Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Menjaga Jarak


__ADS_3

Keesokan harinya, Sara seperti biasanya membantu Bibi Wati untuk menyiapkan sarapan di dapur. Sama seperti biasanya, Sara membuatkan kopi untuk Belva. Setelahnya, dia membuat susu hangat khusus ibu hamil untuk dirinya sendiri. Apabila para ibu hamil akan merasakan bahagia tiap kali suaminya datang dan membelikan susu kehamilan, berbeda dengan Sara. Dia juga tidak meminta Belva untuk membelikannya. Sara lebih suka membuat sendiri susu kehamilannya. 


"Bikin susu yang buat ibu hamil ya Mbak Sara?" tanya Bi Wati yang tengah mengamati Sara. 


"Iya, Bi ... biar aku dan bayinya juga sehat," jawabnya dengan tersenyum. 


Sekali pun Sara yakin bahwa wajahnya masih sembab, matanya pun masih terasa perih, tetapi Sara tetap bangun lebih pagi dan membantu Bi Wati untuk membuat sarapan. Kini, wanita hamil itu tengah menyiapkan air hangat dalam satu gelas, lantas mulai mengambil tiga sendok makan susu khusus ibu hamil dengan rasa stoberi itu, menganduknya perlahan. Memang demikianlah cara membuat susu ibu hamil yang benar. Bubuk susu tidak boleh dituang terlebih dahulu di dalam gelas, ditambahkan air panas, dan diaduk karena asam folat yang terdapat dalam susu tersebut bisa pecah. Cara membuat susu yang benar adalah mengisi gelas dengan air hangat terlebih dahulu, barulah bubuk susu ditambahkan sedikit demi sedikit dan diaduk. 


Mendengar ucapan Sara, Bi Wati pun lantas menepuk-nepuk bahu Sara, "Yang kuat, yang sabar ya Mbak Sara ... menjadi Ibu Hamil itu tidak mudah. Bi doakan Mbak Sara sehat selalu dan selamat sampai melahirkan nanti," doa Bi Wati untuk Sara. 


"Amin, terima kasih doanya ya Bi ... doa seperti ini yang jauh lebih berharga," balas Sara. 


Mendengar doa yang tulus dari Bi Wati, mata Sara tampak berkaca-kaca. Lantas dia pun mulai menanyakan sesuatu kepada Bi Wati, "Bibi Wati, boleh tidak saya memeluk Bi sebentar? Rasanya saya kangen sama Ibu saya saat ini," ucapnya. 


Tanpa banyak berbicara, Sara lantas memeluk Bi Wati. Wanita paruh baya itu justru mengingatkannya kepada mendiang ibunya. Sara tak kuasa meneteskan air matanya saat Bi Wati balas memeluknya. 


"Bi Wati selalu mendoakan Mbak Sara sehat selalu, bahagia ya Mbak Sara ... doa Bi selalu buat Mbak Sara," ucap Mbok Tinah. 


Sara kemudian mengurai pelukannya, menyeka air matanya perlahan, dan mengangguk, "Iya, makasih ya Bi Wati ... Sara juga berharap bisa sehat dan bahagia," sahutnya dengan terisak sembari tersenyum. 


Rupanya saat Sara menyeka air matanya, Belva dan Anin tengah turun bersama. Belva seperti biasa dengan wajahnya yang dingin dan datar, tetapi sekilas pria itu melirik kepada Sara. Sementara Anin pun segera menyapa Sara. 


"Hai, Sara ... bagaimana kabarmu?" sapanya. 


"Aku baik Kak, kapan Kak Anin pulang?" tanyanya. 


"Tengah malam aku datang, mungkin kamu sudah tidur sehingga tidak mendengarku datang," sahut Anin. 


Sara kemudian mengangguk, ya mungkin saja lantaran terlalu capek dan juga terlalu banyak menangis semalam, dirinya menjadi lebih cepat tertidur. Bahkan dia tidak tahu, semalam jam berapa Belva keluar dari kamarnya. 


"Kamu minum susu apa, Sara? Kenapa warnanya pink pucat begitu?" tanya Anin kepada Sara. 

__ADS_1


"Oh, ini susu khusus ibu hamil yang tinggi asam folat, Kak. Biar babynya sehat," sahutnya. 


Mendengar Sara yang mengatakan dirinya tengah meminum susu kehamilan rasanya Belva seolah diingatkan bahwa dirinya belum pernah sama sekali membuatkan susu itu untuk Sara. Padahal beberapa kali, dia membaca bahwa susu kehamilan yang dibuatkan suami untuk istrinya rasanya akan jauh lebih enak. 


Sementara Anin tampak tersenyum menatap Sara, "Thanks Sara, kamu benar-benar menjaga bayimu," ucapnya. 


Sara pun mengangguk, "Iya Kak," jawabnya dengan meminum susunya.


Hingga Belva pun mengakhiri sarapannya, dan pria itu kemudian berpamitan untuk berangkat ke kantor. 


"Aku berangkat dulu, Anin ...," pamitnya. 


Kemudian pria itu menatap Sara sejenak, "Sara, aku berangkat," pamitnya dengan menatap perut Sara juga. 


Pria itu seolah terburu-buru keluar dari rumahnya. Dia segera memasuki mobilnya, melajukan mobil itu menuju ke perusahaannya. Hingga akhirnya, Belva segera memasuki ruangannya. Pria itu mulai terpikir bagaimana semalam Sara yang hancur dan menangis, lantas sekarang Sara sudah bisa bersikap biasa saja seakan tidak pernah terjadi apa-apa. 


Juga dengan susu kehamilan, Belva seolah tertohok. Seharusnya dia juga memperhatikan apa yang dibutuhkan Sara sebagai Ibu yang tengah mengandung babynya sekarang ini. Ada rasa bersalah yang melingkupi hati Belva. 


Hingga akhirnya pria itu memilih untuk mengirimkan pesan kepada Sara. 


[Sara, sejak kapan kamu membeli susu khusus ibu hamil?]


[Kenapa kamu tidak meminta kepadaku?]


[Rasa apa yang kamu sukai?]


Pesan itu meluncur dengan cepat ke dalam handphone Sara. Akan tetapi, hingga beberapa jam berlalu pesan itu juga tak terbalas. 


Menjelang sore barusan terdapat pesan balasan dari Sara. 


[To: Pak Belva]

__ADS_1


[Aku sudah membelikan sebulan yang lalu.]


[Tidak masalah, Pak ... aku bisa membelinya di minimarket depan rumah.]


Belva mengernyitkan keningnya membaca pesan itu, seolah pesan itu bernada begitu dingin. Hingga Belva pun nanti malam harus mengobrolkan hal tersebut kepada Sara. 


...🌸🌸🌸...


Malam harinya ... 


Kurang lebih setelah jam makan malam, Belva pun mendatangi kamar Sara. Kali ini, pria itu datang dengan beberapa paper bag berisi susu untuk ibu hamil, jus khusus ibu hamil, hingga cookies untuk ibu hamil. Bahkan semua barang itu, Belva yang membelikannya sendiri untuk Sara. 


Ya, usai pulang dari kantornya tadi, Belva yang membeli semuanya itu khusus untuk Sara. Dan, malam ini dia akan memberikannya langsung kepada Sara. Membawa semua belanjaan itu, Belva berharap Sara akan bahagia dengan menerimanya. 


"Sara, aku mau masuk ke dalam," ucap Belva sembari membuka daun pintu kamar Sara. 


Pria itu lantas melihat Sara yang terlihat sedang berdiri di depan jendela kaca yang ada di kamarnya, dan menghampirinya perlahan. 


"Sara, aku bawakan semua ini buat kamu," ucapnya. 


Sara kemudian sedikit menoleh dan dia mengangguk, "Makasih, Pak ...," sahutnya kali ini. 


Menaruh paper bag itu terlebih dahulu, lantas Belva hendak mendekap Sara dari belakang. Akan tetapi, Sara sedikit mendorong dada Belva dengan punggungnya. Hingga wanita itu sekarang menatap wajah Belva di hadapannya. 


"Maaf, Pak... hanya saja tolong jaga jarak. Bukankah Pak Belva sudah berjanji semalam untuk tidak menyentuhku kan?" ucap Sara yang seakan mengingatkan Belva pada ucapannya sendiri semalam. 


Pria itu tampak mengerjap dan menatap Sara dengan tatapan yang aneh, "Aku suamimu, Sara," ucapnya kali ini. Seolah Belva menekankan posisinya sebagai seorang suami. 


Akan tetapi, Sara kemudian menggelengkan kepalanya, "Maaf, Pak ... jangan menempatkan diri sebagai suamiku. Tempatkan diri Pak Belva sebagai Papa dari bayi ini saja. Kalau sudah tidak ada keperluan lagi, silakan keluar dari sini, Pak," ucap Sara. 


"Kenapa kamu seperti ini, Sara?" tanya Belva dengan menatap lekat wajah Sara. 

__ADS_1


Akan tetapi, Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa, Pak... hanya saja, hubungan kita lebih baik seperti sebelumnya saja." Sara mengatakan semua itu dengan tegas. 


Kali ini Sara akan membiarkan dirinya seperti ini. Dia akan memastikan bahwa dirinya memang tak ingin terlalu dekat dengan Belva. Sejauh apa pun dia ingin menggapai Belva, nyatanya dirinya hanya sebuah ladang untuk benihnya. Tidak ingin terperosok lebih dalam, Sara memutuskan untuk menjaga jarak dengan suami sekaligus Papa dari bayinya itu.


__ADS_2