Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Special Moment


__ADS_3

Akhir pekan yang dinanti pun tiba. Kali ini, Amara benar-benar menjemput Sara. Bahkan pagi-pagi, Amara sudah menyambangi perumahan milik Sara. Wanita itu terlihat berseri-seri menjemput Kakak Iparnya.


“Ayo Kak … kamu harus segera bersiap,” ucap Amara kali ini.


“Kita sebenarnya mau ke mana?” tanya Sara kepada calon adik iparnya itu.


“Rahasia … yang pasti hari ini akan menjadi hari yang begitu spesial untukmu,” jawab Amara.


Sara pun menganggukkan kepalanya, mengikuti saja ke mana Amara membawanya. Rupanya kali ini Amara membawanya ke kediamannya yang berada tidak jauh dari Villa milik Belva Agastya. Di sebuah kamar, rupanya sudah bersiap make up artist dan seorang stylist yang akan mengubah penampilan Sara kali ini.


Sara termangu melihat kebaya berwarna putih yang tersedia di dalam kamar itu. Kebaya dengan mode kutu baru, full payet itu terlihat begitu indah. Jangan lupakan juga berbagai perlengkapan yang tersedia di sana mulai dari heels dan perhiasan. Jantung Sara rasanya berdegup dengan begitu kencangnya. Mungkinkah hari ini adalah hari di mana Belva benar-benar membuktikan ucapannya untuk meminangnya.


“Amara, ini semua?” tanya Sara dengan bibir yang terasa begitu kelu.


Amara pun menganggukkan kepalanya, “Iya Kak … harinya tiba. Hari ini,” jawab Amara pada akhirnya.


“Tetapi, semua ini?” tanya Sara.


Dirinya pun cukup bingung melihat semua yang sudah tersedia di sana. Padahal dalam dua pekan ini, Sara sama sekali tidak mempersiapkan sesuatu. Sekadar melakukan perawatan di rambut dan tubuhnya pun tidak.


“Kak Belva yang menyiapkan semua ini. Kak Belva sangat mencintaimu, Kak,” ucap Amara kali ini.


Seakan ucapan Amara ingin meneguhkan bahwa Kakaknya, Belva Agastya tidak keberatan mempersiapkan semuanya seorang diri. Belva mewujudkan pernikahan dengan konsep intimate wedding karena hanya mengundang keluarga saja untuk meminang Sara hari ini.


“Ayo Kak, bersiaplah … waktunya tidak lama lagi,” ucap Amara dan mempersilakan Sara untuk duduk di depan meja rias.

__ADS_1


Seorang make up artist yang sudah dipesan langsung oleh Belva sendiri pun tampak menyiapakan berbagai make up tentunya untuk memoles wajah Sara hari ini. Sebelum memoles, make up artist itu tampak memperhatikan wajah Sara terlebih dahulu.


“Kak … Kayak sudah cantik. Aku rasa sedikit make up sudah mempercantik Kakak sore hari nanti,” ucap sang MUA.


Sara pun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum canggung, “Euhm, sebenarnya aku tidak suka bermake-up terlalu tebal,” aku Sara kali ini.


“Oke Kak … serahkan padaku. Aku akan membuat Kakak tampil berkilau hari ini,” ucap MUA tersebut.


Akhirnya MUA itu mulai menggerakkan brush di tangannya, mengaplikasikan sejumlah produk make-up di wajah Sara. Mulai dari Premiere hingga Bedak. Merapikan dan membentuk alis mata Sara. Mengaplikasikan eye shadow di kelopak mata Sara, hingga akhirnya sebuah lipstik di poleskan di bibir Sara. Tidak lupa rambut Sara disanggul, dan reroncean bunga melati dihiaskan di rambut Sara.


Usai berias, stylist membantu Sara mengenakan kebayanya. Kini, wanita itu sudah siap dengan kebaya yang begitu pas di badannya dan jarik yang membungkus indah pinggang hingga ke kakinya.


“Lihatlah Kak … Kakak benar-benar cantik hari ini,” ucap sang MUA.


“Terima kasih,” ucapnya kepada MUA dan stylist yang sudah membantunya.


Menjelang jam 16.00, Amara kembali masuk ke dalam kamar tempat Sara bersiap. Wanita itu juga berganti memakai kebaya dan juga berias. Amara begitu kagum melihat Sara yang benar-benar berubah. Begitu cantik dan mempesona, hingga rasanya Amara tak bisa mengenali Sara kali ini.


“Ayo Kak … pangeranmu sudah menunggumu kali ini,” ucap Amara.


Dengan perlahan Amara menuntun Sara keluar dari kamar, berjalan keluar dari rumah dan menuju sebuah pintu kayu yang menghubungkannya dengan Villa milik Belva Agastya. Taman yang berada di tepi kolam sudah dihias sedemikian rupa. Konsep Garden Party dan dekorasi rustic sengaja dipilih Belva, sehingga dekorasi sore itu berpadu dengan perbukitan dan pepohonan yang begitu asri. Terdapat sebuah tempat duduk dan Belva sudah duduk dengan manis di sana. Pria itu menatap Sara dengan penuh kagum saat wanita itu berjalan ke arahnya dengan didampingi Amara.


Sementara Paman Sara sendiri sudah duduk di depan Belva kali ini. Penghulu pun juga sudah hadir.


Rasanya jantung Sara berdegup dengan begitu kencang, tidak mengira bahwa hari ini akan datang. Untuk kedua kalinya, dirinya akan menikah dengan pria yang sama. Hanya saja, dulu pernikahannya hanyalah pernikahan mut’ah, sebatas untuk memberikan keturunan bagi Belva. Akan tetapi, kali ini Belva berjanji untuk memberikan hidupnya sepenuhnya. Bukan hanya sekadar singgah, tetapi juga berlabuh di dalam hidup Sara.

__ADS_1


Hingga akhirnya penghulu mengisyaratkan untuk memulai akad nikah. Paman Sara segera menjabat tangan Belva.


"Saya terima nikah dan kawinnya Sara Valeria binti Hartawan dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat tunai," ucap Belva dengan begitu mantap.


"Sah."


Begitu kalimat 'sah' diucapkan, Belva begitu lega. Ini memang menjadi pernikahannya untuk kali kedua bersama Sara. Akan tetapi, debaran yang dia rasakan kali ini benar-benar membuat Belva gugup. Untung saja dia bisa mengucapkan kalimat sakral Ijab Kabul dalam satu tarikan nafas dan tidak ada kesalahan.


Sementara air mata Sara berderai dengan sendirinya. Hari ini benar-benar spesial untuk Sara. Hari di mana Belva mengucapkan akad untuk kali kedua. Hari di mana dirinya akan resmi menjadi pendamping hidup bagi Belva Agastya.


Wanita itu bahkan terisak tanpa suara saat Surat An-Nisa ayat 1 dan Surat Ar-Rum ayat 21 dilantunkan.


"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (Surat An-Nisa ayat 1)


"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Surat Ar-Rum ayat 21)


Usai melantunkan kedua ayat suci tersebut, kedua pengantin pun berdiri untuk memasangkan cincin pernikahan di jari manis mereka. Terlihat Belva yang tengah memegang sebuah cincin bertahta berlian di hadapan Sara.


"Sara, cincin ini berbentuk lingkaran yang menyimbolkan sebuah hubungan yang tiada akhir. Perasaan yang selalu bertaut. Sama seperti perasaan dan hubungan kita ke depannya yang tak akan pernah berakhir. Aku cinta kamu, Sara," ucap Belva dengan melingkarkan cincin itu jari manis Sara.


Usai menyematkan cincin tersebut, Belva melabuhkan bibirnya dan mengecup kening Sara. Sebuah kecupan bermakna bentuk cinta dan kasih sayangnya untuk Sara.


Dilanjutkan Sara yang menyematkan sebuah cincin di jari manis Belva. Kali ini Sara tak mampu berkata-kata. Seakan beribu-ribu kalimat pun tidak mampu Sara ucapkan kali ini, yang ada hanyalah air mata kebahagiaan yang berderai dengan sendirinya membasahi wajah Sara.


Hari ini rasanya benar-benar seperti mimpi. Memang ini bukan pernikahannya yang pertama dengan Belva Agastya, tetapi apa yang dilakukan pria itu seolah membuat Sara terharu hingga air mata terus saja berderai membasahi kedua pipinya. Hati Sara merasa begitu hangat dengan sosok Belva yang sudah banyak berubah di hadapannya sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2