
Evan tampak begitu bahagia saat melihat Papanya pagi ini. Terlebih saat Papanya mengatakan bahwa seharian ini Belva akan berada di rumah dan akan mengajaknya bermain. Tentu saja Evan begitu senang karena bisa bermain dengan Papanya. Jika dengan Mama Sara hanya bisa bermain berbagai permainan yang sifatnya non-fisik, kali ini dengan Papanya, Evan bisa bermain berbagai permainan yang mengedepankan fisik. Tentu saja, Evan yang sedang aktif-aktifnya di usianya sekarang ini merasa sangat senang karena bisa bermain dengan menggunakan fisiknya bersama dengan Papanya.
“Pa, mau main seluncuran sama Papa,” pinta Evan kali ini. Bahkan wajah Evan menunjukkan bahwa dirinya sangat ingin bermain aneka mainan yang ada di rumahnya bersama dengan Papanya itu. Lagipula, mumpung Papanya libur, sehingga Evan pun ingin menghabiskan sepanjang hari ini bersama dengan suaminya itu.
Belva pun menganggukkan kepalanya. Sebagaimana janjinya bahwa sepanjang hari ini akan dia gunakan untuk mengajak Evan bermain, sehingga seharian ini Belva tidak akan mengingkari janjinya.
Pria berbeda generasi itu tampak sama-sama bermain dan tertawa bersama bermain seluncuran. Ada Evan yang tertawa riang, ada Belva yang turut menjaga Evan. Jika sedang bersama dengan Evan seperti ini, Belva benar-benar terlihat seperti seorang Papa, label yang dia miliki sebagai CEO perusahaan besar sama sekali tidak terlihat.
“Larinya pelan-pelan, Nak,” ucap Sara mengingatkan Evan supaya tidak berlarian terlalu kencang. Tentu Sara khawatir jika Evan terjatuh atau justru tersandung.
“Iya Mama … Mama duduk saja Ma, jangan ikutan bermain yah,” balas Evan.
Rupanya Evan justru mengingatkan kepada Mamanya untuk duduk saja dan tidak bermain bersamanya. Belva yang mendengar ucapan Evan turut tersenyum, pria itu kemudian menghampiri istrinya.
“Kenapa, pengen ikutan main?” tanya Belva.
Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, “Tidak … aku suka aja lihat kalian berdua yang tampak selalu kompak. Aku suka,” balas Sara.
Di mata Sara, memang Belva dan juga Evan terlihat begitu kompak satu sama lain. Papa dan anak yang sangat kompak, dan juga akur. Bagi Sara, dia sangat senang melihat Belva yang begitu kompak dengan Evan.
“Sama Sayang … aku juga suka melihat kamu yang sangat lembut dan perhatian kepada Evan. Aku main lagi yah, nanti aku ke sini,” balas Belva.
__ADS_1
Pria itu kemudian berlari dan bergantian untuk bermain seluncuran bersama dengan Evan. Puas bermain seluncuran, kemudian Belva dan Evan kini bermain melempar dan menangkap bola bersama. Permainan yang penuh canda tawa, membuat taman di serambi rumahnya itu begitu riuh dengan tawa dari Belva dan juga Evan.
Kali ini, Sara memilih untuk pergi sejenak. Sara memberikan waktu untuk Evan bermain seharian dengan Papanya. Tidak keberatan sama sekali, karena Sara tahu dalam fase tumbuh kembang Evan sekarang ini, Evan juga sangat membutuhkan Papanya. Figur seorang Papa yang sangat baik, figur pemimpin, figur seorang teman, yang selalu membersamai Evan.
Hampir satu jam mereka bermain bersama, hingga akhirnya Sara kembali menghampiri mereka berdua dengan membawa air putih dan juga sate buah. Buah semangka, apel, melon, dan strawberry yang ditusuk dalam tusuk sate.
“Papa … Evan, yuk istirahat dulu yuk … minum dan makan buah dulu,” teriak Sara.
Baik Evan dan juga Belva kemudian berlarian ke arah Sara. Keduanya begitu kompak, dan Evan segera memeluk Sara yang duduk di kursi taman itu.
“Mama,” teriak Evan.
“Anaknya Mama sampai berkeringat kayak gini sih. Sini, Mama bersihkan dulu keringat di keningnya Evan,” ucap Sara sembari mengambil tissue dan kemudia menyeka buliran keringat di kening Evan.
Belva yang masih berdiri di hadapan Sara pun tersenyum, pria itu sangat bahagia melihat Sara yang sangat menyayangi Evan dengan tulus. Semua tindakan yang Sara lakukan adalah bentuk kasih sayangnya kepada Evan.
“Papa mau minum juga?” tanya Sara kepada suaminya itu.
“Boleh, Mama,” sahut Belva.
Kemudian Sara menyerahkan tumbler berisi air minum kepada Belva, “Ini Papa … minum dulu pasti Papa juga capek dan haus,” balas Sara.
__ADS_1
Pria itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya dan menerima tumbler dari Sara itu, “Makasih Mama Sayang,” balas Belva.
Setelahnya Belva segera meneguk air putih itu, ketika meminum air putih itu seakan dahaganya terpuasnya.
Lantas Sara memberikan Sate Buah kepada Belva, “Papa juga makan Sate Buahnya yah … biar sehat,” ucap Sara kemudian.
“Iya Pa … makan buah Pa, biar sehat dan kuat kayak Evan,” balas Evan yang turut menyahut ucapan Mamanya.
Belva pun tersenyum, tangannya mengusapi kepala Evan, “Iya Van, Papa akan makan Sate buahnya kok. Apalagi Mama sudah mengupaskan dan juga membuatkan Sate buah ini, jadi Papa akan makan. Makasih Mama,” balas Belva.
Sara merasa senang melihat suami dan anaknya yang sedang meminum air putih dan juga menikmati Sate Buah itu. Kemudian Belva memberikan satu Sate Buah kepada Sara.
“Mama juga makan buah juga yah … biar Mama dan Adik Bayinya sehat,” ucap Evan kemudian.
Sara pun tersenyum, wanita itu menerima suapan buah dari Evan dan mengunyahnya. Wah, rasanya sungguh bahagia karena Evan benar-benar seorang anak yang sangat perhatian dengannya. Bahkan Evan juga menyuapinya sekarang ini supaya dia dan adik bayi yang masih dalam kandungannya bisa sehat. Semoga saja, Evan nanti juga sangat menyayangi adiknya nanti. Saat adiknya masih berada di dalam kandungan pun, Evan sudah terlihat sangat menyayangi adiknya. Semoga saja jalinan kasih sayang antara Evan dan adiknya nanti bisa berjalan dengan sangat baik dan selalu rukun.
“Makasih Kak Evan,” balas Sara.
Evan pun menganggukkan kepalanya dan kemudian tersenyum, “Makan lagi ya Ma … Evan suapin Mama,” balasnya.
“Makasih Van, ini Mama bisa makan sendiri kok,” sahut Sara.
__ADS_1
Akan tetapi, Evan rupanya bersikeras untuk menyuapi Mamanya itu. Belva yang melihat Evan dan Sara yang saling menyayangi pun sangat bahagia, baginya adalah keputusan yang tepat bagi Belva untuk kembali menikahi Sara, menjadikan Sara sebagai seorang Ibu seutuhnya bagi Evan.
Menyadari bahwa kebahagiaan Evan sangat penting, Belva sangat yakin bahwa tidak ada wanita lain yang bisa menyayangi dan menerima Evan seperti Sara. Jalinan kasih sayang antara Ibu kandung dengan seorang putra yang sudah lama terputus, begitu mereka telah kembali bersama pun bisa terajut dengan sangat baik. Waktu bersama bisa mendekatkan kembali hubungan seorang Ibu dan seorang putra, dan sekarang melihat Evan dan Sara yang saling menyayangi satu sama lain adalah pemandangan yang sangat indah di mata Belva.