
Pagi itu agaknya menjadi pagi yang indah bagi Belva dan Sara. Pasangan suami istri yang masih terlelap di atas ranjang itu saling memeluk satu sama lain. Deburan ombak yang sedikit menyapa indera pendengaran berbalut sinar matahari pagi nyatanya tak membangunkan keduanya. Mungkin efek kelelahan semalam, sehingga Belva dan Sara masih terlelap.
Padahal cahaya matahari di Bintan, Kepulauan Riau pagi itu sudah bersinar dengan cukup terik. Namun, keduanya masih sama-sama terlelap.
Sampai beberapa saat kemudian, Belva terlebih dahulu terbangun. Pria itu mengerjap, kelopak matanya mulai bergerak-gerak dan perlahan terbuka. Pandangan yang masih kabur pagi itu, nyatanya justru membuat Belva menunduk sembari mengulas senyuman di sudut bibirnya.
Pria itu tampak tersenyum menatap Sara yang masih tertidur dengan begitu lelapnya di dadanya. Lantas, Belva menghadiahi kecupan untuk istri tercinta di keningnya.
Kamu pasti capek yah?
Tidur kamu pulas banget kayak gini sih …
Pria itu bergumam sembari merapikan anakan rambut Sara yang sedikit menutupi wajahnya itu. Pergerakan samar dari Belva nyatanya justru membangunkan Sara. Wanita yang semalam menghabiskan malam bergelora dengan suaminya itu perlahan membuka kelopak matanya.
Terkesiap, lantaran ada Belva yang tengah menatapnya dengan intens.
"Pagi Sayang," sapa Belva dengan suara baritonnya yang terdengar serak khas orang bangun tidur itu kepada Sara.
"Hmm, pagi Mas … sudah jam berapa ini?" tanya Sara.
Perlahan Belva pun meraih handphone yang tergeletak di atas nakas kemudian melihat jam analog yang tertera di layar handphonenya.
"Jam 08.11, Sayang," balas Belva sembari menaruh lagi handphonenya.
Sara pun sedikit menguap, membawa satu telapak tangannya untuk menutup mulutnya kemudian bersandar di head board.
"Ya ampun, ini udah siang banget," ucap Sara kali ini.
Nyatanya Belva justru tersenyum dan melirik ke arah Sara, "Tidak apa-apa. Tujuan orang honeymoon kan untuk bermalas-malasan kayak gini," balasnya sembari menggerakkan alis matanya.
"Modus aja," sahut Sara dengan cepat.
"Loh enggak modus. Honeymoon kan kita mengambil waktu untuk bersenang-senang sesaat. Jadi ya tidak modus dong," kilah Belva kali ini.
Sara hanya melirik dengan sorot matanya yang tajam ke arah suaminya itu, lantas mengerucutkan bibirnya. Sara yakin bahwa itu adalah kilah seorang Belva Agastya saja.
"Jangan manyun pagi-pagi, nanti kalau aku terkam enggak boleh nolak karena kamu manyun gitu," balas Belva sembari mendekatkan jari telunjuknya ke bibir Sara. Menyentuh bibir itu sejenak.
"Isshs, nyebelin banget sih Mas. Masih pagi udah nakal aja," keluh Sara kali ini.
Nyatanya Belva justru tertawa, pria itu segera merangkul bahu Sara dan mendekatkan kepalanya ke dadanya.
"Jangan sebel-sebel gitu. Ini pagi yang indah buat kita. Jadi, jangan marah-marah di waktu honeymoon seperti ini. Jangan sampai kamu badmood justru membuat rencana bulan madu kita berantakan," ucap Belva yang berusaha menenangkan Sara.
Mungkin karena Belva telah dewasa secara usia, sehingga pria itu adalah sosok yang sabar dan bisa dengan mudahnya menenangkan Sara. Hingga perlahan Sara pun menganggukkan kepalanya.
"Iya, maaf," ucapnya kali ini.
__ADS_1
"Sana kamu mandi dulu, aku ambilkan sarapan. Pasti kamu laper banget kan sekarang setelah melalui malam panas," ucap Belva kali ini.
Lagi-lagi Sara menyipitkan kedua matanya menatap Belva di sisinya.
"Nyebelin banget sih, yang bikin aku kecapekan sampai tulangku rasanya mau rontok kayak gini siapa coba?" balas Sara.
"Aku yang bikin kamu kecapekan. Jadinya sekarang, aku akan tanggung jawab. Mandi dulu, pakai air hangat biar capeknya hilang. Aku keluar dulu yah, aku bawakan sarapan ke sini. Atau kamu mau sarapan di luar?" tanya Belva.
"Ke luar aja yuk Mas … pagi-pagi lihat pantai kelihatannya enak deh," balasnya.
Belva menganggukkan kepalanya, lantas tersenyum kepada istrinya itu.
"Ya sudah, kita mandi bareng aja yuk. Biar lebih cepet." Belva berbicara dengan tiba-tiba.
Sara lantas menatap horor kepada suaminya itu, mandi bersama pasti hanya sebatas akal-akalan Belva saja. Sara pun tak langsung mengiyakan.
"Yuk, cuma mandi … janji, enggak nakal. Nakalnya nanti malam aja," ucap Belva dengan terkekeh menatap Sara.
Selang setengah jam berlalu, Sara dan Belva sudah tampil dengan pakaian casual yang santai. Badan mereka telah segar. Belva benar-benar membuktikan ucapannya bahwa hanya sekadar mengajak Sara mandi bersama. Kalau pun nakal sedikit itu wajar, karena dirinya juga adalah pria normal.
Kini keduanya duduk di restoran yang menghadap langsung di pantai itu.
"Ini namanya pantai apa Mas?" tanya Sara kepada suaminya itu.
"Pantai Trikora, Sayang. Di Bintan ini Pantai Trikora ada beberapa bagian Trikora 1 sampai 4," balas Belva.
"Agak jauh dari sini. Kamu pengen ke sana?" tanya Belva kemudian.
"Iya, mau," jawab Sara dengan cepat.
Belva pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah nanti siang kita ke Lagoi. Sekalian mampir ke Kijang buat beli Otak-Otak. Belum datang ke Bintan, kalau belum mencicipi Otak-Otak Kijang," ucap Belva kali ini.
Ya, di kawasan Kepulauan Riau, ada sebuah daerah bernama Kijang. Di sana seakan menjadi sentra penjualan Otak-Otak. Ada Otak-Otak ikan dan cumi-cumi yang rasanya begitu enak. Otak-Otak yang dibakar sebentar di atas pemanggang itu membuat para pembeli untuk mencicipi lagi dan lagi.
Sara pun menganggukkan kepalanya, pikirnya tidak salah bukan jika sembari honeymoon sekalian berwisata. Lagipula, selama ini dirinya sibuk mengurusi Coffee Bay, hingga tidak sempat piknik. Kali ini, Sara akan memanfaatkan waktu honeymoon sekaligus jalan-jalan.
"Mau, Mas … kelihatannya enak deh," balas Sara.
Sara kemudian menatap sekilas ke Belva, "Mas, boleh videocall Evan sebentar enggak? Aku kangen," ucap Sara kali ini.
Hati keibuannya yang begitu lembut membuat Sara baru berpisah satu hari dari Evan saja sudah merasa begitu merindukan putranya itu.
"Baiklah, aku hubungi Evan yah," balas Belva.
Akhirnya pria itu mencari kontak Evan di handphonenya dan segera melakukan panggilan video kepada putranya itu.
Evan
__ADS_1
Memanggil
"Halo Van," sapa Belva begitu panggilan videonya terhubung. Tampak wajah Evan di layar handphone Belva.
"Halo Papa, Papa sehat?" tanya Evan sembari melambaikan tangannya ke kamera.
"Iya Van, Papa sehat. Bagaimana semalam kamu tidak menangis kan?" tanya Belva kali ini kepada putranya.
"Tidak dong Pap, Evan kan pintar," balas Evan dengan penuh percaya diri.
"Evan, ada yang kangen sama kamu nih, ada Mamamu yang sudah kangen sama kamu," ucap Belva kini kepada putranya.
Selang sesaat Belva pun memberikan handphonenya kepada Sara, terlihat jelas wajah tampan putranya yang memenuhi layar handphone milik Belva.
"Halo, Sayang … Mama kangen," ucap Sara.
"Halo Mama, Evan juga kangen Mama. Mama di sana kangen Evan yah?" balasnya.
Tampak Sara menganggukkan kepalanya seakan dirinya berbicara langsung dengan Evan kali ini.
"Iya … Mama kangen banget sama kamu. Evan yang nurut sama Tante Amara dan Om Rizal yah, jangan menangis yah," pesan Sara kali ini kepada Evan.
Sikap yang lucu di saat Sara meminta Evan untuk tidak menangis, faktanya sekarang justru Sara yang berkaca-kaca dan berusaha menahan tangis karena sudah merindukan Evan.
"Oke Ma, ya sudah … Bye Ma, Evan mau jalan-jalan sama Tante Amara dan Jerome, By Ma," ucap Evan kali ini.
Usai panggilan video berakhir, Sara lantas menyerahkan kembali handphone itu kepada Belva.
"Ini Mas, terima kasih," ucap Sara kali ini.
"Iya, kamu bilang supaya Evan tidak nangis, sekarang malahan kamu yang nangis. Mau aku peluk?" tanya Belva kali ini.
Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak, malu … di tempat umum," balasnya.
"Terus gimana dong? Aku gak mau jadi pria tidak berperasaan seperti dulu lagi," balas Belva kali ini.
Lantas Belva menggeser tempat duduknya yang semula di hadapan Sara, kini berada di sisi Sara. Dengan cepat Belva merangkul Sara dan mengusapi lengannya dengan gerakan naik turun.
"Cuma sepekan, tidak lama kok … Evan juga kangen sama Mamanya," ucap Belva yang berusaha menenangkan Sara.
Perlahan Sara pun menganggukkan kepalanya, "Ah, kalau udah masalah Evan, aku jadi mellow," balas Sara kini.
Belva tersenyum dan kini menggenggam satu tangan Sara.
"Tidak apa-apa, itu wajar karena kamu Ibunya," balas Belva.
Sekalipun ada kerinduan yang dirasakan Sara kali ini, tetapi pagi ini tetap menjadi pagi yang indah bagi Belva dan Sara. Pagi yang indah bagi keduanya menikmati bulan madu ditemani lautan biru Pantai Trikora dan pasir putih yang menawan di Bintan, Kepulauan Riau.
__ADS_1