
“Hei, Sara … perlu bantuan?” tanya Zaid yang siang itu baru saja datang dari kafe miliknya dan mendatangi Coffee Bay milik Sara.
“Oh, Zai … kamu datang?” tanya Sara.
Pria itu pun menganggukkan kepalanya dan tertawa melihat Sara, “Sudah pasti aku datang … aku kan pengunjung tetap Coffee Bay,” balasnya.
Mendengar jawaban Zaid, Sara dan karyawan lainnya pun tertawa. Tidak mengira bahwa Zaid begitu percaya diri saat ini dengan mengatakan bahwa dia adalah pengunjung tetap Coffee Bay.
“Minta tolong, belikan es kristal boleh enggak?” tanya Sara.
Zaid pun kemudian mengangguk, “Mana … biar aku belikan. Ternyata kedatanganku kemari bermanfaat juga yah. Berhadiah Frappuccino spesial buatanmu yah?” tawar Zaid.
Sara pun kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya … nanti aku buatkan Frappuccino,” balas Sara.
Kemudian Zaid pun segera keluar dari Coffee Bay. Pria itu hendak membeli es kristal. Mereka yang memiliki bisnis minuman tentu begitu tergantung pada es kristal. Untuk itu, memang dalam sehari bisa Sara membeli es kristal membeli dalam jumlah yang banyak. Akan tetapi, karena hujan yang deras, mobil yang biasanya mengiriminya es kristal justru tidak datang. Sehingga tadi karyawannya yang membeli sendiri, dan sekarang Sara meminta tolong kepada Zaid.
“Kak Sara, keliatannya Kak Zaid naksir ya sama Kak Sara? Aku perhatikan kok Mas Zaid kelihatan baik banget sama Kak Sara,” tanya Nina dengan tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan Nina, Sara pun dengan cepat mengelak. “Enggak lah … kami cuma berteman,” balas Sara.
“Jadian juga gak apa-apa loh Kak … mana Kak Zaid kelihatan baik banget gitu. Kalau enggak suka sama Kak Sara, enggak mungkin Kak Zaid ke sini setiap hari,” balas Nina lagi.
Tidak menyangka bahwa Nina memperhatikan Zaid, dan mungkin saja karyawannya yang lain juga memperhatikan gerak-gerik Zaid selama ini.
Menghiraukan ucapan Nina, Sara lantas mempersiapkan Frappuccino untuk Zaid. Sebagaimana permintaan pria itu, Sara akan membuatkan Frappuccino untuk Sara. Lantaran sudah mendekati jam makan siang, Sara mempersilakan Nina dan karyawan lainnya untuk istirahat makan siang terlebih dahulu.
“Kalian makan siang duluan saja, biar aku yang jaga,” ucap Sara.
“Eh, tapi Kak … nanti kalau orderan banyak bagaimana?” tanya Nina.
__ADS_1
“Enggak apa-apa … aku bisa kok. Sudah sana, kalian istirahat dan makan siang dulu saja,” perintah Sara kepada Nina dan teman-temannya.
Menganggukkan kepalanya, akhirnya Nina dan karyawannya mulai meninggalkan Coffee Bay dan akan bersantap siang terlebih dahulu. Sementara, Sara mulai merapikan beberapa hal, dan mengisi setiap bahan yang habis. Bahkan Sara juga mulai melayani beberapa pembeli yang datang.
Beberapa menit setelahnya, tampak sebuah mobil mewah yang berhenti di Coffee Bay. Seorang pria yang mengenakan setelan jas berwarna biru navy turun dari mobil, pria itu tertegun saat membuka pintu Coffee Bay.
“Silakan … selamat dat - - -,” sapa Sara yang biasanya dia ucapkan saat ada pembeli yang datang pun tiba-tiba tertegun. Senyuman di wajahnya pun lenyap seketika.
“Oh, hai, Manis … kita berjumpa lagi,” ucap pria itu dengan menunjukkan senyuman menyeringainya.
Tampak pria itu mengedarkan matanya melihat seisi Coffee Bay itu, dan berjalan mendekat ke arah Sara.
“Jadi, sekarang kamu di sini?” tanya pria itu dengan menatap tajam kepada Sara.
Sara hanya diam dan sama sekali tidak menanggapi pertanyaan pria itu. Yang ada justru Sara ingin segera kabur sekarang juga.
“A … Anthony,” ucap Sara dengan lidahnya yang terasa kelu dan bicaranya pun tergagap.
“Aku bukan peliharaannya,” balas Sara dengan menunduk.
Rasanya begitu sakit ketika ada seseorang yang tahu masa lalumu, tiba-tiba datang dan mengatakan hal yang bukan-bukan. Sara begitu sakit saat Anthony mengatainya sebagai peliharaan Belva Agastya. Dirinya bukan hewan peliharaan yang harus dipelihara. Akan tetapi, bisa-bisanya pria itu memiliki mulut yang begitu tajam dan lagi-lagi merendahkan Sara.
Anthony pun berdecih, “Ckck, jika bukan peliharaan apa namanya? Simpanan? Haa?” sarkas Anthony kali ini.
“Tutup mulutmu itu. Jika kamu tidak ada kepentingan di sini, silakan pergi,” sahut Sara.
Sungguh, Sara begitu malas harus bertemu dengan Anthony apalagi harus beradu mulut dengan pria yang sudah beberapa kali mencoba melecehkannya itu. Jika bisa memilih, Sara tidak pernah ingin terlibat dengan Anthony.
“Hei, katakan padaku Manis … berapa biaya yang harus kugelontorkan untuk memeliharamu setahun?” tanya Anthony dengan begitu kasarnya.
__ADS_1
“Diam kau! Aku bukan hewan peliharaan yang bisa kamu pelihara,” balas Sara.
“Jadi apa namanya? Kamu seorang simpanannya Belva Agastya? Benarkah begitu?” tanya Anthony lagi.
Belum sempat Sara menjawab, Anthony maju bergerak dan segera mencapit dagu Sara dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Melihat Sara yang ketakutan, nyatanya justru membuat Anthony semakin senang. Pria itu agaknya begitu suka menakuti-nakuti Sara.
“Katakan … berapa sewamu? Tinggallah bersamaku satu tahun, dan aku akan membayarmu berapa pun yang kamu mau,” ucap Anthony.
Tidak terasa, kedua mata Sara pun berkaca-kaca. Dia sangat kesakitan saat Anthony menyamakannya dengan hewan peliharaan yang bisa dipelihara begitu saja. Sementara Sara pun bersama dengan Belva dulu dalam keadaan sah terikat pernikahan. Bukan melakukan hubungan gelap.
“Terkutuklah pria sepertimu. Dasar pria berengsek!” balas Sara.
Anthony ingin memajukan wajahnya, mengikis jarak wajah yang tidak seberapa itu. Pandangan matanya beralih dari yang semula menatap mata Sara, kini mata pria itu tengah menatap bibir Sara. Anthony berusaha menyambar bibir itu, tetapi dengan cepat Sara memalingkan wajahnya.
Sungguh, Sara tidak ingin disentuh dan dilecehkan seperti itu. “Lepaskan aku!” ucap Sara dengan sedikit berteriak.
Anthony justru tergelak dalam tawa, pria itu kian mencapit dagu Sara, hingga kuku di ibu jarinya menggores dagu Sara di sana.
“Wanita sialan, murahan, berlagak begitu suci … andai Belva tidak menolongmu dulu, sudah pasti sekarang kamu akan menjadi tawananku,” balas Anthony dengan sorot matanya yang tajam.
“Sampai kapan pun aku tidak akan sudi, aku lebih baik mati daripada kehilangan harga diriku di tanganmu,” balas Sara.
Wah, agaknya sekarang Sara benar-benar memiliki keberanian untuk membalas setiap perkataan Anthony. Kali ini pun Sara tidak main-main, dia lebih baik kehilangan nyawanya daripada kehilangan harga dirinya di tangan Anthony. Akan tetapi, nyatanya dulu Tuhan masih begitu baik padanya karena Belva sendiri yang datang menolongnya.
Anthony kembali mendekat, rasanya pria itu kini benar-benar ingin menyumpal mulut pedas Sara dengan mulutnya sendiri. Merasakan sensasi manis dan hangat dari Sara yang kini bermulut pedas itu. Anthony mengikis jarak wajahnya, dan lagi-lagi Sara mengelak.
“Lepaskan, lepaskan aku!” teriak Sara kali ini dengan berderai air mata.
Jika tahu akan seperti ini, lebih baik tadi Sara tidak membiarkan Nina dan karyawannya untuk beristirahat ketakutan. Di batas ketakutannya, Sara mengharapkan supaya ada seseorang yang menolongnya sekarang ini.
__ADS_1
“Hei, lepaskan Sara! Jangan sentuh dia!” teriak seorang pria yang baru saja memasuki Coffee Bay. Pria yang memiliki tangan kokoh berusaha menyentak tangan Anthony yang masih memegangi dagu Sara.