
Selang sepekan berlalu, Sara masih terus belajar untuk menjadi seorang Ibu. Perjalanannya menjadi seorang Ibu baru terbilang baru, yaitu sepekan. Akan tetapi, setiap hari bersama Baby Evan rasanya membuat Sara seolah membuat kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Wanita muda itu terlihat begitu berhati-hati merawat Baby Evan. Tidak hanya itu, Sara pun juga mulai menyimpan ASIP supaya bisa diminum oleh Baby Evan saat dirinya harus pergi meninggalkan kediaman Belva.
Pagi ini, Sara tengah menjemur Baby Evan di balkon kamarnya. Dengan telaten Sara memandikan bayinya itu dengan matahari supaya Evan lebih kuat karena sinar matahari pagi bisa memecah bilirubin dalam darah bayi, sehingga kadarnya menurun dan kembali normal. Selain itu, kandungan vitamin D dalam sinar matahari juga baik untuk kesehatan tulang Evan.
“Mandi matahari dulu ya Nak … biar kamu sehat dan kuat,” ucap Sara sembari tersenyum memangku putranya itu.
Pemandangan pagi itu, rupanya terlihat juga oleh Anin yang tengah berada di balkon kamarnya. Beberapa meter jaraknya dari balkon milik Sara.
“Baby Evan sedang berjemur ya Sara?” tanya wanita itu kepada Sara.
Tampak Sara menoleh mencari arah sumber suara, rupanya ada Anin yang juga sedang melakukan pemanasan/stretching di balkon miliknya. Sara pun kemudian mengangguk, “Iya Kak … supaya Evan sehat dan kuat, selain itu bilirubinnya tidak tinggi sehingga tubuhnya tidak kuning,” sahut Sara.
“Wah, kamu hebat Sara. Kamu tahu banyak informasi seputar bayi … berapa lama Evan harus berjemur?” tanya Anin lagi.
“Tidak lama Kak, hanya sepuluh sampai lima belas menit sudah selesai,” jawab Sara.
“O … terhitung sebentar yah? Aku pikir lama bayinya dijemur,” sahutnya.
Setelahnya itu, Anin terlihat melanjutkan kegiatannya, sementara Sara masih menjemur baby Evan. Terkadang sara menelentangnya babynya, terkadang memiringkan posisi babynya, dan juga menengkurapkan babynya, sehingga seluruh tubuh Evan bisa terkena matahari.
Setelah hampir sepuluh menit berlalu, Sara kemudian membawa kembali Evan untuk masuk ke kamar. Sebelumnya Sara berpamitan terlebih dahulu dengan Anin di sana.
“Kak, aku masuk duluan yah? Mau memberikan ASI buat Evan,” pamitnya.
Anin pun mengangguk sembari melambaikan tangannya, “Iya … bye Evan. Minum ASI yang banyak yah, biar kamu sehat,” ucap Anin.
Akan tetapi, belum sampai Sara memasuki kamarnya, Anin kembali memanggil nama Sara.
“Sara, nanti sore aku ada pemotretan di Bandung untuk tiga hari. Kamu kalau pengen aku bawakan sesuatu kirim pesan saja ke aku. Oh, iya … titip Belva untuk tiga hari ini yah,” ucap Anin.
Sara pun mengangguk dan sedikit mengulas senyuman di wajahnya, “Iya Kak … hati-hati ya,” sahut Sara.
Setelahnya, Sara segera memasuki kamar dan mulai memberikan ASI untuk baby Evan. Bayi itu usai berjemur terlihat minum ASI dengan hisapan yang cepat. Lagi-lagi Sara tersenyum menatap bayinya itu.
“Pelan-pelan minumnya Sayang … kamu haus banget yah? Tiap kali sehabis berjemur pasti minumnya banyak sih, Nak. Minum dulu, setelah ini mandi yah … nanti Bunda siapkan mandi buat kamu,” ucap Sara.
__ADS_1
Akan tetapi, belum sempat Sara selesai menyusui Evan dan menyiapkan mandi untuk babynya. Belva sudah masuk ke dalam kamarnya. Sama seperti biasanya, pria itu terlihat biasa saja setiap kali memasuki kamar Sara.
“Evan baru minum ASI yah?” tanya Belva begitu dia masuk ke dalam kamar Sara.
Refleks, Sara kemudian sedikit menutupi area dadanya. Akan tetapi, saat Sara hendak menutupi area dadanya, ada tangan mungil milik Evan yang memegangi satu milik Sara. Bahkan si baby pun terlihat posesif dengan sumber kehidupan miliknya.
Sara seolah menjadi gelagapan sendiri, hingga akhirnya dia pun menjawab Belva.
“Iya Pak … Evan baru minum ASI,” jawabnya.
Melihat putranya yang begitu pintar meminum ASI langsung dari sumbernya, Belva pun tersenyum. “Kamu minumnya pinter banget Nak … sehat-sehat ya Evan,” ucap Belva sembari memperhatikan babynya itu.
Setelahnya, Belva mengalihkan pandangannya kepada Sara, “Gimana sepekan usai melahirkan, jahitan kamu masih sakit?” tanya pria itu kepada Sara.
Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, “Tidak Pak … sudah tidak sakit. Aku sudah bisa berjalan-jalan juga di area kamar,” sahutnya.
Belva pun tersenyum, “Baiklah … tetap hati-hati. Pastikan tidak sakit, Sara,” jawabnya.
“Makasih Pak …,” sahut Sara.
***
Kurang lebih jam 20.00, Baby Evan telah tidur. Lagian belum merasa mengantuk, Sara memilih merapikan pakaian dan beberapa barang milik Evan. Membereskan kamarnya, setelahnya Sara akan memompa ASI dan menyimpannya dalam kantong ASIP.
Tidak Sara sangka, ternyata malam itu Belva kembali datang ke kamarnya.
“Kamu baru ngapain Sara?” tanya pria itu.
“Baru membereskan pakaian milik Evan, supaya lebih rapi,” sahut Sara.
Di dalam hatinya, Belva merasakan bahwa Sara adalah wanita muda yang berhasil menjadi seorang Ibu karena Sara terlihat mau belajar, dan juga cekatan. Sekali pun terkadang Sara terlihat tidak yakin, tetapi akhirnya Sara bisa juga mengerjakan tugas-tugas baru yang dia miliki sebagai seorang Ibu.
“Mana biar aku bantu,” ucap Belva.
Pria itu turut membantu menata lemari pakaian milik Evan, dan juga membereskan beberapa perlengkapan Evan lainnya. Setelahnya, pria itu tersenyum menatap wajah Evan yang terlelap. Bayi itu terlihat begitu menggemaskan, sehingga Belva sering kali tersenyum saat menatap wajah putranya itu.
__ADS_1
“Pak Belva masih lama di sini?” tanya Sara kemudian.
“Kenapa Sara?” sahutnya dengan cepat.
“Euhm, aku mau pumping, Pak … mungkin Pak Belva bisa kembali ke kamar,” ucap Sara.
Secara sopan, Sara hanya meminta kepada Belva untuk meninggalkan kamarnya. Sebab, dia akan pumping. Rasanya begitu malu harus menunjukkan aset berharganya yang sekarang menjadi sumber kehidupan bagi Evan harus dilihat oleh Belva.
Pria itu pun tersenyum, “Aku akan di sini. Aku akan tidur di sini. Kamu pumping saja, tidak masalah,” jawabnya.
Sara pun membolakan matanya, “Tapi Pak,” sahutnya yang sebenarnya risih jika harus pumping dan Belva ada di sana.
Belva justru berdiri dan mengambilkan pumping elektrik milik Sara, memberikan pumping itu kepada Sara, “Ini … pumpinglah,” ucapnya.
“Pak, aku malu,” aku Sara dengan jujur.
Belva nyatanya justru tertawa, “Tidak perlu malu … bahkan saat kamu memberikan ASI untuk Evan, aku juga sudah berkali-kali melihatnya. Sebelum Evan melihatnya, justru aku yang terlebih dahulu melihatnya,” sahut Belva.
Sara menghela nafasnya, akhirnya wanita itu memunggungi Belva. Mengeluarkan sumber ASI yang dia miliki dan mulai memompa dengan pumping elektrik. Cukup memencet tombol relaksasi sebagai mode pijat, dilanjutkan dengan memencet tombol tekanan pompa yang ada dari kecepatan 1, 2, hingga 3. Sara pertama-tama menekan tombol 2, kemudian berlanjut menjadi kecepatan 3.
Hanya beberapa detik, ASI miliknya mulai keluar dan mengisi botol ASI. Di belakang Sara, Belva hanya duduk. Ingin rasanya, melihat apa yang sedang dilakukan oleh Sara. Akan tetapi, agaknya pria itu harus menghargai privasi Sara.
“Sudah mulai keluar ya ASI nya?” tanya Belva.
“Bagaimana Pak Belva tahu?” Sara justru balik bertanya.
“Terdengar seperti gemericik air,” sahut Belva dengan cepat.
Sara merasa bahwa memang ASI yang masuk dari alat pompa kemudian ke botol ASI terdengar gemericik airnya. Perlahan wanita itu mengangguk, “Iya … sudah keluar,” jawabnya.
Tanpa Ssara duga, rupanya Belva menyandarkan kepalanya dipunggung Sara. Pria itu sejenak memejamkan matanya dan menghirupi aroma Jeruk Pomello yang segar dari parfum yang Sara kenakan, tetapi tiba-tiba pria itu tersenyum.
“Kenapa sekarang aroma tubuhmu justru mirip Evan, Sara?” tanyanya.
“24 jam aku memegang Evan, Pak … jadi ya semua yang ada di tubuh Evan menempel di badanku. Parfumnya, minyak telonnya, bahkan muntahan ASInya semua menempel di badan aku,” jawab Sara.
__ADS_1
Bukan tertawa, Belva justru terdiam. Tangan pria itu bergerak melingkari pinggang Sara, “Makasih Sara … kamu adalah Bunda yang hebat bagi Evan,” ucap pria itu.
Saat tangan Belva melingkari pinggangnya, hati Sara rasanya begitu berdesir. Mengapa bisa pria itu terkadang bersikap impulsif kepadanya. Apa arti semua ucapan terima kasih dan sentuhan yang terkadang membuat Sara bingung harus mengartikan apa untuk semuanya ini.