
***Dua Tahun Kemudian ... ***
Tidak terasa bahwa waktu benar-benar bergulir. Sara masih menikmati kesendiriannya, tetapi di satu sisi wanita itu telah berhasil mendirikan Coffee Bay di beberapa kota. Dimulai dari Bogor, bisnis Coffee Bay membuka cabang baru di Bandung, dan Cirebon. Bahkan omset yang didapatkan Sara dikatakannya begitu besar. Untuk hidupnya sendiri, Sara memilih membeli sebuah perumahan sederhana berlantai satu yang berada di Bogor. Pikirnya dia hanya tinggal sendirian dan rumah kecil satu lantai cukup untuk dia tinggali.
Zaid sendiri masih terjebak dalam perasaannya. Pria itu masih beberapa kali mengunjungi Coffee Bay, tetapi kafe milik Zaid pun juga mulai membuka cabang di tempat-tempat yang baru. Sehingga memang Zaid jarang untuk bertemu dengan Sara. Kendati demikian hubungan keduanya tetap bagus.
Siang ini, Sara berniat ke Coffee Bay sebentar dan setelahnya dia ingin berjalan-jalan ke Mall sebentar. Sekadar melepaskan penat dan juga melihat-lihat apa yang sedang trend di Mall sekarang ini
"Gimana Nina, aman?" tanyanya kepada Nina, kasirnya.
"Iya Kak, aman kok. Semua bisa kami handle dengan baik," jawab Nina.
"Ok, good ... kalau aku tinggal sebentar gak apa-apa kan Nin?" tanya Sara.
Sekalipun Sara adalah bosnya, tetapi jika dia ingin keluar Sara selalu membicarakannya dengan Nina terlebih dahulu. Setidaknya jika Coffee Bay ramai, Sara bisa terjun langsung untuk membantu karyawannya.
"Aman Bu Bos, semuanya bisa berjalan lancar kok," sahut Nina lagi. "Kak Zaid lama enggak kesini ya Kak Sara?" tanya Nina dengan tiba-tiba.
Memang kali ini sudah lebih dari dua minggu Zaid tidak mengunjungi Coffee Bay. Jadi pantas saja Nina dan karyawan yang lain menanyakannya. Sebab, biasanya Zaid seakan menjadi pengunjung tetap di Coffee Bay. Saat pria itu lama tidak menunjukkan batang hidungnya, para karyawan pasti akan menanyakannya.
"Oh, si Zaid baru ke Surabaya untuk mempersiapkan soft opening kafenya di sana. Jadi maklum dia sangat sibuk," jawab Sara.
__ADS_1
Setelah memastikan semuanya aman, Sara lantas berpamitan kepada Nina dan karyawan lainnya untuk pergi ke salah satu Mall yang tempatnya tidak jauh dari Coffee Bay.
Sara pun mulai menaiki mobilnya, sebuah mobil bertipe city car berwarna merah dan mulai menelusuri jalanan di kota Bogor. Cuaca yang mendung bisa saja membuat Bogor akan segera diguyur hujan. Akan tetapi, Sara berharap hari ini tidak akan turun hujan karena Sara tidak suka menyetir mobil dalam keadaan hujan.
Hanya kurang lebih 15 menit berkendara dan sekarang Sara sudah tiba di Mall yang berada dekat dengan Kebun Raya Bogor itu. Sara berjalan-jalan ke Mall bukan hanya sekadar shopping, tetapi sekaligus melihat berbagai makanan dan minuman yang sedang hits di Mall. Dengan demikian, Sara pun bisa memikirkan berbagai varian baru untuk Coffee Bay.
Akan tetapi, sebelum Sara menuju tempat makan di Mall tersebut. Atensi Sara teralihkan pada sebuah outlet yang menjual berbagai pakaian dan mainan anak. Sara berdiri di luar outlet tersebut memandangi mannequin yang mengenakan pakaian anak laki-laki berupa celana jeans, kaos, dan kemeja kotak-kotak itu.
"Kamu sekarang sudah setinggi apa Van? Apakah mungkin kamu sudah setinggi pinggangnya Bunda? Beberapa bulan lagi kamu akan berusia 4 tahun, Evan. Bunda ingin tahu kabarmu ... Bunda ingin datang dan menemui kamu, Evan. Kira-kira kata pertama apa yang kamu ucapkan Van? Apakah kata Papa, Mama, atau Bunda? Selama empat tahun ini, Bunda selalu menggenggam rindu untukmu, Van ... aku selalu merindukanmu, tetapi Bunda tidak punya keberanian untuk menemui kamu. Mungkinkah kita bisa bertemu secara tidak sengaja, Van? Bunda kangen kamu, Evannya Bunda. Hanya sekadar membayangkan kamu saja, hati Bunda terasa sakit, Van. Rindu tapi tak bertemu. Rindu tapi tak pernah terobati," batin Sara dalam hati.
Saat Sara tengah larut dalam pikirannya dan kerinduannya terhadap Evan, seorang SPG di outlet tersebut mendatangi Sara.
"Silakan Kak, koleksi baju-baju anak terbaru. Bisa dilihat terlebih dahulu, Kak," ucap SPG tersebut.
Akhirnya Sara pun memasuki outlet tersebut dan melihat koleksi pakaian anak laki-laki berusia 4 tahun. Jika ada yang bagus, Sara akan membelikannya untuk Evan. Beberapa saat melihat-lihat, Sara pun membelikan celana jeans, kaos, dan kemeja untuk Evan. Sebenarnya Sara juga ingin sekaligus membelikan sepatu untuk Evan, tetapi Sara tidak mengetahui ukuran kaki Evan.
Keluar dari oultet dengan membawa beberapa paper bag yang berisikan beberapa potong pakaian untuk Evan.
"Nanti Bunda akan kirimkan ke rumah Papa dan Mamamu ya Evan ... semoga kamu suka. Evannya Bunda ... maaf Bunda hanya bisa membelikan semua ini untukmu, tetapi Bunda belum bisa menemuimu. Sekali lagi maafkan Bunda, Evan. Justru Bunda berharap bisa bertemu denganmu tanpa sengaja. Bunda punya kesempatan untuk memeluknya walau hanya sesaat," gumam Sara dengan lirih.
Akhirnya, Sara melanjutkan niat awalnya untuk melihat di berbagai stand makanan yang berada di Mall itu. Sara melihat adanya banyak makanan kekinian seperti Corn Dog, Croffle, Bruule Bomb, dan lain-lain. Setidaknya dengan melihat-lihat seperti ini, Sara tahu mana yang menjadi selera pasar. Sara bisa mempertahankan signature dish-nya, tetapi dengan menambahkan varian baru yang bisa menarik pelanggan.
__ADS_1
Setelahnya, Sara memilih duduk-duduk sebentar sembari mengecek handphonenya. Barang kali ada pesan masuk dari Nina dan cabang Coffee Bay lainnya. Terkadang memberi diri waktu untuk sendiri, memasrahkan Coffee Bay kepada para karyawannya perlu diambil juga oleh Sara. Break sejenak dari rutinitas tengah dilakukan Sara saat ini.
***
***Sementara itu di Jakarta ... ***
Agastya Property sedang mempersiapkan sebuah projek yang akan mereka buka di kota Bogor. Ridwan, sekretarisnya Belva menginfokan jadwal untuk pengecekan lahan di Bogor.
"Pak Belva, pekan depan ada jadwal untuk survei lahan di Bogor, terkait dengan projek yang akan dikembangkan Agastya Property di sini," jelas Ridwan.
Belva pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah, berapa lama kita harus di Bogor?" tanya Belva.
"Tiga hari sudah cukup, Pak Belva. Selain itu ada pertemuan dengan investor di Bogor, jadi bisa sekalian," jelas Ridwan.
Dalam mengembangkan sebuah projek memang terkadang membutuhkan para investor yang menginvestasikan sebuah uangnya untuk mengembangkan sebuah projek. Kali ini memang Belva akan sekaligus menemui investor di sana.
"Oke baiklah, aku akan ke Bogor selama tiga hari," balas Belva.
"Bagaimana dengan Evan, Pak Belva?" tanya Ridwan kemudian.
"Biar dia ikut saya ke Bogor, hanya tiga hari kan? Tidak masalah, jika hanya tiga hari. Sekaligus Evan bisa jalan-jalan ke Bogor," balas Belva.
__ADS_1
Agaknya Belva harus mempersiapkan kepergiannya ke Bogor bersama Evan yang akan dia ajak selama tiga hari. Sekalipun Jakarta - Bogor begitu dekat, tetapi bagi pengusaha super sibuk seperti Belva bepergian selama tiga hari terbilang sangat merepotkan. Untuk itu, dia akan mempersiapkan diri dan waktu jauh-jauh hari sebelumnya.