
Walaupun Sara bersikeras ingin pulang, tetapi Belva bersikeras supaya Sara rawat inap untuk satu malam di Rumah Sakit. Pria itu membujuk Sara karena jika diinfus untuk semalam saja, itu sudah baik untuk pemulihan Sara. Sehingga kali ini Belva memang sedikit memaksa Sara untuk menginap semalam di Rumah Sakit.
Hari sudah malam, sementara Sara masih terbaring di brankarnya. Ada rasa tidak nyaman di pangkal pahanya, dan juga jarum infus yang membuat tangannya selang. Selain itu, Sara pun menjadi susah untuk bergerak. Terkendala dengan jarum infus yang terpasang di tangannya.
“Mas, boleh minta tolong,” tanya Sara kali ini kepada suaminya.
“Apa Sayang?” tanya Belva yang beringsut dan kini pria itu berjalan mendekat ke Sara.
“Mau videocall Evan … aku kangen Evan,” sahutnya.
Mendengar permintaan Sara, Belva pun menganggukkan kepalanya. Pria itu kemudian mengambil handphone dari saku celananya, dan segera mencari kontak Evan di sana. Menekan ikon panggilan video untuk menghubungi putranya itu.
Evan
Memanggil
Pria itu mengangkat handphonenya dan mengarahkan kamera ke wajahnya. Berharap panggilan akan terhubung dan Sara bisa melihat putranya terlebih dahulu.
“Halo Van,” sapa Belva begitu muncul wajah putranya yang memenuhi layar handphonenya.
“Halo Pa, Mama mana Pa?” tanya Evan yang sudah begitu kangen dengan Mamanya, sampai hal pertama yang Evan tanyakan adalah Mamanya itu.
Kemudian Belva mengambil duduk di brankar Sara, mengarahkan kamera itu ke wajah Sara. Sehingga kali ini Evan bisa melihat Mamanya, dan Sara bisa melihat putranya melalui panggilan video itu.
“Mama,” sapa Evan.
__ADS_1
Terlihat Evan yang begitu rindu dengan Mamanya. Pun sama halnya dengan Sara yang begitu merindukan Evan. Seharusnya, Sara bisa menidurkan Evan. Akan tetapi, karena dirinya menginap di Rumah Sakit, Sara tidak bisa menghabiskan waktu bersama putranya itu.
“Evan belum tidur?” tanya Sara.
“Belum Ma … sebentar lagi. Mama masih sakit?” tanya Evan.
Terlihat gelengan kepala dari Sara, “Tidak Nak … Mama tidak sakit kok. Hanya Dokter meminta Mama untuk istirahat dulu,” balas Sara.
Sebuah jawaban bahwa Sara pun tidak menginginkan putranya itu kepikiran. Biarlah Evan mengira bahwa Sara hanya kecapekan dan membutuhkan istirahat. Lagipula, Sara sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dirinya memilih untuk dirawat di rumah saja. Di rumah, dia bisa melihat Evan. Walau dari atas ranjang, tetapi Sara bisa menemani Evan bermain.
“Kapan Mama pulang?” tanya Evan lagi.
“Nanti kalau Dokter sudah mengizinkan Mama pulang, Mama akan pulang, Van … kamu baik-baik yah di rumah. Mama sayang selalu sama Evan,” balas Sara.
Sara merasa lega, walaupun hanya melalui panggilan video, tetapi Sara bisa melihat Evan di sana. Bisa melihat wajah putranya dan juga bisa mendengar suaranya. Sara memang dirawat di kamar VIP, hanya saja untuk alasan kesehatan dan kenyamanan Evan, mereka tidak membawa Evan turut serta ke Rumah Sakit. Begitu banyak kuman dan virus yang ada di Rumah Sakit, sehingga lebih aman jika Evan berada di rumah saja. Rumah Sakit bukanlah lingkungan yang kondusif untuk anak-anak. Oleh karena itu, Belva memutuskan Evan untuk tinggal di rumah. lagipula, jika Sara sudah membaik, Belva juga akan membawa istrinya itu pulang ke rumah.
Sungguh, mendapatkan perhatian yang begitu besar dari Evan membuat Sara begitu tenang. Hatinya begitu damai. Sara yakin di rumah, Evan bisa menjaga diri. Sara menyadari bahwa apa yang diucapkan suaminya benar. Fokus dulu dengan pemulihannya, setelah itu bisa menemani Evan di rumah.
“Bye Mama … Love U,” balas Evan mengakhiri panggilan videonya itu.
Usai itu Belva menaruh handphonenya dan masih duduk di brankar itu merangkul Sara di sana. Sehingga brankar yang seharusnya hanya untuk satu orang, kini justru ditempati oleh dua orang.
“Kenapa, kangen Evan?” tanya Belva kepada Sara.
“Iya, kangen banget,” jawabnya.
__ADS_1
Belva memberikan usapan yang lembut di puncak kepala Sara, dan membawa kepala itu untuk bersandar di dadanya. Memberikan bentuk perhatian dengan tindakan fisik yang benar-benar lembut.
“Besok sudah bisa ketemu Evan … sekarang lebih kangen Evan daripada sama Papanya Evan yah?” goda Belva kepada Sara.
Dengan cepat, Sara menarik wajahnya dari dada Belva dan menatap suaminya itu. “Lah, kenapa kangen sama Papanya Evan kan Papanya Evan ada di sini. Sementara Evan kan dari siang di rumah. Enggak ketemu Evan,” jawab Sara.
Padahal sebenarnya, Sara juga kangen dengan suaminya sendiri. Hanya saja Sara tidak ingin mengakuinya di hadapan Belva betapa dia begitu rindu dengan suaminya. Terlebih setelah Belva lembur berhari-hari.
“Kasihan gak ada yang kangen sama Papanya Evan,” balas Belva. Pria itu kembali membawa kepala Sara untuk bersandar di dadanya.
“Sekarang kamu bobok ya Sayang … sudah malam. Istirahat. Biar cepat sehat dan pulih. Cuma di rumah harus bedrest loh. Tidak boleh turun dari ranjang,” balas Belva.
“Ya turun ranjang lah Mas, buat ke kamar mandi,” balas Sara.
“Pakai diapers saja,” balas Belva dengan cepat.
Sara menggelengkan kepalanya, “Enggak … aku mau ke kamar mandi saja,” balasnya.
“Ya sudah, cuma nanti aku bantuin. Gak boleh nolak,” balas Belva lagi.
Sara hanya diam, memilih tidak menanggapi ucapan suaminya itu. Kemudian Sara merasa matanya kian berat. Tangannya melingkar dengan sendirinya di pinggang suaminya. Hingga tidak membutuhkan waktu lama, Sara sudah memejamkan matanya.
Sementara Belva masih terjaga dan menunggu sampai Sara benar-benar terlelap. Pria itu kembali mengusapi kepala Sara dengan penuh sayang. Beberapa kali Belva juga menundukkan wajahnya dan mendaratkan ciuman di kening istrinya itu.
“Istirahatlah Sayang … aku tahu saat ini kamu tidak baik-baik saja. Kamu berusaha kuat untuk bisa bertemu dengan Evan di rumah. Aku tahu bahwa kamu membutuhkan istirahat, jadi biarlah malam ini kita berdua istirahat di sini. Aku akan selalu menemani kamu. Aku akan selalu menjaga kamu,” ucap Belva dengan tulus.
__ADS_1
Usai mengatakan semua itu, Belva ingin turun dari brankar Sara. Namun, agaknya Sara tengah begitu terlelap dan dalam posisi favoritnya yang tertidur di dada Belva dan melingkari pinggang suaminya itu. Belva akhirnya memilih mengurungkan niatnya untuk turun, dan memilih turun tertidur di atas brankar itu. Sehingga brankar itu ditempati berdua.
Entah memang efek obat yang masih disuntikkan ke infusnya, atau memang karena memeluk Belva, rasanya tidur Sara benar-benar berkualitas. Sepanjang malam bahkan Sara tidak terbangun sama sekali. Ada detak jantung yang berdetak seirama yang bisa dia dengarkan, ada aroma parfume Sandal Wood yang segar yang menyapa indera penciumannya, dan ada tangan hangat yang memeluknya. Semua itu seakan menjadi kombinasi sempurna bagi Sara terlelap. Satu brankar di Rumah Sakit tidak menjadi kendala bagi Sara terlelap dalam mimpi.