Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Mempersiapkan Matang Menjelang Persalinan


__ADS_3

Tidak terasa usia kehamilan Sara sudah 39 minggu. Berdasarkan advice dari Dokter Indri, ketika kehamilan sudah berusia 39 minggu, maka kondisi janin sudah kuat dan sudah mulai beradaptasi dengan dunia luar. Oleh karena, biasanya para Dokter Spesialis Kandungan yang melakukan tindakan operasi di minggu ini.


“Jadi, besok tanggal yang dipilih untuk melahirkan Princess kan?” tanya Belva kepada Sara.


“Iya, gak sabar deh … dan akhirnya caesar lagi,” balas Sara.


Belva pun tersenyum dan mengusapi puncak kepala istrinya itu, “Tidak masalah Sayang … yang penting dan babynya sehat. Kamu sudah punya nama belum untuk putri kecil kita?” tanya Belva kemudian.


“Belum sih … katanya Papa yang mau memberikan nama kepada si baby girl. Jadi enggak?” tanya Sara.


Mendengar jawaban dari Sara, Belva pun tertawa, “Ya sudah … aku yang berikan namanya yah … cuma enggak boleh protes loh,” balas Belva.


“Iya-iya Papa … aku enggak bakalan protes kok. Asalkan namanya indah, dan juga di dalamnya ada harapan dan doa kita untuk bayi kita,” sahutnya.


“Tenang saja, Sayang … aku juga pasti akan memilih nama yang terbaik,” balas Belva. Kemudian Belva menatap istrinya itu, “Besok operasinya jam 15.00 kan? Jadi mau berangkat ke Rumah Sakit jam berapa?” tanya Belva.


“Sehabis makan siang ya Mas, aku sudah pesan untuk make up artist, Mas … aku pengen melahirkan dan tetep cantik. Boleh kan?” tanya Sara.


Rasanya memang aneh, tetapi kali ini bahkan Sara sudah memesan MUA yang akan merias wajahnya terlebih dahulu sebelum melahirkan. Layaknya para artis yang tampil cantik saat hendak melahirkan.


"Tumben sih kamu ini, Sayang ... gak apa-apa sih, cuma jangan tebel-tebel make upnya ya Sayang. Kamu tuh udah cantik," balas Belva.


"Katanya di orang-orang wanita kalau melahirkan wajahnya bakalan jelek, karena usai merasakan kesakitan. Jadi, aku biar tetep cantik kayak artis-artis itu," balas Sara dengan terkekeh geli.


"Siapa bilang? Kamu usai melahirkan Evan dan Elkan, justru makin cantik dan mempesona di mataku," balas Belva.


Mendengar ucapan suaminya, Sara pun memanyunkan bibirnya, "Mana ada ... melahirkan Evan saja, aku kesakitan sepanjang malam, pagi hari barulah si Evan lahir. Itu pasti wajahku sembab, mataku merah, rambut yang acak-acak karena bergerak ke kanan dan ke kiri di atas bantal. Gitu kok cantik," balas Sara.

__ADS_1


Belva pun tersenyum, dan merangkul bahu istrinya itu, "Itu bukti kamu cantik luar dalam. Itu bukti perjuanganmu sebagai seorang Ibu. Di mataku, kamu tuh cantik ... cantik banget," balas Belva.


"Ya, sekarang paling cantik ... cuma besok posisi pertama sudah ditempati Princess," balas Sara.


"Kamu bisa aja ... kamu dan baby girl sama-sama cantik," balas Belva.


***


Keesokan harinya, usai makan siang, Sara dan Belva berpamitan dengan Mama Diana dan juga Papa Agastya, tujuan mereka adalah untuk ke Rumah Sakit. Hari ini adalah hari yang dipilih keduanya untuk melahirkan anak ketiga mereka.


"Kamu enggak makan siang loh Sayang?" tanya Belva kepada istrinya.


"Sejak semalam, aku sudah berpuasa kok Mas ... biasa, kalau caesar kan harus berpuasa dulu. Cuma nanti kalau udah belikan makanan yang enak ya Mas," balas Sara.


"Tenang saja Sayang ... kamu minta apa pun aku belikan," jawab Belva dengan mengemudikan mobilnya.


Baru beberapa saat di kamarnya, ada MUA yang datang dan hendak merias Sara. Belva pun memilih keluar terlebih dahulu dan meminta Sara untuk menghubunginya ketika sessi make-up selesai.


"Make upnya, enggak perlu tebal-tebal ya Kak," pinta Sara kepada seorang wanita yang kini tengah merias wajahnya itu.


"Flawless gitu ya Bu?" tanya MUA itu.


"Iya ... soalnya Suami sudah pesan kalau make-upnya gak usah terlalu tebal," balas Sara.


"Itu karena menurut suami Ibu, Ibu sudah cantik walau tidak mengenakan riasan," balas MUA itu.


Sara hanya tersenyum, wanita itu berbaring dan membiarkan MUA itu menyapukan kuas brush di wajahnya. Pewarna mata berwarna pink yang dipilih oleh MUA tersebut supaya wajah Sara lebih cerah. Selain itu shadding di pipi juga hanya diberikan sedikit saja, tidak terlalu melakukan kontur di tulang pipi Sara, kemudian lipstik yang dipilih MUA itu juga berwarna pink satin yang lembut.

__ADS_1


"Nah, sudah Bu Sara ... adakah yang kurang," ucap MUA itu memberikan cermin dan meminta Sara untuk menatap tampilan sendiri di cermin itu.


Sara tersenyum, puas rasanya dengan hasil riasan dari MUA ini. Dengan demikian, untuk kali pertama Sara sampai heboh bermake-up, merias diri untuk menyambut putri kecilnya.


"Sudah ... gini sudah bagus banget," balas Sara.


Setelah proses make up yang lebih dari 30 menit itu selesai, kemudian dia menelpon suaminya dan meminta suaminya untuk menemaninya di dalam kamar. Belva memasuki kamar, dan pandangannya kini melihat ke Sara.


Pria itu tersenyum dan duduk di samping brankar, "Cantik banget sih Bumil ... menyambut Princess saja se-excited ini," balas Belva.


"Bagus enggak Mas?" tanya Sara lagi.


"Bagus, cantik," jawab Belva dengan menganggukkan kepalanya.


"Jadi enggak apa-apa yah, aku make-upan begini?" tanya Sara.


"Enggak apa-apa, tiap hari bermake-up aku juga tidak masalah kok. Di mata aku, kamu itu selalu cantik. Always!"


Belva menjawab dengan penuh keyakinan dan memberitahukan bahwa di matanya Sara selalu cantik. Dengan atau tanpa make-up, Sara selalu cantik dan mempesona bagi Belva Agastya.


"Sayang, momen kelahiran ini juga kita abadikan yah ... aku sudah minta Abraham untuk mengabadikan momen kelahiran si baby. Biar ada dokumentasinya," ucap Belva.


Sara pun tersenyum, "Tuh, kamu juga excited menyambut baby girl kita. Ya sudah, penting sudah bilang sama Dokter Indri dan pihak Rumah Sakit, Mas," balas Sara.


"Iya sudah ... aman lah kalau itu," balas Belva.


Kali ini baik Belva dan Sara menggunakan cara yang baru untuk menyambut bayi mereka. Berusaha bahagia dalam menyambut anggota keluarga baru bagi mereka. Biarlah momen ini akan selalu diingat oleh keduanya, bahwa si bayi lahir menyempurnakan kehidupan rumah tangga keduanya.

__ADS_1


__ADS_2