Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kejutan Tiba-Tiba


__ADS_3

Tidak berselang lama, Sara menidurkan Evan hingga putranya itu benar-benar terlelap. Setelah itu, Sara masuk kembali ke kamarnya. Sekadar melihat handphonenya, karena memang Sara sendiri tidak banyak memegang handphone saat mengasuh Evan, memfokuskan pikirannya sepenuhnya untuk Evan. Sehingga Sara benar-benar membersamai Evan dalam setiap tahap tumbuh kembangnya.


Kemudian, Sara memilih berbaring sejenak di atas tempat tidurnya. Sara mulai mengirimkan pesan kepada suaminya itu.


[To: Papa Belva]


[Mas, baru ngapain?]


[Sorry baru bisa kirim pesan, seharian mengasuh Evan.]


[Aku sudah kangen … sudah rindu.]


[Udah pengen ketemu sama kamu, Mas.]


Sara mengirimkan pesan-pesan itu, tetapi wanita itu mengernyitkan keningnya karena semua pesan yang dia kirimkan hanya tercentang satu. Biasanya pesan-pesan yang dia kirimkan tercentang dua.


Beberapa saat Sara menunggu, tetapi pesan yang dia kirimkan masih tercentang satu. Kemudian, Sara berinisiatif untuk menghubungi Belva. Sayangnya, panggilannya juga tidak tersambung. Panggilannya tak terjawab.


Kamu kemana Mas? Kok pesan-pesanku tidak terbaca dan terjawab. Panggilanku juga tidak tersambung. Aku kangen kamu. Sekarang rasanya aku tidak bisa berpisah terlalu lama dari kamu. Dulu aku terbiasa tidak berkomunikasi denganmu, tetapi sekarang aku tidak bisa. Baru dua hari dan dua malam saja, aku sudah begitu rindu dan ingin memeluk kamu. 


Sara bergumam dalam hati. Sekarang ini, rasanya hatinya merasa tidak tenang. Lagipula, tidak biasanya handphone Belva dalam keadaan non-aktif seperti ini. Hanya sebatas memikirkan Belva dan rasa rindu yang berkecamuk di dalam hatinya sudah membuat Sara menangis. Kondisinya yang tengah hamil dan juga produksi berbagai hormon yang membuat perasaannya berubah-ubah memang membuat Sara lebih cengeng dibandingkan biasanya.


Wanita itu tidur dalam posisi miring, sembari menggenggam handphone di tangannya. Berharap pesan-pesan yang dia kirimkan akan terkirim. Seakan begitu cemas, kemudian Sara mengirimkan pesan-pesan selanjutnya kepada suaminya itu.


[To: Papa Belva]


[Mas, kok pesan-pesan dariku tidak terkirim sih?]

__ADS_1


[Kamu baru ngapain di sana?]


[Biasanya handphone kamu selalu aktif loh.]


[Aku sudah kangen kamu.]


[Baby kita juga sudah kangen Papanya.]


[Kalau menerima pesan ini, segera balas ya Mas.]


[Aku kepikiran.]


Kembali Sara mengirimkan pesan-pesan tersebut. Bahkan begitu lucu, Sara mengatasnamakan bayi di dalam kandungannya yang kangen pada Papanya. Padahal bayinya belum lahir, belum bisa mengutarakan perasaannya. Akan tetapi, semua wanita hamil tentu akan melakukan hal yang serupa sama seperti Sara. Seolah-olah bayi yang berada di dalam kandungannya pun turut menyuarakan rasa rindu kepada Papanya yang sedang berada di luar kota.


Detik demi detik berganti, menit demi menit pun berlalu, tetapi seakan-akan tidak ada tanda-tanda bahwa pesannya akan diterima, dibaca, dan dibalas. Perasaan hati Sara rasanya kian kalang kabut, menerka-nerka di mana suaminya saat ini. Hingga air matanya berlinang begitu saja.


Akan tetapi, baru saja Sara berjalan dan hendak keluar dari kamarnya, rupanya suaminya sudah berdiri di depan kamarnya dengan tangan yang hendak membuka daun pintu kamar itu.


“Sayang,” sapa Belva yang juga tampak terkaget.


Niat hati ingin mengejutkan istrinya, justru dirinya sendiri yang terkejut. Tidak mengira bahwa Sara masih terjaga dan juga tengah keluar dari kamar.


“Mas,” jawab Sara dengan berlinangan air mata.


Belva kemudian masuk ke dalam kamar. “Tunggu aku sebentar yah … aku mandi dulu,” ucap Belva.


Sara menganggukkan kepalanya, wanita itu kembali duduk di pinggiran ranjang, menunggu suaminya yang baru mandi. Hampir lima belas menit berlalu, Belva sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar, tubuh yang wangi, benar-benar aroma parfume yang disukai Sara menguar memenuhi kamar itu.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Belva segera memeluk istrinya itu. Pria itu berdiri, sementara Sara masih duduk di pinggiran ranjang. Kepala Sara berada di perut pria itu dan tangan Belva mengusapi kepala, rambut, hingga punggung Sara dengan lembut.


“Kangen,” ucap Sara dengan terisak.


Belva tersenyum, pria itu diam dan masih membelai lembut kepala hingga rambut Sara.


“Aku bela-belain pulang lebih cepat karena sudah kangen sama kamu,” balas Belva.


Pria itu menundukkan kepalanya dan kemudian mengecupi puncak kepala Sara dengan penuh sayang.


“Sudah, jangan menangis lagi … aku sudah pulang. Aku sudah di rumah denganmu,” balas Belva.


Ya, Belva memang sengaja untuk pulang lebih cepat, mengambil penerbangan malam supaya bisa sampai di rumah dengan cepat. Sebab, bukan hanya Sara yang rindu, tetapi Belva pun juga sangat merindukan istrinya, Evan, dan juga bayi yang masih berada di dalam kandungan Sara. Tidak masalah untuk mengambil penerbangan malam, asalkan dirinya bisa segera sampai di rumah.


Belva lantas mengurai pelukannya, dan kemudian menarik dagu istrinya itu. Dengan cepat, Belva menyapa bibir Sara yang begitu ranum. Membuai permukaan bibir yang lembut dan kenyal itu dengan bibirnya sendiri, memagutnya dengan begitu lembut, dan juga menyesap lipatan bawah bibir Sara dengan begitu memabukkan. Sebab, rindu harus diselesaikan dengan sebuah ciuman, membuai bukan hanya kedua bibir, tetapi juga menggetarkan jiwa.


Tangan Belva membelai sisi wajah Sara, dan kemudian pria itu memberikan sedikit tekanan pada permainan bibirnya. Mengecupinya, memagutnya, melu-matnya, seakan tidak akan pernah ada waktu bagi Belva untuk merasai semua rasa yang tersaji dari manis dan hangatnya bibir Sara.


Beberapa menit berlalu, kemudian pria itu menarik kembali wajahnya, ibu jarinya bergerak dan mengusap lipatan bawah bibir Sara.


“I Miss U So Much … sudah jangan nangis lagi, aku sudah di sini untukmu,” ucap Belva dan kembali memeluk Sara.


"Aku nangisnya karena berusaha mengirim pesan kepadamu dan sama sekali tidak terkirim. Aku berpikir yang macam-macam," balas Sara.


"Iya, karena aku masih di pesawat. Tidak menghidupkan handphone. Bahkan handphoneku masih mati. Aku tidak bisa memikirkan yang lain, yang aku pikirkan adalah bisa segera pulang dan menemuimu. Aku kangen banget sama kamu," jawab Belva.


Pada kenyataannya kenapa semua pesan yang Sara kirimkan tidak terbalas karena Belva dalam penerbangan udara, di mana handphone memang harus dinon-aktifkan sementara. Itulah yang membuat semua pesan yang Sara kirimkan tidak terbalas. Bahkan Belva memberikan kejelasan bahwa sampai sekarang pun handphonenya masih belum dihidupkan. Yang Belva pikirkan adalah bisa sampai di rumah, walau tengah malam tidak masalah untuk Belva asalkan bisa segera memeluk dan mencium istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2