
"Makasih Sayang, tadi benar-benar mantap jiwa," ucap Belva yang masih bergelung dalam satu selimut tanpa busana dengan istrinya itu. Belva ini masih memeluk Sara dan menunjukkan wajah yang begitu berseri-seri, seolah dirinya bagai seorang kafilah yang baru saja menemukan oase di tengah gurun pasir. Menerima godaan nakal dari istrinya yang berakhir dengan kenikmatan yang tak bisa terdefinisikan.
Sara yang mendengarkan ucapan Belva nyatanya yang bisa tersenyum dan sedikit menengadahkan wajahnya guna melihat sekilas wajah suaminya itu. "Kalau dapat yang enak aja bilangnya mantap jiwa," respons Sara kemudian.
"Lha mau bilang apa Sayang? Benar-benar mantap tadi. Lagi pula kamu yang mulai nackal duluan," balas Belva kali ini.
"Kamu kan boleh nakal, tapi cuma sama aku aja nakalnya. Jadi, sesekali aku juga boleh dong nakal," balas Sara sembari tersenyum kepada suaminya itu.
Jujur saja, sebenarnya Sara begitu malu. Akan tetapi, bagaimana lagi jika dorongan dalam hatinya mendorongnya untuk berani melakukan semua itu dan juga memang efek kehamilan yang membuat hasratnya bergelora begitu saja. Namun, semua juga telah terjadi sehingga kali ini Sara mengatakan bahwa sesekali dirinya nakal dengan suami sendiri juga tidak ada salahnya.
"Boleh, nakalnya juga sama aku aja. Aku sama sekali gak keberatan kok kalau kamu nakal. Justru sering-sering aja nakalnya, biar aku suka," balas Belva sembari tertawa.
Itu adalah ungkapan paling jujur dari seorang pria, di mana mereka justru dengan sukarela menerima sikap istrinya yang nakal. Mengapa demikian? Sebab, nakal membawa nikmat yang tidak akan ditolak oleh seorang pria. Termasuk Belva. Ya, Belva sama sekali tidak keberatan jika Sara sesekali nakal. Justru Belva akan memberikan akses secara penuh untuk Sara.
"Enggak boleh sering-sering Mas … nanti kasihan babynya kena lava pijar darimu," sahut Sara.
Kali ini Belva terkekeh geli saat Sara menyebut air cinta yang merupakan benih berkualitas unggul itu dengan sebutan lava pijar.
"Kamu ini bisa-bisanya sebutnya lava pijar sih. Emangnya punyaku gunung berapi yang bererupsi ya Sayang? Sampai kamu nyebutnya lava pijar gitu?" tanya Belva dengan pandangan menyelidik kepada istrinya itu.
Dengan cepat Sara pun menganggukkan kepalanya, "Iya … lava pijar," sahutnya.
"Ya sudah, terserah kamu saja. Asalkan kamu bahagia," balas Belva dengan mengecupi puncak kepala istrinya itu. Kegiatan manis usai bermain panas dengan saling mengobrol, saling bercanda, dan memberikan kecupan serta pelukan yang tentunya membuat hubungan antara suami dan istri kian harmonis.
__ADS_1
"Sayang, baby kita tidak apa-apa kan?" tanya Belva kemudian. Telapak tangan pria itu tampak memberikan usapan di perut Sara.
Tentu Belva bertanya karena tadi Belva merasa bahwa dirinya terlalu bersemangat. Sampai-sampai Belva nyaris lupa jika Sara tengah berbadan dua. Sehingga, Belva merasa takut jika hujaman demi hujaman yang dia berikan justru melukai Sara dan kandungannya. Padahal tadi Belva juga sebisa mungkin menahan, supaya tidak menekan perut Sara. Semua akan Belva lakukan demi kenyamanan Sara.
"Enggak, babynya baik-baik saja kok. Semoga saja babynya sehat di sini ya, Mas. Gak sabar pengen menyambut kelahirannya," balas Sara.
"Gak perlu cepat-cepat Sayang. Nikmati saja kehamilanmu saat ini. Yang pasti, aku akan berdiri di samping kamu dan terus mendampingi kamu," sahut Belva dengan begitu sungguh-sungguh.
Ah, Sara rasanya benar-benar bahagia saat ini. Usai kegiatan panasnya dengan suaminya, pasti keduanya menyempatkan waktu untuk afterplay. Mendekatkan pasangan secara hati dengan mengobrol bersama, mengutarakan cinta, atau melakukan berbagai kegiatan manis berdua.
"Mas, cuma … sekarang aku kok lapar yah," keluh Sara kali ini kepada suaminya.
Belva kemudian menarik tangannya, dan menatap pada Sara. "Mau aku potongkan buah segar?" tawar Belva kepada Sara.
"Kamu mau Mas, motongin buah buat aku?" tanya Sara.
Usai itu, Belva kemudian membantu Sara untuk mengenakan pakaiannya, pria itu kembali tersenyum nakal menatap Sara.
"Cantik," balasnya kemudian.
"Gombal," sahut Sara dengan singkat.
"Serius, kamu hamil ini kecantikanmu justru bertambah berkali-kali lipat. I love U, Bumilku," ucap Belva kali ini dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Serius? Padahal berat badan aku malahan bertambah Mas. Hamil baru beberapa minggu, sudah naik 4 kilogram," balas Sara.
Memang tidak dipungkiri bahwa di kehamilannya sekarang ini justru Sara merasa bahwa berat badannya naik dengan lebih drastis dibandingkan dengan saat hamil Evan. Akan tetapi, rupanya Belva dengan cepat menangkup wajah Sara dengan kedua tangannya.
"Tidak usah memikirkan berat badan. Yang penting kamu itu sehat," balas Belva. "Kamu sehat, baby kita juga sehat. Itu yang paling penting. Prioritas utama adalah Mama dan babynya sehat. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada kamu dan baby kita," lanjut Belva lagi.
"Iya," sahut Sara kemudian.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini dulu yah. Aku kupaskan buah buat kamu," balas Belva.
Pria itu segera bergegas keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur untuk mengupaskan berbagai buah segar yang memang selalu ada di dalam lemari es miliknya. Sehingga, Belva hanya pergi mengambil beberapa buah dari sana dan kemudian mengupasnya dan kemudian mengantarnya ke kamar Sara. Rupanya memiliki Sara dalam hidupnya benar-benar mengubah hidup Belva. Hal yang sebelumnya jarang Belva lakukan kini mau Belva lakukan untuk istrinya itu.
"Ayo Sayang dimakan dulu, biar kamu dan baby kita kuat dan sehat. Kasihan yang habis main-main sampai capek kayak gini," ucap Belva.
Belva sambil menyuapkan potongan buah Apel ke mulut Sara. Pria itu terlihat telaten, sembari memberikan senyuman saat Sara menerima dan mengunyah buah Apel.
“Makasih Papa,” sahut Sara.
“Makan yang banyak … yang sehat. Biar kamu dan baby kita selalu sehat,” ucap Belva.
“Iya, pasti aku sehat kok. Tenang aja Papa Belva,” jawab Sara lagi.
Sampai pada akhirnya, Belva sendiri yang menyuapi Sara sampai tandas. Kemudian, Belva menyerahkan Jus buah Pome khusus untuk Ibu Hamil untuk menambah nutrisi dari istrinya itu.
__ADS_1
“Aku seneng banget bisa mengurusmu kayak gini … aku pengen lakukan semua hal yang dulu tidak pernah aku lakukan untuk Evan. Kali ini aku mengurusmu dengan tanganku sendiri,” ucap Belva
Belva benar-benar menunjukkan kesungguhannya bahwa dirinya ingin mengurusi Sara, melakukan semua hal yang dulu tidak bisa dia lakukan saat Sara mengandung Evan. Rasanya Belva benar-benar belajar dan mendapatkan kesempatan untuk bisa memperhatikan dan melayani Sara. Menjadi figur suami yang baik bagi istrinya.