
“Sara … kenapa aku tidak melihat suamimu datang kemari?” tanya Zaid dengan tiba-tiba.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, tentu saja seolah membuat Sara membeku di tempatnya. Tidak mengira bahwa Zaid akan menanyakan pertanyaan pribadi kepadanya. Padahal selama sebulan ini, yang mereka obrolkan adalah seputar bisnis dan pekerjaan semata. Zaid tidak pernah menanyakan masalah pribadi kepada Sara.
“Seingatku … dulu waktu kita sama-sama belajar di Kopi Lab, suamimu selalu datang menjemputmu. Dia terlihat seperti tipe suami yang posesif, dan menempel terus padamu,” ucap Zaid.
Tentu saja Zaid tidak bermaksuda merendahkan suami Sara. Hanya saja di matanya, Sara memiliki seorang suami yang posesif.
“Hmm, tidak perlu menanyakannya,” jawab Sara.
Wanita itu tersenyum aneh, merasa kikuk. Sebab, Sara tidak bisa memberikan jawaban yang jujur kepada Zaid. Sara memiliki masa lalu yang harus dia tutupi untuk sekarang ini bahkan sampai nanti.
Mendengar pertanyaan dari Zaid, justru seolah Sara kembali mengingat masa-masa di mana tiap sore Belva menjemputnya dulu di Kopi Lab. Teringat bagaimana Belva menyemprotkan begitu banyak hand sanitizer di telapak tangannya, dengan dalih supaya tangannya terdesinfeksi dari kuman.
Sungguh, mengingat semuanya itu saja membuat dada Sara terasa kembali sesak. Semua kenangan bersama Belva sudah mati-matian dia lupakan, tetapi kini Zaid justru kembali menanyakan sosok pria bernama Belva Agastya itu.
Sementara bagi Zaid sendiri, mendengar jawaban Sara yang seolah mengelak justru membuat pria itu kian ingin tahu apa yang tengah disembunyikan oleh Sara. Apa yang sebenarnya terjadi pada diri Sara. Mengapa dalam dua bulan terakhir, Sara justru terlihat seorang diri.
"Aku tidak kenapa-napa, Zai," balas Sara pada akhirnya.
Sebab, Sara pun tidak ingin membagi kisah pilunya di masa lalu dengan siapa pun termasuk Zaid. Terlebih sewa menyewa rahim begitu tabu bagi warga +62. Pernikahannya juga hanya sebatas pernikahan kontrak. Semua itu agaknya adalah hal yang tabu dan harus Sara sembunyikan dengan sebaik mungkin.
"Tidak mungkin tidak kenapa-napa, Sara. Aku sangat tahu bagaimana posesifnya suaminya, dan sekarang melihatmu sendirian justru aku menjadi curiga kepadamu. Apa yang kamu sembunyikan Sara? Di mana juga bayimu?" tanya Zaid.
Di saat Sara ingin menyembunyikan semuanya, justru Zaid ingin menanyakan semuanya. Ya, pria itu seakan ingin mengorek semua hal tentang Sara.
"Ceritakanlah semua Sara ... aku yakin, ada yang tidak beres sejauh ini," lanjut Zaid lagi.
Perlahan Sara menghela nafasnya. Pria di hadapannya ini terlanjur pernah melihatnya hamil dan melihat Belva yang dulu sering kali menjemputnya usai dari Kopi Lab.
"Pernikahanku sudah berakhir, Zaid," ucap Sara pada akhirnya.
__ADS_1
Mengakui dengan mulut dan lidahnya sendiri bahwa pernikahannya telah berakhir terasa pilu. Namun, itu adalah kenyataan dan tidak bisa ditutupi lagi.
Zaid melihat Sara dengan penuh tanya. Bagaimana bisa, wanita yang dulu seolah begitu dijaga suaminya justru sekarang sudah mengakui bahwa pernikahannya telah berakhir. Suami yang dulu rajin menjemputnya bahkan terlihat begitu posesif, justru kini keduanya sama-sama berpisah.
"Itu tidak mungkin Sara ... aku bisa melihat kalau suamimu itu sangat menjagamu. Suamimu itu posesif Sara, tidak mungkin melepaskanmu begitu saja," balas Zaid.
Mendengar ucapan Zaid, Sara pun tersenyum getir. "Pada kenyataannya begitulah adanya. Aku hanya menikah mut'ah dengannya," balas Sara lagi.
Pernikahan mut'ah sering juga disebut dengan pernikahan kontrak. Hubungan pria dan wanita dalam satu ikatan pernikahan dalam jangka waktu tertentu. Menurut mazhab Syiah, nikah mut'ah adalah pernikahan dengan masa waktu yang telah ditetapkan, setelahnya tidak akan berlangsung lagi.
Saat Zaid mendengar pernyataan Sara, pria itu tampak menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tidak menyangka bahwa Sara adalah seorang wanita yang rela dinikahi secara mut'ah.
"Itu tidak mungkin, Sara ... katakan kalau semua itu hanya kebohongan semata," balas Zaid lagi.
"Faktanya semua itu benar, Zaid. Aku menikah mut'ah dengannya untuk jangka waktu 12 bulan," tegas Sara kali ini.
"Bagaimana dengan bayimu?" lanjut Zaid yang memberikan pertanyaan kepada Sara.
"Dia bersama mantan suamiku. Aku menikah dengannya secara mut'ah untuk melahirkan bayi itu," jelas Sara.
Sekalipun Sara tidak menjelaskan bahwa dia menikah hanya sekadar menyewakan rahim. Akan tetapi, Zaid bisa menangkap bahwa arah penjelasan Sara mengarah ke menyewa rahim.
"Bagaimana bisa Sara?" tanya Zaid seakan tak percaya.
"Bisa Zaid, dan nyatanya semua itulah yang terjadi," jawab Sara dengan cepat.
Seakan begitu pilu, menyesakkan dada, tetapi kenyataannya memang demikian. Sara menghela nafasnya yang terasa berat, kini ada orang lain yang akhirnya mengetahui bahwa dirinya hanya wanita hina, seorang wanita yang rela dinikahi secara mut'ah hanya untuk melahirkan seorang bayi bagi pria yang mengontraknya selama 12 bulan.
***
Sementara itu di Kediaman Belva…
__ADS_1
Tampak Belva yang tengah menimang Evan dalam gendongannya. Berjalan kesana kemari dan berharap bayi kecilnya itu akan cepat terlelap.
"Tumben sampai jam segini kamu belum tidur Evan? Ayo, bobok yuk… Papa akan menidurkan kamu. Putranya Papa cepat bobok yah," gumam Belva kepada putranya itu.
Melihat Belva yang masih berusaha menidurkan Evan, perlahan Anin pun menghampiri suaminya itu.
"Tumben yah, Evan sampai belum tidur sampai jam segini. Apa jangan-jangan dia merindukan Bundanya yah?" tanya Anin kepada suaminya itu.
Perlahan Belva menatap wajah Evan, berusaha menerka dengan hatinya sendiri.
Apa benar kamu merindukan Bundamu, Evan?
Sayangnya sampai sekarang Papa belum bisa menemukan di mana Bundamu berada.
Bunda Sara selalu mengirimkan ASIP buat kamu, tetapi tidak ada alamatnya secara pasti.
Papa harus mencari ke mana, Van?
Sabar ya Nak … suatu hari nanti kamu akan bisa bertemu dengan Bundamu lagi.
Semoga …
Ya, semoga waktu itu tiba. Papa mengira pasti kamu merindukan Bunda sekarang...
Sabar yah, maafkan Papa yang nyatanya masih belum bisa menemukan di mana Bundamu berada.
Sekarang tidurlah Evan, Papa dan Mama akan selalu menjagamu ....
Menatap wajah mungil bayinya dan sembari mencoba menidurkan Evan dilakukan Belva. Pria itu tampak sesak melihat Evan yang jauh dari Ibu kandungnya. Mungkin saja ada ikatan batin antara Evan dan Sara di luar sana. Sehingga membuat Evan tidak segera tertidur.
Belva masih berusaha menimang putranya itu dan berharap putranya akan segera terlelap. Apa pun yang terjadi di luar sana, Belva hanya berharap bahwa Sara dalam keadaan baik dan sehat. Dari setiap kantong ASIP yang dikirimkan Sara pun, Belva menerka bahwa di luar sana Sara dalam keadaan baik sekarang ini.
__ADS_1