Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Usaha Totalitas Tanpa Batas


__ADS_3

Siang hari menjelang sore itu, Evan baru saja terbangun. Terlihat Evan yang menghampiri Mama dan Papanya yang sedang duduk di ruang tamu. Kedua orang tuanya sedang melihat siaran televisi dan terlihat Belva yang duduk dan merangkul istrinya itu.


“Papa dan Mama baru ngapain?” tanya Evan.


“Sudah bangun? Papa dan Mama baru nonton televisi, Van,” balas Belva.


Evan tampak turun melihat highlights pertandingan sepakbola yang sedang dilihat oleh Papanya itu. “Sepak bola ya Pa?” tanya Evan kepada Papanya.


“Iya Van … Liga Inggris,” sahut Belva.


“Mama apa tahu sepakbola?” tanya Evan kepada Mamanya.


“Sedikit tahu,” balas Sara.


“Suka klub mana Ma?” tanya Evan lagi.


“Itu … Manchester United,” sahut Sara.


Tampak Evan justru tertawa melihat wajah Papa dan Mamanya satu per satu. “Yah, musuhan dong sama Papa. Papa sukanya Chelsea,” sahut Evan.


Perlahan Sara pun menganggukkan kepalanya, “Iya, Mama tahu,” balas Sara.


Baru saja mereka berbicara, terdengar ada sebuah mobil yang berhenti di depan gerbang rumah Sara. Tidak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu.


Took … Took … Took …


“Permisi,” sapa seseorang dari luar.


Tampak Sara berdiri, dan membukakan pintu. Melihat siapa yang datang ke rumahnya.


“Halo Kak …” Rupanya Amara yang datang bersama Jerome.


Melihat kedatangan Tantenya dan juga Jerome, membuat Evan pun sangat senang.


“Hei Tante … hei Jerome,” sapa Evan kali ini kepada Tante dan sepupunya itu.


“Kakak ke Bogor enggak mampir ke Villa?” tanya Amara kali ini.

__ADS_1


“Kami hanya liburan singkat saja, Amara … besok pagi kami juga harus kembali ke Jakarta,” balas Sara.


Beberapa saat Amara berada di rumah Sara. Evan dan Jerome juga terlihat akrab satu sama lain. Bermain bersama dengan mainan seadanya yang dibawa Jerome. Sampai pada akhirnya, Amara berpamitan karena sudah waktunya Rizal untuk pulang dari kantornya.


“Mama, Evan menginap di rumah Tante Amara dan Jerome boleh tidak?” tanya Evan kali ini kepada Sara.


“Gimana Papa?” tanya Sara kepada suaminya. Sebab, bagi Sara apa pun keputusan Belva, itulah yang berlaku.


“Besok kita kembali ke Jakarta loh Van,” balas Belva.


“Boleh ya Pa … masih mau main sama Jerome,” ucap Evan kali ini.


Melihat Evan yang merajuk dan wajahnya terlihat mengiba, Belva pun akhirnya menganggukkan kepalanya. “Baiklah, besok pagi sekaligus Papa jemput dan kita kembali ke Jakarta yah,” balas Belva.


“Titip Evan yah Amara,” pinta Belva dan Sara berbarengan.


“Aman Kak,” balas Amara.


Kemudian Sara dan Belva mengantarkan Amara sampai di depan pintu. Sara juga menasihati Evan supaya tidak nakal dan juga besok mereka akan menjemputnya sekaligus mengajak Evan kembali pulang ke Jakarta.


“Ehem,” Belva tampak berdehem, pria itu beringsut dan duduk di samping istrinya.


“Kenapa, kok diam?” tanya Belva.


“Rumah sekecil ini saja jadi sepi tidak ada Evan,” sahut Sara.


“Masih ada Papanya Evan,” sahut Belva dengan cepat.


Tanpa perlu banyak berbicara, tangan Belva bergerak dan menyentuh sisi wajah Sara. Pria itu tampak permisi melabuhkan kecupan yang dalam di bibir Sara. Sungguh, perbuatan Belva ini membuat Sara menahan nafas. Wanita itu tampak canggung sekarang. Hari masih sore, dan Belva sudah mendaratkan kecupan demi kecupan di bibirnya.


“Mas, masih sore,” ucap Sara sembari menahan dada Belva.


“Tidak masalah, manfaatkan waktu, Sayang. Sebentar yah … aku kunci pintunya dulu,” ucap Belva.


Pria itu berjalan dan mengunci pintu depan, kemudian Belva sembari menghampiri Sara yang masih duduk di sofa ruang tamu itu. Pria itu diam, tetapi bergerak dengan pasti, Belva melabuhkan bibirnya kembali memberikan sapaan hangat di bibir Sara. Lidahnya menyisir permukaan kulit yang kenyal itu. Bibirnya bergerak dan memberikan hisapan di lipatan bawah bibir Sara. Agaknya kali ini, Belva akan benar-benar memanfaatkan waktu setelah semalam kegiatan panasnya gagal total.


Sara yang semula merasa was-was karena kini mereka saling bercumbu di ruang tamu, perlahan pun justru larut dalam suasana. Ciuman demi ciuman, kecupan demi kecupan yang dilabuhkan Belva justru membuat Sara melingkarkan tangannya di leher suaminya itu. Sara memejamkan matanya dan merasa bagaimana suaminya itu menciumnya dan menyentuhnya.

__ADS_1


Tangan Belva yang semula menyentuh sisi wajah Sara, tangan itu bergerak turun, memberikan rabaan di leher Sara, memberikan sedikit remasan di bahu Sara, dan kian turun mengusapi lengan Sara. Sungguh, agaknya Belva benar-benar tahu titik-titik yang bisa membangkitkan gelenyar asing nan enak bagi Sara.


Bahkan kini, jari-jemari Belva sedang berusia meloloskan kacing kemeja yang dipakai Sara dari sarangnya. Beberapa kancing baju sudah terbuka, memperlihatkan sembulan dada milik Sara dengan bra terlihat jelas di sana. Bibir Belva bergerak kian turun, memberikan sentuhan dan kecupan hangat di garis leher Sara, di sembulan dada Sara, bahkan Belva membuka sedikit mulutnya, dan menghisap dan menggigit kecil sembulan dada milik Sara.


“Ah, Mas,” pekik Sara dengan nafas yang tertahan.


“Nikmati saja,” sahut Belva.


Agaknya kali ini Belva akan benar-benar berusaha total dan maksimal. Untuk bisa memanfaatkan waktu berdua dengan Sara kali ini. Tubuh Sara yang menegang, deru nafas Belva, dan de-sahan yang nyaris saja keluar dari bibir Sara, membuat sore itu benar-benar bergelora.


“Kita lanjutkan di dalam,” ucap Belva. Pria itu bergerak, menelisipkan tangannya di bahu Sara dan di bawah pantat Sara. Membopong Sara layaknya bridal style, dan dengan langkah penuh pasti membawa Sara untuk memasuki kamarnya. Dengan perlahan Belva menaruh Sara di atas ranjangnya. Pria itu menutup dan mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu, kemudian Belva menarik ke atas kaos yang dia kenakan hingga memperlihatkan bagian atas tubuhnya yang begitu atletis.


Pria itu kini kembali menindih Sara, melabuhkan ciumannya dengan nafas yang memburu, dan kali ini tangan Belva bergerak dan benar-benar meloloskan kemeja yang dikenakan Sara. Bahkan tangan Belva menelusup masuk di balik punggung Sara, dan melepaskan pengait yang bersembunyi di sana. Saat pengait itu terlepas, tampaklah buah persik yang begitu menggoda. Bak tak sabaran dan tidak ingin menunda lagi, Belva segera membawa masuk satu buah itu ke dalam rongga mulutnya. Memberikan usapan yang basah dan hangat dengan ujung lidahnya, memberikan gigitan-gigitan kecil di puncak buah persik itu. Sara yang tengah terbakar, justru kian membenamkan wajah Belva dengan tangan yang memberikan remasan di rambut hitam pria itu.


Belva sendiri pun terpacu untuk bisa menyentuh dan memberikan kenikmatan tanpa batas kepada istrinya itu. Bahkan saat Belva memberikan godaan di satu buah persik milik Sara dengan bibirnya, tangan pria itu juga memberikan godaan di satu buah persik yang lain. Memberikan remasan, memilin puncaknya, dan juga menyentuh titik sensitif Sara.


Pergerakan tangan Belva kian turun hingga dengan mudah pria itu melepaskan kain demi kain yang masih menempel di tubuh Sara. Kini Belva membawa wajahnya turun ke bawah, menyapa lembah di bawah sana dengan ujung lidahnya, memberikan usapan, belaian, dan juga tusukan yang membuat Sara mendesah dan perlahan menggerakkan pinggulnya saat merasakan pelepasannya.


“Ah, Mas,” ucap Sara dengan nafas yang tertahan.


Merasakan bahwa Sara sudah sepenuhnya siap, Belva kemudian mengambil posisi di antara kedua paha Sara. Pria itu sedikit memegangi ujung pusakanya dan kemudian memasukkan pusaka itu ke dalam cawan sorgawi milik Sara. Gerakan seduktif yang lembut dan keras di saat yang bersamaan. Gerakan seduktif maju dan mundur, tusukan dan hujaman dan membuat Sara merengkuh tubuh suaminya itu. Bahkan beberapa kali Sara menggigit punggung suaminya itu.


“Ya Tuhan, astaga,” racau Belva kali ini.


Pria itu tampak menghela nafas dan kian bergerak kacau. Memberikan tusukan demi tusukan, hujaman demi hujaman, terlebih geliat buah persik milik Sara yang membuat Belva kembali memberikan kecupan dan gigitan kecil di puncak buah persik itu. Hingga puncak buah persik itu tampak basah dan sedikit bengkak di sana karena ulah Belva.


“Ah, Sara,” ucap Belva dengan nafas yang kian sesak. Bahkan peluh mulai bercucuran dari tubuh keduanya. Memberikan sensasi yang hangat dan basah, juga liat tentunya.


Beberapa saat lamanya Belva bergerak, sampai pada akhirnya seakan ada dorongan layaknya deburan ombak yang siap menerpa Belva kali ini. Gerakan seduktif Belva kian kacau, bahkan suara-suara memenuhi kamar itu saat Belva menginvasi dan menebar candu di atas tubuh Sara.


Sampai di batas, Belva menggeram, disertai dengan semburan cairan yang tentunya berisi benih-benih cintanya yang masuk ke dalam ladang halal milik Sara. Dengan tubuh yang bergetar Belva akhirnya rubuh dan memeluk Sara dengan begitu eratanya. Demikianlah pria itu menyelesaikan usaha totalitas tanpa batas. Totalitas menyemai ladang milik Sara dan berharap bahwa benih-benih yang tertabur di sana akan tubuh subur dan menghasilkan buah hati lagi untuk mereka berdua.


“Aku cinta kamu Sara,” ucap Belva kali ini.


Rengkuhan Sara di tubuh Belva juga kian kuat, wanita itu memejamkan matanya dan berkata dengan nafas yang terengah-engah, “Ah, aku … aku juga cinta kamu,” balas Sara.


Sore menggelora yang amat panas bagi Sara dan Belva. Sore yang seakan bertaburan percikan kembang api dengan bunga-bunga apinya yang menghiasi angkasa. Tentunya hanya mata Sara dan Belva saja yang bisa melihat bunga-bunga api yang meledak, dan pecah di udara.

__ADS_1


__ADS_2