Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Memberikan Perhatian


__ADS_3

Menjelang sore, berbekal dengan pelatihan yang diberikan perawat saat dirinya di Rumah Sakit untuk memandikan bayi. Sore ini, Sara berencana memandikan Baby Evan sendiri. Melihat berbagai perlengkapan untuk bayi yang sudah begitu lengkap di dalam kamarnya, Sara kemudian mengambil sebuah ember dan menyiapkan air hangat untuk memandikan Evan.


“Ayo Nak … mandi dulu yuk sama Bunda,” ucapnya sembari melepaskan baju bayi dan diapers yang dikenakan Baby Evan.


Dengan perlahan, Sara membawa Evan masuk ke kamar mandi dan segera memandikan baby itu perlahan. Menahan badannya, kemudian mengeramasi rambut Evan yang tebal dan berwarna hitam, membilas dengan air dan menahan supaya air itu tidak mengenai matanya. Kemudian mulai menyabuni badan Evan perlahan-lahan. Sara begitu lembut mengusapi tubuh Evan dengan sabun, terutama di bagian tali pusar yang masih berada di sana. Sejujurnya Sara takut dengan tali pusar Evan, tetapi dia akan berhati-hati dan merawat Evan dengan tangannya sendiri.


Tidak perlu terlalu lama memandikan Evan, Sara segera membungkus tubuh Evan dengan handuk yang begitu lembut. Membawa bayi itu berbaring di atas tempat tidur, mengeringkan sejenak tali pusatnya, memberikan minyak telon supaya tubuh Evan hangat, dan memakaikan diapers dan pakaian bayi untuk bayinya itu. Setelahnya, Sara berniat hendak memberikan ASI kepada babynya itu.


Akan tetapi, saat Sara hendak memberikan ASI, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Siapa lagi yang datang jika bukan Belva.


Pria itu terkejut dengan aroma minyak telon dan parfum bayi yang menguar. Membuat kamar Sara berubah aromanya menjadi aroma baby. Pria itu juga terkesiap, saat Sara hendak membuka tiga kancing bajunya untuk memberikan ASI untuk baby Evan.


“Sorry … kamu mau memberikan ASI untuk Evan ya?” ucap pria itu.


Sara kemudian mengangguk, “Iya … Evan baru saja mandi, kupikir mau memberikannya ASI,” jawab Sara.


Belva pun mengangguk, “Tidak apa-apa, berikan saja dia ASI. Santai saja denganku,” ucapnya.


Ya Tuhan, harus bagaimana Sara bersikap. Pria yang berwajah datar itu mengatakan untuk santai dengannya, tetapi bagaimana pun juga Sara tetap malu dengan Belva. Akan tetapi, Baby Evan sudah menangis dan menginginkan ASI, sehingga Sara pun menghela nafasnya sembari mengeluarkan satu miliknya dan memberikannya kepada Baby Evan.


“Cup cup cup … sayang, Evan haus yah,” ucap Sara sembari memberikan ASI langsung dari sumbernya untuk babynya itu.


Belva lantas menggeser satu kursi dan duduk di hadapan Sara. Pria itu tersenyum melihat Evan yang begitu pandai menghisap ASI-nya. Tangan Belva bergerak dan mengusapi kepala Evan.


“Kamu pinter banget sih Nak,” ucap Belva dengan tersenyum.


Setelahnya, barulah Belva ingat dengan tujuannya datang ke kamar Sara. “Ini, aku bawakan buah. Ayo makanlah,” ucapnya.


Sara kemudian mengangguk, “Terima kasih, Pak … taruh di meja dulu saja, nanti aku makan. Aku masih memberikan ASI untuk Evan,” jawabnya.

__ADS_1


Bukan mendengarkan apa yang diminta Sara, Belva justru menusuk beberapa buah itu dengan garpu. “Ayo bukalah mulutmu, aku suapin. Evan butuh nutrisi dalam ASI yang dia minum, jadi Ibunya juga membutuhkan nutrisi yang cukup. Lagipula, setelah melahirkan kamu harus banyak makan buah dan sayur supaya tidak mengalami konstipasi (susah BAB). Apalagi kamu usai dijahit, perbanyak serat dulu supaya tidak sakit,” jelas Belva.


Sara pun mulai membuka mulutnya dan menerima suapan dari Belva. Pemandangan yang lucu, di satu sisi dia sedang memberikan ASI untuk baby Evan, tetapi ada juga Belva yang tengah menyuapinya.


“Pak Belva tahu dari mana kalau konstipasi sering menyerang wanita usai melahirkan?” tanya Sara perlahan.


“Dari artikel di internet. Aku membacanya sekilas,” jawab Belva dengan singkat.


Rupanya sang CEO juga membekali dirinya dengan artikel dari internet, tentunya dari sumber yang terpercaya tentang kehamilan, dan merawat wanita yang usai melahirkan. Mendengar jawaban dari Belva pun Sara kemudian mengangguk.


“O … pantas. Aku pikir tahu dari mana,” ucapnya.


Setelah Evan selesai meminum ASI, Sara kemudian memasukkan kembali sumber ASInya ke dalam tempatnya dan mengancingkan kembali pakaiannya. Sedikit menghiraukan Belva, karena memang aktivitas itu harus Sara lakukan.


“Kamu membutuhkan apa untuk keperluanmu usai melahirkan Sara? Aku akan membelikannya. Bra untuk menyusui mungkin?” tanya Belva kemudian.


Sara kemudian menggeleng perlahan, pikirnya dirinya tidak membutuhkan itu untuk jangka waktu yang lama. Sebab, tinggal dua bulan tersisa dirinya tinggal bersama Belva. Akan tetapi, Sara berkeinginan meminta yang lain kepada Belva.


“Apa?” tanya Belva.


“Belikan aku pumping supaya bisa menyimpan ASIP dan lemari es khusus untuk menyimpan ASIP nanti. Kupikir aku bisa menampung ASIku dan bisa diminum Evan. ASIP bisa bertahan hingga 6 bulan, jadi Evan tetap bisa menerima ASI ekslusif melalui ASIP yang kusimpan,” ucap Sara.


Terasa menyesakkan, saat seorang Ibu kandung ternyata hendak mengikhlaskan anaknya dan memikirkan untuk jangka panjang. Ya, Sara memikirkan Evan tetap bisa mendapatkan ASI ekslusif sekalipun hanya ASIP yang akan mulai dia pumping setiap harinya.


Mendengar permintaan Sara, Belva pun kemudian mengangguk, “Iya … besok aku akan membelikannya untukmu,” sahutnya.


***


Keesokan harinya, Belva benar-benar membelikan sebuah pumping elektrik, kantong ASIP, dan juga lemari es baru yang akan dipergunakan khusus untuk menyimpan ASIP. Tidak hanya itu, Belva rupanya juga memberikan beberapa perlengkapan yang Sara butuhkan.

__ADS_1


“Ini Sara … buat kamu,” ucap pria itu sembari menyerahkan beberapa paper bag kepada Sara.


“Banyak sekali Pak,” sahut Sara sembari menerima paper bag itu.


Belva kemudian mengangguk, “Iya … itu tidak seberapa. Lihatlah, mungkin kamu bisa menggunakannya,” ucap pria itu.


“Makasih Pak,” jawab Sara.


Menjelang malam, Sara masih harus menidurkan Evan. Wanita itu menggendong Evan dan berjalan-jalan di dalam kamarnya, sembari menyenandungkan lagu pengantar tidur untuk Evan.


“Tidulah Nak, Bunda akan menjagamu semalaman …,” ucapnya dengan terus menggendong Evan.


Rupanya, Belva pun kembali memasuki kamar Sara, “Evan belum tidur yah?” tanyanya.


“Iya, tumben sudah semalam ini, Evan belum tidur,” jawabnya.


“Sini berikan padaku, biar aku yang akan menidurkannya. Kamu istirahatlah,” ucap Belva.


Merasa bahwa Belva juga harus terlibat dalam pengasuhan Evan, Sara pun menyerahkan bayinya kepada Belva. Kini pria itu yang menggendong Evan dan menidurkannya dengan caranya.


Tidak sampai lima belas menit, rupanya Evan sudah tertidur. Belva dengan hati-hati menidurkan Evan di dalam box bayi dan meredupkan lampu di kamar Sara.


Setelahnya, pria itu duduk menghampiri Sara. “Kenapa kamu terdiam?” tanya Belva kepada Sara.


Wanita itu dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa Pak,” jawabnya.


Tanpa permisi, Belva memeluk tubuh Sara. Membawa kepala wanita itu untuk bersandar di dadanya, “Istirahatlah … sama seperti dulu. Aku akan menidurkanmu,” ucap pria itu.


Dalam hatinya, Sara berusaha menerka-nerka sebenarnya perasaan seperti apa yang dirasakan Belva kepadanya. Perasaan kasihan? simpati? peduli? atau cinta? Semuanya serba menggantung, lagipula Belva juga tidak pernah mengutarakan perasaannya selama ini. Semuanya membuat Sara begitu gamang, dia takut jika pada akhirnya justru salah mengartikan perasaan Belva untuknya.

__ADS_1


Sementara bagi Belva sendiri, setidaknya dengan apa yang bisa lakukan sekarang ini bisa memberikan perhatian bagi Sara. Dia tahu bahwa perasaan wanita yang baru saja melahirkan bisa naik dan turun, perasaannya mereka bisa berubah-ubah, belum lagi jika terkena baby blues syndrom. Oleh karena itu, Belva berusaha untuk memberikan perhatian lebih untuk Sara. Berharap, tanpa dia banyak berbicara tetapi perhatian bisa dirasakan oleh Sara.


__ADS_2