
Dua Tahun Kemudian ….
Tidak terasa, waktu sudah berlalu. Bayi Elkan yang rasanya baru beberapa saat merayakan ulang tahun pertamanya, kini sudah berusia 2 tahun. Sementara itu, si Sulung Evan menikmati masa-masa sekolahnya. Mencoba memasuki TK, Evan pun memulai banyak hal baru dalam hidupnya. Belajar untuk bersekolah, dan tentunya belajar berteman.
“Mama, besok di sekolah Evan harus belajar menggunting Ma, jadi ajarin Evan menggunting ya Ma,” pintanya.
Sara pun menganggukkan kepalanya, “Sini … Mama ajarkan menggunting yang rapi yah. Kuncinya itu kamu harus bisa memegang guntingnya dengan benar, kemudian ikuti garisnya ini Kak. Semangat ya belajar, semangat sekolahnya, tahun depan Kak Evan sudah SD,” ucap Sara.
Bocah yang kian terlihat tampan dan kritis dalam berpikir itu pun menganggukkan kepalanya, “Oke Mam … SD itu Sekolah Dasar kan Ma? Nanti Evan sekolah di mana Ma?” tanya Evan lagi.
“Nanti, Mama dan Papa carikan sekolah yang bagus buat Kak Evan yah,” balas Sara.
Sama seperti komitmen Sara dulu, bahwa untuk sekolah anaknya, dia dan Belva akan mencarikan yang terbaik untuk Evan. Pendidikan dasar itu sangat penting untuk anak, karena itu Sara dan Belva sama-sama menginginkan anak menjadi pembelajaran yang baik dan juga mendidik Evan menjadi pribadi yang berkarakter baik.
“Iya Mama … makasih,” balas Evan.
Sementara itu, Elkan juga bermain tidak jauh dari tempat Sara dan Evan belajar. Si bayi itu tengah asyik bermain hot wheels. Selesai dengan Evan, dan membiarkan Evan untuk belajar. Sara pun mengasuh Elkan, dan mengajaknya berpindah ke tempat bermain supaya Elkan tidak berisik dan tidak mengganggu kakaknya yang baru belajar.
“Kita ke ruang bermain ya El,” ajak Sara kepada putranya itu.
“Yayaya,” balas Elkan dengan berjalan mendahului Sara menuju tempat bermain.
Sehari-hari Sara memang menghabiskan waktu di rumah dengan mengasuh anak-anaknya full 24 jam. Sedangkan di bisnisnya Coffee Bay kian mengepakkan sayapnya dan membuka berbagai cabang baru. Karyawan yang dimiliki Sara juga terbilang banyak. Tidak hanya itu, setahun belakangan Sara juga merambah bisnis skincare dan bekerja sama dengan dermatolog terpercaya. Walau baru satu tahun, tetapi skincare bernama Sava Beauty itu sudah diterima masyarakat. Menggandeng Marsha Valentina sebagai brand ambassador, rupanya skincare milik Sara juga mendapatkan keuntungan yang besar.
***
__ADS_1
Malam harinya ….
“Hari ini, anak-anak gimana Sayang?” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Evan tadi belajar menggunting Papa … lalu, Elkan ya masih mengeksplorasi dunia bermainnya. Masih seneng main,” balas Sara.
“Iya Sayang … dulu waktu Evan seusia Elkan, sukanya juga bermain kok. Rumah enggak pernah bersih, semuanya penuh dengan mainan Evan. Setelah ada kamu saja, rumah jadi bersih dan mainan tidak berserakan di lantai,” balas Belva.
“Peran utamaku kan jadi Ibu Rumah Tangga, Mas … jadi ya beginilah adanya,” balas Sara.
Sepenuhnya, Sara pun sadar bahwa peran utamanya adalah menjadi Ibu Rumah Tangga. Bagi Sara sendiri, apa artinya menjadi pebisnis yang sukses, tetapi tidak sukses dalam membina rumah tangga. Sungguh, Sara tidak bisa meninggalkan suami dan anak-anaknya. Keluarga bagi Sara adalah segala-galanya, karena sekarang hanya inilah keluarganya. Pernah hidup sebatang kara, dan kini memiliki keluarga utuh tentunya sangat membuat Sara begitu bahagia, dan tidak akan terus berjuang untuk menjaga keharmonisan rumah tangganya.
Belva mendekat dan memeluk istrinya itu, “Kamu luar biasa. Apa jadinya aku jika tanpa kamu. Ibu Rumah Tangga yang baik, pebisnis yang keren, kurang apa lagi coba,” balas Belva.
“Sama halnya aku, Mas … aku seperti donat deh tanpa kamu. Tengahnya kosong, hampa. Makasih sudah selalu dukung aku. Bahkan rencanaku untuk sekadar berbisnis skincare juga berhasil karena kamu yang carikan dermatolog terbaik,” balas Sara.
“Makasih Mas, kan aku banyak belajar dari kamu juga untuk mengembangkan bisnis. Bisa menabung banyak-banyak dan buat tabungan pendidikan untuk Evan. Oh, iya Mas … nanti kalau Evan selesai TK, kita carikan SD yang bagus yah. Yang tidak hanya kasih ilmu, tetapi berikan pendidikan karakter yang bagus,” ucap Sara.
“Iya Mama Sara … nanti kita survei dulu yah. Carikan yang terbaik buat Evan, Elkan pun juga nanti kalau sudah sekolah, kita carikan yang terbaik,” balas Belva.
Sara mengurai pelukannya, menatap wajah suaminya itu. Pria hebat yang berhasil menjadi suami, Ayah, dan seorang pimpinan perusahaan. Rasanya Sara sangat bangga memiliki Belva dalam hidupnya.
“Kenapa Sayang?” tanya Belva.
“Enggak apa-apa kok,” balas Sara.
__ADS_1
“Sayang, sudah dua tahun ini kita bekerja keras … sedikit menikmati hidup dan jalan-jalan yuk?” ajak Belva kepada istrinya itu.
“Boleh Mas, kemana?” tanya Sara kemudian.
“Kamu pengen ke mana?” balas Belva.
“Aku pengen lihat salju,” jawab Sara dengan jujur.
Belva pun menganggukkan kepalanya, “Ke Eropa mau? Ke London dulu, terus ke Paris. Naik Europe Train Star hanya 2 jam. Mau enggak?” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Pengen … kita ajak Kiddos yah?” balas Sara.
Belva kemudian tersenyum, “Kita titipkan saja ke Amara … nanti biar mereka nyusul sama Amara,” balas Belva.
Di masa seperti ini, adiknya itu bisa diandalkan. Sehingga Belva ingin menitipkan Evan dan Elkan kepada Amara terlebih dahulu.
“Anak kita dua loh Mas, nanti Amara repot enggak?” tanya Sara.
“Enggaklah … kita pacaran dulu. Tenang saja, untuk urusan anak-anak, Amara bisa diandalkan,” balas Belva.
Sara pun menganggukkan kepalanya, mengikuti saja ide dari suaminya itu. “Ya sudah … nanti cari waktu yang bagus, dan kita pacaran dulu sambil lihat salju,” balas Sara.
Geli rasanya, mereka sudah tidak lagi muda. Namun, justru sekarang keduanya sedang merencanakan untuk pacaran berdua di sela-sela semua aktivitas yang begitu banyak. Akan tetapi, yang disampaikan suaminya benar, mereka membutuhkan waktu untuk refreshing sejenak.
“Pacaran sekalian honeymoon Sayang. Sesekali menikmati kebersamaan sebagai suami dan istri kan tidak masalah. Jika nanti kamu khawatir, aku bisa mendatangkan Mama dan Papa ke sini untuk mengasuh Evan dan Elkan. Tenang saja, semua keluargaku bisa kamu manfaatkan,” balas Belva.
__ADS_1
Sara memeluk suaminya dengan tersenyum, “Aku ngikut kamu saja Mas … yang penting anak-anak bisa ke handle, dan kita gak perlu lama-lama jalan-jalannya soalnya aku juga gak bisa ninggal anak-anak terlalu lama,” balas Sara.
Sekarang dirinya sudah menjadi seorang ibu, sehingga tidak bisa meninggalkan anak terlalu lama. Sejak menikah dengan Belva, untuk urusan anak-anak, Sara sendiri yang memegangnya. Sehingga, Sara mau jalan-jalan dengan suaminya asalkan tidak terlalu lama. Sebab, dia juga tidak bisa jauh-jauh terlalu lama dari anak-anaknya.