Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Banyak Anak Banyak Rezeki


__ADS_3

“Papanya Evan juga mau kok punya baby lagi,” sahut Belva dengan begitu cepat.


Seakan kali ini Belva sangat setuju dengan pemikiran dan permintaan putranya yang menginginkan untuk memiliki seorang adik. Pikirnya Belva, mumpung dirinya dan Sara masih berada di usia produktif untuk memiliki anak. Sehingga tidak perlu menunggu-nunggu lagi. Selain itu, tidak dipungkiri setelah menikah kembali dengan Sara, Belva rasanya ingin memiliki banyak anak dengan istrinya itu. Supaya di masa tuanya nanti Belva tidak akan kesepian karena dia memiliki banyak anak yang akan menemaninya di hari tua.


Sementara Sara justru membolakan kedua matanya sembari menatap suaminya itu.


“Mas, aku bicara serius loh,” sahut Sara dengan cepat.


“Aku juga berbicara serius Sayang … aku setelah menikah kembali denganmu. Menikahi kamu resmi secara agama dan negara, aku ingin memiliki banyak anak bersamamu. Aku tidak ingin kesepian di masa tuaku nanti. Aku ingin memiliki anak yang banyak dan juga cucu-cucu yang banyak. Rasanya menyenangkan saat aku sudah tua, anak-anak dan cucu-cucuku akan datang untuk mengunjungiku,” balas Belva kali ini.


Sara hanya geleng kepala mendengar penuturan dari suaminya itu. Di zaman yang sudah maju, di mana keluarga biasanya hanya menginginkan satu atau dua anak saja cukup. Belva justru menginginkan memiliki anak yang banyak. Impian layaknya orang tua di masa dulu yang akan merasa bahagia di masa tuanya saat dikunjungi anak-anak dan cucunya. Pemikiran Belva justru mengingatkan Sara kepada sosok Kakek dan Neneknya yang zaman dulu yang akan merasa bahagia saat anak-anak dan cucu-cucunya berkumpul.


“Cuma, aku gak mau,” respons Sara dengan jujur.


Ya, kali ini di hadapan Belva, Sara dengan jujur mengatakan bahwa dirinya tidak ingin memiliki anak terlalu banyak. Lagipula, seorang Istri juga bisa menyampaikan pendapatnya. Itu yang coba Sara ungkapkan sekarang ini.


“Kenapa? Banyak anak banyak rezeki loh. Orang tua zaman dulu justru kalau bisa punya anak yang banyak. Rumah supaya tidak sepi. Selain itu, kita bisa menikmati masa tua kita dengan mengasuh cucu. Ide yang bagus kan?” tanya Belva kali ini kepada Sara.


“Dua anak saja cukup, Mas … sesuai program pemerintah,” balas Sara. Wanita itu sembari mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, membuat simbol angka dua dengan jarinya.


“Jangan dua … tiga aja,” balas Belva dengan cepat.


“Wanita kan usia produktifnya gak banyak, Mas … kecapekan nanti kalau aku melahirkan lagi dan lagi,” jawab Sara dengan realistis.


Ya, itu semua karena usia produktif seorang wanita itu terbatas. Termasuk sistem reproduktif wanita yang bisa mengalami masa menopause di usia 40-an tahun. Untuk itu, Sara pun menjawab dengan realistis.

__ADS_1


“Ya, nanti anak yang ketiga … jaraknya agak lama aja Sayang. Buat teman kita kalau Evan dan adiknya sudah besar,” jawab Belva.


Seakan pria itu masih ingin memiliki anak lagi yang ketiga. Sungguh pemikiran Belva yang membuat Sara kian menyipitkan kedua matanya memandang suaminya itu. Sebab, dua anak saja bagi Sara sudah cukup. Evan dan adiknya nanti. Akan tetapi, kini Belva justru ingin memiliki satu anak lagi.


“Dengarkan aku dulu ya Mas … mengasuh anak itu juga tidak boleh asal. Bukan sekadar mengandung dan melahirkannya. Akan tetapi, setelah dia lahir, orang tua bertanggung jawab penuh untuk mengajarkan nilai dan norma untuknya. Menjadi figur teladan yang baik bagi anak-anak. Wujud ibadah kita dengan menjadi orang tua yang bertanggung jawab, tidak boleh asal-asalan mengasuh dan membesarkan anak,” ucap Sara kali ini.


Mendengar ucapan Sara, agaknya Belva kini justru tampak berpikir. Sebab, apa yang barusan diucapkan Sara ada benarnya. Dia pun ingin anak-anaknya nanti tumbuh bukan hanya sehat, tetapi juga mendapatkan pendidikan yang layak, memiliki karakter yang baik juga.


“Ya sudah … satu anak lagi dulu saja. Nanti kalau misal adiknya Evan sudah makin besar dan kita pengen anak lagi, tambah lagi satu ya Sayang,” ucap Belva.


Agaknya Belva masih ingin bernegosiasi dengan Sara. Untuk kali ini memiliki satu anak dulu tidak masalah. Akan tetapi, di kemudian hari jika mereka ingin punya anak lagi, ya tambah lagi saja satu. Pemikiran yang lucu dan gigih tentunya dari seorang Belva.


“Kalau aku kecapekan ngasuhnya? Aku masih ingin mengurusi bisnisku, Coffee Bay,” jawab Sara dengan jujur.


Jikalau dulu, Sara merasa buta dengan bisnis. Akan tetapi, setelah memiliki Coffee Bay dan branding miliknya bisa kian besar dan berkembang. Agaknya Sara juga ingin memiliki waktu untuk membesarkan nama Coffee Bay.


Dengan kekayaan yang dia miliki, Belva yakin tidak masalah untuk menggaji babysitter yang bisa mengasuh anak-anaknya nanti.


“Cuma … aku takut. Aku takut, kamu tergoda sama babysitter. Gimana kalau itu terjadi? Biasanya kan Majikan tergoda sama babysitternya,” balas Sara.


Ada helaan nafas yang berat dari Belva. Pria itu justru menatap Sara dengan sorot matanya yang tajam. Lantas Belva menangkup wajah Sara dengan kedua tangannya, kemudian pria itu mengikis jarak wajahnya dan mendaratkan beberapa kecupan di bibir Sara.


Chup! Chup! Chup!


“Tidak boleh berpikir seperti itu. Sampai kapan pun, aku akan setia kepadamu. Enggak ada cerita akan tergoda sama babysitter dan lain sebagainya. Promise!” Belva menjawab dengan sungguh-sungguh sembari menatap wajah Sara.

__ADS_1


“Janji?” tanya Sara kali ini kepada Belva.


“Ya, aku berjanji kepadamu. Seumur hidupku, aku akan setia kepadamu. Jika nanti di masa yang akan datang, ada kabar yang tidak benar, jangan langsung percaya. Tolong dengarkan penjelasanku dan selalu percayai aku,” pinta Belva kali ini kepada Sara.


“Baik. Aku pegang perkataanmu. Jujur saja aku khawatir jika memiliki babysitter. Khawatir jika kamu tergoda. Lagipula, para pria bisa dengan begitu mudahnya tergoda dengan wanita lain. Entah itu terpikat, tergoda, atau terjerat. Semua kata-kata itu menakutkan buatku,” jawab Sara dengan jujur.


Sementara Belva nyatanya justru tertawa mendengar ucapan Sara itu. “Aku hanya akan terpikat, tergoda, dan terjerat sama kamu, Sara Valeria. I am promise,” balas Belva dengan yakin.


Pria itu tersenyum menatap wajah Sara dan kemudian membisikkan sebuah kalimat di telinga Sara, “So, mau kapan membuatkan adik untuk Evan? Yuk, Sayang. Lebih cepat lebih baik!”


***


Hai Dear My Bestie,


Hari ini kita crazy up sampai seminggu ke depan yah. Jadi, cerita ini akan publish 3 Bab sehari. Waktunya di kisaran:


- 10.00


- 15.00


- 20.00


Sehubungan ini juga hari Senin, bantu Vote, Like, dan Komentar yuk. Mau berikan hadiah juga boleh loh.


Love U All,

__ADS_1


Kirana


__ADS_2