Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Sunrise di Pulau Dewata


__ADS_3

Malam itu, begitu banyak yang Sara dan Belva urai dalam cerita. Sekaligus Sara pun tahu bahwa sejak dulu, tanpa sepengetahuannya Belva sering mencuri kesempatan untuk memfotonya. Beberapa foto bisa Sara lihat dari folder di galeri penyimpanan handphone Belva itu.


“Kamu berbakat juga jadi Paparazi ya, Mas,” celetuk Sara kali ini. 


Melihat foto-foto di handphone suaminya itu, membuat Sara menganggap bahwa suaminya itu memang berbakat untuk menjadi seorang Paparazi. 


“Kamu bisa aja,” sahut Belva. “Sambil berbaring yuk Sayang … capek,” lanjut Belva kali ini. Beberapa waktu lamanya duduk bersama memang membuat Belva kecapekan. Rasanya ingin sekali rebahan di ranjang yang empuk.


“Yuk, Mas … pinggangku juga capek buat duduk terus,” balas Sara.


Keduanya kemudian beranjak dari sofa, menuju ke ranjang yang berada di Villa itu. Cuaca tropis di Bali membuat Belva mengatur AC di villa itu dengan suhu yang lebih rendah.


“Sini Sayang … rebahan sini, biar enggak capek. Besok kamu mau ngapain? Mumpung kita liburan, aku bisa meluangkan waktu untuk kamu,” ucap Belva yang kini sudah berbaring dan memeluk Sara.


“Bangun pagi yuk Mas … mumpung di Bali, jalan-jalan pagi di pantai sambil melihat matahari terbit,” ucap Sara.


Belva pun menganggukkan kepalanya, “Boleh … buat Bumilku ini sudah pasti boleh. Besok pagi yah, kita jalan-jalan bersama di pantai yang tadi dan menyambut matahari terbit bersama,” balas Belva. “Sekarang tidur dulu yah, besok bangun lebih pagi kalau mau lihat sunrise. Selamat tidur Cintaku, aku peluk sepanjang malam ini," ucap Belva lagi sembari mengecup kening Sara dan mendekap tubuh istrinya itu dengan erat. 


Membiarkan malam membuai keduanya dalam tidur yang nyenyak. Saling memeluk, saling berbagi kehangatan, hingga tidak terasa alarm di handphone Belva berbunyi jam 05.00 Waktu Indonesia Tengah. 


Mendengar bunyi alarm dari handphonenya, Belva terbangun. Pria itu tersenyum melihat Sara yang masih berbaring di sampingnya. Kemudian perlahan, Belva beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya terlebih dahulu. Setelahnya, perlahan-lahan Belva membangunkan Sara yang masih tertidur. 


"Sayang, bangun yuk … jadi lihat sunrise enggak?" ucap Belva yang berusaha membangunkan istrinya itu. 


Rupanya hanya sekadar mendengar suara Belva dan usapan lembut di keningnya saja, membuat Sara mengerjap. Kelopak mata wanita itu perlahan terbuka, "Mas," sapanya dengan lirih. 


"Jadi lihat sunrise enggak?" tanya Belva lagi kepada Sara. 

__ADS_1


"Jadi," balas Sara dengan singkat. 


"Ya sudah … bangun dulu, biar enggak pusing. Sehabis itu cuci muka dulu yah," balas Belva. 


Sara pun lantas mulai beringsut dan bersandar sejenak di headboard dan merapikan rambutnya. Setelah beberapa saat berlalu, Sara menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan menggosok gigi. Kemudian Sara mengambil cardigan dari kopernya dan menggunakannya. Pikirnya walau cuaca tropis di Bali terasa terik, tetapi angin laut yang datang dari laut menuju ke daratan tetap akan terasa dingin. 


"Sekarang yuk Mas," ajak Sara kali ini. 


Belva pun menganggukkan kepalanya, dengan segera Belva menggandeng tangan Sara, mengajak istrinya itu berjalan-jalan di bibir pantai. Pagi masih begitu redup, tetapi Belva dan Sara sudah bersiap di pantai yang berada di sisi resort itu. Terpaan angin laut, kicauan burung samar, dan juga sapaan ombak dengan buihnya menjadi pemandangan yang begitu indah bagi Sara. Kali pertama bagi Sara berjalan-jalan sepagi ini di bibir pantai. 


"Masih redup ya Mas," ucapnya kali ini. 


"Iya, kalau di Jakarta masih jam 05.00 Waktu Indonesia Barat, Sayang. Sekarang sudah jam 06.00, sebentar lagi surya akan terbit dari Timur," balas Belva. 


Pagi yang begitu redup, perlahan tampak warna kuning kenikir di ufuk Timur. Perlahan-lahan semburat jingga di langit muncul. Di kala pergantian dari redup ke terang itu, Belva kemudian berdiri di belakang Sara. Pria itu mendekap tubuh Sara dengan begitu eratnya. Keduanya sama-sama memandang Penjaga Siang yang baru saja terbit dengan pesona yang gilang-gemilang. Sungguh indah. 


"Arunika," ucap Sara dengan lirih. 


"Hmm, apa Sayang?" tanya Belva yang tidak paham dengan apa yang diucapkan istrinya itu. 


"Sunrise itu nama lainnya Arunika, Mas. Bagus yah?" ucapnya sembari tersenyum. 


"Oh, padanan kata yah?" tanya Belva. 


"Iya … kalau senja ada juga padanan katanya," balas Sara lagi. 


"Apa Sayang?" tanya Belva dengan cepat. 

__ADS_1


"Swastamita. Biasanya para sastrawan menggunakan kata Swastamita untuk senja, dan Arunika untuk matahari terbit," jelas Sara kali ini. 


Walau tidak sepenuhnya paham, Belva tetap menganggukkan kepalanya dan kian mempererat dekapannya di tubuh Sara itu. 


"Kamu bisa tahu kata-kata indah kayak gitu? Aku sampai heran dengarnya," tanya Belva. 


"Dari baca novel sih, Mas," jawab Sara sembari tertawa. Baru kali ini Sara mengakui kepada suaminya bahwa dirinya terkadang menghabiskan waktu luang untuk membaca novel. Mengisi hari dengan membaca cerita.


Belva kembali menganggukkan kepalanya, rupanya memang Sara terkadang menghabiskan waktu dengan membaca novel. Tidak heran, Sara bisa menemukan kata-kata yang begitu puitis itu. Namun, Belva juga keberatan. Mungkin saja Sara memang membaca novel untuk mengisi waktu luang.


"Aku sudah memenuhi permintaan Bumilku ini untuk melihat senja yah," ucap Belva kali ini. 


"Iya Mas, terima kasih," balas Sara. 


"Ada lagi yang ingin kamu lakukan mumpung kita ada di Bali?" tanya Belva kali ini.


"Apa pun bersamamu, aku suka kok, Mas. Yang penting isi waktu bersama Evan juga. Sebab, Evan juga membutuhkan liburan," balas Sara.


Sara tidak ingin egois. Ada Evan juga yang harus mendapatkan porsi liburan. Evan juga membutuhkan liburan. Terlebih saat Adiknya sudah lahir nanti, akan susah mencari waktu untuk liburan keluarga.


Kemudian wanita itu memiringkan kepalanya, dan satu tangan membawa wajah Belva kian mendekat ke arahnya. Sara mendaratkan sebuah kecupan di bibir Belva. Wanita itu memejamkan matanya, dan satu tangan membelai sisi wajah Belva. Membiarkan bibirnya bertengger sejenak di tengah-tengah dua lipatan bibir suaminya itu. Saat surya menyapa buana dengan sinarnya, Sara pun menyapa suaminya itu dengan memberikan kecupan yang hangat di bibir suaminya itu.


Chup! 


"Bersamamu, dan memelukmu seperti ini menyambut matahari pagi kian indah," ucap Sara. 


Ya, menyambut pagi dengan kekasih hati. Saling memeluk, saling mendekap hangat, membuat keduanya sama-sama terpesona dengan keindahan matahari terbit yang membiaskan cahaya cinta untuk keduanya. Sunrise yang begitu indah di Pulau Dewata. Sara dan Belva pun berbagi dekapan yang hangat, sehangat surya yang menyapa di pagi itu. 

__ADS_1


__ADS_2