Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kemarau Basah


__ADS_3

Saat Sara dan Belva asyik mencicipi Otak-Otak yang merupakan salah satu makanan khas di Kepulauan Riau, hari yang semula panas tiba-tiba saja turun hujan yang begitu deras. Hujan yang datang tiba-tiba di tengah hari yang begitu terik membuat Sara pun tampak kebingungan dibuatnya.


“Kok tiba-tiba hujan sih Mas?” tanya Sara kini kepada suaminya.


“Benar Sayang, kalau di daerah kepulauan ya kayak gini … di hari yang panas terik bisa turun hujan deras dan lebat. Biasanya disebut kemarau basah,” balas Belva.


Kemarau basah adalah sebuah musim di mana terjadi hujan, sekalipun musim kemarau. Sehingga, di panas hari yang begitu terik, hujan bisa turun dengan sendirinya. Di Indonesia sendiri, kemarau basah terjadi karena menghangatnya suhu muka laut di perairan Indonesia yang menyebabkan curah hujan tinggi di musim kemarau.


“Aneh ya Mas … padahal ini saja masih panas, masih ada sinar matahari,” balas Sara.


Belva lantas menatap sejenak kepada istrinya itu, “Kalau di pulau-pulau kecil yang dikelilingi laut seperti ini wajar, Sayang … di Batam juga sering terjadi kemarau basah. Juga di Singapura,” jawab Belva.


Sara pun memberi anggukan kecil, “Kok kamu pinter banget sih Mas,” balas Sara. Seakan Sara terpesona dengan suaminya yang memang pintar dan berwawasan luas itu.


“Enggak juga, Sayang … biasa saja,” balas Belva kini.


“Beda sama aku yang hanya lulusan SMA,” respons Sara kini.


Jika melihat ke latar belakang keduanya, memang Sara layaknya Kunyuk yang merindukan bulan. Menjadi istri seorang Belva Agastya memang di luar ekspektasinya. Banyak kesenjangan yang terjadi antara Sara dengan suaminya itu.


“Tidak usah minder gitu … aku tidak butuh ijazahmu, Sayang … yang penting Ijab Sah denganmu,” balas Belva kini.


Memang Belva seakan menangkap bahwa istrinya tengah minder, merasa tidak percaya diri karena Sara yang hanya lulusan SMA. Untuk itu, Belva berusaha menenangkan dan meyakinkan bahwa dirinya tidak membutuhkan Ijazah yang dimiliki Sara.


“Yakin?” tanya Sara kepada suaminya itu.


Perlahan Belva pun menganggukkan kepalanya perlahan, “Sangat yakin … mau di sini terus? Atau kembali ke Hotel?” tawar Belva kini kepada Sara.


“Balik aja yuk Mas … daripada nanti kejebak di sini. Mulai ada petir juga,” balas Sara.


Akhirnya, Belva meminjam sebuah payung kepada penjual dan juga memayungi Sara terlebih dahulu untuk memasuki mobil.

__ADS_1


“Awas, agak merapat … biar kamu enggak basah,” ucap Belva. Pria itu membiarkan bahunya sedikit basah terkena percikan air hujan.


“Makasih,” jawab Sara.


Rasanya aneh, bukankah Belva adalah suaminya sendiri. Semalam pun mereka telah bergulat dengan begitu hebat, tetapi sedekat ini dengan air hujan yang seolah memercik di wajahnya membuat Sara justru terpana dengan suaminya itu.


Setelah Sara masuk ke dalam mobil, barulah Belva mengembalikan payung dan berlarian kecil untuk memasuki mobil. Melihat wajah Belva yang sedikit basah, Sara lantas mengambil tissue dari sling bag miliknya dan menyeka wajah Belva yang basah.


“Tuh, kamu malah kebasahan kan,” ucap Sara kini dengan terus menyeka wajah suaminya itu.


Senyuman kecil terbit di sudut bibir Belva, “Makasih Sayang,” balasnya.


Belva pun perlahan mulai menjalankan mobilnya, menyisiri jalanan di area Kijang untuk kembali ke Hotelnya lagi.


Sementara Sara mulai mengecilkan AC di mobil itu tentu supaya mereka berdua tidak terkena flu karena di luar hujan nyatanya turun dengan begitu derasnya.


“Hati-hati Mas, nyetirnya … jarak pandang terbatas dan jalanan licin,” ucap Sara kali ini yang mengingatkan suaminya itu.


“Menepi dulu saja ya Sayang … anginnya kenceng,” balas Belva kini.


Sara merepons dengan menganggukkan kepalanya, dan setuju untuk menepi terlebih dahulu. Dia tidak menyangka bahwa hujan dan angin akan turun begitu derasnya. Belva benar-benar menepinya mobilnya di rest area dan menghidupkan lampu hazard sebagai tanda bahwa dirinya menepi karena cuaca buruk.


“Malah kejebak hujan,” ucap Sara kini.


“Iya … di Bintan ya kayak gini, Sayang … hujan bisa turun sewaktu-waktu,” balas Belva.


“Jadi pengen balik ke hotel sebenarnya. Takut angin dan petir. Namun, mengemudi di hujan lebat kayak gini juga berbahaya,” ucap Sara lagi.


“Kita tunggu lima belas menit yah … kalau curah hujannya agak berkurang nanti kita lanjutin perjalanan kita,” jawab Belva.


Sara memilih mengangguk, kemudian wanita itu mengusapi kedua telapak tangannya yang terasa dingin. Sekalipun AC sudah dihidupkan di mode paling kecil tetap saja membuat tangan Sara begitu dingin. Mungkin karena hujan juga yang membuat hawa dingin merasuk dengan begitu cepatnya.

__ADS_1


Melihat tangan Sara yang saling bertaut, tangan Belva pun bergerak dan menggenggam tangan istrinya itu.


“Tangan kamu dingin banget,” ucap Belva kali ini.


“Iya … mungkin karena hujan,” balas Sara.


Belva pun tampak mengusapi tangan Sara dengan telapak tangannya dan terkadang meniupi telapak tangan Sara yang dingin itu.


“Agak hangat,” balas Belva kini.


Sara hanya terpaku dengan setiap tindakan yang menunjukkan perhatian kepada dirinya itu. Jika demikian, Belva menjadi sosok yang begitu hangat dan perhatian.


“Makasih Mas,” balas Sara dengan menatap suaminya itu.


“Iya,” balas Belva. “Mau lebih hangat?” tanya Belva dengan tiba-tiba.


“Hmm, maksudnya?” balas Sara.


Belva tersenyum dengan sorot mata yang tertuju sepenuh kepada Sara. Lantas tangan pria itu bergerak dan membelai sisi wajah Sara. Perlahan tetapi pasti, Belva pun mendekatkan wajahnya, dan menyapa bibir Sara dengan bibirnya sendiri. Terasa hembusan nafas Belva yang menyisir sisi wajah Sara saat itu.


Kini tangan Belva yang lain justru meremas tangan Sara, dan pria itu segera mengecupi bibir Sara. Bibir yang sedikit dingin itu, tetapi tetap saja rasa manis yang didapatkan Belva saat ini. Dengan pasti, bibir itu bergerak dan menghisap lipatan bawah bibir milik Sara. Mengecupinya, mencumbunya, bahkan memagutnya. Belva sedikit memberikan usapan lidahnya sendiri dan kemudian menelusupkan lidahnya merasai kedalam rongga mulut Sara yang begitu hangat dan manis. Pria itu memejamkan matanya dan kian memperdalam ciumannya.


Decakan kedua bibir yang bertemu, kedua lidah yang mengusap, bahkan keduanya juga tidak ragu untuk saling bertukar saliva. Guyuran hujan di luar sana, justru membuat semarak yang mengalunkan simfoni yang indah dari kedua bibir yang saling mengu-lum dan menyapa.


Merasa bahwa oksigen yang mereka hirup kian tipis, hingga dada keduanya terasa sesak, Belva lantas mengikis wajahnya.


“Sudah cukup, nanti lanjut di hotel yah,” ucap Belva kali ini.


Susah payah Sara meneguk salivanya sendiri saat mendengar suaminya itu berbicara. Wajah wanita itu menunduk dan menunjukkan rona merah di sana. Bahkan Sara tampak beberapa kali menghela nafas karena kali ini dicium oleh suaminya di dalam mobil.


“Lanjut jalan?” tanya Sara saat melihat Belva yang mulai mengemudikan mobilnya lagi.

__ADS_1


“Iya, biar cepet … bisa menghangat badan,” balas Belva dengan mengerlingkan satu matanya kepada Sara.


__ADS_2