Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Wawancara Sekretaris


__ADS_3

Selang sepekan berlalu, hari ini Belva akan kembali bekerja di Agastya Property. Setelah beberapa hari yang lalu, Ridwan memberikan tiga orang kandidat untuk sekretaris baru bagi Belva. Hari ini, Belva akan menyeleksi langsung satu dari tiga orang kandidat tersebut untuk menjadi sekretarisnya.


Begitu telah tiba di kantor, Ridwan pun datang dan menyampaikan Curriculum Vitae (Data diri) dari tiga kandidat terpilih yang akan menjalani tes wawancara akhir kali ini.


“Bos, ini adalah tiga kandidat terpilih yang akan menjalani tes wawancara hari ini. Bob bisa lihat dahulu data dirinya,” ucap Ridwan yang menyerahkan tiga bulan map berwarna biru kepada Belva.


Tangan Belva pun terulur dan menerima map dari sekretarisnya itu. “Baik, aku akan lihat dulu. Oh, iya … nanti kamu turut untuk mendampingi ya Ridwan. Setidaknya kalian akan bekerja bersama dan berbagi tugas, jadi kamu juga melihat mana yang lebih enak diajak bekerja bersama,” ucap Belva.


“Baik,” balas Ridwan.


Sepeninggal Ridwan, Belva pun membaca satu per satu map yang berisikan Curriculum Vitae dari tiga kandidat yang akan mengikuti wawancara hari ini. Berdasarkan jenjang pendidikan yang mereka tempuh, memang ketiganya lulusan dari kuliah administrasi dan bisnis. Sehingga, tugas-tugas administrasi kantor, mereka sudah memahaminya, dan tidak perlu mengajari semuanya dari awal.


Tepat jam 10.00, Ridwan kembali menemui Belva dan mengajak sang CEO untuk mewawancarai tiga kandidat. “Ke ruang rapat, Pak,” ucap Ridwan kali ini. Memang Ridwan cukup unik, pria itu memanggil Bos hanya saat bersama dengan Belva. Sementara jika sudah fokus dan serius dengan pekerjaan, Ridwan akan memanggil Bosnya itu dengan panggilan formal.


“Hmm, iya,” sahut Belva dengan cepat.


“Tidak ada kriteria sekretarisnya harus pria kan Pak?” tanya Ridwan.


“Tidaklah, perempuan tidak masalah, asalkan mereka bekerja dengan baik.” Belva menjawab kali ini dengan tegas. Baginya memiliki sekretaris perempuan juga tidak masalah, asalkan dia mau bekerja keras. Lagipula, Belva punya keyakinan itu karena Belva yakin dirinya tidak akan tergoda sama sekali. Hati, tubuh, bahkan hidupnya sudah dimiliki oleh satu wanita, dan itu adalah Sara.


Kemudian memasuki ruangan rapat dengan ukuran yang lebih kecil yang terbiasa digunakan untuk rapat dengan dewan direksi, dan kemudian Belva bersiap dengan Curriculum Vitae di tangannya dan juga pertanyaan yang sudah Belva siapkan sebelumnya.

__ADS_1


Tanpa basa-basi, tiga orang kandidat yang terpilih dari proses seleksi sebelumnya dipersilakan Ridwan untuk memasuki ruangan dan berhadapan langsung dengan Belva. Ketiga orang tersebut bernama Selly, Gita, dan Anisa.


“Selamat siang semuanya, bisa kalian memperkenalkan diri Anda secara singkat. Nama dan kelebihan yang Anda miliki untuk bekerja sebagai sekretaris di Agastya Property!” Pertanyaan pertanyaan yang disampaikan oleh sang CEO. “Silakan, dari yang berada di sebelah kiri dan nanti berlanjut seterusnya,” sambung Belva lagi.


“Selamat siang Pak. Perkenalkan nama saya Selly. Saya adalah sosok yang bekerja keras, dan mau belajar. Saya yakin bisa bekerja dengan baik di Agastya Property,” jawab Selly yang cukup yakin dalam menjawab pertanyaan dari Belva.


“Selamat siang Pak. Saya Gita. Saya memang baru fresh graduate dan juga masih belum memiliki banyak pengalaman. Namun, saya mau berusaha, belajar, dan menyesuaikan diri untuk bisa bekerja di perusahaan Bapak,” jawab Gita dengan sopan. Wanita itu memang baru saja lulus dari kuliahnya, sehingga secara kualifikasi Gita memang masih membutuhkan banyak orientasi untuk bekerja secara profesional.


“Selamat siang Pak, saya Anisa. Saya adalah pribadi yang ramah, bekerja keras, bisa mengorganisir pekerjaan, dan juga teliti. Saya yakin dengan nilai positif yang saya miliki, saya bisa berkontribusi di Agastya Property,” balas Anisa.


Selanjutnya beberapa pertanyaan pun diberikan Belva mulai dari mengapa mereka mendaftar untuk posisi Sekretaris, bisakah mereka mengoperasi Microsoft Office, dan berbagai pertanyaan lainnya. Belva kali ini begitu selektif karena ingin mendapatkan sekretaris yang tepat yang bisa mengorganisir pekerjaan dan bekerja keras untuk Agastya Property.


Mulailah Selly menjawab pertanyaan dari Belva, dilanjutkan oleh Gita. Sampai pada akhirnya, giliran Anisa yang memberikan jawaban dan agaknya jawaban Anisa lebih tepat dengan pemikiran Belva saat ini.


“Bagi saya motivasi itu sangat penting. Saya percaya bahwa motivasi diri sendiri terlebih dahulu adalah kunci untuk menjadi sekretaris yang baik, menjadi individu yang disiplin, dan mampu menginspirasi diri untuk sukses. Kendati demikian, saya juga terdorong untuk berkembang dan belajar di perusahaan ini. Saya akan bekerja dengan sebaik mungkin dan memberikan kontribusi untuk perkembangan Agastya Property,” jawab Anisa.


“Baiklah, kalian bertiga sudah memberikan jawaban yang baik. Sekarang, Anda boleh pulang. Dalam pekan ini perusaan akan menghubungi Anda dan menyampaikan hasil dari rekrutmen untuk posisi sekretaris ini,” ucap Belva.


Usai melakukan wawancara, kembali Belva sedikit berdiskusi dengan Ridwan. “Kalau kamu bagaimana Ridwan? Siapa yang ingin kamu ajak berpartner untuk kerja sama di posisi sekretaris?” tanya Belva kepada Ridwan.


Menurut Belva setidaknya sekretaris yang baru nanti bisa bekerja dengan Ridwan. Saling berbagi beban pekerjaan dan juga memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

__ADS_1


“Kalau dari jawabannya sih, memungkinkan Anisa karena dia sudah memiliki pengalaman sebagai sekretaris sebelumnya,” jawab Ridwan.


Tampak Belva menganggukkan kepalanya dan mempertimbangkan ucapan Ridwan itu. Kendati demikian Belva masih menimbang-nimbang siapa yang akan menempati posisi sekretaris bersama Ridwan.


“Oke deh … agaknya aku sependapat denganmu,” jawab Belva.


Ridwan pun tersenyum, “Jadi, Anisa yang terpilih, Bos?” tanyanya.


“Iya … tolong nanti kamu salin skor yang saya berikan saat wawancara tadi. Buat juga surat resmi untuk penerimaan sekretaris,” perintah Belva kali ini kepada Ridwan.


“Baik Bos. Laksanakan,” jawab Ridwan dengan bersemangat.


Menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini, Belva ingin pulang lebih cepat untuk bisa bertemu dengan istrinya. Agaknya Belva tidak bisa meninggalkan Sara lama-lama terlebih istrinya itu tengah hamil. Hanya keluar rumah untuk bekerja saja, rasanya hati Belva sudah diselimuti rasa rindu. Sehingga, belum waktunya pulang kantor, Belva memilih untuk pulang terlebih dahulu.


“Wan, aku pulang duluan yah,” pamit Belva kepada sekretarisnya itu.


“Tumben Bos, jam segini sudah pulang?” tanya Ridwan.


“Iya, sudah kangen Istri di rumah,” jawab Belva dengan begitu santainya.


Belva melangkah dengan santai melewati tempat duduk Ridwan dan yang ingin dilakukan Belva kali ini adalah ingin begitu sampai di rumah. Memeluk istrinya, menghirupi parfum beraroma Jeruk Pomello yang segar, dan juga bermain dengan Evan. Membayangkannya saja, rasanya Belva ingin segera tiba di rumah sekarang juga.

__ADS_1


__ADS_2