
Pemandangan pagi itu, ada Sara yang tengah memeluk Evan. Sementara ada tangan kokoh milik Belva yang tampak melingkari pinggang Sara. Ketiga terlelap di ranjang yang sama untuk pertama kalinya. Sungguh, pemandangan yang indah di pagi hari. Ketiganya terlihat seperti sebuah keluarga yang utuh.
Hingga saat surya perlahan-lahan menampakkan sinarnya, Belva perlahan mengerjap. Pria itu memang sudah terbiasa bangun pagi, sehingga pagi itu Belva menjadi pria yang pertama bangun pagi. Senyuman tercetak jelas di wajah Belva saat mendapati Sara dan Evan tidur dengan saling memeluk. Pemandangan yang indah untuk Belva. Sebab, biasanya putranya itu terbiasa tidur sendiri. Sekarang, Evan nyatanya begitu terlelap tidur di samping Ibu kandungnya sendiri.
Tidur kamu pasti sangat nyenyak, Evan …
Sekarang ada Mama Sara yang akan selalu menjagamu dan mengasuhmu …
Semoga keputusan Papa untuk menikahi Mama Sara membuatmu bahagia, Evan …
Kebahagiaanmu jauh lebih penting bagi Papa …
Tentunya, Papa juga bahagia karena kini Papa bisa bersanding dengan wanita yang tanpa sengaja masuk ke dalam hati Papa …
Wanita yang memiliki pesonanya sendiri, yang tanpa Papa sadari justru menempati hati Papa ...
Sosok wanita yang baik dan juga sangat menyayangi Anin, bahkan wanita ini yang perlahan mengubah hidup Anin ...
Aku sungguh mencintaimu, Sara ...
Belva berbicara dengan dirinya sendiri, hatinya terasa teduh kali ini. Lantas Belva memilih untuk kembali berbaring dan kian memeluk Sara dengan begitu eratnya. Pelukan erat Belva nyatanya justru membuat Sara bergerak, hingga akhirnya wanita itu pun mengerjap. Kelopak mata Sara yang semula tertutup, perlahan-lahan pun mulai terbuka.
Wanita itu menoleh ke belakang ke arah Belva, yang sudah tersenyum kepadanya.
“Morning Sara … sudah bangun?” tanya Belva pagi itu.
“Pagi Pak,” sahut Sara.
__ADS_1
“Tidurmu nyenyak?” tanya Belva lagi kali ini.
Sara pun perlahan menganggukkan kepalanya, “Ya, dengan memeluk Evan, tidurku lebih nyenyak,” balas Sara.
Belva sedikit beringsut dan pria itu kini duduk bersandar di head board ranjangnya, “Jadi … nyenyaknya cuma karena memeluk Evan? Dipeluk Papanya Evan tidak membuatmu kian terasa nyenyak?” tanya Belva pagi itu.
Ah, rupanya Belva sedang mode cemburu kali ini. Pria itu tidak rela jika hanya Evan yang bisa membuat tidur Sara menjadi nyenyak. Dia pun tentu memiliki andil untuk membuat tidur Sara kian nyenyak tentunya.
“Oh … jadi Papa cemburu?” tanya Sara kali ini dengan sedikit tertawa.
“Tidak, tidak cemburu … kan Papanya Evan cuma mau tanya,” sahut Belva kali ini.
Sara pun sedikit tersenyum dan melirik pria yang duduk di sampingnya itu, “Iya … dipeluk Papanya Evan, bikin tidurku nyenyak … sama seperti dulu waktu mengandung Evan,” balas Sara kali ini.
Memang tidak dipungkiri, dulu karena ditemani oleh Belva, dipeluk, dan menghirupi aroma Sandal Wood yang segar dari tubuh Belva membuat Sara kian cepat terlelap. Wanita itu sampai dengan mudahnya terbuai ke alam mimpi karena pelukan hangat seorang Belva Agastya. Kini kembali dipeluk Belva sampai pagi, rasanya sungguh indah dan menyambut pagi hari dengan penuh syukur bagi Sara.
Mendengar jawaban Sara, Belva pun lantas tersenyum, pria itu membawa kepala Sara untuk bersandar di bahunya.
Lagi-lagi Sara mengulas senyuman di wajahnya, dia sangat menyukai perubahan Belva yang kian hangat dan mudah mengutarakan perasaannya seperti ini. Daripada Belva yang dulu, Sara justru menyukai Belva yang hangat dan mudah mengutarakan perasaan seperti ini.
“Sara … tidak bisakah kamu tidak memanggilku Pak?” tanya Belva kali ini. “Aku sih tidak keberatan, hanya saja kamu seolah seperti salah satu stafku di Agastya Property,” lanjut Belva kali ini.
“Lantas, aku harus memanggilmu apa?” tanya Sara kali ini.
“Mas mungkin? Papa juga tidak masalah,” sahut Belva.
Sara terkekeh geli dengan jawaban yang diberikan suaminya itu, “Baiklah … aku akan memanggilmu Mas saja, tetapi jika ada Evan, aku akan memanggilmu Papa,” balas Sara kali ini.
__ADS_1
“Oke Sayang … makasih,” balas Belva.
Pengantin baru memang bisa dengan mudahnya membuat suasana menjadi berbunga-bunga. Sekadar membahas panggilan saja, hati Sara dan Belva sudah begitu bahagia.
“Baiklah … aku bikin sarapan dulu ya Mas, biar Evan begitu bangun bisa sarapan,” ucap Sara yang sudah mulai memanggil Belva dengan sebutan ‘Mas’.
Pria itu tersenyum lebar dan memberikan anggukan kecil, “Iya baiklah Sayang … nanti aku susul ke dapur,” balasnya.
Sara akhirnya memilih turun dari tempat tidur dan mulai menuju ke dapur. Hari ini, sebagai hari pertama menjadi istri Belva kembali, Sara membuatkan sarapan untuk suaminya dan juga untuk Evan. Memanfaatkan bahan-bahan yang ada di lemari es, Sara memilih membuat Nasi Goreng dengan suwiran daging ayam, dan membuatkan Pancake untuk Evan.
Hampir setengah jam berlalu, rupanya Belva dan Evan keluar dari kamar dengan sudah rapi. Agaknya Papa dan Anak itu sudah mandi terlebih dahulu, setelah bersih, segar, dan rapi barulah keduanya menuju meja makan untuk sarapan.
“Pagi Mama,” sapa Evan dengan memeluk Mama Sara.
“Hai … pagi Sayang, duduk yuk … Mama sudah buatkan pancake buat kamu,” balas Sara.
“Pagi Sayang,” sapa Belva kali ini. Pria itu memanggil Sara dengan panggilan Sayang di hadapan Evan. Sama sekali tidak sungkan, justru Evan tertawa mendengar Papanya memanggil Sara dnegan sebutan Sayang. Bahkan di hadapan Evan, Belva pun menghadiahi kecupan hangat di kening Sara. Tindakan kecil berbalut kasih sayang itu nyatanya benar-benar membuat hati Sara berbunga-bunga.
“Pagi,” sahut Sara sembari menyiapkan satu piring Nasi Goreng Ayam untuk Belva.
“Wah, sarapan yang enak dan lezat tentunya,” balas Belva kali ini. Pria itu sedikit menunduk guna mencium aroma Nasi Goreng buatan Sara yang terasa begitu lezat itu.
“Mama pintar masak,” teriak Evan kali ini.
“Mama masih belajar memasak, Evan … hanya saja jika kamu ingin makan sesuatu, Mama akan membuatkanmu buat kamu,” balas Sara kali ini.
“Sekarang, silakan dimakan … breakfast time,” ucap Sara kali ini.
__ADS_1
Beberapa kali Sara justru terlihat tersenyum mengamati interaksi Belva dan juga Evan. Pria berbeda generasi itu justru terlihat menggemaskan di mata Sara. Hingga Sara pun menikmati sarapannya dengan sesekali menatap Belva dan Evan bergantian.
Bisa dikatakan pagi ini menjadi pagi yang indah dan penuh syukur bagi Sara. Hidupnya tidak lagi sepi dan sendiri, tetapi kini dia memiliki Belva dan Evan. Bukan hanya Evan yang menginginkan keluarga utuh, dirinya pun begitu merindukan keluarga yang utuh. Kali ini, keluarga yang utuh itu bisa benar-benar Sara rasakan. Semoga saja kebahagiaan ini akan bertahan selamanya.