Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Membagi Masalah


__ADS_3

Malam harinya, saat Evan sudah tertidur. Barulah Belva akan membagikan ceritanya hari ini kepada Sara. Lagipula, Sara adalah wanita yang mau meluangkan waktu dan mendengarkan ceritanya. Sehingga, Belva tidak perlu khawatir lagi. Sebab pastilah, Sara akan membuka telinganya dan mendengarkan ceritanya.


Kali ini di dalam balkon kamarnya, keduanya duduk bersama di sebuah sofa dan juga ada Belva yang menyandarkan kepalanya di bahu istrinya itu. Tangan Sara pun menyambut kepala suaminya itu dan memberikan usapan lembut di kepala suaminya itu.


“Ada apa, Mas?” tanya Sara kali ini kepada suaminya. “Mau cerita?” Lagi Sara bertanya, seakan Sara sudah tahu bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh suaminya itu.


“Iya … pengen cerita. Dengerin aku yah,” sahut Belva.


Sara merespons dengan menganggukkan kepalanya, sudah tentu dia akan mendengarkan cerita Belva. Justru, Sara dengan senang hati mendengarkan setiap cerita dari suaminya itu. Walaupun jika cerita yang berkaitan dengan perusahaan, Sara tidak tahu menahu, tetapi setidaknya Sara membuka telinganya dan mendengarkan setiap cerita dari suaminya itu.


“Iya, sini cerita sama aku,” balasnya.


“Tadi … Anthony datang ke kantorku, Yang,” cerita Belva kali ini. Tentu itu adalah sebuah kalimat untuk membuka ceritanya.


Mendengar nama Anthony disebut, gerakan tangan Sara di kepala suaminya itu terhenti. Pikiran buruk seketika menghantui Sara dan takut jika terjadi sesuatu dengan suaminya itu.


Belva merasakan gerakan tangan Sara di kepalanya yang terhenti, tak ingin membuat istrinya itu kepikiran hingga berdampak buruk pada kandungannya. Pada akhirnya Belva kembali bercerita.


“Ya, tadi Anthony datang ke Agastya Property. Dia datang dan mengatakan ingin menghabiskan waktu satu hari bersamamu. Katanya dia mengidap Kanker kelenjar getah bening, usianya tidak akan lama lagi. Untuk itulah dia meminta kepadaku untuk bisa menghabiskan waktu sehari saja bersamamu,” cerita Belva pada akhirnya kepada Sara.


Namun, Sara justru bertanya-tanya. Bagaimana bisa pria yang semula mencoba berbagai cara untuk menggoyahkan rumah tangganya kini justru datang dan seolah memohon kepada suaminya. Bagi Sara, itu adalah sikap yang perlu dicurigai.

__ADS_1


“Kamu yakin dia datang untuk itu? Kamu yakin bahwa Anthony tidak ingin melihat sesuatu atau apa yang berkaitan dengan pekerjaanmu?” tanya Sara.


“Maksud kamu Sayang?” tanya Belva.


“Rasanya aku tidak yakin, jika Anthony datang untuk meminta waktu satu hari saja bersamaku. Rasanya, dia datang untuk tujuan lain. Bisa saja dia melihat-lihat perusahaanku. Melihat projek infrastruktur yang akan kamu kerjakan, atau sebagainya. Manusia bisa berdalih, tetapi maksud yang sebenarnya tersembunyi di dalam hati mereka,” balas Sara.


Belva diam dan mencoba memahami ucapan istrinya itu. Kenapa justru Belva tidak memikirkan hal yang seperti Sara katakan barusan. Padahal saat datang ke kantornya, Anthony bisa melihat miniatur building dari setiap projek yang akan dia kerjakan yang berjajar di depan resepsionis. Bisa saja, Anthony datang dan melihat perusahaan Agastya Property dari dekat. Kenapa Belva tidak terpikirkan dengan semuanya itu.


“Ah, sial. Berarti aku terperdaya,” ucap Belva dengan kesal. Ada helaan nafas kasar yang dia hembuskan sekarang. Merasa bahwa Anthony memiliki dalih tersembunyi dengan kedatangannya ke Agastya Property.


“Sabar Mas,” ucap Sara menenangkan suaminya itu.


“Iya, aku harusnya berpikir panjang dan tidak terfokus dengan ucapan pria itu. Kenapa sih Anthony tidak pernah habis-habisnya mengusik kita,” balas Belva.


Sara beringsut, kini wanita itu bisa melihat wajah suaminya yang sedari tadi terlihat kesal dan geram. Tangan Sara bergerak dan memberikan usapan di dada suaminya itu.


“Sabar … kalau semua dihadapi dengan kepala dingin, pasti bisa diselesaikan dengan baik-baik. Sabar, pasti akan mendapatkan jalan keluarnya,” ucap Sara yang berusaha menenangkan suaminya itu.


Belva menganggukkan kepalanya, lantas pria itu kini justru mencerukkan wajahnya di antara leher dan dada Sara, dengan kedua tangan yang merengkuh tubuh istrinya itu.


“Peluk aku Sayang … peluk aku. Aku jadi pusing rasanya,” ucap Belva dengan memejamkan matanya.

__ADS_1


Sara merespons dengan memeluk suaminya itu dan memberikan usapan di kepala suaminya itu. Membiarkan Belva untuk memeluknya, dan juga Sara memilih diam. Membiarkan keheningan yang akan melingkupi mereka berdua. Belva membutuhkan waktu untuk tenang dan mencerna semuanya dengan pikirannya.


“Maaf ya Mas … gara-gara aku, jadi banyak masalah dengan Anthony,” ucap Sara sekarang ini kepada suaminya.


Sara memahami bahwa asal-muasal masalah suaminya itu dengan Anthony adalah karena dirinya. Untuk itu, Sara pun meminta maaf kepada suaminya.


Akan tetapi, Belva segera menarik wajahnya dan menggelengkan kepalanya secara samar.


“Tidak Sayang … semua ini bukan karenamu. Jangan berpikiran seperti itu. Ingat, jangan berpikiran berlebihan karena dampaknya bisa ke buah hati kita,” balas Belva.


“Cuma kan … semua karena kamu nolongin aku dulu dari Anthony,” sahut Sara.


Ya, hubungan Belva dan Anthony dari awal mula memang tidak baik karena Belva yang menolongi Sara pada waktu itu. Hingga akhirnya, ada beberapa masalah yang harus Belva alami karena Anthony juga.


“Sudah … jangan dilanjutkan. Aku yang memang ingin membantumu. Mana mungkin aku membiarkan pria licik seperti Anthony menyentuh dan mencemari tubuh Bidadariku ini. Kamu memang cinta kedua untukku Sara, tetapi aku sangat berharap cinta kita berdua, rumah tangga kita berdua akan bertahan sampai ujung usia kita,” balas Belva dengan sungguh-sungguh.


Ucapan yang jujur dari seorang Belva Agastya. Sara memang bukan cinta pertamanya. Belva mengakui bahwa fakta cinta pertamanya adalah mendiang Anin, tetapi bersama Sara, Belva berdoa dan berharap bahwa dia bisa menghabiskan usianya bersama dengan Sara. Yang pertama bukan selalu menjadi yang terakhir. Sebab, banyak misteri yang Tuhan miliki dan berlakukan atas ciptaannya. Banyak misteri yang Tuhan selipkan dalam hidup manusia.


“Iya Mas … terima kasih banyak. Jadi, untuk urusan di kantor bagaimana?” tanya Sara.


“Tenang saja Sayang … untuk kantor biar aku yang akan urus dan selesaikan semuanya. Aku cukup pikirkan aku dan anak-anak kita saja. Jangan berpikiran yang macam-macam. Oke?” balas Belva.

__ADS_1


“Iya Mas,” sahut Sara dengan singkat.


Kini giliran Belva yang membawa tubuh Sara dalam rengkuhan pelukannya. Di balkon kamar itu, dengan angin yang bertiup semilir, dengan angkasa malam yang menudungi keduanya. Sepasang suami istri tengah berbagi cerita, mengungkap perasaan mereka, dan saling berpelukan dengan penuh sayang. Belva menyadari suratan hidupnya sudah Tuhan takdirkan, tetapi bersama dengan Sara, Belva yakin bahwa kehidupan panjang dan penuh rona bahagia akan tersedia baginya.


__ADS_2