
Begitu telah tiba di Rumah Sakit, Sara langsung ditangani oleh Dokter Indri, Dokter Spesialis Kandungan yang sudah menangani Sara sejak wanita itu kedapatan pertama kali positif. Sekarang, Dokter Indri juga yang akan menolong Sara untuk melahirkan.
“Bagaimana Bu Sara, kontraksinya lebih intens yah? Kita lakukan cek dalam untuk melihat pembukaannya ya Bu?” ucap Dokter Indri yang hendak melakukan pemeriksaan cek dalam kepada Sara.
“Dengar instruksi saya ya Bu Sara … tolong kedua paha dibuka, tarik nafas dalam-dalam dan tahan ya, saya akan melakukan cek dalam. Tolong jangan memikirkan yang aneh-aneh. Ibu bisa pegangan dulu ke tangan suaminya ya,” instruksi dari Dokter Indri.
Sara pun menggenggam tangan Belva, Dokter Indri tengah melakukan cek dalam dengan memasukkan tiga jari untuk mengukur proses pembukaan di jalan lahir milik Sara. Dokter itu diam dan memperkirakan berapa proses pembukaan yang telah berjalan. Saat tangan Dokter Indri masuk, Sara menahan nafas dan segera menggenggam tangan Belva dengan begitu kuat. Wanita itu memejamkan matanya saat merasakan rasa sakit di inti tubuhnya.
“Sudah pembukaan lima ya Bu Sara. Ternyata pembukaan lebih cepat. Jika sesuai prediksi mungkin lima hingga delapan jam lagi waktunya bersalin. Bu Sara bisa istirahat terlebih dahulu di sini. Miring ke kiri karena miring ke arah kiri bisa membuat Ibu hamil lebih rileks, melancarkan peredaran darah, serta meredakan sakit saat kontraksi. Selipkan juga bantal di bagian perut hingga lutut. Jika lelah, bisa putar miring ke kanan sebentar. Nah, jika sakitnya datang … tolong Pak Belva mengusapi bagian punggung Bu Sara ya. Setiap satu jam, saya akan cek, dan saya sendiri yang akan menolong persalinannya nanti,” jelas dari Dokter Indri yang memberikan instruksi kepada Sara dan bukan Belva.
Begitu Dokter Indri telah melakukan pemeriksaan cek dalam, tinggallah Sara dan Belva di dalam kamar perawatan itu sembari menunggu waktunya bersalin tiba.
“Gimana Sara, sakit banget ya? Apa yang bisa aku lakukan?” tanya Belva. Sebab, memang ini adalah pengalaman pertama bagi Belva mendampingi wanita yang melahirkan. Jujur saja, Belva merasa tegang dan tidak tahu harus berbuat apa. Mungkinkah cukup dengan dia berada di sisi Sara saja?
Sara lantas menggelengkan kepalanya perlahan, “Kalau sakit sih ya sakit banget, Pak … Pak Belva mau enggak menemani aku sampai melahirkan nanti?” tanya Sara kali ini.
Permintaan yang selalu saja diinginkan semua wanita yang hendak bersalin, ingin ditemani oleh suaminya. Hanya saja, untuk merasakan ditemani Belva, Sara harus meminta terlebih dahulu kepada pria itu untuk menemaninya.
Belva lantas mengangguk, “Iya, aku akan menemani kamu sampai melahirkan nanti. Kita berjuang bersama-sama,” ucap Belva pada akhirnya.
Seakan Sara merasa begitu lega karena Belva mau menemaninya melahirkan. Semua momen penuh perjuangan ini akan Sara ingat untuk selamanya. Bukan untuk merebut hati Belva, hanya saja biarkanlah Belva turut menyaksikan bagaimana dia berjuang melahirkan seorang putra nanti.
Sara tampak menahan rasa sakit, hingga wanita itu beberapa kali mendesis dan menautkan gigi-giginya. Air matanya pun berlinangan begitu saja.
Belva mengusapi punggung Sara, tiap kali rasa sakit bersalin itu datang.
“Kalau kamu kesakitan, kenapa tidak Caesar saja?” tanya Belva kini.
__ADS_1
Sara dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak Pak … aku mau menikmati semua momennya. Walau sakit, aku akan melewatinya,” ucapnya.
Ini perjuanganku untuk anakku, Pak Belva …
Anak yang kulahirkan, tetapi kamu dan Kak Anin yang membesarkan …
Curahkan semua kasih sayangku sebagai seorang Ibu dengan mempertaruhkan hidup dan nyawaku untuk melahirkannya …
Berharap dia akan mengenangku saat dia dewasa nanti …
Belva kemudian memegang tangan Sara, memberikan sebuah kecupan di punggung tangan Sara, “Hati kamu mulia sekali Sara, bagaimana aku bisa membalas semuanya ini? Maafkan aku, Sara,” ucap Belva dengan hati yang tersayat begitu sakit.
Sara justru menggelengkan kepalanya perlahan, “Tidak apa-apa, Pak … aku benar-benar ikhlas menjalani ini semua dan Pak Belva tidak perlu membalasku,” ucap Sara dengan lirih.
Interval kontraksi rupanya datang lebih sering membuat Sara beberapa kali merintih kesakitan. Wajah ayunya terlihat begitu sembab karena beberapa kali Sara menangis saat gelombang cinta dari babynya itu datang menyapa.
Sara mengangguk dan meminum air putih itu sedikit. Tenggorokannya pun terasa lebih lega.
“Pak Belva … nanti jika terjadi apa-apa padaku ….”
Sara kali ini berbicara dengan menangis, air matanya lagi-lagi berderai. Akan tetapi, belum lengkap kalimat yang Sara ucapnya. Belva segera membungkam bibir Sara dengan bibirnya sendiri. Memberikan ciuman yang dalam dan tentunya penuh dengan perasaan. Menyalurkan perhatiannya kepada Sara yang tengah kesakitan. Memagut bibir Sara dengan begitu lembut, pria itu memejamkan matanya dan menyesap dua buah lipatan bibir Sara atas dan bawah secara bergantian. Beberapa saat momen itu berlangsung, kemudian Belva tampak menarik wajahnya.
“Sssttss, jangan berkata yang bukan-bukan. Kamu pasti bisa, Sara. Ada aku di sini. Tadi kamu minta supaya aku menemani kamu kan, sekarang ada aku di sini,” ucap Belva.
Pria itu menatap wajah Sara lekat-lekat, mengikis jarak wajahnya, dan ibu jarinya bergerak menyeka jejak-jejak air mata di wajah Sara. Belva kembali menyapa bibir Sara dengan bibirnya, menyesap lipatan bawahnya, berganti ke lipatan atasnya, mengecupinya perlahan dan penuh perasaannya. Memagut bibir itu dengan begitu lembut, hingga kemudian Belva merasakan air mata Sara yang kembali berlinang.
Belva kemudian menyatukan keningnya ke kening Sara, “Aku akan menemani kamu,” ucapnya.
__ADS_1
Sara mengangguk, kemudian dia terisak, “Pak Belva … boleh aku memeluk Pak Belva sebentar?” tanya Sara kini.
Tanpa perlu ditanya, Belva pun membuka kedua tangannya dan merengkuh tubuh Sara yang seakan rapuh itu. Mendekapnya dengan begitu erat.
“Jangan bersedih … aku temani. Okey?” ucap Belva kini.
Sara mengangguk, wanita itu mencerukkan wajahnya di dada bidang Belva, “Makasih Pak Belva,” sahutnya.
Rasanya kali ini, Sara benar-benar membutuhkan tempat untuk bersandar. Meskipun hanya sesaat, tetapi pelukan Belva sangat berharga bagi Sara, sembari menghirupi aroma Sandalwood yang menguar dari tubuh Belva terasa begitu menenangkan.
Tidak terasa beberapa jam berlalu, dan Dokter Indri selalu mengecek per satu jam. Hingga kali ini, Sara merasakan rasa sakit yang lebih hebat dengan interval yang lebih sering. Bahkan kini Sara menangis tersedu-sedu lantaran tak kuasa menahan rasa sakitnya.
“Pak Belva … ini tambah sakit. Sakit banget,” ucapnya dengan terisak.
“Aku panggilkan perawat atau Dokter Indri sekarang yah? Biar dicek dulu, tunggu ya,” ucapnya.
Sara mengangguk, sehingga Belva segera menekan tombol yang berada di atas brankar Sara. Sebuah tombol yang terkoneksi dengan meja perawat. Hanya berkisar dua menit, perawat pun datang ke kamar Sara dan melakukan pengecekkan.
“Ini air ketubannya sudah pecah Bu, dan sudah pembukaan tujuh. Dipakai miring ke kiri ya Bu … kalau terasa makin sakit dan intervalnya kian cepat, tolong pencet tombol di atas dan kami akan bersiap,” ucap perawat itu.
Belva sebenarnya sangat ketakutan. Pengalaman pertamanya menemani Sara melahirkan. Belva hanya bisa mendampingi Sara dan mengusapi punggung hingga pinggang Sara yang terasa sakit dan panas tiap kali kontraksi itu datang.
“Sabar ya Sara … ketubannya sudah pecah. Tidak lama lagi, babynya lahir. Ayo Nak, kalau mau lahir segera yah … kasihan Bunda kamu yang sudah kesakitan banget,” ucap Belva sembari mengelusi perut Sara. Tidak menyangka rupanya Belva memiliki panggilan tersendiri untuk Sara, ya bisa menyebut Sara sebagai Bunda untuk bayinya kelak.
“Jika aku bisa menggantikanmu dan merasakan semua rasa sakit ini, aku rela Sara …” ucap Belva dengan sendu.
Sebenarnya bukan hanya Sara yang kesakitan. Belva pun merasa juga kesakitan. Tangannya sakit diremas Sara, tetapi Belva pun tahu itu tidak seberapa karena pada dasarnya Sara sangat kesakitan dan dirinya hanya berusaha menemani Sara melahirkan putranya.
__ADS_1