
Beberapa hari setelahnya, Sara masih berusaha mencari ruko yang bisa dia tempati. Sebenarnya sudah ada beberapa tempat yang cocok, hanya saja Sara masih berusaha mendapatkan harga yang cocok di kantongnya. Sehingga Sara masih berusaha untuk melihat-lihat ruko yang tepat dan letaknya strategis tentunya.
"Hei, Sara ngapain kamu di sini?" suara seseorang yang tiba-tiba menyapa dirinya.
Sara pun terkesiap. Tidak mengira di Bogor, masih ada orang yang mengenalinya. Padahal, lingkup pergaulan Sara sangat kecil. Dia bahkan tidak banyak mengenal orang lain. Akan tetapi, di tempat persembunyiannya justru terdengar sapaan kepadanya.
Sara pun menoleh, ke arah sumber suara mencari tahu siapa yang telah memanggil namanya.
"Zaid, kamu?" sahut Sara.
Tidak mengira bahwa Sara akan bertemu dengan Zaid, temannya saat pernah kursus membuat kopi berbagai minuman di Kopi Lab dulu. Lalu, bagaimana bisa Sara bertemu dengan Zaid di tempat itu.
"Iya, aku … kamu kenapa bisa di sini?" tanya Zaid.
Pria itu sebenarnya juga kaget bagaimana bisa bertemu dengan Sara di kota yang biasa disebut dengan Kota Hujan itu.
"Aku sekarang di sini," jawab Sara.
"Bisa kita ngobrol-ngobrol sebentar, Sara," tanya Zaid kepada Sara.
Ya, pria itu merasa perlu bertanya banyak hal kepada Sara. Pasalnya, sejak kursus di Kopi Lab berakhir Zaid berusaha mencari Sara. Akan tetapi, dia tidak pernah menemukannya. Justru tanpa sengaja, Zaid bisa menemukan Sara di Bogor ini.
Sara pun mengangguk, dia berjalan mengikuti Zaid ke sebuah kafe yang tidak jauh dari tempatnya sekarang ini.
Terasa canggung, tetapi setidaknya Sara hanya sekadar mengobrol dengan Zaid karena dia memang mengenal pria itu.
Ada yang diperhatikan oleh Zaid saat ini dan itu adalah perut Sara yang sudah tidak lagi membuncit, sehingga pria itu pun membuka suaranya dan bertanya kepada Sara.
__ADS_1
"Sorry Sara, kamu sudah melahirkan yah? Di mana bayimu? Mungkin aku bisa menengoknya," ucap Zaid.
Mendapatkan pertanyaan tentang bayinya, tentu saja hati Sara terasa pedih. Bayangan wajah Evan seketika terlintas di benaknya. Sara menggigit bibir bagian bagiannya dan mulailah dia berbicara.
"Dia ada," sahutnya dengan singkat.
"Ada? Ada di mana?" tanya Zaid lagi.
Sara menggelengkan kepalanya, seolah tak ingin menjawab lagi pertanyaan dari Zaid. Lagipula di posisinya sekarang ini, Sara menyadari bahwa banyak orang akan menilainya rendah karena Sara telah menyewakan rahimnya, melahirkan bayi untuk pasangan lain.
"Suamimu di mana Sara? Setahuku dia selalu berada bersamamu kan?" tanya Zaid tiba-tiba.
"Di Jakarta," balas Sara dengan singkat.
Melihat reaksi Sara yang seolah tak biasa, Zaid pun menghela nafasnya panjang dan menatap wajah wanita yang duduk di depannya itu.
"Lalu, kamu di sini mau ngapain?" tanya Zaid lagi.
"Usaha apa?" tanya Zaid yang seolah masih suka mengajukan berbagai pertanyaan kepada Sara.
"Coffee shop mungkin, lagipula aku memiliki sertifikasi sebagai peracik minuman. Aku bisa memulainya dari bawah," balas Sara.
Kursus di Kopi Lab dulu memang Sara mendapatkan sertifikasi, mungkin sekarang adalah saatnya bagi Sara untuk memanfaatkan keterampilan yang dia buat saat membuat berbagai minuman dan kopi dulu.
Mendengar perkataan Sara, Zaid pun beberapa kali mengangguk. Setidaknya dia tahu apa yang hendak dilakukan oleh Sara.
“Oh … jadi kamu mau membuat Coffee shop? Mungkin aku bisa membantumu, Sara. Kamu tahu kan aku sudah memiliki beberapa Coffee shop di Jakarta? Tidak sulit kok memulainya, yang penting telaten, lakukan branding, promosi yang tepat sasaran. Boleh aku minta nomor handphonemu?” tanya Zaid kemudian.
__ADS_1
Sebenarnya ragu, kemudian Sara pun memberikan nomor handphonenya kepada Zaid.
“Ini … nomorku,” ucapnya usai mengetikkan nomornya di handphone Zaid.
Usai mendapatkan nomor itu, Zaid pun tersenyum.
“Oke … bagus. Aku akan menghubungimu nanti,” balasnya.
Setelahnya Sara pun mengangguk, kemudian wanita itu berpamitan dengan Zaid.
“Ya sudah, aku pamit dulu. Sebelum gelap, aku akan mencari tempat semacam ruko dulu,” pamit Sara.
“Iya baiklah … aku juga punya kenalan penjual ruko lainnya, mungkin jika kamu berminat aku bisa mengirimkan foto dan informasinya melalui aplikasi pesan milikmu,” balas Zaid.
Tentu ide yang bagus, sehingga Sara tidak harus berkeliaran keluar rumah dan mencari tempat untuk bisnis yang tepat dan strategis. Mungkin dari gadgetnya, dia bisa menemukan tempat yang tepat.
“Oke … boleh juga. Ya sudah, aku pamit dulu ya,” pamit Sara pada akhirnya kepada Zaid.
Dengan buru-buru Sara keluar dari kafe itu dan memilih untuk segera pulang. Mungkin Sara bisa menunggu dari beberapa ruko yang akan dikirimkan Zaid nanti kepadanya. Sekarang Sara bisa beristirahat dan sekaligus mempumping sumber ASI-nya yang sudah terasa penuh.
***
Sementara itu di kediaman Belva Agastya …
“Sudah mencari Sara?” tanya Anin kepada suaminya itu.
“Belum … aku belum bisa mencarinya karena ada proyek dengan Jaya Corp, sehingga aku harus menyiapkan presentasi dan mengecek kesepakatan bisnis dengan salah satu perusahaan konstruksi raksasa itu,” balas Belva.
__ADS_1
Anin pun mengangguk, “Baiklah … jika kesepakatan perusahaanmu dengan Jaya Corp sudah selesai, kamu bisa mencari Sara,” balas Anin.
Sebab Anin pun berharap bahwa suaminya itu akan segera mencari keberadaan Sara, membawa kembali Sara ke rumahnya. Sekali pun, Anin merasa semakin bisa mengasuh Evan kendati untuk kebutuhan nutrisinya hanya mengandalkan setiap kantong ASIP yang ada, tetapi Anin merasa bahwa membesarkan putranya itu bersama Sara, wanita yang melahirkan Evan adalah ide yang baik. Anin sendiri tidak ingin menjauhkan putranya dari ibu kandungnya sendiri.