
Belva masih ingin berlama-lama menciun Sara. Bibir pria itu yang semula menempel dengan sempurna, perlahan sedikit terbuka dan memberikan hisapan di lipatan bawah bibir Sara. Sungguh, musim yang dingin di tepi Sungai Seine, dengan berbagai gembok cinta yang berada di sana.
Akan tetapi, Sara sebisa mungkin menahan bibir Belva. Bagaimana pun, Sara tetap malu. Memang ada kalanya banyak orang yang berciuman di Ports des Arts. Hanya saja, Sara tak terbiasa berciuman di tempat terbuka seperti ini.
Tangan Sara akhirnya sedikit mendorong dada Belva, hingga mengurai bibir pria itu dari bibirnya.
"Sudah, Mas," balas Sara.
Belva terdiam, menatap Sara. "Kenapa?" tanyanya.
"Ini tempat umum, malu … nanti saja," balas Sara.
Tak dipungkiri bahwa ciuman bibir dengan suaminya bisa menyulut berbagai rasa bahkan gelenyar asing di dalam dirinya. Tak ingin kelewat batas, memang lebih baik untuk menyudahinya.
"Baiklah, nanti di hotel yah. Langsung," pinta Belva kali ini.
Sara tertunduk malu, tidak mengira bahwa suaminya kian gencar saja untuk meminta jatahnya. Terkadang jika sudah hanya berdua saja dengan Sara, banyak sisi-sisi lain Belva yang ditunjukkan pria itu kepadanya. Belva yang peduli, Belva yang terkadang manja, atau bahkan Belva yang terkadang nakal.
“Makan dulu sekalian ya Mas … lapar, sejak siang kan belum makan. Baru sarapan tadi di London. Ya ampun, seru banget yah … sarapan di London, makan siang di Paris. Kayak crazy rich saja,” balasnya dengan tersenyum.
“Iya Sayang … makan dulu, pastikan tenaga kamu penuh. Malam ini sepenuhnya buat aku,” balas Belva lagi.
Genggaman tangan pria itu di tangan Sara kian erat, bahkan Belva memberikan remasan di tangan Sara. Bahkan jari telunjuk pria itu tampak bergerak dan memberikan usapan di telapak tangan Sara.
“Mas,” ucap Sara dengan sorot mata yang melihat pada tangannya yang masih berada di dalam genggaman Belva.
“Hmm, iya Sayang … kenapa? Geli?” tanya Belva.
“Nakal,” balas Sara.
“Biarin … jadi, kamu mau makan apa?” tanya Belva kemudian kepada Sara.
“Aku ngikutin kamu saja. Palingan kan ya makanan western kan Mas?” tanyanya.
"Ada banyak makanan lezat di sini Sayang. Makan di restoran di tepi Sungai Seine saja yah, sambil nyore," ajak Belva kali ini.
Sara menganggukkan kepalanya, mengikuti saja apa yang disarankan oleh suaminya itu. Lagipula, apa pun makanannya Sara tidak keberatan. Lidah Sara bisa menerima semua jenis makanan.
__ADS_1
Begitu sudah sampai di restoran, Belva memesan Steik Fries yang padalah daging sapi yang dimasak dengan tingkat kematangan medium, kemudian ditambahkan saus Bacarnaise yang terbuat dari telur dan mentega. Menikmati sore dengan Steik yang lezat sembari melihat panorama Sungai Seine membuat suasana menjadi kian romantis.
"Bon Apetit, Sayang," ucap Belva. (Bon Apetit adalah selamat makan dalam bahasa Prancis)
Sara yang melihat suaminya hanya terkekeh geli, rupanya suaminya itu benar-benar romantis. Romansa yang kali ini tercipta bukan hanya saat Belva mengajaknya mengujungi tempat-tempat romantis di kota Paris, tetapi juga makanan yang lezat, dan panorama indah di tepi Sungai Seine.
"Sweet banget sih kamu, Mas," balas Sara.
"Padahal aku tiap hari juga sweet kok Sayang ... cuma karena kita cuma berdua, kesannya aku jadi lebih sweet aja," balas Belva.
Sara tersenyum, "Makasih Mamas ... aku makan yah," balasnya.
Belva menganggukkan kepalanya, keduanya sama-sama menikmati Steik yang benar-benar lezat. Sungai Seine di musim dingin yang tetap berselok dengan cantiknya. Sementara hari sore yang redup dan setengah basah karena hujan membuat sore hari itu terasa benar-benar romantis.
"Habis ini mau ke mana lagi?" tanya Belva kepada Sara.
"Ke hotel saja sih Mas ... kan ya ini sudah jalan-jalan, sudah makan-makan. Tinggal istirahat saja," balasnya.
Bagi mereka yang tengah liburan, kegiatan tidak akan jauh-jauh dari makanan lezat, jalan-jalan menikmati keindahan alam, dan juga istirahat di dalam kamar hotel. Hari ini, Sara sudah mendapatkan ketiganya, jadi tinggal istirahat saja.
Beberapa saat pun berlalu, sampai sore hari telah berganti menjadi petang. Lampu-lampu di tepi Sungai Seine juga telah menyala, membuat tempat itu kian romantis jadinya.
"Makasih ya Mas, kamu udah ajakin aku ke tempat-tempat romantis kayak gini. Seneng banget deh," balas Sara.
"Sama-sama Sayang ... semoga kita bisa memiliki waktu untuk spent time berdua. Pacaran lagi, honeymoon lagi," balas Belva.
"Ya, bener sih ... semuanya itu boleh, hanya saja jangan minta anak lagi saja," balas Sara.
Belva tersenyum, "Aku cuma satu lagi saja kok. Udah, abis ini enggak. Janji." balasnya.
Belva kemudian menatap Sara, pria itu menaruh pisau makan dan garpu di sisi piringnya. "Aku mengajakmu ke mari dengan perhitungan yang tepat. Kamu usai menstruasi, artinya kamu dalam masa subur. Dalam liburan kita, kita bisa menanam dan menyemai benih bersama. Peluang untuk terjadi pembuahan lebih besar, jadi ... ya aku yakin saja, our baby will coming," balas Belva dengan yakin.
Mendengar penjelasan dari suaminya, Sara membelalakkan matanya. Tidak mengira bahwa suaminya mengajaknya liburan dengan perhitungan seperti itu. Begitu pintarnya suaminya itu untuk mendapatkan celah.
"Jadi, bersiap saja Sayang ... baby ketiga. Trio E," balas Belva dengan semangat.
Sara hanya tersenyum dan menghela nafas panjang. Mendengar semua skenario yang sudah disusun oleh suaminya membuat Sara hanya geleng-geleng kepala saja. Jika sudah demikian, maka sudah pasti bahwa peluang terjadinya pembuahan kian besar.
__ADS_1
"Namanya E lagi Mas?" tanya Sara kepada suaminya.
"Iya ... biar kompak. Cuma cewek atau cowok tidak masalah. Habis ini pasang kontrasepsi saja Sayang. Cukup tiga saja Sayang," balas Belva.
"Ya sudah, penting kamu tanggung jawab. Sama kamu aja yang morning sickness ya Mas. Akunya sehat-sehat saja," balas Sara.
Belva kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, boleh ... asalkan dapat satu baby lagi enggak masalah. Ya, walaupun aku punya banyak baby makin seneng sih. Cuma kan, kamu pasti keberatan. Juga, aku menikahimu kan bukan untuk sebagai mesin pencetak anak. Jadi, tiga saja ... dua anak cukup, tambah satu sudah lebih tepat," balasnya dengan serius.
***
Dear All,
Sembari menunggu update selanjutnya, mampir yuk ke karya teman-teman aku berikut ini yah. Silakan mampir dan ikuti ceritanya.
Sisi Gelap Seorang Hakim karya Chika Ssi
Ketika Cinta, Benci, dan Rintu Menyatu karya Santi Shuki.
Silakan mampir dan berikan dukungannya yah. Mampir juga ke Novel terbaru aku berjudul Mas Duda Mencari Ibu Susu yang selalu update setiap hari.
Dukung selalu ya...
Love U All,
Kirana
__ADS_1