Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Tamu Tak Diharapkan


__ADS_3

Sudah hampir seminggu berlalu sejak Sara melahirkan Elkan, benar yang dikatakan Belva bahwa Caesar dengan metode ERACS membuat Sara pulih dengan lebih cepat. Sara bahkan sudah bisa mengurus segala keperluan Elkan, hanya saja untuk aktivitas yang mengharuskan menunduk memang dihindari Sara karena merasakan ngilu dan sedikit nyeri di bekas luka sayatannya.


Untuk Evan pun, Sara bisa mengurusnya. Sebab, Elkan masih memiliki pola hidup seperti waktu di dalam rahimnya. Jumlah jam tidurnya juga masih banyak, sehingga saat Elkan tidur, Sara mengisi waktu untuk bermain dengan Evan. Jika hanya sebatas menemani bermain lego, membaca buku, atau bermain puzzle, bisa Sara lakukan. Justru Sara merasa senang bisa mengasuh kedua putranya.


Walaupun terkadang ada Mama Diana dan Papa Agastya yang turut membantunya. Sungguh, pekerjaan rumah pun terasa lebih ringan. Bahkan terkadang di siang hari, Sara bisa tertidur walau sebentar.


“Ini sudah seminggu Mas … kamu tidak bekerja?” tanya Sara kepada suaminya sembari menemani Evan yang bermain hot wheels, mainan mobil-mobilan dengan tracknya itu.


“Baru sepekan Sayang … aku ambil cuti sepuluh hari kerja kok. Jadi, pekan depan aku masih berada di rumah. Lagian kan ya, aku bekerja dari rumah, jadi tidak apa-apa,” balas Belva.


Sara baru tahu rupanya suaminya mengambil cuti sepuluh hari kerja. Secara resmi itu hanya sepuluh hari kerja saja Belva berada di rumah dan tidak menyambangi kantor. Hanya saja untuk pekerjaan, Belva tetap mengerjakannya dari rumah.


“Oh … penting kerjaan di perusahaan tidak terbengkalai saja, Mas,” ucap Sara.


“Iya Sayang … aman kok. Kan ya aku bisa bekerja dari rumah. Kamu juga tahu, gimana aku masih bekerja padahal aku masih ingin bermain-main dengan Evan,” balasnya.


Sara menganggukkan kepalanya, dalam seminggu ini memang jika ada laporan yang harus dicek secara urgent, maka Belva akan masuk ke dalam ruangan kerjanya dan menyelesaikannya terlebih dahulu. Sampai Belva meminta pengertian dari Evan, bahwa dia juga bekerja. Untung saja, Evan adalah anak yang baik dan tidak begitu banyak protes.


Namun, menjelang sore itu, atensi mereka teralihkan dengan bunyi bel rumah yang berbunyi. Bibi Tini segera membukakan pintu dan mempersilakan tamu itu untuk masuk.


“Permisi Pak Belva dan Mbak Sara … ada tamu,” ucap Bibi Tini.


Keduanya pun bersamaan keluar dari ruang bermain dan menyambut tamu tersebut. “Siapa sih Mas? Padahal sejak Elkan lahir, belum ada yang kesini,” ucap Sara yang tampak bingung.


“Kurang tahu juga Sayang,” jawab Belva.


Sampai di ruang tamu, Sara cukup kaget karena yang datang ke rumah itu adalah Kalina, wanita yang dia temui saat di Bali dan juga mengaku pernah dijodohkan dengan Belva oleh Mama Diana. Mengingat itu saja, rasanya begitu kesal bagi Sara. Akan tetapi, Sara masih mencoba duduk dan mendampingi suaminya.

__ADS_1


“Hai, Belva,” sapa Kalina dengan mengulurkan tangannya kepada Belva.


Wanita cantik itu tersenyum manis dan mengamati Belva dan Sara bergantian. Sampai akhirnya Kalina pun duduk berhadap-hadapan dengan Sara dan Belva. Hanya sebuah meja kaca yang menjadi jarak bagi mereka.


“Aku dengar, istri kamu sudah melahirkan yah? Selamat,” ucap Kalina pada akhirnya.


Walau Kalina sama sekali tidak menatap wajah Sara. Hanya dilihat oleh Kalina hanyalah Belva saja. Sara hanya diam dan berusaha tenang. Tidak tersulut dengan semua yang diucapkan oleh Kalina.


Sampai akhirnya Mama Diana turut bergabung di ruang tamu, dengan membawa Susu Almond untuk Sara.


“Sara, Mama bikinkan Susu Almond … buat ASI booster kamu,” ucap Mama Diana.


Wanita paruh baya itu agak kaget saat melihat Kalina yang ada di ruang tamu kediaman putranya.


“Kalina?” sapa Mama Diana.


“Halo Tante Diana … apa kabar?” sapa Kalina dengan memeluk Mama Diana.


Sedikit beringsut, Mama Diana menyerahkan Susu Almond itu kepada Sara. “Diminum dulu Sara … biar ASI kamu lancar. Elkan kan minumnya banyak,” ucap Mama Diana lagi.


Melihat begitu perhatiannya Mama Diana kepada Sara, membuat Kalina kembali bersuara. “Wah, sebenarnya dulu Kalin yang jadi menantunya Tante … sayang tidak kesampaian,” ucap Kalina.


Mendengar yang diucapkan Kalina, Mama Diana yang mengulas senyuman kemudian turut bergabung di ruang tamu itu bersama dengan Belva dan Sara.


“Nama babynya siapa Belva?” tanya Kalina kepada Belva.


Sungguh lucu, sejak tadi yang diajak bicara Kalina hanya Belva. Seakan dia menggambar mati sosok Sara yang sedari tadi duduk di samping Belva.

__ADS_1


“Elkan,” sahut Belva dengan singkat.


Sara pun bersikap tenang dan meminum susu almond yang sudah dibuatkan oleh Mama Diana. Merasa di situ tidak dibutuhkan, Sara pun berniat menaruh gelas kotor bekas susu almond itu ke dapur dan sekalian melihat Elkan yang masih tertidur di dalam kamar.


Saat Sara berdiri dan hendak beranjak, Belva justru menahan tangan Sara. “Nanti saja Sayang … biar di atas meja saja. Nanti aku yang taruh ke dapur,” ucap Belva.


Melihat interaksi Belva dengan istrinya, Kalina memiringkan bibirnya. Sebal dengan Belva yang begitu lembut memperlakukan Sara. Padahal Kalina tahu bahwa Sara hanya wanita yang menyewakan rahimnya senilai lima milyar Rupiah kepada Belva. Akan tetapi, Belva justru kini cinta mati pada wanita itu.


“Manis banget sih Belva … sayang banget sih, dulu mendiang Anin tidak pernah dapat perlakuan manis seperti ini dari kamu,” ucap Kalina dengan frontal.


Membawa nama Anin dibawa-bawa, Sara merasa tidak enak. Sementara Mama Diana yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara.


“Kalina, sebaiknya tidak perlu membawa-bawa mendiang Anin. Mendiang Anin sudah bahagia di surga sana. Tidak perlu mengungkit-ungkit masa lalu. Sekarang, biarkan Belva bahagia bersama dengan Sara. Jika tidak ada keperluan lagi, silakan pergi,” ucap Mama Diana dengan tegas.


Belva kemudian berdiri dan menggenggam tangan Sara, hingga Sara turut berdiri bersama suaminya itu.


“Sorry Kalina, kamu di sini adalah tamu … hanya saja tidak pantas kamu membawa-bawa mendiang Anin dalam rumah tanggaku yang sekarang. Manis tidaknya perlakuanku ke Almarhumah dulu hanya kami dan Tuhan yang tahu. Tidak perlu mengungkit-ungkitnya. Yang dikatakan Mama benar, bahwa jika tidak ada lagi keperluan silakan pergi,” ucap Belva.


Kalina pun berdiri dan memincingkan matanya kepada Belva dan Sara. “Hanya untuk wanita rendahan itu, kamu bersikap seperti ini padaku, Belva. Wanita yang dulu bekerja sebagai pelayan di bar dan menjual rahimnya kepadamu!” sarkas Kalina dengan menunjuk-nunjuk Sara.


Ya Tuhan, menerima ucapan seperti ini membuat dada Sara bergemuruh. Begitu sebal rasanya. Di masa lalu, memang dia sudah melakukan kesalahan. Hanya saja, semua itu sudah berakhir. Tidak ada lagi kesepakatan sewa-menyewa rahim.


“Stop Kalina! Bisa-bisanya seorang wanita merendahkan wanita lain,” ucap Mama Diana yang merasa bahwa Kalina sudah merendahkan Sara.


“Tante perlu tahu asal-usul menantu Tante itu. Dia bukan wanita baik-baik. Sudah berapa banyak tangan yang menggera-yangi tubuhnya. Namun, dia terlihat polos. Belva hanya terperdaya olehnya,” sahut Kalina.


Belva menyentak tangan Kalina, dan membawanya ke arah pintu keluar. “Jika di rumahku, kamu hanya membuat keributan … silakan angkat kaki dari sini!”

__ADS_1


“Hanya untuk wanita murahan seperti dia, kamu berani merendahkanku seperti ini Belva … lihat saja, kamu akan menerima pembalasannya!”


Kalina pun meninggalkan kediaman Belva Agastya dengan amarah di dada. Sementara Sara menghela nafasnya dan berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sakit rasanya saat ada orang yang kembali mengungkit masa lalunya. Dulu, Sara bekerja di bar pun hanya untuk sesuap nasi dan menyambung hidup. Hanya saja, orang selalu memandang rendah pekerjaannya itu. Hatinya sakit, tetapi Sara berusaha tenang. Menguasai diri dan keadaan, menahan air mata jangan berlinang di wajahnya.


__ADS_2