih dulu. Sara juga memilih berbaring di sisi Belva. Tidak membutuhkan waktu lama, Sara pun juga terlelap.


Namun, saat tengah malam, Sara mendengar erangan dari suaminya. Erangan yang seakan membangunkan Sara. Wanita itu terbangun kemudian menoleh ke arah suaminya. Sara cukup kaget melihat keringat yang membasahi kening suaminya, kemudian telapak tangan Sara mendekat dan menyentuh kening suaminya itu.

__ADS_1


“Panas banget. Kamu demam, Mas,” ucap Sara dengan cukup panik.


Biasanya tidak pernah Belva demam seperti ini. Bahkan bisa dikatakan bahwa suaminya itu memiliki daya tahan tubuh yang baik dan tidak mudah sakit. Akan tetapi, sekarang tiba-tiba Belva menjadi demam.


Sara beranjak dari tempat tidur dan kemudian mengompress kening suaminya, berharap bisa menurunkan demamnya. Setelahnya, Sara berusaha membangunkan Belva.


“Mas, bangun dulu, Mas … kamu demam,” ucap Sara.


Pria itu pun menggeliat dan kemudian perlahan-lahan membuka matanya. “Hmm, apa Sayang?” tanya Belva sembari terbatuk.


“Kamu demam, Mas … minum penurun demam dulu yuk,” balas Sara.


Sara mengambil termometer gun miliknya, dan menempelkannya di kening Belva, “38℃. Suhu tubuh kamu tinggi, Mas,” ucap Sara dengan cukup panik. Wanita itu segera mengambil obat penurun demam dan membantu Belva untuk memakan obat itu dan memberikan air putih kepada Belva. Setelahnya, Sara kembali membantu suaminya itu untuk berbaring dan menyelimutinya.


“Besok ke Dokter ya, Mas … aku khawatir,” aku Sara dengan jujur.


Akan tetapi, Belva tampak menggelengkan kepalanya, “Tidak … tidak perlu. Kamu yang rawat aku kayak gini saja sudah pasti bikin aku sehat. Besok palingan juga sudah sehat,” sahut Belva.


“Pokoknya kalau besok masih demam, harus ke Dokter, Mas. Aku anterin. Bobok lagi Mas, istirahat,” perintah Sara kali ini.


Sara tidak ingin mengambil risiko. Jika besok demam suaminya masih tinggi, maka dirinya akan memaksa suaminya itu untuk ke Dokter supaya bisa diperiksa dan mendapatkan obat yang tepat. Sebab, tidak biasanya Belva sakit seperti ini, sehingga Sara pun mengkhawatirkan kondisi suaminya itu.

__ADS_1


Saat Belva tertidur, Sara tidak bisa tertidur. Sara masih memastikan bahwa demam suaminya turun. Syukurlah setelah beberapa saat, suhu tubuh suaminya mulai menurun, bahkan Belva bisa mulai berkeringat. Sara segera mematikan AC di kamarnya dan menyelimuti Belva. Sungguh, rasanya hati Sara tidak tenang. Dia ingin suaminya itu kembali sehat. Sampai akhirnya dari tengah malam, Sara hanya tertidur layaknya tidur ayam. Beberapa jam sekali dia menyentuh kening suaminya. Jika keningnya tidak panas, Sara akan kembali tertidur. Beberapa jam kemudian, Sara terbangun lagi dan menyentuh kening suaminya lagi. Rasanya dirinya begitu cemas dan tidak ingin demam suaminya tiba-tiba naik di saat dirinya tertidur. Oleh sebab itulah, Sara berusaha berjaga-jaga sepanjang malam.


__ADS_2