
Masih di Ecopark itu, rasanya Belva masih ingin berlama-lama duduk bersama dengan Sara menikmati sejuknya taman yang begitu teduh dengan kolam air yang begitu jerih. Rasanya sedikit menepi dari ramainya kehidupan Ibukota seperti ini sangat menyenangkan. Terlebih, ada Sara di sisinya. Ada kenyamanan yang dirasakan Belva saat bersama degan Sara.
"Kamu kepanasan tidak?" tanya Belva kali ini.
Dengan cepat Sara pun menggelengkan kepalanya, "Tidak kok Pak, kenapa Pak Belva kepanasan?" tanyanya.
"Tidaklah, ini tidak seberapa. Lagipula di sini teduh," jawabnya.
Sara lantas tertawa, sesekali wanita itu menggelengkan kepalanya, "Memang teduh, Pak ... gitu masih bertanya panas atau tidak. Pak Belva aneh deh," sahut Sara.
Bukan marah, nyatanya Belva pun turut tertawa. Rasanya begitu nyaman bisa berbicara banyak hal, bahkan berbicara hal-hal yang sebenarnya hanya receh, tetapi kenapa rasanya begitu nyaman dan membuat Belva tidak keberatan berlama-lama dengan Sara.
Pria itu lantas membawa satu tangannya dan mengusapi perut Sara yang sudah benar-benar besar sekarang. "Tidak terasa sudah memasuki Trimester akhir ya Sara," ucapnya.
Sara kemudian mengangguk, "Iya, sudah tujuh bulan," jawabnya.
Itu artinya memang sudah lebih dari tujuh bulan, Sara tinggal bersama dengan Belva. Berarti juga waktunya bersama Belva tinggal menyisakan beberapa bulan saja. Sekalipun dalam hatinya, Sara merasa sesak. Akan tetapi, Sara akan mencoba kuat dan menjalani semuanya.
Wanita hamil itu lantas kembali menatap kepada Belva, "Kenapa Pak?" tanyanya.
Belva kemudian menatap wajah Sara, "Tidak apa-apa ... itu artinya Little One akan segera lahir. Kamu ingin melahirkan secara normal atau Caesar?" tanya Belva kini kepada Sara.
Ya, biasanya memasuki Trimester akhir para Ibu hamil akan mulai mempertimbangkan metode persalinan yang akan diambil. Untuk itu jugalah, Belva menanyakan kepada Sara akan memilih persalinan normal atau Caesar.
__ADS_1
Sara tampak diam, keningnya berkerut seolah tengah berpikir. Hingga beberapa saat kemudian, Sara kembali menatap Belva, "Rasanya aku ingin mencoba melahirkan secara normal," jawab Sara kali ini.
"Kamu yakin?" tanya Belva kemudian.
"Iya, Pak ...," sahut Sara.
Belva lantas menggenggam tangan Sara, "Aku dengar dari temanku bahwa melahirkan secara normal itu sangat sakit. Dari proses pembukaan dari satu hingga sepuluh, dan sakitnya akan benar-benar memuncak saat melahirkan. Benar-benar sakit bersalin yang rasanya seluruh tulang rasanya diremukkan. Jangan memaksakan dirimu, Sara. Melahirkan secara Caesar pun tidak masalah."
Ada rasa yang menghinggapi Belva saat ini bahwa sudah cukup dengan kerelaan dan keikhlasan Sara mau mengandung anaknya sampai tahap ini. Rasanya dia akan menjadi pria yang tidak tahu diri, jika masih meminta Sara melahirkan secara normal. Lagipula, Belva memiliki begitu banyak Rupiah, sehingga melakukan Operasi Caesar dengan metode yang tidak menimbulkan rasa sakit pun bisa Belva bayar dengan mudah.
Mendengar ucapan Belva, Sara pun mengangguk, "Baiklah Pak ... hanya saja, jika pemeriksanaan terakhir nanti, Dokter Indri memperbolehkan untuk melahirkan secara normal maka aku akan memilih normal," ucap Sara.
Melahirkan secara normal maupun Caesar hanya metode. Dibandingkan dengan semuanya itu, semua ibu adalah ibu yang sempurna. Hanya saja Sara merasa bahwa dia ingin berjuang dengan sepenuh hati. Membayangkan saat bayinya lahir dan dia tidak bisa memilikinya saja membuat Sara begitu pilu. Oleh karena itu, biarlah dia benar-benar merasakan semua sakit bersalin itu dan Sara akan menjalani dengan rela dan ikhlas. Tidak ada paksaan, itu semua karena dia ingin mencurahkan kasih sayangnya sebagai seorang Ibu yang tidak akan dia berikan kepada putranya nanti.
Biarlah di kemudian hari, putranya akan tahu bahwa Ibu Kandungnya benar-benar mencurahkan segala cintanya saat melahirkan putranya.
Pria itu lantas menghela nafasnya dan sejenak melirik kepada Sara.
Jika kamu melakukan semuanya dengan sepenuh hati, bagaimana bisa semua uang itu bisa membayarmu, Sara ...
Uang lima milyar itu tidak ada artinya melihat kerelaanmu yang begitu besar ...
Dan, aku tahu ...
__ADS_1
Bahwa kamu ingin berjuang melahirkan normal untuk putramu.
Ya, Belva merasa dalam beberapa waktu ini dia bisa mengenali Sara dengan baik dan semua itu akan Sara lakukan hanya karena kasih sayang sebagai seorang Ibu. Akan tetapi, Belva rasanya justru sedih saat ini.
Belva merasa bahwa uang lima milyar yang dia berikan untuk menyewa rahim Sara hanya sia-sia belaka. Pada kenyataannya bahwa Sara benar-benar menunjukkan kerelaannya.
Mencoba mengalihkan pikirannya saat ini, Belva pun lantas kembali bersuara, "Bayi itu adalah laki-laki, kira-kira akan bernama siapa dia?" tanya Belva.
Ah, rupanya benar ... Sara sama sekali belum memikirkan nama untuk Putranya itu. Sara lantas menggigit bibir bagian dalamnya, wanita itu menghela nafasnya sesaat.
"Pak Belva, boleh tidak nanti aku yang memberikan nama untuknya?" pintanya kali ini.
Sekali pun tidak memiliki buah hatinya pada akhirnya karena bayinya akan diasuh dan dibesarkan oleh Belva dan Anin, setidaknya ada tanda cinta yang Sara tinggalkan nanti untuk putranya yaitu sebuah Nama.
Nama yang bukan sekadar nama. Akan tetapi, nama yang didalamnya tersirat doa dan harapan dari Sara sebagai seorang Ibu untuk putranya.
Belva pun mengangguk setuju, "Iya ... kamu boleh memberikannya nama," jawab pria itu.
Senyuman seketika terbit di wajah Sara, begitu lega rasanya saat ternyata Belva mengabulkan permintaannya kali ini. Wanita itu pun menatap Belva, "Makasih Pak," jawabnya.
"Kamu sudah menyiapkan nama?" tanya Belva kemudian kepada Sara.
"Belum, tetapi akan segera menyiapkan," balas Sara. "Yang pasti namanya akan menyandang nama Agastya di belakangnya," sambung Sara dengan yakin.
__ADS_1
Belva kemudian mengangguk, "Iya, benar … oke, aku serahkan tugas memberi nama bayi ini kepadamu, Sara."
Dalam diam, Belva menatap Sara. Setidaknya bayi itu juga hadir karena andil keduanya, maka dari itu Belva pun juga tidak keberatan apabila Sara memberikan nama untuk bayinya nanti. Siapapun namanya, bayi itu akan tetap menjadi putranya. Siapapun namanya, bayi itu akan tetap menjadi penerus keluarga Agastya.