
Semalam benar-benar menjadi malam yang begitu bergelora bagi Sara dan juga Belva. Bukan hanya sekali, tetapi keduanya sampai mengulang kegiatan panas itu hingga dua kali. Musim dingin nyatanya justru menyulut keduanya untuk bercinta, dan Belva sendiri berharap benihnya akan segera tumbuh di dalam rahim istrinya itu.
Menuntas permainan kedua dengan pesona percikan kembang api yang hanya bisa dilihat dan dirasakan oleh keduanya saja. Sara merasa tubuhnya benar-benar lemas sekarang. Kendati demikian, dia pun menikmati gelenyar asing yang membuatnya benar-benar mengalami pelepasan untuk kesekian kalinya.
"Makasih Sayang ... luar biasa. Kali ini enggak ada obatnya," balas Belva dengan mengecupi puncak kepala istrinya itu.
"Lemes Mas," keluh Sara dengan menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Tangan yang melingkari pinggang suaminya, dan mata yang sesekali terpejam.
"Lemes tapi enak kan? Lemes tapi puas kan?" goda Belva dengan meluncurkan pertanyaan tersebut.
"Ya, enak ... cuma setelahnya jadi lemes," sahutnya dengan suara yang lirih.
Belva tersenyum dan kian mengeratkan pelukannya, "Mau aku pijit? Biar lemesnya hilang?" tanyanya.
"Enggak ... mijit dalam keadaan kita sama-sama polos, yang ada nanti malahan lanjut yang ketiga," gerutu Sara kali ini kepada suaminya.
Lagi-lagi Belva tersenyum, agaknya sekarang istrinya itu kian pintar dan bisa menebak isi hatinya. Belva menganggukkan kepalanya, "Ya, kemungkinan lanjut yang ketiga ada aja sih. Cuma kalau kamu lemes begini, aku juga enggak akan menyerang kamu, Sayang. Udah, istirahat dulu saja ... besok kita lanjut lagi di Paris," ucapnya dengan begitu santai.
"Mau main lagi Mas?" tanya Sara dengan begitu polosnya.
"Iya, rasakan sensasi bercinta di City of Love. Kapan lagi coba, kita bisa melakukannya," jawab Belva. "Mau yah, di Paris lagi?"
"Hmm, lihat aku kecapekan enggak ya Mas. Ini aja sudah lemes banget. Enggak tahu besok pagi, tulang-tulangku rasanya mau copot semua enggak," balas Sara.
"Ya sudah, kalau capek ... nanti di Paris, i can handle it. Kamu diam dan menikmati saja," balasnya.
Sara kemudian menghela nafas dan kian memeluk suaminya. "Bobok yuk Mas, aku lemes deh. Udah mulai ngantuk," balasnya.
"Yuk, sini aku peluk ... aku peluk sepanjang malam ini. I Love U My Wife," ucap Belva dengan kian mengeratkan pelukannya di tubuh Sara.
__ADS_1
Malam yang berjalan membuat keduanya sama-sama terlelap. Kepuasan bercinta membuat keduanya benar-benar memiliki tidur yang lebih berkualitas. Saling memeluk hingga pagi pun tiba.
Sara bergerak, wanita yang kelopak matanya bergerak-gerak itu perlahan terbuka. Wanita itu tersenyum melihat Belva yang berbaring di sampingnya, mengamati wajah suaminya itu. Pria hebat yang sudah mendampinginya selama ini.
Tangan Sara bergerak memberi usapan di alis mata pria itu yang hitam, kemudian Sara kembali tersenyum.
"Aku tampan kalau tidur yah?"
Tiba-tiba suara Belva yang serak khas bangun tidur pun terdengar.
"Sudah bangun?" tanya Sara.
"Sudah, cuma ... masih pengen pelukin Istriku yang cantik ini," balasnya Belva.
"Baru membuka mata, udah gombalin aja sih," balasnya.
"Morning My Husband ... I Love U too," balas Sara.
"Habis sarapan, kita ke Paris yah," ajak Belva.
"Iya, nanti aku beberes beberapa koper kita dulu," sahut Sara.
"Ya sudah, nanti aku bantuin. Peluk dulu, Sayang ... masih kangen," pinta Belva dengan kian mempererat pelukannya di tubuh Sara yang hanya tercover selimut.
"Ya Tuhan, manja banget sih Mas, kamu itu justru manjanya melebihi Duo E," balas Sara.
"Manjanya cuma sama kamu," jawab Belva.
***
__ADS_1
Beberapa jam kemudian ....
Usai sarapan, Belva mengajak Sara untuk cek out dari hotel. Kini, keduanya sudah di dalam Eurostar Train. Eurostar Train adalah kereta api cepat yang menghubungkan London dan Paris, dengan menggunakan Eurostar Train perjalanan dari London menuju ke Paris hanya memakan waktu 2 jam 20 menit.
"Seru kan naik kereta?" tanya Belva kepada Sara. Kala itu Sara sedang mengamati pemandangan Eropa yang indah.
Ini adalah pengalaman baru bagi keduanya menaiki Eurostar Train. Momen indah dan pengalaman yang tak akan dilupakan.
"Sini Sayang, sandaran di sini ... dinikmati perjalanannya. Kapan lagi kita bisa memiliki pengalaman liburan berdua seperti ini," ucapnya.
Sara pun menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Sembari dia menghirup dalam-dalam aroma Sandalwood yang begitu segar dari tubuh suaminya itu.
Sepanjang 2 jam 20 menit, banyak yang mereka obrolkan bersama. Membahas putra-putra mereka, harapan di masa depan, dan juga rencana saat di Paris nanti. Tidak terasa, kini keduanya sudah tiba di Paris. Perjalanan dilanjutkan dengan mengendarai Taksi menuju hotel yang sudah dipesan sebelumnya oleh Belva untuk menaruh koper-koper mereka.
Betapa romantisnya Belva, tanpa sepengetahuan Sara, rupanya dia memilih hotel yang berada di area Champ de Mars, tempat berdirinya Menara Eiffel.
"Hotel kita dekat Menara Eiffel, Mas?" tanya Sara heran.
"Iya, dulu di Seoul aku sengaja memilih dekat dengan Namsan Tower, sekarang di Paris, aku memilih dengan Eiffel Tower," balasnya.
"Ya ampun, cukup di dalam kamar hotel saja udah romantis banget lihatin Menara Eiffel," balasnya.
Belva tersenyum, rencananya memberikan kejutan untuk istri tercinta berhasil. Terbukti wajah sumringah Sara yang begitu tampak bahagia begitu melihat Eiffel Tower di depan mata.
Belva mengikis jaraknya, memeluk Sara dari belakang, dan mendekapnya erat. Pria itu menaruh dagunya di atas bahu Sara seraya berkata, "Je Taime, Sara ... Je Taime," ucapnya dengan begitu lembut.
Sungguh, ini adalah hari yang indah. Pengalaman baru dan penuh keromantisan yang dihadirkan oleh Belva Agastya untuk istri tercintanya. Di kota yang romantis, kota cinta ini, Belva mengatakan bahwa dia begitu mencintai Sara. Dengan saling mendekap erat, keduanya menikmati keindahan Menara Eiffel yang menjulang tinggi dengan pesonanya itu.
“Je Taime, Papa Belva … I Love U So Much.”
__ADS_1