Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Perasaan Sakit


__ADS_3

Dengan perlahan, Belva menggendong tubuh Sara. Membawanya perlahan menyusuri rumahnya, menaiki anak tangga, hingga akhirnya Belva menurunkan Sara di atas tempat tidurnya di kamar Sara. 


Lantas Belva memilih melepaskan jas tuksedo yang dia kenakan terlebih dahulu, pria itu lantas menggulung lengan kemeja putih yang dia kenakan hingga ke siku. Setelahnya, Belva bergerak mencari kotak P3K, mencari sebuah salep untuk mengobati sudut bibir Sara. 


Pria itu memejamkan matanya sejenak, melihat luka di sudut bibir Sara. Lantas, Belva mengikis jarak wajahnya. Pria itu terlebih dahulu, menyapa bibir Sara. Memagutnya begitu lembut, mengecupi bibir Sara perlahan, dan menyesap lipatan atas dan bawahnya bergantian. Seolah dia ingin menghilangkan jejak ciuman Anthony di bibir Sara. 


Saat Belva menciumnya, reaksi Sara justru menangis. Derai air matanya seakan tidak berhenti, hingga dadanya terasa sesak. Wanita itu nyatanya justru sesegukan saat Belva mencium bibirnya. 


"Dimana lagi dia menyentuhmu?" tanya Belva kali ini. 


Sara menggeleng, tak ingin menjawab. Hatinya terlampau sakit saat ini.


"Ganti pakaianmu terlebih dahulu," instruksi Belva kali ini. 


Nyatanya bukan berganti pakaian, Sara justru memilih mengguyur badannya. Berharap dinginnya air shower yang mengguyur badannya sekarang ini bisa mendinginkan hati dan pikirannya sekarang ini. 


Kurang lebih selama lima belas menit, Sara keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan piyama tidur dan rambutnya yang basah karena Sara memang memilih keramas. Tidak disangka, saat dirinya keluar dari kamar mandi, Belva sudah berada di dalam kamarnya. 


"Kenapa lama sekali?" tanya Belva kali ini. 


Akan tetapi, Sara hanya diam dan memang tidak ingin merespons pertanyaan Belva. 

__ADS_1


Wanita itu memilih mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dan kemudian mengaplikasikan serum di wajahnya, matanya yang sembab dan memerah terlihat jelas di sana. Hanya saja, Sara akan mengabaikan itu sejenak, dan buru-buru mengaplikasikan serum itu. 


Setelahnya, Sara kemudian memilih duduk di tepian ranjang. Rasanya begitu lelah, karena itulah Sara memang berniat untuk tidur. 


Akan tetapi, Belva justru menahan Sara, mengambil sedikit salep dengan cotton bud dan mengoleskannya perlahan. 


Rasa perih seketika terasa di sudut bibir Sara, hingga wanita itu mendesis, "Ssshhs," desisnya dengan mata yang tampak berkaca-kaca. 


Belva tahu pasti bagaimana sakitnya hati Sara saat ini, sehingga usai mengobat bibir Sara, Belva pun segera merengkuh tubuh Sara dalam pelukannya. 


Namun, kali ini Sara menolak, wanita itu mendorong dada Belva. 


"Jangan sentuh aku," ucapnya kali ini. 


Namun, lagi-lagi Sara tampak menghindar, dan memalingkan wajahnya yang mulai berderai air matanya. 


"Tolong tinggalkan aku," pinta Sara kali ini dengan terisak. 


"Tidak, aku akan selalu di sini. Menemanimu ... katakan yang sejujurnya Sara, aku akan membuat perhitungan dengan Anthony," ucap Belva kali ini. Tampak rahang pria itu mengeras saat menyebut nama Anthony. 


Akan tetapi, Sara menggelengkan kepalanya, "Yang dia katakan benar, Pak ... aku hanya seorang pelayan bar murahan yang nyatanya aku sekarang pun menjual diriku kepadamu," ucapnya dengan tersedu-sedan. 

__ADS_1


Ya, itulah perasaan Sara kali ini. Jikalau dulu saat masih bekerja di bar, beberapa pria berusaha menatapnya lapar dan menyentuhnya. Kali ini, nyatanya Belva lah yang kian gencar menyentuhnya. Sekali pun dalam ikatan pernikahan hanya saja tanpa cinta yang mendasari ikatan ini. Hanya sebatas kesepakatan dua belah pihak. 


"Diam Sara, tenanglah ... kamu bukan wanita seperti itu," sahut Belva yang berusaha menenangkan Sara. 


Akan tetapi, Sara justru menggelengkan kepalanya, "Jikalau dulu, para pria berusaha meraba tubuhku, melecehkanku, dan sekarang aku pun menjual diriku kepadamu. Bukan harga yang murah, lima milyar, ya itu harga yang kau berikan padaku," sahut Sara dengan menekan dadanya yang terasa begitu sesak di sana. 


Apa yang diucapkan Sara barusan seolah menampar wajah Belva. Pria itu terkesiap, tidak menyangka bahwa Sara akan mengatakan demikian. Belva mengusap kasar wajahnya, menatap Sara dengan pandangannya yang tajam, "Apa yang kamu katakan, Sara?" tanyanya dengan lirih kepada Sara.


Kali ini bukan hanya Sara yang tersakiti, Belva pun dirinya kesakitan. Tidak mengira bahwa posisi dirinya di hadapan Sara sama dengan para pria di sana yang mencoba menawar Sara dengan Rupiah yang tinggi. 


Kendati demikian, Belva masih berusaha untuk menenangkan Sara, "Apa yang kamu katakan tidak benar Sara ... apa tidak pernah menganggapmu demikian. Kamu berbeda Sara, di mataku kamu tidak seperti ini," ucap Belva yang berusaha menenangkan Sara. 


"Tidak ada bedanya Pak, dulu para pria hidung belang menatap lapar menawarkan Rupiahnya padaku. Sementara Pak Belva juga datang dengan tawaran menggiurkan padaku. Apa yang diucapkan Anthony benar. Dia telah menyadarkanku kembali pada posisiku. Aku hanyalah seorang pelayan bar murahan," pekik Sara kali ini. 


Ya Tuhan, rasanya begitu sakit. Hanya saja memang itulah kenyataan pahit yang harus dialami Sara sekarang ini. 


Tanpa menunggu lama, Belva kini mendekati Sara merengkuh tubuh yang rapuh itu dalam pelukannya. 


"Kamu bukan seperti itu Sara... di mataku, nilaimu jauh lebih tinggi. Kamu wanita terhormat, aku sangat menghormatimu, Sara. Tolong dengarkan aku kali ini, sama sekali aku tidak pernah memandangmu rendah," ucap Belva dengan lembut. Pria itu juga berkata dengan sepenuh hatinya. Sejak awal melihat Sara, menolong Sara waktu itu, Belva sangat yakin bahwa Sara adalah wanita yang terhormat. 


Benarkah pengakuan dari Belva tersebut? Hati Sara berdesir, seakan mencari jawaban pasti bahwa Belva memang memandangnya dengan cara yang berbeda. Menilainya bukan sebagai mantan pelayan bar yang murah, melainkan sebagai wanita terhormat. 

__ADS_1


"Percayai aku, Sara... untuk membuktikan ucapanku, mulai malam ini aku tidak akan menggumulimu lagi. Aku akan menjagamu. Menjaga kehormatanmu sebagai seorang wanita. Kamu terlalu berharga bagiku, Sara ... kamu boleh membuktikan ucapanku ini. Jangan terlalu bersedih, kasihan Little One di dalam rahimmu ini," ucap Belva lagi. 


Sayangnya Sara hanya bisa berderai air matanya, wanita itu menangis sesegukan di dada Belva. Saat masa lalumu yang kelam kembali terkuak, menyisakan rasa perih yang tak berkesudahan. Rasa sakit yang seolah kembali menekan Sara bahwa sekali pun dress yang dia kenakan begitu mahal, dandanannya begitu cantik, tetapi semua itu tidak bisa menyembunyikan fakta dari mana dia berasal. Dirinya tetaplah wanita kelas rendahan, mantan pelayan di bar yang selalu dipandang hina oleh orang-orang di luar sana. Apa yang barusan terjadi saat ini membuat Sara sadar, bahwa dirinya tidak layak berdiri di samping Belva. Terdapat jurang pemisah yang dalam di antara keduanya, jurang yang tak mampu dia selami kedalamannya. 


__ADS_2