Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Menyambut Baby Girl


__ADS_3

Suasana di kamar rawat inap Sara kali ini begitu beda dengan masa di mana Sara melahirkan Elkan dulu. Saat melahirkan Elkan saja, Sara menangis. Ada perasaan sedih karena harus melahirkan secara caesar, padahal harapannya kala itu adalah bisa melahirkan dengan normal. Sementara kali ini Sara bisa lebih rileks. Bahkan Bumil yang akan segera melahirkan pun merias wajahnya, benar-benar persiapan yang begitu all out dari seorang Sara.


"Kali ini kamu lebih rileks ya Sayang?" tanya Abraham kepada istrinya.


Sara pun tersenyum dan menatap suaminya itu, "Sebenarnya ... aku grogi sih Mas ... aku takut juga. Merias diri untuk pengalihan saja sih Mas," jawab Sara.


Memang ada beberapa Ibu yang hendak melahirkan berusaha mengalihkan rasa takut dan kecemasannya. Ada yang memilih menonton film, mendengarkan musik, dan bisa juga merias diri sama seperti Sara. Belva yang mendengarkan jawaban Sara pun tersenyum, tangannya bergerak dan mengenggam kedua tangan istrinya itu.


"Aku justru senang melihatmu seperti ini ... kamu rileks, cantik, dan kamu bisa menerima metode persalinan caesar. Kita sambut baby girl kita bersama-sama yah," balas Belva.


"Iya Mamas ... enggak sabar," balas Sara.


Belva kemudian duduk di samping ranjang, dengan tangan yang merangkul pinggang istrinya, dan satu tangan masih menggenggam tangan Sara.


"Sama Sayang ... aku juga enggak sabar. Hanya saja, masih harus menunggu," jawab Belva.


Tidak berselang lama, rupanya Abraham sudah datang dengan timnya. Sang fotografer itu datang dan menyapa Belva dan Sara.


"Selamat siang Pak Bos dan Bu Bos," sapanya.


"Siang ... sudah siap untuk nanti?" tanya Belva.


"Siap Pak," balas Abraham.


"Gimana kabarnya Marsha? Ajaklah main ke rumah," ucap Sara.

__ADS_1


"Siap Bu Sara ... nanti main ke rumah, sekalian nengokin si baby girl," jawab Abraham.


Setelah menyapa Belva dan Sara, Abraham kemudian menyiapkan beberapa perangkat yang dia butuhkan. Sementara, perawat mulai masuk dan akan membawa Sara ke ruang operasi.


"Ke ruang operasi sekarang ya Bu Sara ... Dokter Indri sudah bersiap," ucap perawat itu.


Sara kemudian diminta untuk duduk di kursi roda, wanita itu menghela nafas dan mengusapi perutnya. Sementara Belva berlutut di depan Sara dan mengecup perut buncit istrinya itu.


"Kita akan segera bertemu baby girl," ucap Belva.


Kemudian Belva membawa tangannya dan membelai sisi wajah Sara, "Kita ke ruang operasi sekarang ya Sayang? Jangan cemas, i'll always beside you," ucap Belva dengan tatapan dan suaranya yang begitu lembut.


Belva kemudian berdiri, dan dia sendiri yang mendorong kursi roda itu, sementara ada Abraham yang mengabadikan momen manis dan penuh haru itu. Sungguh, Abraham merasa bahwa Belva memang sangat mencintai istrinya. Sang CEO itu bahkan mau berlutut di hadapan istrinya dan menjadi sosok suami idaman bagi sang istri.


Seolah membiarkan Abraham yang menjalankan tugasnya untuk mengabadikan momen itu, Belva memilih untuk fokus pada Sara. Membiarkan semuanya berjalan dengan senatural mungkin.


"Tidak apa-apa. Bahkan jika kamu mau, aku akan menggendongmu," balas Belva.


Seketika saja Sara tertawa mendengar ucapan suaminya itu, "Kamu bisa saja sih Mas? Bisa-bisanya membuatku tertawa, padahal hatiku sekarang aja dag dig dug loh," ucap Sara.


"Dibawa rileks saja Sayangku ... jangan terlalu cemas," balas Belva.


Begitu telah di ruang operasi, Dokter Indri memberitahu prosedur operasi dan mengarahkan bagaimana kameraman atau fotografer akan mengabadikan momen ini yang pasti tidak boleh mengganggu tim medis. Abraham juga telah mengenakan pakaian hijau dan mengenakan masker. Hanya sebuah kamera digital yang dia gunakan untuk mengabadikan momen lahiran siang itu.


Dokter Indri kemudian mengajak Sara, Belva, dan tim medis untuk berdoa sejenak, semoga proses operasi berjalan dengan lancar. Kemudian infus mulai dipasang menusuk pembuluh darah Sara. Kemudian mulailah perawat memasang kateter ke dalam kandung kemih guna membuang urine. Jarum infus atau intravena yang sudah dimasukkan ke dalam pembuluh darah mulai disuntikkan sebuah obat di sana.

__ADS_1


Sara mendesis, merasakan desiran dari obat yang disuntikkan melalui jarum infus itu. Kemudian Sara menatap kepada suaminya.


"Temani ya Mas," ucapnya lirih.


"Iya ... aku ada di sini, Sayang ... kita sama Baby girl bersama-sama. Kita akan menyambut putri kecil kita dengan penuh cinta," sahut Belva.


Kemudian mulailah kain berwarna hijau direntangkan menutupi bagian perut Sara. Dilanjutkan dengan melakukan anestesi epidural (suntikan bius yang disuntikkan langsung ke sumsum tulang belakang) yang akan menimbulkan mati rasa dari bagian perut hingga kaki saja. Sementara untuk perut ke atas sampai kepala tetap dalam kondisi biasa.


"Mulai kita lakukan prosedur Caesarnya ya Bu Sara dan Pak Belva ..." Dokter Indri berbicara kepada Belva.


Belva kemudian mengangguk dan kian menggenggam erat tangan istrinya yang terasa begitu dingin itu.


"Sabar ya Sayang ... tidak lama lagi bayi kita akan segera lahir," ucapnya memenangkan Sara yang sudah berlinangan air mata.


Sementara di bawah sana, Dokter Indri dan tim medis mulai membersihkan area perut Sara dan membuat sayatan vertikal mulai dari bawah pusar sampai tulang ke-maluan. Kemudian Dokter Indri membuka rongga perut Sara dengan membuat sayatan satu per satu pada setiap lapisan perut.


Setelah rongga perut Sara terbuka, mulailah dibuat sayatan horizontal di bagian bawah rahim. Hingga perlahan rahim itu telah terbuka. Perlahan bagaimana bayi itu masih terbungkus dengan air ketuban dan plasentanya terlihat. Kemudian, perlahan Dokter Indri mengambil bagian tersebut dari bagian perut Sara dan memecahkan air ketubannya di luar, setelahnya mulai terdengarlah suara tangisan bayi yang begitu kencang.


Sedikit mengangkat bayi itu dan memperlihatkannya kepada Belva dan Sara.


"Seperti hasil USG ya Bu Sara dan Pak Belva, Babynya perempuan. Selamat!"


Dokter Indri mengangkat bayi perempuan di mana badannya masih dipenuhi dengan cairan ketuban, lendir, dan beberapa darah di bagian mulut dan hidungnya.


"Baby kita, Sayang ... Princess kita!"

__ADS_1


Belva berbicara dengan meneteskan air matanya. Sungguh, menyambut seorang bayi selalu saja dramatis untuk Belva Agastya.


__ADS_2