Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Cerita Mertua dan Menantu


__ADS_3

Semalam Sara benar-benar lega rasanya. Bisa diterima baik oleh Mama dan Papa suaminya membuat semalam Sara tertidur dengan nyenyak. Walaupun awalnya seakan dirinya tidak disambut dengan baik, tetapi semua menemukan titik temu yang membuat Sara benar-benar lega.


Pagi harinya, Sara bangun dengan senyuman di wajahnya. Melihat Belva yang masih terlelap di sisinya membuat wanita itu memperhatikan wajah suaminya dengan senyam-senyum. Jikalau dulu, dia akan terbiasa tidur dengan Belva, tetapi saat pagi datang … hanya Sara sendiri yang berada di atas tempat tidurnya. Sekarang, Sara bisa memiliki Belva sepenuhnya. Bisa memeluk pria itu saat hendak memejamkan matanya, dan menatap pria itu saat pagi membuka mata.


“Kamu masih tidur yah? Aku duluan yah … setidaknya aku ingin lebih dekat dengan Mama dan Papamu,” ucap Sara dengan lirih.


Wanita itu lantas segera berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu, dia meninggalkan unit apartemen milik Belva dan berjalan menuju ke unit apartemen milik kedua orang tua Belva.


“Pagi Mama dan Papa,” sapa Sara begitu memasuki unit apartemen milik kedua orang tuanya.


“Menantu sudah datang … ini masih pagi Sara,” balas Mama Diana yang membukakan pintu bagi menantunya itu.


“Sara terbiasa bangun pagi, Ma,” balasnya. “Mama ingin sarapan apa? Sara bisa memasakkan buat Mama,” ucap Sara kali ini.


“Sup Ayam kelihatannya enak, Ma,” celetuk Papa Agastya dengan tiba-tiba.


Sara perlahan menoleh ke arah Papa mertuanya itu. “Papa ingin sarapan Sup Ayam? Sara bisa memasakkannya,” balasnya.


“Tidak perlu Sara … menantu bisa istirahat saja,” balas Mama Diana.

__ADS_1


“Sara terbiasa memasak, Ma … lagipula, Sara terbiasa memasak setiap hari. Biarkan kali ini Sara yang membuatkan sarapan yah,” pinta Sara kali ini.


Merasa bahwa Sara bersikukuh, Mama Diana akhirnya menganggukkan kepalanya, “Baiklah,” jawabnya.


Sara dengan cekatan mengambil sayuran berupa wortel, kentang, dan bunga kol. Kemudian dia mengambil Bawang Bombay dan bawang putih. Mengiris lembut Bawang Bombay, dan mengulek bawang putih sebagai bumbu. Setelah itu mengambil Ayam potong dan mulai memotongnya ukuran agak kecil.


Mulailah Sara menumis bawang bombay dengan bawang putih hingga aromanya harum. Setelah itu, Sara memasukkan ayam, dan menumisnya sampai harum, setelah itu Sara menambahkan air, dan barulah sayuran dimasukkan. Menunggu sampai mendidih, barulah Sara memberikan bumbu berupa garam, lada, dan penyedap rasa. Sampai akhirnya Sup Ayam buatan Sara sudah tersaji di atas meja.


Dalam diam rupanya Mama Diana memperhatikan Sara yang memang begitu cekatan menggunakan pisau untuk mengiris dan memotong, juga tangan Sara bergerak dengan cepat. Perlahan Mama Diana pun tersenyum dalam hati, semoga saja wanita pilihan putranya ini akan menjadi sosok istri dan ibu yang baik bagi Evan.


“Sudah Sara?” tanya Mama Diana.


“Pekerjaanmu sehari-hari apa Sara?” tanya Mama Diana lagi.


“Sara memiliki Coffee Shop, Ma … terkadang Sara membantu para karyawan di Coffee Shop,” balas Sara dengan jujur.


“Oh … di mana Coffee Shopmu?” balas Mama Diana.


“Di Bogor, Ma,” jawab Sara.

__ADS_1


“Kamu sungguh-sungguh mencintai Belva kan?” tanya Mama Diana kali ini.


“Iya Ma,” sahut Sara.


Mama Diana menghela nafas dan sekilas melirik ke arah Sara. “Bukannya Mama berpikiran yang aneh-aneh … hanya saja, Belva sebagai seorang pria memang begitu dingin. Pernikahannya dengan mendiang Anin dulu juga hambar, itu karena Anin yang berprofesi sebagai model dan sering pemotretan di luar kota. Akan tetapi, putra Mama adalah pria yang baik. Dia tidak pernah menuntut Anin harus di rumah dan melayaninya. Mama pernah melihat sendiri bagaimana untuk seminggu Belva tinggal di rumah sendirian tanpa istrinya. Sebagai seorang Mama, Mama hanya ingin … kamu bisa memberi perhatian kepada Belva. Pria itu begitu dingin, dan menerima semua apa adanya. Akan tetapi, hidup seorang istri dan suaminya seharusnya hangat bukan? Istri memiliki kewajiban untuk memperhatikan suaminya,” cerita Mama Diana kini kepada Sara.


“Iya Ma … Sara akan lebih memperhatikan Mas Belva,” sahut Sara.


“Lalu, dulu … kamu menikah secara siri dengan Belva? Kenapa kamu memilih pergi setelah melahirkan Evan?” tanya Mama Diana lagi.


“Sara memilih pergi karena Sara mencintai Mas Belva, Ma … biarkan Mas Belva, Kak Anin, dan Evan hidup bahagia,” jelas Sara.


Mama Diana berkaca-kaca melihat menantunya itu, “Kamu begitu naif, Sara … padahal Belva ingin mempertahankanmu sejak lama,” balas Mama Diana. “Sekarang … Mama sungguh-sungguh meminta kepadamu, jangan pernah tinggalkan Belva lagi,” pinta Mama Diana kini kepada Sara.


“Baik Ma … Sara akan selalu mendampingi Mas Belva,” balas Sara.


“Pria terkadang susah untuk mengutarakan keinginannya, mengatakan isi hatinya. Sabarlah dengan Belva karena dia adalah pria yang baik. Mama mengatakan ini bukan karena dia putra Mama … tetapi Belva memang adalah seorang yang baik. Bahkan dua tahun terakhir dia menghabiskan hidupnya hanya untuk bekerja dan mengurus Evan. Mama ingin mengenalkannya kepada anak temannya Mama, tetapi Belva menolaknya. Dia hanya bilang bahwa dia sudah mencintai wanita lain sejak lama. Selain itu, Belva sangat mencintai Evan. Setiap ada pekerjaan di luar kota, Evan akan turut diajak oleh Belva. Sesibuk apa pun Belva, Evan tak akan dilepaskan sendirian oleh Belva,” cerita Mama Diana.


Mengingat dua tahun yang begitu berat untuk Belva, membuat Mama Diana terasa sesak. Putranya yang masih muda seolah harus menjadi Ayah tunggal untuk Evan. Akan tetapi, setelah melihat asal usul Evan dan ternyata ada wanita yang adalah ibu kandung bagi Evan, tentu Mama Diana merasa begitu lega. Semoga saja Sara adalah wanita yang baik dan mau memperhatikan Belva dan juga Evan.

__ADS_1


__ADS_2