
Selang beberapa pekan berlalu, kembali ke Jakarta tentu akan disertai dengan rutinitas mereka. Belva sebagai CEO dengan pekerjaan yang begitu banyak. Juga dengan Sara yang fokus untuk mengasuh Evan setiap hari.
“Apa akan lembur lagi Mas?” tanya Sara saat mengantarkan suaminya itu sampai ke depan pintu.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Sara untuk mengantarkan Belva sampai depan pintu, tiap kali suaminya itu berangkat bekerja. Sementara di sore hari, Sara juga akan membukakan pintu, dan menyambut suaminya itu dengan senyuman di wajahnya. Setidaknya itu adalah kebiasaan manis yang dia lakukan di pagi dan sore hari. Hanya saja, jika Belva bekerja dan pulang malam, Sara memang tidak menyambut suaminya karena terkadang Sara masih menidurkan Evan terlebih dahulu. Menemani sampai Evan tertidur, setelahnya barulah Sara masuk ke dalam kamarnya.
“Aku usahakan pulang cepat malam ini. Sayang, kalau bisa … aku mau dibuatkan Sayur Asem dong. Kelihatannya enak deh bisa makan Sayur Asem yang panas dan seger gitu,” pinta Belva kala itu.
Mendengar request dari suaminya, Sara pun menganggukkan kepalanya, “Ya sudah … nanti aku masakan Sayur Asem deh. Tumben sih suamiku ini pengen Sayur Asem,” jawab Sara.
Belva pun tertawa, “Enggak tahu deh Sayang … tiba-tiba pengen itu,” sahut Belva. “Ya sudah, aku bekerja dulu yah. I Love U,” balas Belva lagi. Pria itu segera memasuki mobilnya dan melambaikan tangannya kepada Sara yang masih berdiri dan melihat sampai mobil suaminya itu menjauh.
Begitu sudah masuk ke dalam rumah, Sara pun menemui Bibi Wati. “Bi, ada bahan-bahan untuk membuat Sayur Asem enggak yah?” tanya Sara kepada Bibi Wati.
“Ada kok Mbak … kenapa, mau Bibi masakkan buat Mbak Sara?” tanya Bibi Wati.
“Enggak … biar Sara saja yang masak, Bi … Mas Belva mau dimasakin Sayur Asem sama Sara,” balasnya.
Mendengar perkataan Sara, nyatanya Bibi Wati justru tertawa dengan menutupi mulutnya dengan telapak tangannya, “Wah, kok Bapak Belva kayak sedang mengidam aja sih. Sampai pengen Sayur Asem buatan istri tercinta,” celoteh Bibi Wati saat ini.
Kemudian, Bibi Wati mendekat ke Sara, “Mbak Sara apa sedang isi?” tanyanya.
Sara merespons pertanyaan Bibi Wati dengan menggelengkan kepalanya, “Belum, Sara belum isi kok Bi. Namun, kalau nyatanya Allah berikan sekarang Sara dan Mas Belva tidak menolak sama sekali,” balasnya.
Saat Sara sedang berbicara dengan Bibi Wati, tangan Sara tampak meracik beberapa sayuran seperti Kacang Panjang, Jagung, Taoge Kedelai, dan juga memotong Terong. Menyiapkan berbagai bahan untuk membuat Sayur Asem.
“Bi, bisa minta tolong kupaskan Labu Siam?” tanya Sara kepada Bibi Wati.
__ADS_1
“Bisa Mbak Sara … sini biar Bibi yang kupaskan. Mau dibantuin apa lagi Mbak Sara?” tanya Bibi Wati lagi.
“Minta tolong gorengkan Tempe Goreng ya Bi … sama Perkedel Jagung. Biar Mas Belva tambah suka,” balas Sara.
Lagi, Bibi Wati tertawa. Akan tetapi, di dalam hatinya Bibi Wati suka karena justru Sara telrihat begitu mencintai Belva dan mau mengurus keperluan majikannya. Di mata Bibi Wati justru Sara sudah seperti tipekal istri yang begitu setia dan mengabdi kepada suami.
Sesiang hari itu, Sara berkutat di dapur memasak menu masakan permintaan suaminya itu. Menjelang makan siang, Sayur Asem dengan Tempe Goreng dan Perkedel Jagung pun sudah siap. Sara kemudian mengambil handphonenya dan memoto hasil masakannya dan mengirimkannya kepada Belva.
[To: Mas Belva]
[Sayur Asem, Tempe Goreng, dan Perkedel Jagung sudah ready.]
[Mau dikirimin ke kantor?]
[Kalau mau, biar aku pesan Abang Ojek untuk mengirimkannya ke kantor.]
Pesan itu pun terkirim dengan cepat ke handphone Belva. Hanya di kantornya, Belva menerima pesan-pesan yang dikirimkan Sara. Melihat masakan yang tersaji di meja saja sudah begitu menggugah selera makan Belva. Rasanya ingin segera mencicipi makanan buatan Sara itu.
[To: Mamanya Evan]
[Aku pulang saja, Sayang.]
[Tunggu aku pulang yah.]
[Sudah enggak sabar nyicip masakan buatan kamu.]
Saat itu Sara tidak lagi memegang handphonenya karena Sara sibuk menyuapi Evan makan siang terlebih dahulu. Memastikan perut putranya itu sudah terisi. Lagipula, para ibu akan melakukan hal yang sama seperti Sara. Memprioritaskan anak dan segera menyuapi saat waktunya makan tiba. Para Ibu tak jarang memilih perutnya kosong, asalkan anak-anak perutnya terisi lebih dahulu.
__ADS_1
Menjelang waktunya makan siang, rupanya Belva sudah kembali tiba di rumah. Pria itu membuka pintu rumahnya, dan melihat Sara yang sedang menyuapi Evan.
“Sayang, aku pulang,” ucap Belva yang berjalan ke arah Sara dan juga Evan.
“Loh, Papa kok pulang?” tanya Sara kemudian.
Tentu saja melihat suaminya yang pulang saat jam makan siang seperti ini membuat Sara begitu bingung. Sebab, tidak biasanya Belva akan pulang saat jam makan siang.
“Mau makan Sayur Asem buatan kamu. Kelihatan menggugah selera banget,” jawab Belva.
Sara kemudian menyelesaikan untuk menyuapi Evan, kemudian dia menuju ke meja makan. Menyajikan Sayur Asem dan menu lainnya ke atas meja. Setelah itu, Sara tampak mengisi piring kosong suaminya terlebih dahulu.
“Kamu bikin sambal juga enggak Sayang?” tanya Belva.
“Bikin dong … karena makan Sayur Asem enaknya sama Sambal Terasi. Kombinasi sempurna,” jawab Sara.
Terlihat Belva tersenyum. Pria itu dengan lahap menikmati masakan buatan istrinya itu. “Hmm, enak banget. Kamu yang masak sendiri?” tanya Belva sembari mengunyah makanannya.
“Iya … dibantuin Bibi Wati tadi. Rasanya kurang apa Mas?” tanya Sara. Memang biasanya Sara selalu bertanya demikian kepada Belva. Meminta pria itu untuk mengoreksi masakannya.
“Udah, enak kok … enak banget malahan,” sahut Belva.
Sara tersenyum, dalam hatinya begitu bahagia karena bisa menyenangkan suaminya dengan masakan buatannya. Masakan enak yang cocok di lidah Belva. Sara juga merasa puas melihat Belva yang begitu lahap menyantap masakannya, bahkan kening pria itu berpeluh karena menikmati Sayur Asem dengan kuahnya yang masih panas dan Sambal Terasi yang cukup pedes.
Sara mengambil tissue yang berada di depannya, kemudian menyeka kening suaminya yang berpeluh di sana.
“Lahap banget sih makannya … aku jadi seneng kalau masak dan kamunya makan lahap seperti ini,” ucap Sara.
__ADS_1
“Enak banget soalnya Sayang … baru kali ini, aku pengen makan sesuatu dan bela-belain pulang siang ke rumah. Rasanya pengen banget makan Sayur Asem buatan kamu,” jawab Belva.
Memang ini menjadi kali pertama dalam sepanjang hidup Belva yang menyempatkan pulang ke rumah untuk menikmati masakan yang dia minta dan Sara masakkan untuknya. Sebelum-sebelumnya Belva tidak pernah pulang ke rumah di waktu makan siang hanya untuk menyantap makanan. Kali ini pria itu bersikap lain daripada biasanya. Dia bela-belain pulang ke rumah untuk menyantap Sayur Asem buatan Sara.