
Hari ini sama seperti yang sudah Belva janjikan sebelumnya bahwa dia akan mengajak Sara untuk menghadiri party yang diselenggarakan oleh rekan bisnis Belva dari Singapura, yaitu Aryan Kiandra Harentama. Pengusaha muda yang bergerak di bidang kecerdasan buatan itu telah merasakan jatuh dan bangun dalam hidupnya. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah dari Aryan yaitu cinta dan kesetiaannya untuk sang istri, Aliya Kinanti Satchita, putri tunggal dari pemilik Satchita Grup, sebuah perusahaan konstruksi raksasa di Indonesia.
Tak ingin membuat Sara gugup dan sebagainya, secara khusus hari ini datangnya seorang MUA dan stylist yang Belva pesan secara khusus. MUA dan stylist yang sekaligus sudah membawakan beberapa dress yang Belva pesan untuk istrinya itu.
“Selamat siang Kak Sara,” sapa MUA dan stylist tersebut.
“Ya, siang,” jawab Sara.
“Kita berias sekarang ya Kak? Acaranya untuk jam 17.00 Waktu Indonesia Tengah kan?” tanya MUA itu lagi.
“Iya, benar … boleh tidak aku melihat seperti apa dress yang akan aku kenakan sore ini?” tanya Sara.
Seorang stylist pun mengeluarkan sebuah dress dengan tipe off the shoulder dengan warna hitam. Dress yang terlihat simpel, tetapi justru berkesan mewah dan berkelas.
“Ini dress pilihan suami Anda, Kak,” jelas Stylist tersebut.
Sara mengamati dress berwarna hitam, dari modenya saja pasti dress ini akan mengekspos bahunya. Sebenarnya Sara merasa ragu, tetapi demi tampil berkelas, maka Sara akan mencobanya.
“Apakah wanita yang sedang hamil cocok menggunakan mode off the shoulder seperti ini?” tanya Sara.
“Tentu sangat cocok, Kak … karena itu, warna hitam yang dipilih bisa membuat wanita hamil lebih langsing, dan juga tonjolan di perut justru membuat Anda terlihat sexy,” jelas stylist tersebut.
Mendengar ucapan stylist, Sara nyaris saja tertawa. Dia merasa tidak ada yang bisa dikatakan sexy dari tubuhnya. Semuanya biasa saja. Mungkin juga karena Sara merasa insecure dengan dirinya sendiri.
“Kita make up sekarang?” tanya MUA itu.
“Baiklah,” jawab Sara.
Oke, untuk kali ini Sara akan mengikuti saja semua pilihan yang sudah diatur sedemikian rupa oleh suaminya itu. Dia ingin tampil layak untuk suaminya. Bukan untuk supaya orang lain melihatnya berbeda. Cukuplah suaminya saja yang mengatakan bahwa dia begitu cantik.
Usai itu, mulailah MUA mengaplikasi berbagai make up di wajah Sara. Mulai dari Premier, Alas Bedak, dan menyempurnakan tampilan mata dengan merapikan alis mata Sara, memberikan eye shadow di sana, dan mengkontur wajah Sara dengan menggunakan blush on. Sebagai sentuhan terakhir, sebuah lipstik berwarna nude pastel mulai diaplikasikan ke bibir Sara.
“Wow, Anda cantik banget, Kak,” ucap MUA yang diangguki oleh Stylist yang masih menunggu di sana.
Sara yang saat itu masih memejamkan matanya karena di-make-up hanya tersenyum simpul. Apakah benar yang dikatakan oleh MUA tersebut. Jika benar, sudah pasti MUA yang didatangkan suaminya itu benar-benar seorang MUA Profesional.
“Silakan dibuka matanya perlahan-lahan,” ucap MUA itu.
Perlahan, Sara pun mulai membuka mata. Wanita itu tersenyum melihat pantulan wajahnya di cermin. Make up flawless dan tidak berkesan menor di wajahnya. Sara sendiri juga tidak percaya dengan hasil riasan yang luar biasa itu.
__ADS_1
“Puas tidak Kak? Ada lagi yang ingin disempurnakan?” tanya MUA itu.
Sara menggelengkan kepalanya secara samar, “Tidak, ini sudah bagus. Sangat bagus,” jawab Sara.
“Kak Sara, ini untuk dress-nya, kemudian untuk heels nanti bisa dikenakan,” ucap sanga Stylist.
Akan tetapi, Sara ingat bahwa sekarang dirinya sedang hamil. Ibu hamil sebaiknya menghindari pemakaian heels. “Bisa enggak pake yang flat shoes atau tipe wedges saja? Aku soalnya baru hamil,” jawab Sara.
“Oh, bisa sih Kak … ini ada beberapa model sepatu, Kakak bisa pilih,” ucap stylist tersebut.
Akhirnya, Sara sudah bersiap dengan gaun tipe off the shoulder berwarna hitam. Dia tampil begitu elegan, dan benar sembulan di perutnya juga kian terlihat. Namun, Sara terlihat percaya diri. Biarkan saja teman-teman Belva tahu bahwa suaminya itu akan segera memiliki anak lagi.
Sara tersenyum dan memantaskan dirinya di cermin. Sampai akhirnya, Belva masuk ke dalam kamar itu dan membawa sebuah kotak hadiah untuk Sara.
“Cantiknya … istri siapa sih?” tanya Belva yang tersenyum dan begitu kagum dengan tampilan Sara..
“Istrinya Mamas Belva,” jawabnya sembari terkikih geli.
Belva tertawa, kemudian pria itu mendekat dan berdiri di belakang Sara. Kedua tangan Belva memegangi lengan Sara.
“Sedikit sentuhan saja membuatmu begitu cantik. Aku sampai terpesona … terjerat pesonamu,” ucap Belva.
“Hadiah untuk istriku,” ucap Belva memberikan kotak hadiah.
Ketika Sara membukanya, rupanya di dalam kotak hadiah itu ada sebuah hand bag keluar dari salah satu brand fashion dari Paris, dengan logo LV itu.
“Wah, mahal banget ini, Mas,” ucap Sara yang kagum dengan hand bag yang dibelikan suaminya itu.
“Buat istriku … dipakai yah,” balas Belva.
Sara pun menganggukkan kepalanya, “Walaupun hand bag ini mahal banget, dan berlebihan. Namun, makasih banyak ya Mas … usai ini tidak usah membelikan kado lagi buatku,” balas Sara.
“Kamu bisa saja … aku membelikanmu seluruh tas ini juga bisa Sayang,” balas Belva.
Setelahnya, keduanya pun mulai keluar dari kamar mereka di resort itu. Rupanya di luar sudah ada keluarga Amara yang datang dari Jakarta.
“Cantiknya Kakak Ipar,” teriak Amara dengan sedikit heboh.
“Ini request dari Mas Belva,” sahut Sara dengan tertunduk malu-malu.
__ADS_1
Amara pun menggenggam satu tangan Sara, “Nikmati pestanya ya Kak … biar aku yang urus Evan. Dia baru main sama Jerome,” balas Amara.
“Iya, nitip Evan yah,” sahut Sara.
Kemudian Belva sendiri yang mengemudikan mobil dan membawa istrinya itu menghadiri private party yang letaknya tidak jauh dari resort miliknya. Sepanjang perjalanan, Belva sering kali melirik Sara yang begitu cantik di matanya. Hanya lima belas menit berkendara, mobil milik Belva kini berhenti di sebuah resort yang juga begitu mewah.
“Tema partynya apa Mas?” tanya Sara.
“Kurang tahu, Sayang … aku tidak pernah menghadiri pesta seperti ini. Ya, tahuku hanya private party saja. Cuma memang nanti dilakukan di pinggir pantai sih,” balas Belva.
Belva mengangkat sedikit tangannya, mengisyaratkan supaya Sara mengalungkan tangannya di tangannya yang kokoh. Bak mengetahui sinyal yang dikirimkan Belva, Sara pun mengalungkan tangannya di lengan Belva. Dengan bangga pria itu berjalan dan menggandeng tangan Sara.
“Cantik banget sih,” puji Belva lagi.
Sara menundukkan wajahnya, begitu malu tiap kali suaminya itu memujinya cantik. Namun, Sara tetap berjalan dengan tenang dan lebih percaya diri karena ada Belva di sisinya.
“Hei, Aryan,” sapa Belva ketika bertemu dengan si empunya acara. Siapa lagi kalau bukan Aryan Kiandra Harentama.
“Hei, Belva … what’s up Bro?” sapanya dengan memeluk Belva.
“Baik. Kamu gimana?” tanya Belva.
“Aku pun baik,” balas Aryan.
Pria itu kemudian melirik pada sosok wanita yang masih melingkarkan tangannya di lengan Belva.
“Is she your wife?” tanya Aryan.
“Ya, dia adalah istriku. Sara, istriku,” ucap Belva yang memperkenalkan Sara kepada temannya itu.
Sara pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada rekan Belva itu. Tidak berselang lama, muncul seorang wanita yang sangat cantik dan berjalan menghampiri Aryan di sana.
“Daddy, aku mencarimu,” ucap wanita itu dengan begitu lembut.
“Aku di sini, menyambut temanku. Sayang, dia adalah Belva temanku dan dia adalah istrinya, Sara,” ucap Aryan.
“Oh, kenalkan … aku Aliya, istrinya Aryan,” balasnya.
Aliya pun tersenyum menatap Sara, dan wanita itu mengajak Sara untuk mengobrol bersama. Benar yang dikatakan Belva sebelumnya adalah Aliya adalah wanita yang baik dan lembut. Baru berkenalan saja, Sara sudah bisa begitu akrab dengan seorang designer cantik dari Indonesia yang karyanya sudah dipasarkan di Asia Tenggara itu.
__ADS_1