
Jika ada orang yang merasa gamang dan merasa bersalah saat ini, tentu dia adalah Zaid. Ya, Zaid benar-benar tidak mengira bahwa Anthony yang tidak lain adalah Kakaknya adalah seseorang yang pernah menorehkan luka dalam hati Sara. Zaid pikir, selama ini Kakaknya adalah seorang pria yang baik dan tidak pernah menyakiti wanita. Akan tetapi, Zaid salah karena Anthony bertindak sangat kelewatan batas.
Membiarkan Sara tenang untuk sesaat, hingga akhirnya Zaid pun duduk di dekat Sara.
“Sara, maaf,” ucap Zaid kala itu.
Refleks, Sara pun menoleh ke arah Zaid. Wanita itu sekilas melirik Zaid yang duduk di sampingnya.
“Kamu tidak perlu meminta maaf untuk kesalahan orang lain. Kamu sama sekali tidak salah,” balas Sara.
Zaid pun menghela nafas panjang, dan kemudian pria itu kembali bersuara.
“Anthony itu Kakakku. Ya, dia adalah kakak kandungku. Dia sebenarnya adalah pria yang baik, bahkan di rumah pun dia baik. Namun, kenapa dia begitu kasar dan mulutnya tajam kepadamu,” ucap Zaid yang seakan ingin menjelaskan sesuatu kepada Sara.
Sara mencoba mendengarkan apa yang diucapkan oleh Zaid, tanpa mencoba merespons perkataan pria itu. Sebab, bagi Sara sendiri kembali bertemu dengan Anthony setelah dua tahun waktu berlalu membuatnya cukup shock saat ini.
“Kamu mungkin bingung, kenapa kami bisa bersaudara. Akan tetapi, faktanya demikian Sara. Dia adalah Kakakku, dan aku adalah Adiknya. Sebenarnya kami diminta sama-sama mengurus perusahaan Papa. Hanya saja, aku merasa bahwa aku tidak cocok dengan dunia bisnis dan perusahaan. Aku lebih suka melakukan apa yang aku mau. Sehingga Kak Anthony lah yang meneruskan bisnis Papa, dan aku melakukan apa yang aku suka.” Zaid mulai berbagi cerita tentang keluarganya saat ini kepada Sara.
Perlahan, Sara pun menghela nafasnya sebelum mulai berbicara, “Tadinya aku cukup terkejut saat kamu berkata bahwa dia adalah Kakakmu. Maaf, aku pun berbicara kasar kepada Kakakmu itu,” balas Sara.
Sara adalah wanita yang lembut, tetapi tiap kali bertemu dengan Anthony. Sara bisa berubah menjadi wanita yang berbicara tajam dan bahkan Sara berani mengangkat tangannya untuk menampar pipi Anthony. Sara mengakui bahwa apa yang dilakukannya barusan juga tidak benar.
“Semua orang punya masa lalu, Zai … aku pun punya masa lalu yang dimata orang tidak baik. Memang aku dulu bekerja di salah satu bar. Image gadis yang bekerja di bar pasti akan dianggap bahwa mereka menjual diri mereka di sana. Ditambah dengan make up tebal dan pakaian yang minim. Akan tetapi, tidak semua gadis yang bekerja di bar seperti itu. Mereka bekerja dengan motifnya sendiri-sendiri. Aku bekerja sepenuhnya untuk mengisi perutku, mencukupi kebutuhannya. Hingga suatu hari Kakakmu mengunjungi bar itu dan melecehkanku di sana. Bukan hanya pelecehan verbal, tetapi pelecehan fisik dan mengarah ke pemerkosaan,” cerita Sara mengenai masa lalunya dulu.
Zaid mendengarkan semua cerita itu. Rahang pria itu mengeras, seakan tengah menahan amarah. Tidak menyangka bahwa Sara mengalami hal semacam itu dan pelakunya adalah Kakaknya sendiri.
“Aku tidak mempermasalahkannya Sara … hanya saja aku tidak habis pikir jika Kak Anthony melakukan hal seperti itu kepadamu. Maaf Sara,” balas Zaid.
“Jangan meminta maaf untuk kesalahan yang tidak kamu lakukan, Zai … tidak apa-apa,” balas Sara.
__ADS_1
Zaid lantas menolehkan wajahnya, dan menatap Sara yang masih duduk di sampingnya. “Bagaimana kamu bisa keluar dari bar itu, Sara?” tanyanya.
“Saat itu, pria itu memesan sebuah tempat VIP di bar itu. Dia memesan bahwa harus aku yang mengantar minuman yang dia pesan. Rupanya saat aku masuk dan mengantarkan pesanannya, teman-temannya keluar dari ruangan itu dan mengunci pintu dari luar. Di dalam, dia melecehkan aku. Hingga akhirnya, datanglah Belva yang menolongku. Sejak saat itulah mungkin Anthony mengira bahwa aku adalah peliharaan Belva. Padahal Belva lah yang sudah menolongku. Di akhir hubunganku dan Belva, dia memintaku untuk tidak lagi menginjakkan kakiku di bar.” Cerita Sara kepada Zaid.
Ah, dari sini barulah Zaid tahu bahwa Sara bisa berkenalan dengan Belva karena saat itu Belva adalah seorang pahlawan bagi Sara. Zaid berusaha mendengarkan Sara tanpa memprotesnya. Memberikan telinganya untuk benar-benar mendengarkan kisah Sara.
“Tidak ada wanita yang mau dilecehkan seperti itu, Zai … dilecehkan secara verbal saja sudah begitu menyakitkan, apalagi jika kamu dilecehkan secara fisik dan itu mengarah ke pemerkosaan. Mereka memandang hina dan melecehkan begitu saja wanita yang bekerja di bar. Padahal tidak semua pekerja di bar menjual diri mereka,” ucap Sara kini dengan mata yang berkaca-kaca.
Kilasan masa lalunya saat dia harus bekerja di bar itu tiba-tiba kembali memenuhi benaknya. Teringat rasanya dilecehkan, dipegang bahkan ditepuk bagian pantatnya, dan juga malam saat Anthony melecehkannya hingga baju seragamnya robek di area lengan, kancing bajunya yang lepas entah kemana, dan juga luka-luka lebam yang dia terima karena berusaha membela diri. Kembali mengingat semua itu teramat sesak rasanya.
Zaid pun menganggukkan kepalanya secara samar. Ya, dia berusaha memaklumi Sara saat ini. Bagaimanapun dalam kacamata Zaid sekarang ini, itu semua adalah masa lalu. Selama dia mengenal Sara, wanita itu tidak demikian. Di mata Zaid Sara adalah wanita yang baik.
“Iya Sara … aku bisa mengerti bagaimana perasaanmu. Hanya saja aku tidak mengira dengan perlakuan Kakakku itu. Sebab, di rumah dia adalah Kakak yang baik dan sangat menyayangi Mama. Tidak kukira, dia bersifat itu kepadamu,” balas Zaid.
Perkataan Zaid terhenti karena handphonenya yang tiba-tiba berdering. Terdapat nama Anthony di sana.
Beberapa menit pun berlalu, kemudian Zaid kembali ke hadapannya.
“Sara, maaf … aku pamit dulu sebentar ya. Seusai ini aku akan kembali lagi ke sini. Bye Sara,” pamit Zaid dengan tergesa-gesa.
***
Satu jam kemudian …
Kini dua orang pria tampak duduk saling berhadap-hadapan. Masing-masing wajah mereka mengisyaratkan ekspresi yang begitu sulit untuk diterka.
“Kak, jangan lakukan hal seperti itu lagi kepada Sara,” ucap Zaid.
Pada kenyataannya Zaid pergi memang untuk menemui Kakaknya itu. Zaid meminta langsung kepada Anthony untuk tidak lagi melakukan hal-hal buruk kepada Sara.
__ADS_1
“Kenapa kamu memintaku untuk melakukan hal seperti itu?” tanya Anthony.
“Aku menyukainya Kak … aku cinta sama Sara,” aku Zaid kali ini dengan jujur.
Anthony pun menatap tajam wajah adiknya itu. Sungguh, Anthony tidak mengira bahwa adiknya nyatanya memiliki perasaan kepada Sara. Baru kali ini, Anthony mendengar pengakuan langsung dari Zaid.
“Apa dia juga?” tanya Anthony.
Mendapatkan pertanyaan seperti ini dari Kakaknya, sungguh Zaid tidak bisa berbicara. Sebab, dia hanya memiliki perasaan untuk Sara. Sementara bagaimana perasaan Sara, Zaid sama sekali tidak tahu. Mungkin Zaid hanya memiliki cinta sendiri untuk Sara.
“Tidak, dia belum menjawab dan membalas perasaanku,” aku Zaid pada akhirnya.
Mendengarkan jawaban Zaid, Anthony pun menyeringai dan menggelengkan kepalanya perlahan, “Aku tidak mengira adikku ini rupanya jatuh cinta juga pada Sara,” sahut Anthony.
Keadaan di tempat itu menjadi hening. Hingga akhirnya Anthony kembali bersuara.
“Satu hal yang bodoh, karena kita jatuh cinta pada wanita yang sama,” ucap Anthony kali ini.
Zaid terkejut mendengar ucapan kakaknya. Dia tidak mengira bahwa Kakaknya akan berbicara seperti itu. Dan, pengakuan apa itu? Kakaknya juga mencintai Sara?
“Jangan berkata Kakak memiliki perasaan kepadanya, jika Kakak bersikap dan melecehkan dia. Cinta tidak seperti itu, Kak … cinta tidak menyakiti, tetapi memaklumi,” sahut Zaid dengan tegas.
Anthony pun merespons dengan menganggukkan kepalanya, “Awalnya mungkin aku hanya berhasrat kepadanya saat kali pertama di bar beberapa tahun yang lalu. Dia begitu cantik, berbeda dengan para pelayan bar lainnya. Aku makin berhasrat saat mendengar bahwa Sara masih virgin. Hasratku membara begitu saja dan aku melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya,” cerita Anthony kini kepada Zaid.
“Entah hasrat atau apa pun itu, yang Kakak lakukan adalah salah. Kakak tidak menyadari betapa sakitnya seorang wanita yang mendapatkan pelecehan secara verbal dan fisik. Itu bisa menyebabkan trauma yang berkepanjangan, Kak … so, please, jangan berbicara Kakak menyukainya jika kata-kata Kakak begitu kejam kepadanya. Jangan bilang Kakak menyukainya, jika Kakak selalu merendahkan dia seperti itu.”
Kini Zaid berbicara dengan tegas. Kemudian, Zaid pun berbicara.
“Baiklah aku pergi Kak … jangan coba-coba datang ke sana lagi. Jangan mengganggu Sara lagi. Sebab, saat Kakak melakukannya, aku tidak akan segan-segan, Kak. Aku akan melupakan hubungan darah yang ada di antara kita, jika Kakak bertindak di luar batas,” gertak Zaid saat ini. Kemudian pria itu pergi berlalu begitu saja dari hadapan Kakaknya, yaitu Anthony.
__ADS_1