
Film berdurasi 120 menit akhirnya ditonton Zaid dan Sara malam itu. Setelah nonton film, rupanya Zaid tidak langsung mengajak Sara untuk pulang, melainkan membawa wanita itu ke sebuah kafe. Tentu mengakhiri momen yang terasa seperti saturdate ini harus ditutup dengan makan bersama.
“Kita makan dulu ya Sara … abis ini aku akan mengantarmu pulang,” ucap Zaid.
Tanpa menunggu persetujuan Sara, Zaid sudah menghentikan mobilnya di sebuah kafe. Hari memang telah malam, ditambah lampu-lampu taman yang temaram justru membuat kafe tersebut terkesan romantis. Zaid memilihkan menu Beef Tenderloin Steak untuk dirinya dan Sara. Sementara untuk minumannya lagi-lagi Zaid memilihkan Frappucino untuk wanita itu.
Menunggu kurang lebih sepuluh menit, hidangan pun telah tersaji di hadapan mereka.
“Ayo makanlah,” ucap Zaid.
“Makasih Zai,” balas Sara.
Dentingan garpu dan pisau makan yang terdengar. Sementara Sara lebih memilih menikmati makanannya. Itu juga karena dirinya seharian ini belum sempat makan karena pembeli di Coffee Bay yang sangat ramai, sehingga Sara turun langsung untuk membantu karyawannya.
Daging tenderloin yang juzzy berpadu dengan saus mushroom yang lezat, seakan membuat Sara begitu menikmati hidangan yang sudah dipilihkan Zaid itu.
“Kamu lapar?” tanya Zaid dengan tiba-tiba.
Sara pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya … siang tadi aku belum sempat makan siang,” balas Sara dengan jujur.
Mendengar jawaban Sara, Zaid lantas menaruh pisau makan dan garpunya, kemudian menatap Sara, “Jangan seperti itu … kamu pun masih menjadi Ibu Susu untuk putramu kan, jadi jaga kesehatan dan pola makan,” ucap Zaid.
Apa yang dikatakan Zaid ada benarnya, karena Sara masih menjadi Ibu Susu bagi putranya. Zaid tahu karena Sara berkata jujur bahwa dirinya masih menjadi Ibu Susu untuk putranya yang berada dalam pengasuhan mantan suaminya. Ibu susu membutuhkan nutrisi dan kalori. Untuk itulah, Zaid mengingatkan Sara.
“Iya benar … hanya saja, tadi pembeli di Coffee Bay banyak banget. Hilir mudik. Jadi, aku turun langsung untuk membantu Nina dan kawan-kawan. Sepanjang hari berdiri dan melayani orderan dari pembeli,” balas Sara.
“Sibuk boleh … sebenarnya kamu punya opsi untuk menambah pegawai dan memberi dirimu untuk istirahat. Berapa bulan lagi kamu menjadi Ibu Susu bagi putramu itu?” tanya Zaid tiba-tiba.
__ADS_1
“Euhm, mungkin 4 bulan lagi. Ya, 4 bulan lagi tepat dia berusia 2 tahun dan sudah lepas ASI,” balas Sara.
Waktunya nyatanya memang berjalan kian cepat. Evan yang beberapa waktu lalu usai berulang tahun, nyatanya sudah hampir berusia 2 tahun dan bisa lepas ASI.
Mendengar jawaban Sara, Zaid pun menganggukkan kepalanya, “Oleh karena itu … jaga kesehatan dan makanan yang kamu konsumsi. Nutrisi yang lengkap dan seimbang kan bagus juga untuk putramu,” jawab Zaid.
“Kamu tidak sakit hati saat bertanya tentang putraku?” tanya Sara perlahan.
Dengan cepat Zaid pun menggelengkan kepalanya, “Tidak … untuk apa aku sakit hati. Lagipula, aku ini bisa dan sudah memaklumi masa lalumu. Aku menerima semuanya tentangmu,” ucap Zaid.
Mendengar ucapan Zaid, Sara pun menatap pria yang duduk di hadapannya itu. Jujur, hati Sara pun tersentuh. Tidak mengira bahwa Zaid akan mengatakan demikian.
"Zai, jangan begitu," balas Sara.
Sara hanya tidak ingin memberikan harapan untuk Zaid. Lagipula, seakan Sara untuk terlibat dengan pria lagi. Usai menuntaskan kisahnya dengan Belva dulu, Sara bahkan berpikiran untuk tidak lagi menikah. Memilih hidup selibat, dan tidak menikah.
"Aku berkata dengan sungguh-sungguh Sara … mencintai berarti memaklumi masa lalu. Aku pun melakukannya, aku menerima kamu dan juga masa lalumu. Sekali pun kamu pernah gagal di masa lalu, dan kamu memiliki seorang putra, tidak masalah bagiku," ucap Zaid dengan sungguh-sungguh.
"Sara, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Zaid dengan tiba-tiba.
"Iya, boleh," jawab Sara.
"Apa kamu mencintai mantan suamimu dulu?" tanya Zaid.
Mendengar pertanyaan Zaid, lidah Sara terasa begitu kelu. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan dari Zaid ini. Sesak rasanya jika harus berbohong.
Perlahan Sara pun mengambil nafas dalam-dalam, dan mengangkat wajahnya menatap Zaid di depannya.
__ADS_1
"Ii … iya, aku pernah memiliki perasaan pada pria itu," jawab Sara.
Ah, dari sini Zaid sadar bahwa Sara memiliki perasaan kepada mantan suaminya dulu. Lagipula, benar tidaknya sebuah hubungan, tetapi melihat Sara yang hamil, sudah tentu ada perasaan saling sayang dan cinta dari keduanya bukan. Tidak mungkin pasangan melakukan hubungan seintim itu tanpa ada getar-getar perasaan di dalam hati mereka.
"Dan, kamu masih mengharapkannya sekarang?" tanya Zaid lagi.
Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak … aku tidak lagi mengharapkan karena aku tahu bahwa hatinya bukan untukku. Aku tidak akan bertahan untuk pria yang tidak memberikan hatinya untukku," balas Sara dengan yakin.
"Sekarang ada pria yang memberikan hatinya, hidupnya, dan nafasnya sepenuhnya untukmu. Apakah kamu tidak mau menerima pria itu?" tanya Zaid.
Tentu pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan jebakan. Sebab, Zaid mendengar jawaban Sara bahwa wanita itu tidak bertahan dengan mantannya karena hati pria itu yang tidak sepenuhnya untuknya. Sekarang di hadapannya ada pria yang mencintai Sara dengan tulus, maukah Sara menerima pria itu?
"Zaid, bukan maksudku demikian," balas Sara.
Tidak terasa kedua mata Sara berkaca-kaca, dicintai orang sebesar ini sangat menyenangkan. Akan tetapi, jika tidak bisa membalas perasaan pria itu bukan membuatnya begitu bersalah. Namun, bagaimana lagi perasaan di dalam hati tidak bisa dipaksakan dan Sara masih belum bisa menerima Zaid.
Perlahan Zaid pun tersenyum, "Tidak apa-apa, tidak masalah. Lagipula, aku tidak menekanmu. Aku akan terus berjuang. Satu bulan bahkan satu tahun tidak masalah bagiku," balas Zaid.
"Zai, jangan seperti itu. Jujur, aku takut mengecewakan kamu," sahut Sara.
Setidaknya Sara pernah berada pada cinta bertepuk sebelah tangan. Oleh karena itu, Sara sangat takut jika Zaid pun merasakan hal itu karena dirinya. Dia tidak ingin menyakiti Zaid, tetapi menerima perasaan pria itu dan berpura-pura jatuh cinta juga tidak bisa Sara lagi.
Bukannya Sara hanya diam di tempat. Tidak. Beberapa kali, Sara berbicara dengan hatinya sendiri. Berusaha membuka hati dan menerima Zaid, tetapi sejauh apa pun dia berusaha nyatanya tidak bisa.
"Tidak apa-apa. Aku akan menerimanya. Bukankah aku ini cukup baik, Sara … aku mau memaklumi dan menerima masa lalumu, menerima kamu apa adanya. Pria sepertiku ini limited editions," balas Zaid dengan tertawa.
"Benar, kamu itu limited editions, Zai …," balas Sara.
__ADS_1
"Benarkan … jadi ya tidak masalah, karena pria limited editions ini memiliki jiwa pe-ju-ang. Santai saja," jawab Zaid.
Memang sudah terbukti Zaid adalah pejuang yang tangguh. Usahanya untuk mendapatkan Sara juga tidak main-main. Layaklah dia menyandang sebagi seorang pria tangguh limited editions.