Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Mempertimbangkan Perasaan


__ADS_3

Kembali dari Memorial Park, kini Belva, Sara, dan Evan telah kembali ke Jakarta. Tentunya kembali ke kediaman Belva Agastya. Sara lebih banyak diam selama dalam perjalanan. Akan tetapi, Sara tetap terlibat obrolan bersama dengan Evan putranya.


“Mama, Mama tidak kembali ke Bogor hari ini kan?” tanya Evan kini.


Tampaknya saat Evan menanyakan itu, Belva pun terlihat melirik Sara dari kaca spion tengah atau center mirror di dalam mobilnya. Belva tahu bahwa Evan menanyakan itu bisa terjadi karena dua hal. Yang pertama karena dirinya masih sakit, yang kedua Evan masih merindukan Sara dan tidak ingin berpisah dengan Mamanya itu.


“Singgahlah sampai Evan benar-benar sembuh,” ucap Belva dengan tiba-tiba.


“Aku tidak membawa pakaian ganti,” jawab Sara.


Faktanya Sara memang hanya sling bagnya saja. Tidak membawa baju ganti. Sebab pikirnya cukup satu hari berada di Jakarta untuk menengok Evan. Tidak mengira ternyata putranya itu masih ingin bersama dengannya.


“Masih banyak pakaianmu di rumahku,” ucap Belva kemudian.


Begitu sampai di rumah, nyatanya Evan kembali menangis karena takut Sara akan pergi dan meninggalkannya lagi.


“Mama … Mama jangan pergi, Ma … Evan mau sama Mama,” pinta anak itu dengan terisak dan mengucek matanya yang berair karena menangis.


Melihat Evan yang menangis, hancur juga hati Sara. Wanita itu pun segera menggendong Evan.


“Cup-cup-cup … Evan jangan nangis dong. Iya, Mama akan temenin Evan sampai Evan sembuh yah,” balas Sara.


Evan pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum, “Okey Ma … thank you,” balasnya.


Begitu sampai di kamar Evan, Sara lantas memandikan putranya itu dengan air hangat. Menggantikan bajunya, dan kemudian menyuapi Evan untuk makan.


“Sehabis ini minum obat dan tidur ya Evan. Supaya Evan lekas sehat,” ucap Sara sembari menyuapi Evan dengan telaten.


“Mama janji kan tidak akan pergi?” tanya Evan lagi.

__ADS_1


“Iya, Mama akan temani kamu sampai kamu benar-benar sehat,” jawab Sara.


Evan pun mengangguk. Anak itu segera menghabiskan makan malamnya dan segera meminum obat berupa Paracetamol dan Oral Suspensi yang sudah diresepkan oleh Dokter sebelumnya.


Hampir jam 20.30, barulah Evan tertidur. Kemudian Sara berniat untuk keluar dari kamar Evan. Rupanya Belva sudah berdiri di depan kamar Evan.


“Evan sudah tidur?” tanyanya.


“Iya, sudah … sudah minum obat juga,” jawab Sara.


“Syukurlah … seharian ini dia sudah tidak demam, berkatmu,” sahut Belva.


“Itu karena Evan pintar mau makan sayuran dan minum obat,” jawab Sara.


“Sekarang, kamu yang harus istirahat … ayo, aku antar ke kamarmu,” ucap Belva.


Sara menganggukkan kepalanya dan dia mengikuti Belva berjalan dari belakang. Mata Sara terpaku pada punggung tegap milik Belva yang berjalan beberapa langkah di hadapannya. Sara juga tahu ke mana mereka berjalan sekarang ini, rupanya itu adalah arah ke kamarnya dulu. Ya, kamar yang dia tempati selama 12 bulan di rumah Belva.


Pertama kali Sara memasuki kamar itu, tentu Sara terbayang kembali berbagai momen yang terjadi di dalam kamar itu. Semua yang berada di dalam kamar itu masih berada di tempatnya. Tidak ada yang berubah. Kamar itu juga terlihat bersih, tetapi ada lemari yang ditambahkan di sana. Kenapa kamar itu seakan adalah kamar yang ditempati, bukan seperti kamar yang sudah ditinggalkan lama. Sara kian kaget, rupanya Belva mengikutinya masuk ke dalam kamar. Pria itu bahkan kini terduduk di sofa yang berada di dalam kamar.


“Pak Belva ngapain ikut ke sini?” tanya Sara.


Pria itu pun tersenyum dan terlihat begitu santai sekarang ini, “Tidak apa-apa … kamu lihat sendiri tidak ada yang berubah di dalam kamar ini selama empat tahun terakhir. Aku tetap mempertahankannya,” cerita Belva.


Sara mengangguk, kemudian dia berdiri di depan kaca jendela. Salah satu tempat favoritnya dulu saat masih menempati tempat ini. Melihat pemandangan yang tertuju ke kolam renang dengan lampu-lampu taman yang begitu indah dan temaram.


Hingga tanpa Sara sadari, Belva pun perlahan berjalan mendekat dan mendekap tubuh Sara dari belakang. Memeluknya dan melingkarkan tangannya di pinggang Sara. Tentu saja apa yang dilakukan Belva sekarang lagi-lagi membuat Sara menegang.


"Jangan seperti ini Pak Belva," ucap Sara dengan lidahnya yang terasa kelu.

__ADS_1


Akan tetapi, Belva tak menghiraukan ucapan Sara. Pria itu justru kian erat mendekap Sara dan mengusapkan dagunya di puncak kepala Sara, menggerakkannya perlahan ke kiri dan ke kanan.


"Aku kangen kamu," ucap Belva kini.


Pengakuan Belva lagi-lagi membuat Sara terdiam dan mematung. Seolah Belva yang dia hadapi sekarang ini berbeda dengan Belva empat tahun yang lalu.


Melihat Sara yang masih diam, Belva mengurai pelukannya lantas memutar badan Sara, hingga sekarang mereka berdua saling berhadap-hadapan. Pria itu menatap wajah Sara dengan begitu lekatnya, dan berkata, "Sara, aku berkata jujur kepadamu … aku cinta kamu, Sara. Sangat mencintaimu kamu. Apakah kamu mau mendampingiku? Menjadi keluarga yang utuh denganku dan Evan?" ucap Belva kini.


Benar situasinya sudah berbeda, tetapi bagi Sara baru beberapa kali pertemuannya dengan Belva. Lagipula hari ini dirinya cukup shock setelah mengetahui kabar bahwa Anin telah tiada. Sara lagi-lagi diam.


"Kenapa kamu terus diam Sara? Tolong pertimbangkan lagi. Aku akan menunggu. Berapa lama waktu kamu butuhkan untuk berpikir?" tanya Belva.


"Entahlah, Pak … setelah empat tahun berlalu, semua ini terlalu cepat. Banyak kejutan yang membuatku seolah sukar menerka semuanya. Aku pun masih shock setelah mengetahui bahwa Kak Anin telah tiada," jawab Sara dengan jujur.


Percayalah bukan maksud Sara untuk menunda-nunda, tetapi para wanita pasti membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan semuanya.


Sara kini mengangkat wajahnya, mencoba memberanikan diri menatap kedua pasang mata milik Belva. Berusaha menyelami kedalamannya.


"Boleh aku bertanya sesuatu Pak?" tanya Sara.


"Boleh, sejak dulu aku mengizinkan kamu untuk bertanya apa pun kepadaku," sahut Belva.


Faktanya memang demikian, sejak dulu pun Belva selalu mengizinkan Sara untuk bertanya apa pun kepadanya. Belva tak pernah melarang Sara untuk bertanya. Bahkan Belva bisa menceritakan beberapa sisi dalam hidupnya dengan Sara.


"Pak Belva kenapa mendadak bilang cinta padaku? Sementara dulu saja Pak Belva tidak pernah mengucapkannya. Apakah Pak Belva ingin aku mendampingi Pak Belva karena Kak Anin telah tiada?" tanya Sara kini.


"Ayo kita duduk dulu, tidak mungkin aku menjawab semua pertanyaanmu dengan berdiri seperti ini," balas Belva.


Keduanya pun lantas kembali duduk bersama di sofa. Belva menggenggam satu tangan Sara dan genggaman itu begitu hangat.

__ADS_1


"Harus apa menjawab semua pertanyaanmu? Padahal di dunia ini beberapa hal tidak membutuhkan jawaban, Sara." Belva berdiri dengan menatap wajah Sara.


Sara pun membalas tatapan Belva dengan sorot matanya yang tajam. Setidaknya dia ingin mendapatkan jawaban saat ini. Tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi sesaat. Dengan mendengar jawaban Belva, itu akan sangat berharga bagi Sara untuk mempertimbangkan perasaannya.


__ADS_2